Korupsi: Krisis Hukum atau Akhlak?
Korupsi selalu menjadi tajuk utama dalam pemberitaan nasional. Hampir setiap pekan, publik...
Ulasan Gadgets dan Teknologi Terkini
Islam hadir sebagai risalah suci yang membawa perubahan transformatif bagi umat manusia: membawa manusia dari kegelapan menuju cahaya (minadh-dhulumati ilan-nuur), dari kebodohan menuju ilmu pengetahuan, dan dari kehancuran moral menuju kebenaran syariat. Estafet perjuangan ini tidak terhenti dengan wafatnya Rasulullah SAW, melainkan diteruskan oleh para ulama. Dalam khazanah intelektual Islam, posisi ulama sangatlah agung, sebagaimana terekam dalam ungkapan populer: Al-‘ulama waratsatul anbiya—ulama adalah pewaris para nabi. Namun, predikat sebagai "pewaris nabi" bukanlah sebuah gelar kehormatan yang kosong, melainkan sebuah amanah berat yang menuntut tanggung jawab moral, keberanian dalam menegakkan kebenaran, serta keteguhan hati untuk tidak menjadikan ilmu sebagai komoditas politik atau alat untuk melegitimasi kepentingan penguasa.
Dalam konteks sejarah Nusantara, sosok KH. Ahmad Rifa’i, seorang ulama besar yang gigih melawan kolonialisme melalui pena dan dakwah, memberikan pandangan yang sangat tajam mengenai kriteria seorang alim. Beliau tidak hanya menuntut ulama untuk berilmu, tetapi juga menuntut integritas moral yang tak tergoyahkan. Salah satu konsep fundamental dalam pemikiran beliau adalah pembedaan antara "alim adil" dan "alim fasiq". Pemisahan ini menjadi sangat relevan di tengah kompleksitas zaman, di mana batas antara kebenaran dan kepentingan sering kali menjadi kabur.
Dalam karyanya yang monumental, Nadzam Absyar, KH. Ahmad Rifa’i secara eksplisit memberikan peringatan keras kepada umat agar berhati-hati dalam memilih sumber ilmu. Beliau menuliskan: "Wong ngambil ilmu saking alim fasiq pitutur, Iku ora dadi bener kawilang ngawur; Wajib ngambil saking alim adil di i’timad, Iku ilmune dadi hujjah bener syari’at; Sah dingamalaken munfa’at akherat, Alim adil kulma’e Kanjeng Nabi Muhammad." Bait tersebut mengandung pesan mendalam: mengambil ilmu dari seorang alim yang fasiq adalah tindakan yang menyesatkan dan jauh dari kebenaran. Sebaliknya, umat diwajibkan untuk berguru kepada alim adil—yakni mereka yang memiliki integritas keilmuan, kesalehan pribadi, dan akhlak yang terpuji.
Bagi KH. Ahmad Rifa’i, alim adil adalah sosok yang mewarisi sifat-sifat kenabian, di mana ilmu yang ia miliki sejalan dengan perbuatannya. Mereka tidak menjadikan dalil agama sebagai alat pembenaran atas nafsu kekuasaan atau kepentingan duniawi. Dalam pandangan beliau, seorang alim adil adalah sosok yang mampu menjadikan ilmunya sebagai hujjah (argumen) yang kokoh di hadapan syariat. Sebaliknya, alim fasiq adalah mereka yang memiliki pengetahuan luas, namun keilmuannya tidak dibarengi dengan ketakwaan, sehingga sering kali dalil agama diperalat untuk membenarkan tindakan yang menyimpang atau demi melayani kepentingan penguasa yang zalim.
Korupsi selalu menjadi tajuk utama dalam pemberitaan nasional. Hampir setiap pekan, publik...
Malam itu, di Mushola Al-Jailani yang terletak di kompleks Gedung Pimpinan Pusat...
Agustus selalu datang dengan nuansa yang khas, sebuah ritme tahunan yang membangkitkan...
Di sebuah kampung kecil yang sunyi, di mana waktu seolah berjalan lebih...
Dalam dinamika perjalanan sebuah organisasi, sering kali muncul kekeliruan fundamental dalam memaknai...
Bulan Rabiul Awal selalu menjadi momentum refleksi mendalam bagi umat Islam di...
BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Di tengah semarak perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-81, semangat patriotisme membuncah di seluruh penjuru negeri. Tak terkecuali para punggawa Tim Nasional Sepak Bola Indonesia, Skuad Garuda, yang turut serta dalam merayakan momen bersejarah ini dengan doa dan harapan tulus untuk kemajuan bangsa. Melalui akun Instagram resmi @timnasindonesia, sejumlah pemain berbagi pesan menyentuh yang merefleksikan kecintaan mereka pada tanah air dan impian untuk Indonesia yang lebih baik di masa depan.
Deretan pemain bintang seperti Nadeo Argawinata, Saddil Ramdani, Ivar Jener, Justin Hubner, Emil Audero, dan Beckham Putra turut ambil bagian dalam menyampaikan ucapan dan doa mereka. Momen ini menjadi sarana bagi para atlet kebanggaan bangsa ini untuk menunjukkan bahwa cinta tanah air tidak hanya terpancar di lapangan hijau, tetapi juga dalam setiap helaan napas dan untaian doa. Pesan-pesan yang disampaikan pun senada, menyerukan persatuan, semangat juang, dan optimisme untuk menghadapi tantangan serta meraih kejayaan di masa mendatang.
Saddil Ramdani, salah satu pemain yang dikenal dengan semangat juangnya yang tinggi, dalam video yang diunggah menyampaikan pesan yang lugas namun penuh makna, "Mari maju bersama untuk kemerdekaan Indonesia yang lebih baik." Kalimat singkat ini mengandung ajakan untuk bergerak serentak, bersatu padu, dan berkolaborasi demi menciptakan Indonesia yang lebih unggul dan sejahtera. Semangat kolektif inilah yang menjadi fondasi utama dalam setiap pencapaian, baik di bidang olahraga maupun aspek kehidupan lainnya.
Explore verified news and knowledge about Olahraga.
Explore →Explore verified news and knowledge about Teknologi.
Explore →Explore verified news and knowledge about Otomotif.
Explore →Explore verified news and knowledge about Seleb.
Explore →Explore verified news and knowledge about Dunia.
Explore →Explore verified news and knowledge about Rifaiyah.
Explore →Explore verified news and knowledge about Gadgets.
Explore →Explore verified news and knowledge about Blog.
Explore →Explore verified news and knowledge about sundoluhur.
Explore →