0

Membumikan Ajaran KH. Ahmad Rifa’i di Tanah Sriwijaya

Share

Semangat untuk melestarikan dan mengaktualisasikan warisan intelektual ulama Nusantara kini menemukan momentumnya di Bumi Sriwijaya. Angkatan Muda Rifa’iyah (AMRI) melalui program Turun ke Bawah (Turba) Pimpinan Pusat AMRI ke Pulau Andalas, secara konsisten menggerakkan syiar dakwah melalui tema besar "Membumikan Karya Ulama Nusantara KH Ahmad Rifa’i di Bumi Sriwijaya." Langkah ini menjadi bukti nyata bahwa ajaran KH. Ahmad Rifa’i, yang dikenal melalui metode Tarajumah, memiliki daya ikat yang kuat bagi umat, tidak hanya di tanah kelahirannya di Jawa, tetapi juga merambah luas hingga ke pelosok Sumatera.

Rangkaian kegiatan ini diawali dengan kunjungan strategis ke Provinsi Sumatera Selatan, tepatnya di Masjid Al-Muttaqin, Desa Putak, Kecamatan Gelumbang, Kabupaten Muara Enim, pada Selasa, 13 Mei 2026. Pemilihan lokasi ini bukan tanpa alasan, sebab Desa Putak menjadi titik sentral bagi konsolidasi warga Rifa’iyah di wilayah tersebut. Sejak pukul 14.00 WIB, suasana masjid telah dipenuhi oleh sekitar 300 jamaah yang antusias menghadiri pengajian akbar. Kehadiran jamaah yang terdiri dari laki-laki dan perempuan dari berbagai pelosok Sumatera Selatan ini menunjukkan betapa besarnya kerinduan umat untuk mendalami pemikiran KH Ahmad Rifa’i ibn Muhammad, seorang ulama besar yang pemikirannya dikenal sangat tegas dalam menjaga kemurnian akidah, syariat, dan tasawuf.

Membumikan Ajaran KH. Ahmad Rifa’i di Tanah Sriwijaya

Dalam sesi pengajian, pesan-pesan utama yang disampaikan berfokus pada pentingnya memahami ajaran Tarajumah. Tarajumah sendiri bukan sekadar metode penerjemahan, melainkan sebuah instrumen dakwah yang dirancang oleh KH Ahmad Rifa’i agar masyarakat awam dapat memahami inti ajaran Islam dengan bahasa yang sederhana namun sarat makna. Dengan menggunakan pendekatan ini, pemahaman keagamaan jamaah tidak hanya berhenti pada ritual ibadah, tetapi juga mencakup kesadaran sosial dan etika beragama yang sesuai dengan tuntunan kitab-kitab beliau.

Setelah rangkaian pengajian berakhir, agenda berlanjut ke sesi yang lebih formal dan strategis, yakni pembukaan Latihan Kader Dasar (LKD) Pimpinan Wilayah (PW) AMRI Provinsi Sumatera Selatan yang dimulai pada pukul 20.00 WIB. LKD ini diikuti oleh 75 peserta yang merupakan kader-kader muda pilihan dari berbagai daerah di Sumatera Selatan. Kegiatan ini secara simbolis dibuka dengan kehadiran Kepala Desa Putak, Marlin Kusmiran, S.Pd., serta perwakilan dari Musyawarah Pimpinan Kecamatan (MUSPIKA) Gelumbang. Kehadiran tokoh-tokoh lokal tersebut menegaskan adanya dukungan penuh dari pemerintah setempat terhadap upaya penguatan literasi dan kaderisasi pemuda Islam di wilayah mereka.

Dalam sambutannya, Ketua Umum PP AMRI, Abdul Kholiq, M.Pd., menekankan bahwa tantangan zaman yang semakin kompleks menuntut generasi muda untuk memiliki fondasi keilmuan yang kokoh. Sebagai bekal utama dalam LKD tersebut, para peserta dibekali dengan kitab MPKT (Metode Pengajaran Kitab Tarajumah). Kitab ini bukan sekadar buku teks biasa, melainkan hasil karya para masyayikh Rifa’iyah di Pati yang diterbitkan oleh UMRI Pati. MPKT berfungsi sebagai syarah atau penjelasan mendalam dari kitab Ri’ayatul Himmah, mahakarya KH Ahmad Rifa’i yang mengintegrasikan tiga pilar utama agama: ushuluddin, fiqih, dan tasawuf. Penyerahan kitab secara langsung kepada peserta diklat menjadi momen emosional yang melambangkan estafet perjuangan intelektual dari generasi tua kepada generasi muda.

Membumikan Ajaran KH. Ahmad Rifa’i di Tanah Sriwijaya

Pentingnya MPKT sebagai pedoman terletak pada sistematikanya yang memudahkan kader muda dalam memahami konsep-konsep rumit dalam kitab klasik. Dengan MPKT, ajaran-ajaran KH Ahmad Rifa’i yang selama ini mungkin dianggap sulit dijangkau, menjadi lebih "membumi" dan relevan dengan realitas kehidupan modern. Inilah inti dari misi "Membumikan Karya Ulama Nusantara" yang diusung oleh AMRI; yaitu mentransformasikan ajaran-ajaran klasik ke dalam bentuk yang dapat dipelajari, dipahami, dan dipraktikkan oleh generasi milenial dan Gen Z tanpa menghilangkan esensi aslinya.

Lebih jauh lagi, kegiatan Turba ke Pulau Andalas ini mencerminkan visi jangka panjang organisasi Rifa’iyah untuk melakukan penguatan organisasi di luar Pulau Jawa. Sumatera Selatan, sebagai gerbang masuknya pengaruh keislaman di masa lalu, kini menjadi laboratorium penting bagi pengembangan dakwah Rifa’iyah. Semangat dakwah yang dibawa oleh PP AMRI tidak hanya sekadar kegiatan seremonial, tetapi merupakan upaya sistematis dalam membangun ekosistem kader yang militan, literat, dan berpegang teguh pada ajaran ulama Nusantara.

Selama proses LKD, peserta tidak hanya diberikan materi teori, tetapi juga diajak untuk berdiskusi mengenai tantangan dakwah di era digital. Bagaimana nilai-nilai Ri’ayatul Himmah dapat dijadikan solusi atas problematika moralitas dan radikalisme yang sering kali mengatasnamakan agama. Dengan pemahaman yang benar melalui metode Tarajumah, diharapkan para kader AMRI di Sumatera Selatan mampu menjadi garda terdepan dalam menjaga moderasi beragama dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat sekitar.

Membumikan Ajaran KH. Ahmad Rifa’i di Tanah Sriwijaya

Keberhasilan acara ini juga tidak lepas dari kolaborasi antara pusat dan daerah. Sinergi antara PP AMRI, PW AMRI Sumatera Selatan, dan masyarakat lokal menunjukkan bahwa organisasi ini memiliki akar yang kuat. Partisipasi aktif dari warga Desa Putak, misalnya, membuktikan bahwa ajaran KH Ahmad Rifa’i telah diterima dengan baik sebagai pedoman hidup sehari-hari. Hubungan yang harmonis antara ulama, kader muda, dan masyarakat adalah modal utama bagi keberlangsungan dakwah Rifa’iyah di masa depan.

Melalui kegiatan ini, PP AMRI berharap generasi muda Rifa’iyah di Sumatera Selatan tidak hanya sekadar menjadi pengikut, tetapi menjadi pembelajar yang aktif. Tradisi keilmuan Tarajumah harus terus dirawat agar tidak lekang oleh waktu. Dengan semangat yang sama, diharapkan akan muncul kader-kader baru yang mampu menulis, mendakwahkan, dan mengamalkan karya-karya KH Ahmad Rifa’i dengan cara-cara yang kreatif dan inovatif. Langkah ini adalah bagian dari upaya besar untuk memastikan bahwa warisan intelektual ulama Nusantara tidak hanya tersimpan di rak-rak perpustakaan, melainkan hidup dan berkembang dalam setiap denyut nadi kehidupan umat.

Pada akhirnya, Turba PP AMRI ke Bumi Sriwijaya ini menjadi catatan sejarah tersendiri bagi perkembangan Rifa’iyah di luar Pulau Jawa. Ini adalah bukti bahwa semangat dakwah, kaderisasi, dan penguatan literasi Islam Nusantara memiliki daya jangkau yang luas dan tidak mengenal batas geografis. Dengan pondasi yang telah diletakkan melalui LKD dan pembagian kitab MPKT, masa depan dakwah Rifa’iyah di Sumatera Selatan terlihat sangat menjanjikan. Semangat "Membumikan Ajaran KH Ahmad Rifa’i" kini tidak lagi hanya sekadar slogan, melainkan telah menjadi gerakan nyata yang siap menebarkan manfaat bagi umat di tanah Sriwijaya dan sekitarnya.

Membumikan Ajaran KH. Ahmad Rifa’i di Tanah Sriwijaya

Kegiatan ini pun ditutup dengan harapan besar agar seluruh peserta LKD dapat menjadi duta-duta kecil yang membawa obor keilmuan ke desa-desa mereka masing-masing. Dengan berbekal kitab MPKT, mereka diharapkan mampu menjawab berbagai persoalan umat dengan merujuk pada pemikiran KH Ahmad Rifa’i yang sangat relevan dan kontekstual. Konsistensi dalam menjalankan program-program seperti ini akan menjadi penentu seberapa jauh ajaran ulama Nusantara dapat memberikan warna dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di masa depan, khususnya bagi komunitas Rifa’iyah di seluruh pelosok negeri.

Penulis: Ahmad Zahid Ali
Editor: Yusril Mahendra