Rifan Muazin Ar-Rifai
Jumat, 02 Oktober 2026 | 19.14 WIB

Dunia Makna Batik Rifa’iyah

Pada suatu hari, Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau yang akrab disapa HAMKA pernah ditanya oleh seorang wartawan perihal perasaannya terhadap orang-orang yang sempat menjebloskannya ke balik jeruji besi. Alih-alih memendam kebencian kepada para mantan aktivis Lekra yang menjadi dalang di balik penahanannya, HAMKA justru mengungkapkan rasa syukur yang mendalam atas dua tahun masa pengasingannya. Jawaban tersebut tentu memicu keheranan banyak orang. Namun, menurut pengakuan beliau, kehidupan di penjara justru membawa hikmah dan berkah yang tak terhingga. Di balik keterbatasan ruang gerak, beliau justru mendapatkan waktu yang cukup untuk merampungkan mahakarya Tafsir al-Azhar yang sempat terhenti selama beberapa tahun. Andaikan beliau tidak dipenjara, niscaya tafsir berjumlah 9 jilid itu tak akan pernah tuntas karena padatnya aktivitas melayani umat.

Peristiwa ini membawa kita pada sebuah perenungan mendalam: mengapa ada manusia yang mampu bersyukur di tengah penderitaan, sementara yang lain justru mengeluh meski dalam kondisi kecukupan? Apa yang membedakan kualitas batin manusia dalam menghadapi realitas yang sama? Salah satu jawabannya terletak pada kemampuan manusia dalam memaknai kehidupan. Manusia bukanlah makhluk yang sekadar hidup untuk bertahan (survival), melainkan makhluk yang terus mencari makna. Makna terjauh dan paling hakiki dari kehidupan ini adalah agama, yang berperan sebagai kompas untuk mengenalkan manusia pada tujuan akhiratnya.

Ambil contoh seorang orang tua yang justru bersyukur ketika anaknya lahir dalam kondisi bisu. Bagi orang lain, disabilitas adalah musibah yang patut disesali. Namun, orang tua tersebut memaknainya sebagai anugerah, sebab mulut sang anak akan terbebas dari kemaksiatan dan terhindar dari beratnya beban hisab di hari akhir nanti. Cara pandang ini membuktikan bahwa realitas hanyalah bahan mentah, sementara makna adalah hasil olahan ruhani manusia. Semakin tinggi aras spiritual seseorang, semakin dalam ia mampu memaknai segala sesuatu—bahkan hingga ke titik-titik goresan pada sebuah kain batik. Pepatah bijak mengatakan, “Manusia tak bisa dibunuh oleh penderitaan, tetapi ia bisa mati karena salah memaknai penderitaan.” Kebahagiaan dan kesedihan sejatinya bukanlah peristiwa itu sendiri, melainkan hasil dari bagaimana kita menerjemahkan setiap detik kehidupan.

Dunia Makna Batik Rifa’iyah

Di tengah kreativitas manusia dalam mengolah makna, lahirlah sebuah peradaban kecil yang bernama Batik Rifa’iyah. Batik ini bukanlah sekadar komoditas dagang atau identitas busana semata. Ia adalah jejak laku batin para pembatiknya yang berpegang teguh pada ajaran Syaikhina KH. Ahmad Rifa’i. Batik Rifa’iyah lahir dari tangan-tangan masyarakat awam yang religius, bukan dari lingkungan keraton yang elitis. Karena itulah, motif-motifnya tidak merujuk pada sastra pujangga, melainkan pada bahasa pergaulan sehari-hari masyarakat Batang dan Pekalongan yang sarat akan nilai spiritualitas.

Menurut Mutmainah, seorang pembatik dari Kalipucang, Batang, saat ini terdapat setidaknya 24 motif batik Rifa’iyah yang terus dilestarikan dan diinovasikan. Daftar motif tersebut meliputi Pelo Ati, Kotak Kitir, Banji, Sigar Kupat, Lancur, Tambal, Kawung Ndog, Kawung Jenggot, Dlorong, Materos Satrio, Ila Ili, Gemblong Sairis, Dapel, Nyah Pratin, Romo Gendong, Jeruk No’i, Keongan, Krokotan, Liris, Klasem, Kluwungan, Jamblang, Gendaghan, dan Wagean. Setiap motif di atas bukan sekadar hiasan, melainkan medium dakwah yang mendidik kehidupan batin penggunanya.

Sebagai contoh, mari kita selami motif Pelo Ati. Motif ini menggambarkan ajaran tasawuf yang mendalam. Secara visual, ia menampilkan gambar ayam merak yang kepalanya terpancung, di dalam badannya terdapat hati, dan di luarnya ada pelo (ampela). Secara filosofis, hati melambangkan sifat-sifat terpuji yang harus dirawat, sementara ampela melambangkan tempat kotoran, yang merepresentasikan sifat-sifat buruk manusia. Pesannya jelas: sifat tercela harus dibuang jauh-jauh agar ruhani tetap bersih.

Dunia Makna Batik Rifa’iyah

Selanjutnya, mari kita cermati motif Gendhakan. Secara etimologis, dalam pergaulan muda-mudi di Pekalongan, gendhakan sering diartikan sebagai pacaran. Namun, dalam konteks batik Rifa’iyah, motif ini adalah stilasi dari pohon besar yang dihuni oleh burung-burung yang ceria. Pohon besar menjadi simbol pengayoman. Jika kita tarik ke ranah filosofis, Gendhakan di sini dimaknai sebagai harmoni kehidupan (simbiosis mutualisme). Manusia tidak bisa hidup sendiri; kita bergantung pada oksigen dari tumbuhan dan jasa dari makhluk lainnya. Motif ini mengajarkan bahwa hubungan antarmanusia haruslah harmonis, saling menolong, dan tidak saling merugikan, layaknya alam yang saling menopang.

Secara estetika, motif Gendhakan didominasi warna abu-abu dan biru tua. Biru melambangkan kedalaman, iman, ketulusan, serta kebijaksanaan. Dalam perspektif psikologi warna, biru memberikan rasa aman dan tanggung jawab. Penggunaan warna ini mempertegas bahwa Batik Rifa’iyah bukan hanya soal keindahan visual, tetapi tentang menciptakan atmosfer kedamaian dan ketenangan bagi pemakainya. Hubungan harmonis antarmanusia dan alam ini senada dengan ajaran KH. Ahmad Rifa’i dalam kitab Riayah al-Himmah, yang menegaskan pentingnya memberikan hak kepada kerabat dekat, orang miskin, dan musafir sebagai bentuk nyata ketaatan kepada Allah SWT.

Selain Gendhakan, terdapat motif Dapel yang memiliki bentuk belah ketupat yang tersusun berbanjar. Nama Dapel sendiri bukan berasal dari bahasa Jawa standar, melainkan serapan dari bahasa lokal yang merefleksikan nilai-nilai kerakyatan. Secara filosofis, Dapel bisa dimaknai sebagai akronim dari Andhap Ashor Matikel-tikel. Andhap ashor berarti rendah hati, dan matikel-tikel berarti berlipat ganda. Jadi, motif ini adalah pengingat bagi manusia untuk selalu memiliki kerendahan hati yang berlipat ganda dalam bergaul dengan sesama.

Dunia Makna Batik Rifa’iyah

Batik Rifa’iyah mengajarkan bahwa keberhasilan dalam hidup tidak diukur dari seberapa tinggi jabatan kita, melainkan dari seberapa besar manfaat yang kita berikan kepada orang lain. Sebagaimana pesan yang tertuang dalam ajaran KH. Ahmad Rifa’i, seorang mukmin sejati adalah ia yang selalu menolong saudaranya dalam kebaikan. Menolong saudara yang rendah derajatnya dengan cara dijunjung (diangkat martabatnya) adalah bentuk ibadah yang agung di sisi Allah. Hal ini menunjukkan bahwa setiap goresan canting pada kain batik Rifa’iyah adalah upaya untuk membumikan nilai-nilai syariat ke dalam kehidupan sehari-hari.

Pada akhirnya, Batik Rifa’iyah adalah bukti bahwa dunia makna tidaklah terbatas. Manusia yang berjiwa besar akan mampu melihat "Tuhan" di balik setiap peristiwa, sebagaimana HAMKA melihat "hikmah" di balik jeruji penjara. Begitu pula dengan Batik Rifa’iyah; ia adalah manifestasi dari ketaatan yang dituangkan dalam lembaran kain. Bagi para pengrajin dan pemakainya, batik ini bukan sekadar penutup aurat atau pelengkap busana, melainkan sebuah komitmen untuk terus memperbaiki diri (muhasabah), menjaga hubungan harmonis dengan sesama (hablum minannas), dan selalu berupaya meraih rida Allah (hablum minallah).

Melalui motif-motif seperti Pelo Ati yang mengingatkan kita untuk membersihkan hati dari kotoran sifat tercela, hingga Dapel yang mengajak kita untuk rendah hati dan saling menolong, Batik Rifa’iyah telah menjelma menjadi "kitab berjalan". Ia adalah warisan peradaban yang mengajarkan bahwa di dunia yang serba cepat dan penuh dengan kebisingan ini, manusia sesekali perlu berhenti, merenung, dan kembali memaknai setiap langkah hidupnya dengan cahaya spiritualitas. Batik Rifa’iyah adalah pengingat bahwa kita semua sedang menenun perjalanan menuju Tuhan, dan setiap motif yang kita goreskan dalam kehidupan akan menjadi saksi atas kualitas batin yang kita bawa pulang ke haribaan-Nya. Dengan demikian, mari kita jadikan hidup ini sebagai karya seni yang bermakna, di mana setiap kesulitan kita maknai sebagai proses pendewasaan, dan setiap keberhasilan kita jadikan sarana untuk menebar kasih sayang kepada sesama makhluk ciptaan Allah. Itulah hakikat dari dunia makna yang tertuang dalam setiap helai kain Batik Rifa’iyah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mungkin Anda Lewatkan