0

Arab Saudi Vs Houthi Makin Menjadi-jadi: Laut Merah Kembali Membara dan Ancaman Perang Meluas

Share

Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali mencapai titik didih setelah koalisi militer pimpinan Arab Saudi melancarkan serangkaian serangan udara ke wilayah Yaman yang dikuasai kelompok pemberontak Houthi. Eskalasi ini dipicu oleh rentetan serangan Houthi terhadap kapal-kapal komersial di jalur strategis Laut Merah, sebuah tindakan yang dianggap Riyadh sebagai ancaman langsung terhadap keamanan maritim global dan stabilitas ekonomi kawasan. Konflik yang sempat mereda sejak gencatan senjata tahun 2022 kini terancam hancur total, membawa kembali bayang-bayang perang saudara yang telah meluluhlantakkan Yaman selama satu dekade terakhir.

Serangan udara koalisi pimpinan Saudi pada Jumat (24/7/2026) menyasar sejumlah situs militer vital milik Houthi, khususnya di kota pelabuhan Hodeida dan pulau strategis Kamaran. Juru bicara koalisi, Turki al-Maliki, melalui platform media sosial X, menegaskan bahwa tindakan militer tersebut merupakan respons "tegas dan kuat" atas provokasi yang dilakukan Houthi. Menurut al-Maliki, kelompok pemberontak yang didukung Iran tersebut telah melakukan tindakan teroris dengan menargetkan kapal dagang yang melintasi Laut Merah, yang merupakan urat nadi perdagangan dunia. Koalisi mengeklaim telah berhasil menghancurkan target-target yang digunakan Houthi untuk melancarkan serangan terhadap pelayaran internasional.

Namun, operasi militer ini tidak tanpa dampak bagi warga sipil. Laporan dari media yang berafiliasi dengan Houthi, al-Masirah, menyebutkan bahwa serangan Saudi telah menyebabkan korban jiwa dan luka-luka. Seorang pekerja di gedung telekomunikasi di Hodeida serta seorang wanita di pulau Kamaran dilaporkan terluka akibat ledakan bom tersebut. Insiden ini segera dimanfaatkan oleh kelompok Houthi sebagai bahan propaganda untuk menyudutkan Arab Saudi di mata dunia internasional. Mereka menuduh Riyadh sengaja menargetkan infrastruktur sipil, sebuah tuduhan yang sering kali menjadi bumbu dalam perang narasi di kawasan tersebut.

Tidak butuh waktu lama bagi Houthi untuk memberikan balasan. Berselang beberapa jam setelah serangan Saudi, kelompok tersebut bersumpah akan melakukan pembalasan yang mematikan. Media Ansarollah milik Houthi di Telegram secara terbuka menyatakan bahwa "kejahatan" Saudi tidak akan dibiarkan begitu saja. Ancaman tersebut bukan sekadar retorika belaka; pada Sabtu (25/7/2026) pagi, Houthi mengeklaim telah meluncurkan serangan rudal balistik yang menyasar kota Jizan di wilayah Arab Saudi bagian selatan. Laporan awal menyebutkan bahwa serangan rudal tersebut memicu kebakaran hebat di kawasan Jizan, sebuah wilayah yang kerap menjadi target serangan lintas batas dalam sejarah konflik Saudi-Yaman.

Situasi di lapangan pun semakin kacau. Badan pertahanan sipil Riyadh sempat mengeluarkan peringatan darurat bagi penduduk di kota Jizan dan Yanbu mengenai "potensi bahaya" serangan udara. Meskipun peringatan tersebut dicabut beberapa menit kemudian, kepanikan warga tidak terelakkan. Peringatan serupa biasanya hanya muncul ketika radar mendeteksi adanya pergerakan rudal atau drone bunuh diri yang mendekati wilayah kedaulatan Saudi. Hingga saat ini, otoritas Arab Saudi belum memberikan pernyataan resmi secara rinci mengenai kerusakan yang diakibatkan oleh rudal Houthi tersebut, namun ketegangan di perbatasan selatan terus meningkat tajam.

Konflik yang kian memanas ini terjadi di tengah dinamika geopolitik yang lebih luas. Pengamat menilai bahwa peningkatan ketegangan ini merupakan bagian dari "front baru" yang melanda Timur Tengah, menyusul serangkaian konfrontasi antara poros perlawanan yang didukung Iran dengan sekutu Barat dan Israel sejak awal tahun 2024. Perang di Yaman, yang telah berlangsung sejak 2014 dan menewaskan ratusan ribu orang, kini seolah-olah terseret ke dalam pusaran konflik yang lebih besar. Blokade maritim yang diumumkan Houthi terhadap Arab Saudi menjadi kartu as yang dimainkan kelompok tersebut untuk menekan ekonomi Saudi dan sekutunya.

Bagi banyak pihak, eskalasi ini adalah alarm bahaya bagi gencatan senjata yang rapuh sejak 2022. Selama lebih dari dua tahun, dunia sempat menaruh harapan bahwa Yaman akan menuju perdamaian permanen. Namun, dengan saling serang yang kembali terjadi, kesepakatan damai tersebut kini berada di ujung tanduk. Houthi, dengan persenjataan yang semakin canggih—termasuk rudal jelajah dan drone serbu—telah membuktikan bahwa mereka bukan lagi sekadar pemberontak lokal, melainkan kekuatan militer yang mampu mengguncang stabilitas regional.

Di sisi lain, Arab Saudi berada dalam posisi sulit. Di satu sisi, mereka harus menjaga keamanan pelayaran internasional di Laut Merah yang merupakan kepentingan vital bagi ekspor minyak mereka. Di sisi lain, keterlibatan militer secara langsung dan intensif akan membebani anggaran negara dan memperburuk citra internasional Riyadh yang sedang berusaha melakukan transformasi ekonomi besar-besaran melalui visi 2030. Setiap rudal yang jatuh di wilayah Saudi bukan hanya kerugian material, tetapi juga ancaman psikologis bagi investor yang ingin menanamkan modal di kerajaan tersebut.

Dunia internasional, khususnya Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), kini kembali menyoroti krisis Yaman dengan kekhawatiran mendalam. Utusan khusus PBB untuk Yaman diprediksi akan segera melakukan diplomasi ulang untuk mencegah situasi memburuk menjadi perang terbuka berskala penuh. Namun, dengan posisi kedua belah pihak yang kian mengeras, ruang untuk dialog semakin sempit. Houthi merasa memiliki legitimasi karena didukung oleh jaringan regional yang kuat, sementara Arab Saudi merasa berkewajiban melindungi kedaulatan wilayahnya dari serangan yang dianggap sebagai agresi proksi Iran.

Perang ini juga mengungkap kerentanan infrastruktur energi dan logistik di sepanjang pesisir Laut Merah. Hodeida, yang menjadi gerbang utama bantuan kemanusiaan bagi rakyat Yaman, kini berubah kembali menjadi medan pertempuran. Jika pelabuhan ini lumpuh total, maka ancaman kelaparan massal yang sempat melanda Yaman beberapa tahun lalu dikhawatirkan akan terulang kembali. Penderitaan rakyat Yaman, yang terjebak di antara ambisi militer kelompok Houthi dan intervensi koalisi Saudi, menjadi korban nyata dari eskalasi yang tak kunjung usai ini.

Sebagai kesimpulan, ketegangan antara Arab Saudi dan Houthi telah mencapai babak baru yang sangat berbahaya. Saling klaim serangan, penggunaan rudal balistik, dan ancaman pembalasan yang terus-menerus menunjukkan bahwa perdamaian di Yaman masih jauh dari kenyataan. Selama akar permasalahan, yakni persaingan pengaruh regional dan ketidakstabilan politik di Yaman, belum terselesaikan, maka kawasan Laut Merah akan terus menjadi ladang pertempuran bagi kekuatan-kekuatan yang saling berhadapan. Dunia kini hanya bisa menunggu apakah diplomasi dapat meredam bara api ini, atau apakah konflik ini akan semakin meluas dan menyeret lebih banyak aktor ke dalam kancah perang yang tidak berujung. Bagi warga Yaman, setiap ledakan yang terjadi hanyalah pengingat bahwa masa depan mereka masih ditentukan oleh dentuman meriam dan desing rudal yang terus menghantui tanah air mereka.