0

Pemikiran Keagamaan KH. Ahmad Rifa’i dalam Kitab Tarajumah

Share

KH. Ahmad Rifa’i (1786–1870) adalah sosok ulama pembaru, pejuang kemerdekaan, sekaligus sastrawan religius yang memiliki pengaruh sangat dalam bagi pembentukan karakter keberagamaan masyarakat Nusantara, khususnya di wilayah Jawa Tengah. Melalui karya-karya monumentalnya yang dikenal sebagai kitab Tarajumah, beliau berhasil meletakkan fondasi teologis-praktis yang sangat kuat. Pemikiran beliau bukan sekadar wacana intelektual di menara gading, melainkan sebuah gerakan kultural yang melawan hegemoni kolonial Belanda sekaligus mengedukasi masyarakat petani tentang hakikat Islam yang murni. Dalam konteks sejarah Indonesia, beliau adalah representasi ulama yang mampu mensintesiskan antara keteguhan akidah, kepatuhan syariat, dan kedalaman spiritualitas tasawuf menjadi satu kesatuan yang organis.

Inti dari ajaran KH. Ahmad Rifa’i berporos pada konsep “ilmu telung perkoro” atau tiga perkara, yakni Ushuluddin, Fikih, dan Tasawuf. Beliau menekankan bahwa ketiga disiplin ilmu ini adalah satu kesatuan yang tidak boleh dipisahkan. Ibarat bangunan, Ushuluddin adalah fondasi yang menjaga kemurnian tauhid, Fikih adalah dinding yang menjaga batasan sah dan batalnya syariat, sementara Tasawuf adalah ruh yang menghidupkan keikhlasan di dalam hati. Bagi beliau, mempelajari ketiganya adalah kewajiban yang bersifat fardhu ‘ain bagi setiap Muslim. Pemikiran ini lahir dari keprihatinannya melihat kondisi masyarakat kala itu yang terjebak dalam praktik keberagamaan yang sinkretis dan lemah akibat tekanan penjajahan. Dengan menggunakan bahasa Jawa yang dipadukan dengan aksara Arab (Pegon), beliau mentransformasikan ajaran Islam yang kompleks ke dalam bait-bait syair yang mudah dihafal dan dipahami oleh masyarakat awam, sehingga pesan-pesan ilahiah meresap ke dalam akar rumput.

Dalam bidang Ushuluddin, KH. Ahmad Rifa’i membangun teologi perlawanan yang sangat radikal terhadap penjajahan. Beliau memandang bahwa akidah bukanlah sekadar keyakinan pasif di dalam hati, melainkan motor penggerak untuk menolak kezaliman. Menurut beliau, seorang mukmin tidak dibenarkan mengabdi kepada kekuasaan yang zalim atau bekerja sama dengan penjajah yang ingin merusak agama. Keberanian beliau dalam mengkritik para pejabat pribumi yang menjadi kaki tangan Belanda adalah manifestasi langsung dari tauhidnya. Bagi beliau, tunduk kepada penjajah yang kafir adalah bentuk pengkhianatan terhadap akidah. Beliau menegaskan bahwa kehormatan seorang Muslim terletak pada keteguhannya menjaga martabat agama dari intervensi kekuatan asing. Inilah yang kemudian membuat beliau sering berkonflik dengan otoritas kolonial hingga harus mengalami pembuangan ke Ambon dan Manado.

Salah satu pemikiran yang sering disalahpahami oleh kalangan awam maupun pengkritik beliau adalah konsep “Rukun Islam Satu”. Beliau menyatakan bahwa rukun Islam itu sejatinya hanya satu, yakni mengucapkan dua kalimat syahadat. Namun, penting untuk dipahami bahwa ini bukanlah penyimpangan dari syariat, melainkan penekanan pada esensi atau batang utama pohon Islam. Beliau mengibaratkan syahadat sebagai batang, sedangkan salat, zakat, puasa, dan haji adalah cabang-cabangnya. Syaikh ar-Ramli dalam kitab Ghayah al-Bayan juga mendukung pandangan bahwa syahadat adalah pintu gerbang utama yang menentukan status seseorang sebagai Muslim. Dengan mereduksi pemahaman menjadi satu rukun esensial, KH. Ahmad Rifa’i sebenarnya ingin menegaskan bahwa segala amal ibadah cabang tidak akan bernilai tanpa fondasi syahadat yang benar. Beliau juga menetapkan standar ketat bagi seorang guru atau pemimpin agama, yakni harus seorang “Alim Adil”. Alim artinya menguasai syariat, dan adil artinya konsisten menjaga diri dari dosa besar maupun dosa kecil. Kriteria ini penting agar ilmu agama tidak diselewengkan oleh ulama yang hanya mencari duniawi.

Pemikiran Keagamaan KH. Ahmad Rifa’i dalam Kitab Tarajumah

Di bidang Fikih, KH. Ahmad Rifa’i tetap berada dalam koridor Mazhab Syafi’i, namun dengan pendekatan yang sangat pragmatis dan berorientasi pada kemudahan umat (Taisir). Beliau menyadari bahwa masyarakat awam yang sibuk dengan kehidupan agraris akan kesulitan jika dipaksa menjalankan seluruh detail hukum yang rumit. Oleh karena itu, beliau memprioritaskan perkara-perkara yang wajib saja. Beliau melarang umat melakukan ibadah sunnah jika masih mengabaikan kewajiban yang mendesak, seperti membayar utang puasa atau kewajiban zakat. Prinsip Taisir ini juga terlihat dalam sikap beliau yang membolehkan penggunaan pendapat dhaif (lemah) dalam kondisi darurat atau ketika masyarakat benar-benar tidak mampu menjalankan pendapat muktamad (kuat). Contoh nyatanya adalah dalam masalah muqaranah (membarengkan niat dengan takbir), di mana beliau memberikan ruang bagi masyarakat awam untuk mengikuti muqaranah urfiyah demi sahnya ibadah mereka. Ini menunjukkan bahwa beliau adalah ulama yang sangat toleran terhadap kapasitas intelektual umatnya.

Selain itu, beliau menunjukkan sikap toleransi yang luas terhadap perbedaan pendapat di antara para mujtahid. Beliau tidak pernah memaksakan satu pendapat kepada pengikutnya, melainkan memberikan kebebasan untuk memilih pendapat ulama yang paling memungkinkan untuk diamalkan. Baginya, perbedaan di antara sahabat Nabi dan para ulama adalah rahmat yang harus disikapi dengan lapang dada. Sikap ini berbanding terbalik dengan citra yang sering disematkan orang kepadanya sebagai ulama yang kaku. Ketegasan beliau sejatinya hanya ditujukan kepada musuh agama dan penjajah, bukan kepada perbedaan khilafiyah di kalangan umat Islam sendiri.

Dalam bidang Tasawuf, KH. Ahmad Rifa’i berfokus pada pembersihan hati (tazkiyatun nafs). Beliau membagi sifat-sifat manusia menjadi dua, yakni delapan sifat terpuji (seperti sabar, syukur, ikhlas, zuhud) dan delapan sifat tercela (seperti riya, takabur, tamak, hubbuddunya). Beliau memberikan peringatan keras kepada mereka yang mengaku mencapai maqam hakikat namun mengabaikan syariat. Baginya, syariat tanpa hakikat adalah kosong, dan hakikat tanpa syariat adalah rusak. Beliau sangat mengkritik fenomena "Sufi bohongan" atau mereka yang hanya berpenampilan religius dengan jubah dan sorban namun perilaku hatinya penuh dengan penyakit. Bagi KH. Ahmad Rifa’i, karomah yang paling utama bukanlah kesaktian luar biasa seperti bisa berjalan di atas air, melainkan istiqamah dalam menjalankan syariat dan ketaatan kepada Allah SWT.

Sebagai penutup, pemikiran KH. Ahmad Rifa’i merupakan oase di tengah gersangnya pemahaman agama yang terjebak pada simbolisme belaka. Beliau mengajarkan bahwa agama harus membumi, memberikan kemudahan, namun tetap teguh dalam prinsip kebenaran. Warisan intelektual beliau dalam kitab-kitab Tarajumah tidak hanya menjadi artefak sejarah, tetapi merupakan pedoman hidup yang terus relevan bagi umat Islam di tengah tantangan zaman yang semakin materialistik. Beliau mengingatkan kita bahwa tugas utama seorang Muslim adalah menjaga kemurnian tauhid, memprioritaskan kewajiban syariat, dan terus membersihkan hati agar setiap langkah hidupnya senantiasa berada dalam ridha Allah SWT. Pemikiran beliau adalah sebuah lentera yang menuntun umat untuk tetap kritis terhadap penindasan, namun tetap lembut dan penuh kasih sayang dalam mendidik sesama manusia. Dengan meneladani konsep ilmu telung perkoro, diharapkan umat Islam dapat membentuk karakter yang kukuh secara teologis, disiplin secara fikih, dan bening secara spiritualitas, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh sang pahlawan nasional ini sepanjang hayatnya.