Rifan Muazin Ar-Rifai
Kamis, 17 September 2026 | 07.14 WIB

Maulid Bukan Panggung untuk Kebodohan Berkedok Kreativitas

Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW seharusnya menjadi momentum refleksi spiritual yang mendalam, sebuah ruang di mana umat Islam meneladani akhlak, kasih sayang, dan ketinggian intelektual Rasulullah. Namun, kenyataan pahit tersaji dalam gelaran "Simbang Kulon Night Carnival 2026". Pertunjukan yang dipertontonkan jauh dari esensi peringatan kelahiran Nabi. Visualisasi sosok menyeramkan, penggunaan simbol-simbol yang kental dengan nuansa okultisme, hingga adegan penyembelihan hewan di depan publik, telah mencoreng kesucian acara tersebut. Majelis Ulama Indonesia (MUI) secara tegas menyatakan bahwa aksi tersebut tidak memiliki tempat dalam ajaran Islam dan bertentangan dengan adab serta semangat Maulid yang seharusnya khidmat dan edukatif.

Yang lebih mengkhawatirkan daripada sekadar visual yang ganjil adalah lemahnya nalar kritis di balik penyelenggaraan acara ini. Baik peserta maupun panitia terjebak dalam pengakuan yang memalukan: mereka mengambil inspirasi dari internet tanpa memahami makna simbolik yang mereka tampilkan. Mereka mengaku sekadar mengejar kesan "unik" dan "menarik" tanpa menimbang dampak moral maupun teologisnya. Ini bukan lagi sekadar kesalahan teknis, melainkan krisis literasi budaya dan agama yang akut. Bagaimana mungkin sebuah pertunjukan yang telah dipersiapkan dengan kostum, koreografi, dan panggung megah tidak melalui proses kurasi atau pertimbangan intelektual yang matang?

Istilah "kreativitas" kini sering kali disalahgunakan sebagai tameng untuk membenarkan kedangkalan berpikir. Dalam konteks kebudayaan, kreativitas tanpa basis pengetahuan hanyalah bentuk kecerobohan. Budaya tanpa kritik hanya akan menghasilkan pengulangan tradisi yang tidak bermakna, bahkan berpotensi melenceng dari akar nilai yang hendak dipertahankan. Ketika kreativitas dilepaskan dari tanggung jawab moral dan pemahaman agama, ia berubah menjadi alat yang merusak martabat Islam itu sendiri. Kita tidak bisa membiarkan narasi "kebebasan berekspresi" menutupi kebodohan simbolik yang justru mempermalukan umat.

Lebih jauh lagi, ada kecenderungan berbahaya di mana label "Islam" atau "Maulid" digunakan untuk membungkam kritik. Publik seolah dipaksa untuk memaklumi segala sesuatu yang dilakukan dalam bingkai perayaan keagamaan atas nama toleransi atau pelestarian budaya. Padahal, Islam tidak pernah mengajarkan umatnya untuk menoleransi kemungkaran atau penyimpangan atas nama kreativitas. Justru, karena acara tersebut mengusung nama Nabi, standar etika, intelektual, dan estetikanya harus jauh lebih tinggi daripada acara hiburan umum. Menggunakan nama Rasulullah untuk menjustifikasi pertunjukan yang jauh dari nilai-nilai keteladanan beliau adalah bentuk pendangkalan makna yang tidak bisa dibenarkan.

Sejarah mencatat bahwa Islam selalu hadir dengan keindahan, ilmu, dan peradaban yang tinggi. Maulid, dalam tradisi yang benar, adalah sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui shalawat, kajian sejarah Nabi yang inspiratif, serta aksi nyata yang mencerminkan sifat-sifat Rasulullah seperti jujur, amanah, dan santun. Ketika acara tersebut diganti dengan simbol-simbol horor dan praktik yang menyerupai okultisme, maka yang terjadi bukan lagi perayaan Maulid, melainkan perusakan citra Islam di ruang publik. MUI telah memberikan peringatan keras bahwa peringatan Maulid harus diwujudkan melalui kegiatan yang mencerdaskan umat, bukan kegiatan yang membuat orang awam bingung atau bahkan takut terhadap ajaran Islam.

Maulid Bukan Panggung untuk Kebodohan Berkedok Kreativitas

Persoalan ini memicu pertanyaan mendasar: apakah kita telah kehilangan kedewasaan dalam berkesenian? Seni memang bagian tak terpisahkan dari masyarakat, termasuk masyarakat Muslim. Namun, seni dalam Islam seharusnya menjadi wasilah (perantara) untuk mengagungkan kebenaran dan keindahan Tuhan, bukan menjadi alat untuk memamerkan kegelapan atau kebodohan. Mengapa harus memilih simbol yang justru memancing kontroversi negatif dan menghilangkan khidmatnya perayaan? Apakah kita terlalu haus akan tepuk tangan dan viralitas sehingga lupa bahwa setiap tindakan kita di depan publik adalah representasi dari keyakinan yang kita anut?

Kejadian di Simbang Kulon ini adalah cerminan dari wajah umat yang ingin terlihat "modern" dan "kreatif" namun kehilangan kompas intelektual. Ada keinginan besar untuk berpesta, namun minim kesadaran akan tanggung jawab moral. Keinginan untuk tampil beda sering kali mengalahkan pertimbangan apakah tampilan tersebut layak atau tidak. Ketika panitia tidak mengetahui konsep apa yang mereka usung, itu adalah bukti nyata bahwa mereka tidak memiliki rasa tanggung jawab terhadap nama besar yang mereka bawa, yakni Maulid Nabi.

Kita harus berani menegaskan bahwa tidak semua hal yang ramai disebut sebagai dakwah. Tidak semua tradisi yang dianggap budaya layak untuk dilestarikan jika ia justru merusak akidah atau akhlak. Tidak semua bentuk kreativitas harus diberi ruang jika ia hanya menjadi panggung bagi kebodohan. Kita tidak sedang membatasi ekspresi, melainkan menuntut adanya kedewasaan. Islam adalah agama yang sangat menghargai akal dan ilmu. Oleh karena itu, ekspresi keberagamaan haruslah berbasis pada pemahaman yang utuh, bukan sekadar ikut-ikutan tren yang viral di media sosial.

Jika sebuah ekspresi budaya justru membuat nilai-nilai Maulid kehilangan esensinya—yaitu pengagungan terhadap Rasulullah—maka ekspresi tersebut harus dikritik secara tajam dan ditolak dengan tegas. Janganlah kita berlindung di balik alasan "toleransi" untuk menutupi kesalahan yang fatal. Toleransi terhadap kebodohan hanyalah langkah awal menuju kehancuran sebuah peradaban. Kita membutuhkan umat yang berpikir, yang mampu menyaring mana yang pantas ditampilkan sebagai representasi Islam dan mana yang harus dibuang ke tempat sampah sejarah.

Di tengah gempuran tantangan zaman yang semakin kompleks, umat Islam seharusnya menunjukkan kedewasaan intelektual, bukan justru mempertontonkan kemunduran berpikir melalui simbol-simbol yang tidak relevan. Maulid adalah ruang untuk menghadirkan keteladanan Nabi di tengah masyarakat. Jika yang dihadirkan justru kebingungan dan kegaduhan, maka kita telah gagal memaknai kelahiran sosok yang paling mulia di muka bumi.

Pada akhirnya, kita harus kembali pada prinsip bahwa membawa nama Islam di pundak adalah sebuah amanah. Amanah tersebut menuntut tanggung jawab untuk berpikir sebelum bertindak. Ketika kebodohan diberi panggung, ketika kreativitas dijadikan topeng pembenaran, dan ketika agama hanya dijadikan label untuk mendapatkan legitimasi publik, maka martabat Islam lah yang menjadi taruhannya. Kita tidak sedang membela sebuah acara, kita sedang membela kehormatan ajaran yang kita cintai. Jangan biarkan masa depan Islam di ruang publik dirusak oleh mereka yang tidak paham, namun merasa paling berhak untuk mengekspresikan apa pun atas nama "kreativitas". Umat Islam harus lebih cerdas, lebih kritis, dan lebih beradab dalam setiap langkahnya, karena dunia sedang memandang kita, dan mereka akan menilai Islam dari apa yang kita tampilkan. Jika yang kita tampilkan adalah kebodohan, maka jangan salahkan dunia jika mereka memandang agama kita dengan sebelah mata. Saatnya berhenti menjadikan Maulid sebagai panggung bagi ego dan kreativitas tanpa ilmu. Kembalikan Maulid ke fitrahnya: penuh dengan kedamaian, ilmu, dan pengagungan terhadap sosok teladan agung, Nabi Muhammad SAW.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mungkin Anda Lewatkan