Sebuah langkah monumental tengah dilakukan oleh warga Rifa’iyah demi merawat jejak sejarah dan warisan intelektual Pahlawan Nasional KH Ahmad Rifa’i. Berlokasi di Kelurahan Tonsea Lama, Kecamatan Tondano Utara, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, kini telah tersedia lahan wakaf seluas 3.753 meter persegi yang diproyeksikan menjadi pusat kegiatan strategis organisasi. Lokasi lahan ini tergolong sangat istimewa karena hanya berjarak sekitar 200 meter dari makam KH Ahmad Rifa’i, tempat peristirahatan terakhir ulama kharismatik yang menjadi ruh perjuangan komunitas Rifa’iyah di seluruh Indonesia.
Tanah tersebut bukan sekadar aset fisik, melainkan simbol dedikasi warga Rifa’iyah untuk menghadirkan "Rifa’iyah Center KH Ahmad Rifa’i". Kawasan ini dirancang untuk menjadi pusat multi-fungsi yang mencakup ruang pendidikan, pusat keagamaan, sentra aktivitas sosial, hingga kantor administratif organisasi. Mengingat tingginya antusiasme warga Rifa’iyah—terutama dari Pulau Jawa—yang rutin melakukan perjalanan ziarah setiap tanggal 10 November, kehadiran pusat kawasan ini menjadi kebutuhan yang mendesak sekaligus menjadi jawaban atas kerinduan warga untuk memiliki fasilitas transit yang representatif di tanah Minahasa.
Ketua Panitia Pelaksana Pembebasan Tanah, M. Nasruddin Azzen, menegaskan bahwa visi pembangunan ini melampaui sekadar tempat persinggahan. Dalam cetak biru atau layout plan yang telah disiapkan, lahan tersebut akan ditransformasikan menjadi kawasan terpadu. Rencananya, di atas lahan ini akan berdiri kantor Pimpinan Wilayah (PW) dan Pimpinan Daerah (PD) Rifa’iyah, fasilitas pendidikan dasar hingga menengah, masjid sebagai pusat ibadah, unit-unit usaha ekonomi, serta kantor-kantor yang berfokus pada pemberdayaan pendidikan keagamaan dan sosial.
Tahap awal pembangunan akan dimulai dengan pendirian rumah panggung. Pemilihan model arsitektur rumah panggung bukan tanpa alasan; selain sebagai bentuk penghormatan terhadap kearifan lokal masyarakat Minahasa, struktur ini juga dinilai praktis untuk difungsikan sebagai tempat transit sementara bagi peziarah yang datang dari berbagai daerah sebelum pembangunan fisik permanen secara menyeluruh dilakukan. Draft perencanaan kawasan ini kini telah memasuki tahap final dan siap untuk segera dieksekusi, menandai babak baru bagi eksistensi Rifa’iyah di Sulawesi Utara.

Menelusuri Akar Sejarah KH Ahmad Rifa’i
Penting untuk memahami bahwa Tondano bagi warga Rifa’iyah adalah "tanah suci" kedua setelah daerah asal sang ulama di Jawa. KH Ahmad Rifa’i lahir di Kendal pada tahun 1786 M (9 Muharam 1200 H). Beliau merupakan sosok ulama yang memiliki riwayat pendidikan yang mumpuni. Setelah menempuh pendidikan dasar di tanah kelahirannya, beliau melanjutkan pengembaraan ilmu ke Makkah dan Mesir. Selama berada di Timur Tengah, beliau menyerap berbagai disiplin ilmu Islam yang kemudian ia formulasikan dalam bentuk ajaran yang sistematis dan mudah dipahami oleh masyarakat awam.
Sekembalinya ke tanah air, KH Ahmad Rifa’i dikenal karena ketegasan dan produktivitasnya dalam menulis. Beliau mendirikan pesantren di Kalisalak, Kabupaten Batang, dan aktif menyebarkan dakwah melalui kitab-kitab berbahasa Jawa yang ditulis dengan aksara Arab Pegon, yang populer disebut sebagai Kitab Tarajumah. Karya-karya tersebut mencakup cakupan ilmu yang luas, mulai dari ushuluddin, fikih, hingga tasawuf, yang hingga hari ini masih menjadi rujukan utama bagi komunitas Rifa’iyah.
Sikap kritis beliau terhadap ketidakadilan dan pemerintahan kolonial Belanda memicu ketidaksukaan pihak penjajah. Hal ini berujung pada rangkaian pengasingan yang menyakitkan. Pada tahun 1859, beliau diasingkan dari Kalisalak ke Ambon, dan pada 1861 dipindahkan ke Tondano, Minahasa. Di pengasingan terakhir inilah beliau menghabiskan sisa hidupnya hingga wafat pada tahun 1875. Pemerintah Republik Indonesia, dalam rangka mengakui besarnya kontribusi beliau terhadap kemerdekaan dan pendidikan karakter bangsa, secara resmi menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada beliau pada tahun 2004.
Gotong Royong dalam Pembebasan Lahan

Keberhasilan membebaskan lahan seluas 3.753 meter persegi ini merupakan buah dari semangat gotong royong yang luar biasa. Seluruh dana yang digunakan untuk membeli lahan seharga Rp275 juta murni berasal dari swadaya warga Rifa’iyah. Proses pembebasan tanah ini diselesaikan tepat pada momen ziarah nasional 10 November 2024, sebuah tanggal yang memiliki makna historis mendalam bagi para pengikut beliau.
Legalitas lahan tersebut kini telah dijamin dengan sertifikat wakaf resmi atas nama organisasi Rifa’iyah. Pihak wakif tercatat atas nama Rachmat Irwan Rifai dan H. Khumaidi, sementara badan hukum PP Rifa’iyah bertindak sebagai nadzir yang bertanggung jawab mengelola aset tersebut. Pengurus nadzir terdiri dari tokoh-tokoh kunci, yakni Dr. KH. Mukhlisin Muzarie, MA., H. Saeful Arif, SH., M.Kn., Kyai Imbuh Jumali, Daniel Pantouw, dan Septyo Adi Putra Wirajaya. Keterlibatan berbagai pihak ini memastikan bahwa pengelolaan tanah wakaf dilakukan secara transparan dan akuntabel sesuai dengan regulasi hukum yang berlaku.
Sinergi Antar-Daerah dalam Kepanitiaan
Pembangunan Rifa’iyah Center bukan proyek yang dikerjakan secara parsial, melainkan sebuah sinergi nasional yang melibatkan kepengurusan dari pusat hingga daerah. Berdasarkan SK PP Rifa’iyah Nomor 032/SK/PP.Rifa’iyah/XI/2024, kepanitiaan ini dibentuk dengan struktur yang solid. M. Nasruddin Azzen (Kendal) memimpin sebagai Ketua Pelaksana, didukung oleh H. Ihsanudin dan H. Nurhamid sebagai wakil. Administrasi dikelola oleh Aris Mahfudhoh dan Rifanul Athfal, sementara keuangan diamanahkan kepada H. Khumaidi dan Rozikin.
Tak hanya jajaran eksekutif, proyek ini juga dikawal oleh para penasihat dari berbagai daerah yang memiliki pengaruh besar dalam struktur organisasi, seperti KH Afif Afadhol (Wonosobo), KH Mukhdhori Albadar (Kendal), Kyai Imbuh Jumali (Temanggung), serta tokoh-tokoh lainnya dari Pati dan wilayah lain. Keterlibatan lintas daerah ini menunjukkan bahwa Rifa’iyah Center di Tondano bukan sekadar milik warga lokal Minahasa, melainkan proyek kebanggaan kolektif seluruh warga Rifa’iyah di Indonesia.

Membangun Masa Depan di Atas Warisan Masa Lalu
Kehadiran Rifa’iyah Center di masa depan diharapkan dapat menjadi oase bagi perkembangan dakwah Rifa’iyah di Indonesia Timur. Dengan adanya fasilitas pendidikan dan keagamaan yang terpadu, pusat ini akan berfungsi sebagai laboratorium bagi kaderisasi generasi muda Rifa’iyah. Mereka tidak hanya akan belajar tentang sejarah perjuangan KH Ahmad Rifa’i, tetapi juga mendapatkan akses pendidikan yang berkualitas dan ruang diskusi untuk menjawab tantangan zaman.
Selain itu, aspek ekonomi dan sosial yang direncanakan dalam kawasan ini bertujuan agar organisasi dapat mandiri secara finansial. Dengan adanya ruang untuk kegiatan ekonomi produktif, diharapkan pusat ini dapat menghidupi dirinya sendiri sekaligus memberikan kontribusi bagi kesejahteraan masyarakat sekitar di Tonsea Lama. Hal ini sejalan dengan spirit KH Ahmad Rifa’i yang selalu menekankan pentingnya kemandirian umat dan keteguhan dalam memegang prinsip agama di tengah arus perubahan.
Setiap peziarah yang datang ke Tondano nantinya tidak hanya akan membawa pulang pengalaman spiritual setelah berdoa di makam sang pahlawan, tetapi juga akan mendapatkan pengalaman edukatif dan komunal di Rifa’iyah Center. Tempat ini akan menjadi saksi bahwa perjuangan KH Ahmad Rifa’i tidak berhenti di pusara, melainkan terus tumbuh dan berkembang menjadi institusi yang memberi manfaat luas bagi umat dan bangsa.
Dengan dimulainya pembangunan rumah panggung sebagai langkah awal, Rifa’iyah telah menunjukkan keseriusannya. Proyek ini adalah manifestasi dari janji setia warga Rifa’iyah untuk terus menjaga api perjuangan sang ulama tetap menyala. Di tanah Tondano yang tenang, di dekat makam sang tokoh, sebuah peradaban baru sedang dibangun—sebuah tempat di mana masa lalu dihormati, masa kini dikelola dengan gotong royong, dan masa depan disiapkan dengan visi yang jauh ke depan.

Kesuksesan proyek ini nantinya akan menjadi tonggak sejarah baru dalam perjalanan organisasi Rifa’iyah. Ketika seluruh fasilitas yang direncanakan telah berdiri, kawasan ini akan menjadi pusat peradaban Rifa’iyah yang modern, inklusif, dan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai keislaman yang diajarkan oleh KH Ahmad Rifa’i. Seluruh warga Rifa’iyah kini menaruh harapan besar bahwa Rifa’iyah Center akan menjadi mercusuar yang menyinari perjalanan dakwah mereka ke depan, menjembatani jarak geografis antara Jawa dan Minahasa dalam satu ikatan ukhuwah yang kokoh.
Seiring berjalannya waktu, langkah-langkah kecil yang dimulai dari pembebasan tanah ini akan menjadi fondasi besar bagi generasi mendatang. Dengan dukungan doa dan partisipasi aktif dari seluruh elemen warga Rifa’iyah, cita-cita untuk memiliki pusat kegiatan yang representatif di tanah Tondano bukan lagi sekadar impian, melainkan realitas yang sedang diwujudkan. Rifa’iyah Center, dengan demikian, akan menjadi saksi abadi bagi kecintaan murid-murid KH Ahmad Rifa’i terhadap guru dan sejarah perjuangannya, memastikan bahwa nama besar sang Pahlawan Nasional akan terus hidup dan menginspirasi dalam setiap denyut kegiatan organisasi.
