Rifan Muazin Ar-Rifai
Senin, 14 September 2026 | 01.14 WIB

Muntoha: Jejak Perjuangan KH. Ahmad Rifa’i Masih Hidup di Kendal

KH. Ahmad Rifa’i, sosok ulama besar yang dianugerahi gelar Pahlawan Nasional, bukan sekadar nama dalam buku sejarah bagi masyarakat Kabupaten Kendal. Hingga saat ini, jejak perjuangan, pemikiran, serta nilai-nilai dakwah yang beliau tanamkan masih terasa hidup dan menjadi napas kehidupan bagi banyak kalangan. Penegasan ini disampaikan oleh Plt Kepala Dinas Perpustakaan Kabupaten Kendal yang juga menjabat sebagai Asisten Administrasi Umum Sekretariat Daerah Kabupaten Kendal, Muntoha, S.Km., M.Kes., dalam gelaran Kemah Literasi 2026 yang diinisiasi oleh Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Kendal.

Dalam forum yang mempertemukan berbagai elemen masyarakat dan generasi muda tersebut, Muntoha menekankan bahwa identitas Kabupaten Kendal sangat erat kaitannya dengan sejarah panjang perjuangan KH. Ahmad Rifa’i. Sebagai tokoh yang berani menentang kolonialisme melalui jalur pendidikan dan dakwah, KH. Ahmad Rifa’i telah meletakkan fondasi moral dan religius yang kuat bagi masyarakat Jawa, khususnya di wilayah Kendal dan sekitarnya. Menurut Muntoha, eksistensi beliau tidak hanya terbatas pada peninggalan artefak sejarah, melainkan tertanam dalam perilaku, etika, dan semangat keagamaan masyarakat yang terus terjaga hingga generasi hari ini.

Muntoha: Jejak Perjuangan KH. Ahmad Rifa’i Masih Hidup di Kendal

“Jejak KH. Ahmad Rifa’i masih ada sampai saat ini di Kabupaten Kendal. Beliau tidak hanya meninggalkan sejarah, tetapi juga nilai-nilai perjuangan yang terus menjadi inspirasi bagi masyarakat,” ungkap Muntoha dalam sambutannya. Ia menambahkan bahwa nilai-nilai tersebut mencakup keberanian untuk menyatakan kebenaran, kemandirian dalam berpikir, serta komitmen untuk memerdekakan umat dari kebodohan dan penindasan. Bagi Muntoha, mengenali KH. Ahmad Rifa’i adalah langkah awal bagi generasi muda untuk memahami akar jati diri mereka sebagai bagian dari bangsa yang besar.

Pentingnya edukasi sejarah bagi generasi muda menjadi poin krusial dalam diskusi tersebut. Muntoha mengajak para pemuda untuk tidak sekadar mengenal nama KH. Ahmad Rifa’i, tetapi juga mendalami perjalanan hidup beliau yang penuh dengan pengorbanan. Perjuangan sang ulama yang harus mengalami pengasingan karena sikap kritisnya terhadap penjajah merupakan teladan nyata tentang arti dedikasi. Di tengah gempuran arus informasi dan modernisasi yang cenderung melunturkan nilai-nilai lokal, kisah hidup KH. Ahmad Rifa’i menjadi penyeimbang yang mampu membentuk karakter pemuda agar tetap memiliki integritas dan cinta tanah air.

Lebih lanjut, Muntoha berharap agar semangat juang yang diwariskan oleh pahlawan nasional asal Kendal ini dapat terus digelorakan. Tantangan zaman yang semakin kompleks, mulai dari ancaman degradasi moral hingga persaingan global, membutuhkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki karakter yang kuat. Ia meyakini bahwa dengan meneladani semangat kemandirian dan keberanian KH. Ahmad Rifa’i, generasi muda Kendal akan mampu menghadapi tantangan masa depan dengan lebih tangguh. “Semangat perjuangan kemerdekaan Indonesia yang telah diwariskan para ulama dan pahlawan bangsa harus terus dijaga dan diteruskan oleh generasi muda Kendal,” tegasnya.

Muntoha: Jejak Perjuangan KH. Ahmad Rifa’i Masih Hidup di Kendal

Dalam kesempatan tersebut, Muntoha juga menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada keluarga besar Rifa’iyah. Kehadiran organisasi ini dalam kegiatan Kemah Literasi memberikan warna tersendiri, sekaligus mempertegas bahwa dakwah KH. Ahmad Rifa’i masih terus relevan dan terus berkembang. Sinergi antara pemerintah daerah dengan elemen masyarakat, termasuk organisasi keagamaan, dinilai sebagai kunci sukses dalam menjaga warisan sejarah lokal agar tetap relevan di mata generasi masa kini.

Gelar Wicara Kemah Literasi 2026 ini sendiri menjadi wadah yang efektif untuk membedah pemikiran KH. Ahmad Rifa’i dari berbagai sudut pandang. Tidak hanya bicara mengenai aspek kesejarahan, diskusi juga menyentuh aspek literasi dakwah beliau yang luar biasa. Diketahui bahwa KH. Ahmad Rifa’i menuliskan banyak karya dalam bentuk puisi atau nadzam yang memudahkan masyarakat awam pada masanya untuk memahami hukum Islam dan semangat perlawanan. Hal ini menunjukkan bahwa beliau adalah seorang pendidik ulung yang mampu mengemas pesan-pesan berat menjadi sesuatu yang mudah dicerna dan diterima oleh masyarakat luas.

Muntoha menegaskan bahwa kegiatan yang mengangkat tema sejarah lokal semacam ini harus terus ditingkatkan frekuensinya. Ia berharap, Dinas Kearsipan dan Perpustakaan dapat terus menjadi fasilitator bagi masyarakat untuk menggali kembali kekayaan sejarah daerah. Menurutnya, literasi bukan hanya soal membaca buku, tetapi juga literasi sejarah, di mana masyarakat mampu membaca tanda-tanda zaman melalui peristiwa masa lalu. Dengan memahami sejarah tokoh-tokoh besar seperti KH. Ahmad Rifa’i, masyarakat akan memiliki rasa bangga terhadap daerahnya sendiri.

Muntoha: Jejak Perjuangan KH. Ahmad Rifa’i Masih Hidup di Kendal

Sebagai penutup, Muntoha menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh pihak yang telah bekerja keras menyukseskan acara ini. Ia berpesan kepada para peserta Kemah Literasi agar ilmu yang didapatkan tidak berhenti pada kegiatan ini saja, tetapi diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Ia berharap kegiatan ini menjadi pintu gerbang bagi munculnya inisiatif-inisiatif baru dalam merawat sejarah dan budaya lokal. “Semoga kegiatan seperti ini terus memberikan manfaat dan menumbuhkan kesadaran generasi muda akan pentingnya sejarah serta perjuangan para pendahulu,” tutupnya dengan harapan besar.

Acara yang dipenuhi dengan antusiasme peserta tersebut menjadi bukti nyata bahwa semangat KH. Ahmad Rifa’i memang belum padam. Sosok yang di masa hidupnya dikenal sebagai pejuang tanpa pamrih ini tetap dicintai dan dihormati oleh masyarakat Kendal. Melalui upaya-upaya pemerintah daerah yang didukung penuh oleh berbagai pihak, jejak perjuangan beliau akan terus terjaga, menjadi kompas bagi generasi mendatang dalam mengarungi dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara.

Perjuangan KH. Ahmad Rifa’i adalah bukti bahwa ulama memiliki peran sentral dalam memerdekakan Indonesia, bukan hanya dengan senjata, tetapi juga dengan pena dan dakwah yang mencerahkan. Di Kendal, warisan ini adalah modal berharga. Muntoha pun mengajak semua pihak untuk terus bersinergi, menjadikan nilai-nilai perjuangan tersebut sebagai spirit pembangunan daerah, menuju Kendal yang lebih maju, berbudaya, dan religius sesuai dengan cita-cita luhur para pendahulu. Dengan meneladani langkah sang pahlawan, masa depan Kendal diyakini akan tetap berpijak pada nilai-nilai kebenaran dan kemanusiaan yang universal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mungkin Anda Lewatkan