Setiap pagi, saat embun masih membasahi dedaunan dan fajar belum sepenuhnya menyingsing, Pak Sulaiman telah melangkah mantap menuju sawahnya. Di tangannya, sebuah cangkul tua dengan gagang kayu yang telah halus dan mengkilap karena puluhan tahun genggaman tangan menjadi saksi bisu perjuangan hidupnya. Bagi Pak Sulaiman, sawah bukan sekadar petak tanah untuk menanam padi, melainkan sebuah amanah yang harus dirawat dengan peluh dan doa. Setelah memastikan tanaman padinya tumbuh sehat dan membersihkan gulma yang mengganggu, ia akan bergegas pulang. Namun, rutinitasnya tidak berhenti di sana. Di depan rumahnya yang sederhana, sebuah toko kelontong kecil menanti. Begitulah ritme hidup Pak Sulaiman selama puluhan tahun; pagi sebagai seorang petani, siang hingga malam sebagai seorang pedagang.
Di desanya, Pak Sulaiman dikenal sebagai sosok yang memiliki integritas tinggi. Kejujurannya bukan sekadar ucapan, melainkan prinsip hidup yang mendarah daging. Jika stok beras yang dijualnya memiliki kualitas menengah, ia akan dengan tegas menyampaikannya kepada pembeli. Jika ada barang yang sedikit cacat atau mendekati masa kedaluwarsa, ia akan menjelaskannya tanpa menutup-nutupi. Sikap ini tak jarang mengundang kritik dari rekan sesama pedagang. “Pak Sulaiman, terlalu jujur dalam berdagang tidak akan membuat kantongmu cepat tebal,” ujar seorang pedagang muda yang lebih mementingkan keuntungan instan. Namun, Pak Sulaiman hanya merespons dengan senyuman tenang. Baginya, ketenangan batin saat menghadap Sang Pencipta jauh lebih bernilai daripada tumpukan harta yang didapat dari jalan yang meragukan.
Namun, hidup adalah roda yang terus berputar. Ada masa di mana tantangan datang menguji keteguhan iman. Suatu tahun, kemarau panjang yang mencekik melanda desa. Sawah Pak Sulaiman mengalami gagal panen yang parah. Tanah pecah-pecah dan tanaman padi menguning sebelum waktunya. Di saat yang bersamaan, daya beli masyarakat menurun drastis. Toko kelontongnya pun sepi. Pendapatan yang biasanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari kini menyusut drastis. Tabungan keluarga yang selama ini dijaga dengan cermat mulai menipis, sementara biaya pendidikan untuk anaknya yang paling kecil sudah di depan mata. Untuk pertama kalinya dalam hidup, Pak Sulaiman merasakan ketakutan yang nyata. Ia terjebak dalam kecemasan tentang masa depan dan kemampuan dirinya untuk menafkahi keluarga.
Suatu malam, ketika sunyi menyelimuti desa dan lampu tokonya telah dipadamkan, Pak Sulaiman duduk termenung di teras rumah. Di dalam, ia mendengar istrinya sedang menghitung sisa uang dengan napas yang berat. Kegelisahan memuncak di dadanya. Ia merasa seolah-olah usahanya selama ini sia-sia. Dalam keadaan batin yang kalut, tangannya secara refleks mengambil sebuah kitab tua peninggalan ayahnya. Di antara lembaran kertas yang telah menguning dimakan usia, matanya tertuju pada bait-bait nazam Targhib korasan 17 karya KH. Ahmad Rifa’i, seorang ulama besar yang ajarannya menjadi pegangan bagi masyarakat di sana.
Ia mulai membaca bait-bait tersebut dengan perlahan, membiarkan maknanya meresap ke dalam sanubari:
“Syariate wong dagangan kelakuhane, Yoiku arep netepi Syara’ sah hukumane. Mengkono ugo wong kang nenandur, Wajib anut ing lakune Syara’ jujur, Ojo ngelakoaken harom kang pinilahur.”
Membaca bait itu, napas Pak Sulaiman terasa lebih lega. Ia teringat kembali perjalanan hidupnya. Selama ini, ia tidak pernah mengurangi timbangan, tidak pernah memalsukan kualitas barang, dan tidak pernah mengambil keuntungan dengan cara yang haram. Di sawah maupun di toko, ia selalu berusaha menjaga syariat Allah. Ia menyadari bahwa kejujurannya bukanlah penghalang rezeki, melainkan bentuk ketaatan yang paling mendasar.
Matanya terus bergerak ke bait berikutnya, menggali lebih dalam tentang hakikat pekerjaan seorang mukmin:
“Utawi thoriqote wong dagang lan nenandur, Yoiku arep nejo atine ing Allah toat. Munfaate Arto ginawe nulungi ibadat, Netepi wajib ngedohi maksiyat, Nejone ati amrih munfaate akhirat.”
Pak Sulaiman terdiam cukup lama. Pertanyaan besar muncul di benaknya: untuk apa sebenarnya ia berdagang dan bertani? Selama ini, jawaban yang muncul di kepalanya adalah untuk mencari nafkah. Namun, malam itu ia menemukan jawaban yang jauh lebih substansial. Ia bekerja bukan hanya untuk menyambung hidup, tetapi untuk memastikan keluarganya mengonsumsi sesuatu yang halal, agar anak-anaknya tumbuh dengan berkah, dan agar ia bisa membantu tetangga yang kesusahan. Pekerjaan hanyalah sarana untuk beribadah. Ternyata, selama ini pekerjaannya yang sederhana memiliki dimensi spiritual yang luar biasa di mata Allah. Air mata haru mulai membasahi pipinya.

Ia melanjutkan bacaannya ke bait peringatan keras:
“Ojo pisan nejo kerono dunyo beloko, Nenandur lan dagangan nulungi duroko. Iku ora syari’at ora thoriqot kareko, Balik iku lakune wong kafir ciloko.”
Dada Pak Sulaiman bergetar hebat. Ia sadar bahwa beberapa bulan terakhir, pikirannya telah terkontaminasi oleh ambisi duniawi. Ia terlalu sibuk menghitung angka keuntungan dan kerugian, mengukur keberhasilan hidup hanya dari nominal uang di laci. Ia lupa bahwa dunia hanyalah tempat transit. Yang terpenting bukanlah seberapa banyak panen yang ia tuai atau seberapa ramai pembeli di toko, melainkan apakah aktivitas tersebut membawanya lebih dekat kepada Allah atau justru menjauhkannya.
Akhirnya, ia sampai pada bait terakhir yang menjadi titik balik jiwanya:
“Utawi partelane Kanti haqeqot, Ingatase wong dagangan dihajat. Tuwin nenandur barang opo dihimmat, Yoiku arep mandeng ing Rohmat. Saking Allah paring rizqi wus ginawaruhan, Solah tingkah ugo saking Allah tulungan, Kabecikan dhohir batin saking pengeran, Ora rumoso duwe tingale kebatinan.”
Pada bait inilah Pak Sulaiman menemukan kedamaian yang sesungguhnya. Selama ini, ia terjebak dalam ilusi bahwa rezeki datang dari sawah dan toko. Ia menganggap sawah sebagai penentu nasibnya. Padahal, sawah dan toko hanyalah sebab atau perantara. Rezeki datangnya dari Allah Yang Maha Memberi. Sawah tidak akan menghasilkan padi tanpa izin-Nya, dan toko tidak akan kedatangan pembeli tanpa kehendak-Nya. Bahkan, tenaga yang ia gunakan untuk mencangkul dan melayani pembeli adalah titipan karunia dari Allah.
Malam itu, Pak Sulaiman menangis bukan lagi karena kemiskinan atau ketakutan akan masa depan, melainkan karena rasa syukur dan malu yang bercampur aduk. Ia malu karena selama ini terlalu fokus pada "alat" mencari rezeki hingga melupakan "Sang Pemberi" rezeki. Ia telah memandang sawah dan tokonya dengan pandangan yang salah, seolah-olah benda-benda itu memiliki kekuatan mandiri. Padahal, segalanya adalah manifestasi dari rahmat Allah.
Beberapa bulan berselang, kehidupan berangsur membaik. Hujan kembali turun membasahi bumi, sawah-sawah mulai menghijau subur, dan pembeli kembali berdatangan ke toko kelontongnya. Namun, ada perubahan mendasar pada diri Pak Sulaiman. Ketika dagangannya laris manis, ia tidak lagi merasa sombong atau merasa itu adalah hasil kecerdasannya berdagang. Sebaliknya, ketika panen berkurang atau toko sepi, ia tidak lagi merasa putus asa atau menyalahkan keadaan.
Kini, setiap kali ia membuka pintu toko atau melangkah ke sawah, ia selalu membisikkan doa: “Ya Allah, jadikanlah aktivitas berdagang dan bertaniku ini sebagai jalan untuk taat kepada-Mu. Jika Engkau melimpahkan rezeki yang banyak, jadikanlah aku hamba yang pandai bersyukur. Namun, jika Engkau mengujiku dengan kesempitan, jadikanlah aku hamba yang tetap sabar dan teguh dalam iman. Karena tujuan utamaku bukan sekadar hasil duniawi, melainkan ridha-Mu.”
Sejak saat itu, sawah dan toko kecilnya bukan lagi sekadar tempat mencari nafkah. Keduanya telah bertransformasi menjadi sebuah madrasah kehidupan yang mengajarkannya tentang tiga tingkatan penting dalam agama: syariat, tarekat, dan hakikat. Pak Sulaiman telah menemukan kunci ketenangan yang selama ini dicari orang banyak: bahwa kerja keras hanyalah bentuk ikhtiar, namun hasil akhir adalah hak prerogatif Allah. Dengan menanamkan rasa tawakal yang mendalam, ia tidak lagi merasa memiliki segalanya, melainkan merasa dimiliki oleh Sang Pencipta.
Kisah Pak Sulaiman ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa di balik setiap tetes keringat saat bekerja, ada kasih sayang Allah yang bekerja lebih keras untuk mencukupi kebutuhan hamba-Nya. Rezeki tidak akan tertukar, dan ketenangan hati hanyalah milik mereka yang mampu melihat Allah di balik segala sebab-akibat duniawi. Pak Sulaiman kini hidup dengan lebih ringan, karena ia tahu bahwa selama ia berjalan di atas jalan yang diridhai-Nya, Allah tidak akan pernah membiarkannya berjalan sendirian. Ia pun menjalani sisa usianya dengan penuh rasa syukur, menjadikan setiap inci tanah sawahnya dan setiap rak di tokonya sebagai saksi atas pengabdiannya kepada Sang Maha Pemilik Rezeki. Kehidupan yang dulunya terasa berat karena beban dunia, kini berubah menjadi perjalanan spiritual yang indah, penuh dengan pelajaran tentang arti ikhlas, jujur, dan berserah diri sepenuhnya kepada Allah SWT.

