0

Rakaat Panjang Rifaʼiyah: Merawat Benih, Menuai di 2045

Share

"Kapal besar ini mengangkut jutaan penumpang. Yang paling penting bukan siapa yang berteriak atau siapa yang menyetir, tapi apakah kapal ini akan sampai ke tujuan sebelum tenggelam." Refleksi mendalam ini menjadi titik tolak bagi seluruh insan Rifaʼiyah di pelosok nusantara—baik mereka yang sedang berkhidmat di pesantren, masjid, sawah, kantor, pasar, maupun perantauan—untuk mengajukan pertanyaan fundamental: Sudahkah kita benar-benar eling dan waspada? Eling bermakna kesadaran bahwa kita adalah pewaris estafet gerakan yang melampaui kepentingan sesaat. Waspada berarti memahami bahwa perjalanan menuju Indonesia Emas 2045, bahkan menuju rida Allah yang lebih abadi, menuntut dedikasi yang melampaui semangat musiman. Kita sedang menjalankan sebuah "rakaat panjang": sebuah metafora tentang kesabaran, kesetiaan, dan keberanian untuk menanam benih kebaikan tanpa menuntut diri kita sendiri yang memanen hasilnya.

Pada tahun 1836, K.H. Ahmad Rifaʼi dari Tempuran, Kendal, mengambil langkah berani yang mengubah peta dakwah di tanah Jawa. Beliau tidak memilih jalan kompromi dengan kekuasaan kolonial yang menindas, pun tidak mengajarkan Islam yang dangkal. Beliau memilih jalur literasi dan pendidikan dengan menggubah kitab-kitab berbahasa Jawa agar mudah dipahami masyarakat awam. K.H. Ahmad Rifaʼi adalah arsitek visi jangka panjang. Ketika beliau diasingkan ke Ambon pada 1859, banyak yang mengira perjuangannya berakhir. Namun, sejarah membuktikan sebaliknya; pengasingan hanyalah ujian ketangguhan bagi sebuah gerakan yang fondasinya telah tertanam jauh di dalam tanah. Beliau tidak sempat melihat pesantren dan madrasah Rifaʼiyah berdiri megah di seluruh nusantara, namun beliaulah yang menanamnya. Hari ini, giliran kita untuk menjadi penanam bagi generasi 2045 dan masa depan yang lebih jauh lagi.

Perjalanan Rifaʼiyah adalah studi kasus tentang gerakan transgenerasi yang tidak bisa diselesaikan oleh satu sosok pemimpin atau satu periode saja. Pada era 1815–1859, K.H. Ahmad Rifaʼi membangun fondasi melalui karya monumental seperti Tarjumah dan Ri’ayatul Himmah. Ini adalah masa "menanam di bumi yang keras" yang seringkali tidak terlihat hasilnya. Kemudian, era 1859–1900 menjadi fase "api dalam sekam" saat pengasingan justru memperkuat militansi para murid. Memasuki 1900–1945, gerakan ini bertransformasi menjadi institusi yang terstruktur. Institusi adalah kunci, karena ide yang tidak dilembagakan akan hilang bersamaan dengan wafatnya sang tokoh. Periode 1945–1998 mengajarkan kita tentang navigasi di tengah perubahan politik yang drastis, sementara era reformasi hingga sekarang menuntut kita untuk tetap relevan tanpa kehilangan arah. Puncaknya, 2045 adalah titik panen, di mana nilai-nilai yang kita jaga hari ini akan menjadi ruh bagi peradaban bangsa.

Untuk mencapai target tersebut, ada tiga pilar utama yang harus kita tegakkan. Pertama, penguatan institusi yang memegang teguh idea. Rifaʼiyah tidak boleh hanya menjadi kumpulan orang, melainkan sistem nilai yang terorganisir. Pertanyaan kritis bagi kita hari ini: apakah lembaga pendidikan dan organisasi kita benar-benar memahami idea utama pendirinya, atau kita hanya sibuk dengan rutinitas administratif? Jika kita tidak paham mengapa institusi ini didirikan, maka kita kehilangan kompas moral. Idea utama Rifaʼiyah adalah menegakkan Islam yang lurus, mendidik umat yang berilmu dan beramal, serta menciptakan masyarakat yang mandiri. Ini adalah cetak biru yang sudah terbukti tangguh selama dua abad.

Pilar kedua adalah menempatkan manusia yang tepat di tempat yang tepat. Gerakan ini membutuhkan manusia dengan kapasitas time horizon yang panjang. Kita memerlukan mereka yang mampu bekerja tekun di level operasional, mereka yang mampu memimpin pesantren dengan visi satu dekade, dan mereka yang mampu merancang strategi untuk 25 tahun ke depan. Kelangkaan terbesar saat ini adalah sosok yang berani mengambil keputusan sulit demi masa depan, meskipun mereka tahu tidak akan menikmati buahnya. Kita adalah panen dari keputusan para pendahulu, maka keputusan kita hari ini mengenai kurikulum, kaderisasi, dan arah organisasi adalah bibit bagi insan Rifaʼiyah di masa depan.

Pilar ketiga adalah self-correction atau evaluasi diri yang jujur dan berani. Keberanian K.H. Ahmad Rifaʼi dalam mengkritik ketidakadilan kolonial dan praktik keagamaan yang menyimpang harus tetap hidup sebagai tradisi internal kita. Evaluasi bukan untuk mencari kesalahan atau memecah belah, melainkan untuk menjaga kapal tetap berada di jalur yang benar. Apakah pendidikan kita menghasilkan pemikir kritis atau sekadar penghafal? Apakah kepemimpinan kita didasarkan pada visi atau kepentingan sesaat? Kejujuran untuk menjawab pertanyaan ini adalah obat bagi setiap gerakan yang mulai stagnan.

Rakaat Panjang Rifaʼiyah: Merawat Benih, Menuai di 2045

Dalam menyongsong Indonesia Emas 2045, Rifaʼiyah harus menjadi penjaga ruh bangsa. Indonesia tanpa dimensi spiritualitas dan kejujuran hanyalah kemegahan fisik yang rapuh. Kita harus memastikan pesantren tetap menjadi laboratorium ilmu dan amal yang kokoh di tengah disrupsi teknologi dan kecerdasan buatan. Kita perlu merawat kader-kader muda yang memiliki visi jauh ke depan, memberikan ruang bagi suara-suara yang mungkin terdengar tidak populer saat ini, namun akan terbukti krusial di masa depan. Gotong royong yang kita maksud adalah ta’awun ‘ala al-birr, saling menolong dalam kebaikan yang nyata, terutama saat kondisi sedang sulit.

Sangat penting bagi kita untuk berani menyuarakan kebenaran jangka panjang di tengah kebisingan kepentingan politik atau ekonomi jangka pendek. Warisan kritisisme Rifaʼiyah adalah modal moral untuk menjadi penyeimbang bangsa. Kita harus menjadi suara yang mengingatkan dengan santun namun tegas, sebagaimana sang pendiri melakukannya pada zamannya. Jangan sampai kita terjebak dalam euforia sesaat yang membuat kita lupa bahwa misi utama kita adalah menjaga amanah Allah dan Rasul-Nya hingga akhir zaman.

Cak Nun pernah menekankan pentingnya konsep "rakaat panjang". Ibadah ini adalah estafet yang tidak selesai dalam satu napas, tidak selesai dalam satu generasi, dan tidak selesai dalam satu kepemimpinan. Ia adalah sebuah aliran panjang yang diteruskan oleh tangan-tangan yang belum lahir. Itulah hakikat perjuangan K.H. Ahmad Rifaʼi. Beliau sadar bahwa beliau adalah bagian dari mata rantai, bukan ujung dari rantai tersebut. Beliau menanam dengan penuh keyakinan bahwa akan ada yang melanjutkan, ada yang merawat, dan ada yang memanen.

Hari ini, kita memegang tanggung jawab yang sama. Mungkin kita tidak akan melihat Indonesia 2045 dalam bentuk yang paling sempurna, namun keputusan-keputusan kita hari ini—dalam mendidik, memilih pemimpin, mengelola organisasi, dan menjaga kemurnian ajaran—adalah penentu apakah masa depan bangsa akan menjadi emas yang bersinar atau sekadar kuningan yang disepuh. Mari kita ajak saudara-saudara kita, para orang tua, dan generasi muda untuk menjadi tulang punggung yang kokoh bagi kapal besar ini.

Kita harus mulai selektif dalam membangun jaringan, memilih teman seperjuangan, dan memastikan bahwa langkah kita tetap dalam koridor lillahi ta’ala. Demi Indonesia yang berdaulat, demi umat yang cerdas, dan demi generasi yang belum melihat dunia ini. Kita adalah penanam, dan tugas kita adalah memastikan bibit yang kita titipkan ke tanah sejarah adalah benih terbaik yang pernah ada.

Mari kita jaga rakaat panjang ini dengan penuh kesadaran dan kewaspadaan. Jangan biarkan kelelahan membuat kita berhenti di tengah jalan, jangan biarkan godaan duniawi membuat kita menukar visi dengan komoditas jangka pendek. Perjalanan ini adalah pengabdian yang melampaui usia kita sendiri. Dengan bersatu, dengan visi yang jernih, dan dengan kesabaran yang tak bertepi, kita akan mengantarkan kapal besar Rifaʼiyah menuju pelabuhan Indonesia Emas 2045 dengan selamat. Inilah janji kita kepada sejarah, kepada guru-guru kita, dan yang terpenting, kepada Allah SWT. Semoga setiap tetes keringat dan setiap detik waktu yang kita dedikasikan menjadi catatan amal jariyah yang terus mengalir hingga hari pembalasan nanti. Kita tidak sedang membangun hari ini, kita sedang membangun keabadian.