Upaya strategis untuk menjaga warisan intelektual KH. Ahmad Rifa’i terus digalakkan melalui inisiatif pelestarian naskah kuno yang dikenal sebagai Manuskrip Tarajumah. Langkah konkret yang diambil adalah penyelenggaraan Workshop Preservasi dan Digitalisasi Manuskrip Tarajumah yang dipusatkan di Gedung Pimpinan Pusat Rifa’iyah, Batang, Jawa Tengah. Acara berskala besar ini dijadwalkan berlangsung pada Minggu, 6 September 2026, dari pukul 08.30 hingga 17.00 WIB. Kegiatan ini merupakan bagian dari program Community Engagement yang diinisiasi oleh Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) bekerja sama dengan Pimpinan Pusat Rifa’iyah Batang, serta didukung oleh kolaborasi teknis bersama Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Arpusda) Provinsi Jawa Tengah dan DREAMSEA (Digital Repository of Endangered and Affected Manuscripts in Southeast Asia) dari PPIM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Manuskrip Tarajumah memegang peranan krusial dalam khazanah keilmuan Islam di Nusantara. Karya-karya monumental KH. Ahmad Rifa’i ini ditulis menggunakan bahasa Jawa dengan aksara Pegon, yang memuat sintesis mendalam mengenai akidah, fikih, serta tasawuf. Selama puluhan tahun, naskah-naskah tersebut tersimpan secara terdesentralisasi di lingkungan pesantren serta menjadi pusaka keluarga para putra kiai di berbagai pelosok Jawa Tengah. Sayangnya, pola penyimpanan konvensional dengan keterbatasan akses dan fasilitas membuat manuskrip ini berada dalam ancaman kerusakan permanen. Faktor iklim tropis yang lembap, keasaman tinta yang memakan kertas, pelapukan fisik, hingga kerapuhan pada tepian lembaran menjadi musuh utama yang dapat melenyapkan memori kolektif ini dalam sekejap jika tidak segera diintervensi.
Digitalisasi bukan sekadar proses alih media, melainkan langkah penyelamatan darurat untuk mengantisipasi hilangnya warisan naskah bersejarah tersebut secara fisik. Lebih jauh lagi, upaya ini diarahkan untuk memperkuat posisi naskah Nusantara dalam kancah dunia melalui program Ingatan Kolektif Nasional (IKON). Proyeksi jangka panjang dari inisiatif ini adalah mendorong naskah-naskah Tarajumah agar memenuhi kriteria sebagai warisan dunia dalam Memory of the World (MoW) yang dicanangkan oleh UNESCO. Dengan tercatatnya naskah-naskah ini secara sistematis, maka riset mengenai pemikiran KH. Ahmad Rifa’i akan semakin terbuka luas bagi para akademisi dan masyarakat umum di masa depan.
Keunikan dari program Community Engagement UIII 2026 ini terletak pada prinsip kemandirian dan pendekatan non-ekstraktif. Workshop ini tidak dirancang untuk memindahkan atau mengambil alih naskah dari pemiliknya, melainkan untuk memberdayakan komunitas itu sendiri. Sebanyak 90 peserta yang terdiri dari 50 pemuda Angkatan Muda Rifa’iyah (AMRI) dan 40 perwakilan keluarga kiai serta pengasuh pesantren akan dibekali keahlian teknis. AMRI diproyeksikan menjadi garda terdepan sebagai pengelola arsip komunitas, sementara para pemegang manuskrip diajak untuk memahami pentingnya konservasi preventif.

Materi workshop disusun secara komprehensif dalam dua sesi utama. Sesi pertama yang dipandu oleh tim ahli dari Arpusda Provinsi Jawa Tengah akan menitikberatkan pada preservasi fisik dan inventarisasi. Peserta akan diajarkan teknik dasar perlindungan naskah, mulai dari cara membersihkan debu, menguji tingkat keasaman kertas, hingga penggunaan acid-free enclosure (sampul bebas asam) untuk penyimpanan jangka panjang. Selain itu, peserta akan diberikan pemahaman mendalam mengenai urgensi perlindungan naskah kuno keagamaan dalam bingkai hukum dan sejarah nasional melalui program IKON.
Pada sesi kedua, fokus bergeser ke ranah digitalisasi bersama tim DREAMSEA. Peserta akan diperkenalkan dengan standar internasional pemindaian dokumen kuno. Hal ini meliputi penentuan resolusi optik (DPI) yang ideal, teknik pencahayaan agar tulisan Pegon terbaca jelas tanpa merusak kertas, penanganan jilidan naskah yang rapuh, hingga manajemen struktur folder arsip digital yang rapi. Tidak hanya teori, peserta akan langsung melakukan praktik pemindaian dan pembuatan lembar metadata. Metadata yang akurat menjadi sangat penting agar manuskrip tersebut dapat diidentifikasi dan dicari kembali dengan mudah di masa depan. Tahap preliminary assessment atau penilaian awal juga dilakukan untuk mengurasi naskah mana yang kondisinya paling mendesak untuk segera didigitalisasi secara penuh melalui jaringan DREAMSEA.
Rangkaian acara yang dimulai sejak pagi hari dengan proses registrasi dan pembukaan resmi akan ditutup dengan penyusunan rencana tindak lanjut. Tahap assessment ini merupakan bagian krusial dari workshop karena hasilnya akan menjadi basis data utama inventaris manuskrip Tarajumah yang tersebar di Jawa Tengah. Keberhasilan workshop ini akan diukur dari kemampuan kader muda AMRI dalam menjalankan proses pemindaian secara mandiri dengan format yang terstandarisasi secara nasional. Selain itu, hasil preliminary assessment akan dijadikan dasar acuan untuk kerja sama lanjutan dengan DREAMSEA, yang bertujuan untuk penyelamatan naskah secara lebih komprehensif.
Secara filosofis, kegiatan ini adalah bentuk tanggung jawab generasi masa kini terhadap warisan intelektual leluhur. Dengan menjaga manuskrip Tarajumah, komunitas Rifa’iyah tidak hanya sedang merawat lembaran kertas tua, tetapi juga sedang merawat identitas keagamaan dan budaya yang menjadi fondasi karakter umat. Kehadiran para ahli dari UIII, Arpusda, dan DREAMSEA memberikan legitimasi ilmiah bahwa naskah-naskah yang selama ini dianggap sebagai koleksi pribadi, sebenarnya merupakan harta karun intelektual bangsa yang memiliki nilai sejarah tinggi.
Melalui pelatihan ini, kesadaran kolektif akan muncul bahwa menjaga naskah adalah menjaga masa depan. Ketika generasi muda AMRI mampu mengoperasikan alat pindai dan memahami cara merawat naskah dengan benar, maka ancaman kepunahan naskah akibat ketidaktahuan akan terminimalisir. Kerjasama ini diharapkan menjadi model percontohan bagi komunitas pesantren lain di Indonesia dalam upaya penyelamatan naskah Nusantara yang tersebar di berbagai daerah. Pelestarian berkelanjutan harus menjadi agenda utama agar pemikiran KH. Ahmad Rifa’i tetap relevan, dapat dipelajari, dan terus memberikan kontribusi bagi peradaban Islam di Indonesia hingga berabad-abad mendatang. Workshop ini hanyalah langkah awal dari sebuah perjalanan panjang untuk memastikan bahwa suara KH. Ahmad Rifa’i melalui pena Tarajumah-nya tetap bergema dengan jernih melalui media digital yang abadi.












