Home  /  Teknologi

Hewan yang Dikira Punah 66 Juta Tahun Lalu Ditemukan di Indonesia.

Penemuan spesies ikan purba yang diyakini telah punah selama 66 juta tahun, sejak era dinosaurus, adalah salah satu kisah paling menakjubkan dalam sejarah ilmu pengetahuan. Kejutan bermula pada tahun 1938 di perairan Afrika Selatan, namun narasi ini menjadi semakin dramatis ketika kerabat dekatnya ditemukan hidup di kedalaman laut Indonesia, menegaskan kembali statusnya sebagai "fosil hidup" dan menyoroti kekayaan keanekaragaman hayati nusantara yang belum sepenuhnya terungkap.

Kisah penemuan pertama dimulai di pesisir Afrika Selatan. Pada tahun 1930-an, seorang kurator museum yang berdedikasi di East London Museum, Marjorie Courtenay-Latimer, memiliki kebiasaan unik: ia meminta para nelayan setempat untuk memberitahunya jika mereka menemukan sesuatu yang aneh atau tidak biasa dalam tangkapan mereka. Permintaan sederhana ini, yang mungkin dianggap remeh oleh banyak orang, pada akhirnya akan membuka tabir salah satu penemuan ilmiah paling monumental abad ke-20.

Pada tanggal 22 Desember 1938, telepon berdering. Kapten kapal penangkap ikan Nerine, Hendrik Goosen, melaporkan adanya ikan yang sangat ganjil di antara hasil tangkapan sampingan mereka. Tanpa ragu, Courtenay-Latimer segera menghentikan pekerjaannya menata pameran fosil reptil dan bergegas naik taksi menuju dermaga. Sesampainya di sana, ia disuguhi pemandangan yang membuatnya terkesima. Di antara tumpukan ikan lainnya, tergeletaklah makhluk yang ia gambarkan sebagai ikan paling indah yang pernah dilihatnya.

"Warnanya biru pucat keunguan dengan bintik-bintik putih samar; seluruh tubuhnya memiliki kilau warna-warni perak-biru-hijau. Ikan itu diselimuti sisik keras, serta memiliki empat sirip yang menyerupai anggota tubuh dan ekor aneh yang mirip ekor anak anjing," ujarnya kepada The Guardian pada tahun 2004, mengenang momen bersejarah itu. Ikan misterius itu memiliki panjang hampir 1,5 meter, bobotnya yang mencapai puluhan kilogram membuat sopir taksi setempat yang ditugaskan membawanya ke museum pun kebingungan.

Setibanya di museum, dugaannya bahwa ikan itu adalah sesuatu yang luar biasa awalnya diabaikan oleh ketua museum, yang beranggapan ikan tersebut tak lebih dari sekadar ikan rock cod biasa. Namun, Courtenay-Latimer tidak menyerah. Ia mencari jawaban di buku-buku referensi museum, namun tidak menemukan deskripsi yang cocok. Waktu terus berjalan, dan kamar mayat setempat tidak bersedia membantu menjaga bangkai ikan itu tetap dingin. Dalam situasi genting ini, ia harus berpacu dengan waktu untuk mengidentifikasinya sebelum proses pembusukan terjadi. Karena tidak dapat menghubungi ahli yang relevan, ia membuat keputusan sulit: membiarkan isi perut ikan dikeluarkan dan tubuhnya diawetkan (taxidermy) demi mencegah kerusakan lebih lanjut.

Titik terang akhirnya datang setelah beberapa upaya gagal untuk menghubungi James Leonard Brierley Smith, seorang ahli ikan terkemuka dari Rhodes University di Grahamstown (sekarang Makhanda). Smith akhirnya menanggapi surat Courtenay-Latimer yang menyertakan sketsa kasar spesimen tersebut. Rasa penasaran membawanya mengunjungi museum pada 16 Februari 1939. Begitu melihat ikan yang diawetkan itu, Smith mengaku sangat terkejut dan terguncang.

"Meskipun saya sudah bersiap, pemandangan pertama itu menghantam saya bagaikan semburan panas yang membara dan membuat saya merasa gemetar serta aneh; tubuh saya terasa berdesir," tulis Smith dalam bukunya, ‘Old Fourlegs: The Story Of The Coelacanth’. "Saya berdiri mematung seolah-olah berubah menjadi batu. Ya, tidak ada keraguan sedikit pun; mulai dari sisik demi sisik, tulang demi tulang, hingga sirip demi sirip, itu benar-benar seekor coelacanth."

Penemuan ini adalah kejutan besar bagi komunitas global. Sebelum 1938, coelacanth hanya dikenal dari catatan fosil yang berusia jutaan tahun, dan para ilmuwan meyakini bahwa hewan ini telah punah sekitar 66 juta tahun yang lalu, bersamaan dengan kepunahan dinosaurus pada akhir periode Kapur. Keberadaannya yang masih hidup dijuluki "fosil hidup" karena ia mempertahankan karakteristik morfologi yang sangat mirip dengan nenek moyang fosilnya, menunjukkan evolusi yang sangat lambat selama jutaan tahun.

Ikan yang luar biasa ini lantas diberi nama ilmiah Latimeria chalumnae, diambil dari nama kurator yang jeli, Marjorie Courtenay-Latimer, dan Sungai Chalumna di dekat tempat ikan itu ditemukan. Penemuan ini bukan hanya sekadar identifikasi spesies baru, melainkan sebuah jendela ke masa lalu geologis Bumi, memberikan wawasan tak ternilai tentang evolusi vertebrata, terutama transisi dari kehidupan air ke darat, mengingat siripnya yang unik menyerupai anggota tubuh.

Smith sendiri mendedikasikan hidupnya untuk mempelajari coelacanth dan memimpin pencarian yang mengarah pada penemuan coelacanth kedua 14 tahun kemudian. Kini, diperkirakan setidaknya ada dua spesies hidup coelacanth di lautan: L. chalumnae yang ditemukan di perairan Afrika, dan yang lebih relevan bagi kita, coelacanth Indonesia, Latimeria menadoensis.

Kisah coelacanth Indonesia, Latimeria menadoensis, adalah babak baru yang tak kalah menarik. Dikenal juga sebagai "ikan raja laut" oleh masyarakat lokal, spesies ini menambah misteri dan keunikan ekosistem laut Indonesia. Penemuan spesies ini bermula pada tahun 1997, ketika dua peneliti, Arnaz dan Erdmann, secara tak sengaja menemukan ikan aneh di pasar ikan di Manado, Sulawesi Utara. Awalnya mereka mengira itu adalah Latimeria chalumnae yang tersesat, namun analisis genetik kemudian mengkonfirmasi bahwa itu adalah spesies yang berbeda dan endemik di perairan Indonesia. Penemuan ini memicu kegembiraan besar di kalangan ilmuwan dan masyarakat, menegaskan kembali Indonesia sebagai salah satu pusat keanekaragaman hayati laut dunia.

Latimeria menadoensis memiliki warna yang lebih keabu-abuan dibandingkan dengan sepupunya yang berwarna biru di Afrika, tetapi morfologinya tetap menunjukkan ciri khas coelacanth: sirip berlobus yang unik, sisik tebal, dan struktur tubuh yang primitif. Ikan ini mendiami perairan dalam, biasanya pada kedalaman 100 hingga 1.000 meter, di mana suhu air sangat dingin dan cahaya matahari tidak menembus. Habitatnya yang tersembunyi inilah yang mungkin menjadi salah satu alasan mengapa ia berhasil bertahan hidup selama jutaan tahun tanpa terdeteksi oleh ilmu pengetahuan modern.

Penemuan L. menadoensis di Manado pada tahun 1997 diikuti oleh beberapa penampakan dan studi lebih lanjut di perairan Indonesia. Baru-baru ini, laporan penemuan spesies ini kembali muncul di laut dalam Maluku Utara, menunjukkan bahwa penyebarannya mungkin lebih luas di perairan kepulauan Indonesia daripada yang diperkirakan sebelumnya. Penemuan-penemuan ini membuka peluang besar untuk penelitian lebih lanjut tentang ekologi, perilaku, dan status konservasi coelacanth Indonesia.

Meskipun telah bertahan selama ratusan juta tahun, coelacanth kini menghadapi ancaman serius. International Union for Conservation of Nature (IUCN) mengklasifikasikan coelacanth dalam kondisi "sangat terancam punah" (critically endangered). Ancaman utama meliputi penangkapan ikan secara tidak sengaja (bycatch) oleh kapal-kapal penangkap ikan di perairan dalam, terutama jaring pukat dasar, serta habitat yang terbatas dan laju reproduksi yang sangat lambat. Coelacanth betina diketahui memiliki masa kehamilan yang sangat panjang, bisa mencapai beberapa tahun, dan hanya melahirkan sedikit anak, yang membuat populasi mereka sangat rentan terhadap gangguan.

Studi tentang coelacanth terus berlanjut, dengan para ilmuwan menggunakan teknologi bawah air canggih seperti ROV (Remotely Operated Vehicle) dan kapal selam berawak untuk mengamati makhluk purba ini di habitat aslinya. Pengamatan ini telah memberikan wawasan berharga tentang perilaku mereka, termasuk pergerakan yang lambat, kemampuan mereka untuk "berjalan" di dasar laut menggunakan sirip berlobus, dan kebiasaan mereka bersembunyi di gua-gua bawah laut.

Coelacanth adalah simbol keajaiban evolusi dan misteri lautan yang tak terhingga. Keberadaannya mengingatkan kita bahwa masih banyak makhluk hidup yang belum kita ketahui, tersembunyi di kedalaman samudra yang luas. Penemuan awalnya di Afrika, dan kemudian di Indonesia, menyoroti pentingnya eksplorasi ilmiah dan upaya konservasi global untuk melindungi keanekaragaman hayati planet ini. Kisah "ikan fosil hidup" ini adalah panggilan untuk terus menjaga laut kita, agar generasi mendatang juga dapat terinspirasi oleh keajaiban alam yang tak terduga ini. Demikian melansir IFLScience, Sabtu (15/8/2026).

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *