Pemerintah Iran dilaporkan telah mengambil langkah yang tidak konvensional dalam diplomasi internasional dengan melibatkan tim psikolog senior untuk menganalisis pola pikir dan kondisi mental Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, di tengah berlangsungnya proses negosiasi damai antara kedua negara. Langkah taktis ini diambil sebagai bagian dari strategi besar Teheran dalam menghadapi dinamika hubungan bilateral yang selama ini penuh ketegangan, di mana Iran merasa perlu memahami "bahasa" yang tepat untuk berkomunikasi dengan pemimpin Amerika tersebut.
Informasi ini pertama kali mencuat melalui laporan investigasi yang dilakukan oleh jurnalis senior AS, Jeremy Scahill, melalui platform media independen DropSiteNews pada pertengahan Juni 2026. Laporan tersebut mengungkapkan bahwa para psikolog ini bukan sekadar penasihat luar, melainkan telah diintegrasikan ke dalam struktur delegasi negosiator Iran. Mereka berperan aktif dalam merumuskan pesan-pesan diplomatik yang disampaikan melalui mediator pihak ketiga, yakni Pakistan, yang telah memfasilitasi perundingan tidak langsung antara Washington dan Teheran selama beberapa bulan terakhir.
Menurut Scahill, yang berbicara dalam podcast Breaking Points, keterlibatan ahli kejiwaan ini didasarkan pada keyakinan mendalam dari para petinggi di Teheran bahwa Donald Trump beroperasi dalam kondisi mental yang tidak stabil. Keputusan untuk menyusun profil psikologis secara mendalam ini bukanlah tindakan impulsif, melainkan respons terukur setelah Teheran menyimpulkan bahwa pendekatan diplomasi konvensional sering kali gagal karena adanya hambatan dalam pola komunikasi Trump yang dianggap "tidak mampu secara mental" untuk mengikuti protokol negosiasi standar.
Dalam kacamata para negosiator Iran, Trump dipandang sebagai subjek yang memerlukan pendekatan klinis daripada pendekatan politik tradisional. "Kami telah meminta para psikolog senior untuk menyusun profil psikologis tentang apa yang menurut mereka terjadi di otak Trump. Dan kami mulai menyesuaikan pesan-pesan kami dengan meminta pendapat para psikolog senior sebelum menyampaikannya kepada Trump," ungkap sumber dari pihak Iran kepada Scahill.
Metodologi yang diterapkan oleh Iran ini terbilang unik karena mengubah ruang negosiasi menjadi sebuah "sesi terapi" virtual. Para negosiator Teheran mengakui bahwa mereka mulai menyesuaikan setiap kata, nada, dan struktur pesan yang disampaikan kepada mediator agar sesuai dengan apa yang diyakini oleh para psikolog sebagai "pemicu" positif bagi Trump. Pendekatan ini, menurut sumber tersebut, membuahkan hasil yang signifikan, di mana kebuntuan yang selama ini terjadi mulai mencair.
Pihak Iran menggambarkan proses negosiasi tersebut dengan analogi medis. Mereka menyatakan bahwa mereka mulai melihat kemajuan yang nyata setelah memperlakukan Trump layaknya seorang pasien yang sedang menjalani perawatan. Dalam konteks klinis ini, pesan-pesan diplomatik yang biasanya bersifat keras dan konfrontatif diganti dengan narasi yang dirancang khusus untuk mengakomodasi ego dan pola pikir sang Presiden AS. Strategi ini diklaim berhasil memitigasi risiko penolakan atau ledakan kemarahan yang kerap menjadi ciri khas retorika Trump di panggung internasional.
Pengungkapan ini terjadi hanya beberapa hari sebelum pemerintah Pakistan mengumumkan secara resmi bahwa AS dan Iran telah mencapai kesepakatan damai yang bersejarah. Banyak pengamat politik internasional menilai bahwa keberhasilan perundingan ini tidak terlepas dari fleksibilitas taktis Iran dalam mengubah paradigma diplomatik mereka. Jika biasanya Iran bersikap kaku terhadap tekanan AS, kali ini mereka memilih untuk "menaklukkan" lawan dengan membedah isi kepala sang lawan tersebut.
Namun, keterlibatan psikolog dalam diplomasi tingkat tinggi ini juga memicu perdebatan etis dan politis. Di satu sisi, langkah Iran dipuji sebagai bentuk kecerdasan strategis yang mampu mencegah eskalasi konflik militer yang lebih luas. Di sisi lain, penggunaan profil psikologis untuk memanipulasi pengambilan keputusan seorang kepala negara dapat dianggap sebagai bentuk perang informasi atau taktik manipulasi psikologis yang berbahaya.
Hingga saat ini, baik otoritas Iran maupun Gedung Putih belum memberikan pernyataan resmi terkait laporan ini. Keheningan dari kedua belah pihak kemungkinan besar disebabkan oleh sensitivitas tinggi dari metode tersebut. Bagi Iran, mengakui keterlibatan psikolog bisa dianggap sebagai pengakuan atas ketidakmampuan mereka menghadapi Trump melalui jalur formal, sementara bagi AS, mengakui bahwa kebijakan luar negeri mereka dipengaruhi oleh "profil psikologis" dari pihak lawan akan menjadi pukulan telak bagi citra kepemimpinan Trump.
Secara historis, penggunaan analisis psikologis atau psychological profiling terhadap pemimpin dunia sebenarnya bukan hal baru. CIA dan badan intelijen dunia lainnya sering kali menyusun profil psikologis para diktator atau pemimpin negara untuk memprediksi perilaku mereka dalam situasi krisis. Namun, praktik ini biasanya dilakukan secara tertutup untuk kebutuhan intelijen, bukan sebagai alat langsung untuk merancang isi pesan dalam negosiasi damai yang sedang berlangsung. Apa yang dilakukan Iran saat ini membawa praktik tersebut ke level yang lebih jauh, di mana sains perilaku diintegrasikan secara langsung ke dalam garis depan diplomasi.
Lebih jauh lagi, fenomena ini menunjukkan pergeseran paradigma dalam hubungan internasional di abad ke-21. Ketika aktor-aktor negara mulai memandang lawan negosiasinya sebagai entitas yang harus "dikelola" secara psikologis daripada sekadar beradu argumen ideologis, maka integritas negosiasi itu sendiri menjadi dipertanyakan. Apakah ini sebuah kemajuan dalam seni berdiplomasi, atau justru merupakan pertanda bahwa diplomasi klasik yang berbasis pada rasionalitas dan kepentingan nasional telah mati?
Kesepakatan damai yang kini telah tercapai antara AS dan Iran kemungkinan besar akan dipelajari oleh berbagai lembaga riset internasional sebagai studi kasus. Pertanyaan utamanya adalah: sejauh mana profil psikologis tersebut benar-benar mempengaruhi kebijakan Trump, dan apakah kesepakatan ini akan bertahan lama setelah "terapi" dari pihak Iran dihentikan?
Seiring dengan berkembangnya berita ini, dunia kini menanti klarifikasi dari berbagai pihak. Apakah strategi Iran ini akan menjadi preseden baru bagi negara-negara lain dalam berurusan dengan pemimpin yang dianggap "sulit" atau "tidak terduga"? Atau, apakah ini hanyalah narasi yang sengaja dibangun untuk merendahkan posisi tawar Amerika Serikat di meja perundingan?
Apapun kebenarannya, keterlibatan para psikolog ini telah menambah dimensi baru yang kelam namun menarik dalam sejarah diplomasi modern. Di balik penandatanganan dokumen damai, terdapat pertarungan tak terlihat di balik layar—pertarungan antara pikiran, persepsi, dan manipulasi psikologis yang mendalam. Iran telah membuktikan bahwa dalam dunia yang penuh ketidakpastian, terkadang senjata yang paling ampuh bukanlah rudal atau sanksi ekonomi, melainkan pemahaman mendalam tentang bagaimana lawan mereka berpikir.
Sementara dunia menunggu dampak jangka panjang dari kesepakatan ini, satu hal yang pasti: cara kita memandang negosiasi internasional telah berubah selamanya. Diplomasi tidak lagi hanya tentang pasal-pasal perjanjian, melainkan tentang siapa yang paling mampu membaca dan memetakan lanskap mental lawan bicaranya. Iran, dengan langkah kontroversialnya, telah membuka kotak pandora dalam diplomasi yang mungkin akan diikuti oleh negara-negara lain di masa depan. Kita kini berada di era di mana "perang pikiran" menjadi bagian integral dari perdamaian.

