Apa pelajaran terbesar yang bisa dipetik dari Iran saat menghadapi tekanan hebat dari Amerika Serikat dan Israel? Jawabannya bukan sekadar perihal strategi perang asimetris, kecanggihan drone dan rudal, atau diplomasi yang memaksa negara adidaya beranjak ke meja perundingan. Lebih dari itu, rahasia terdalam dari ketangguhan Iran terletak pada satu konsep fundamental: resiliensi. Resiliensi adalah daya lenting—kemampuan untuk tidak hancur saat ditekan, tidak menyerah meski dibatasi, dan tidak kehilangan harga diri saat diremehkan. Sebuah bangsa yang resilien bukanlah bangsa yang bebas dari luka. Mereka bisa saja babak belur, kehilangan banyak hal, atau dipaksa berjalan pincang di tengah krisis. Namun, mereka menolak untuk berhenti. Di tengah keterbatasan, mereka menata kembali kekuatan, menjaga marwah, lalu bergerak maju dengan kepala tegak untuk menegaskan eksistensi di panggung dunia.
Untuk memahami bagaimana resiliensi ini terbentuk, kita harus menengok kembali Revolusi Iran tahun 1979 yang mengubah total wajah konstitusi negeri itu dari monarki absolut menjadi Republik Islam. Keputusan melalui referendum ini menjadi titik balik sejarah yang mengubah relasi internasional Iran secara drastis. Amerika, yang sebelumnya merupakan sekutu strategis, berbalik menjadi musuh utama. Embargo ekonomi yang diberlakukan selama hampir setengah abad telah memutus akses Iran dari sistem keuangan global, membekukan aset luar negeri hingga mencapai 100 miliar dolar AS, serta melarang kerja sama sains dan persenjataan. Namun, Iran bukanlah bangsa yang lahir kemarin sore. Mereka adalah pewaris peradaban Persia kuno yang telah eksis selama 2.500 tahun. Ingatan kolektif tentang imperium Achaemenid yang membentang dari Mesir hingga Sungai Indus memberikan fondasi mental bahwa bangsa ini pernah memimpin dunia dan memiliki kapasitas untuk bangkit kembali.
Dalam sejarah peradaban Islam, Iran merupakan episentrum ilmu pengetahuan. Sebelum Eropa mencapai era Renaisans, ilmuwan dari Persia telah meletakkan dasar bagi sains modern. Kita mengenal Muhammad ibn Musa al-Khawarizmi, bapak aljabar yang menjadi asal-usul istilah algoritma; Ibnu Sina, sang filsuf dan dokter yang kitab Al-Qanun fi al-Thibb-nya menjadi standar kedokteran Eropa selama berabad-abad; hingga Abu Bakar al-Razi yang memelopori penggunaan antiseptik alkohol dalam bedah. Warisan intelektual inilah yang menjadikan Iran mampu bertahan. Ketika sanksi ekonomi menutup akses luar, mereka mengalihkan fokus pada kemandirian sains dan riset internal. Mereka mengencangkan ikat pinggang, memperkuat pendidikan, dan mengelola kekayaan alam untuk kesejahteraan rakyat. Hasilnya, meski di bawah tekanan, Iran mampu mencapai Indeks Pembangunan Manusia kategori high human development dengan angka 0,799 menurut laporan tahun 2025. Dengan PDB mencapai 475 miliar dolar AS, Iran membuktikan bahwa dalam keadaan tidak normal, mereka tetap mampu menjalankan roda ekonomi dan menjamin kebutuhan dasar rakyatnya secara terjangkau.
Kekuatan kognitif bangsa Iran juga bukan isapan jempol. Berbagai studi, termasuk kajian akademik berbasis tes Wechsler, menempatkan rata-rata IQ masyarakat Iran pada angka 97,12, dengan kelompok dewasa mencapai 105,61. Data ini menegaskan bahwa tradisi pendidikan di Iran tetap menjadi prioritas utama. Bahkan ketika pemimpin tertinggi mereka, Ayatullah Ali Khamenei, gugur dalam eskalasi militer pada 28 Februari 2026, Iran tidak runtuh. Banyak pihak mengira kematian pemimpin dan sejumlah jenderal akan melumpuhkan negara, namun yang terjadi justru sebaliknya. Mesin negara tetap bekerja, perlawanan makin solid, dan dunia menyaksikan bahwa Iran bukan negara yang bisa ditundukkan hanya dengan serangan militer.

Cerita tentang resiliensi ini memiliki irisan yang menarik dengan perjalanan sejarah Rifa’iyah di Indonesia. Tentu, skalanya berbeda—Iran adalah sebuah negara berdaulat, sementara Rifa’iyah adalah ormas keagamaan. Namun, keduanya tumbuh dan besar dalam keterbatasan yang ekstrem. Rifa’iyah tidak memiliki akses politik atau ekonomi sebesar organisasi keagamaan arus utama di Indonesia. Mereka harus berjalan dengan kaki sendiri, tanpa fasilitas kekuasaan, tanpa sokongan dana yang melimpah. Kekuatan Rifa’iyah justru terletak pada keikhlasan jemaahnya, persatuan dalam pengajian-pengajian kecil, madrasah, pesantren, serta tradisi keilmuan yang dijaga secara turun-temurun.
Akar perjuangan ini berasal dari sosok KH. Ahmad Rifa’i (1786-1870 M). Beliau bukan sekadar ulama yang mengajarkan fikih dan tasawuf, melainkan seorang patriot yang melawan kolonialisme Belanda melalui kekuatan pena dan dakwah. Beliau mengajarkan bahwa agama tidak boleh dijadikan alat untuk tunduk kepada ketidakadilan. Sikap kritis beliau membuat Belanda berkali-kali mengasingkannya ke Ambon dan Tondano. Bahkan, Belanda menggunakan taktik kotor dengan memberikan stigma "santri celeng" untuk memecah belah pengikutnya. Pasca-kemerdekaan pun, perjuangan Rifa’iyah belum usai. Pada masa Orde Baru, kitab-kitab karya KH. Ahmad Rifa’i sempat dilarang karena dianggap tidak sejalan dengan kepentingan rezim. Namun, berkat keteguhan para pengikutnya, label sesat tersebut akhirnya gugur dan kini KH. Ahmad Rifa’i diakui sebagai Pahlawan Nasional.
Pesan Ketua Umum Pimpinan Pusat Rifa’iyah, Dr. KH. Mukhlisin Muzarie, sangat relevan untuk direnungkan: bahwa Rifa’iyah tidak berangkat dari kemewahan, melainkan dari keterbatasan yang dibalut kebulatan tekad. Banyak gerakan besar dalam sejarah dunia memang tidak dimulai dari gedung megah, melainkan dari orang-orang biasa yang menolak menyerah pada keadaan. Bagi warga Rifa’iyah, keterbatasan akses atau jumlah bukan alasan untuk minder atau merasa kecil. Sebaliknya, hal ini harus menjadi modal moral untuk memperkuat kemandirian. Tidak punya akses besar ke pemerintah? Maka perkuat koperasi dan jaringan ekonomi umat. Tidak punya dana melimpah? Maka perkuat solidaritas dan wakaf produktif. Tidak sebesar ormas lain? Maka perkuat kaderisasi dan kualitas pendidikan.
Warga Rifa’iyah perlu bertanya: apakah warisan KH. Ahmad Rifa’i sudah benar-benar menjadi api perjuangan, atau hanya sekadar nama yang disebut dalam seremoni? Dari Iran, kita belajar bahwa bangsa yang dikepung bisa tetap berdiri tegak. Dari KH. Ahmad Rifa’i, kita belajar bahwa keterbatasan adalah ladang perjuangan yang mematangkan iman. Resiliensi bukan tentang siapa yang paling keras berteriak di panggung politik, melainkan tentang kemampuan untuk tetap mendidik meski dana terbatas, tetap berdakwah meski panggung tidak luas, dan tetap menjaga jemaah di tengah arus zaman yang berubah cepat.
Jika Iran mampu mempermalukan kesombongan militer adidaya, maka Rifa’iyah dengan akar sejarahnya yang dalam juga memiliki potensi besar untuk tumbuh menjadi organisasi yang mandiri, bermartabat, dan berdaulat. Tugas warga Rifa’iyah hari ini adalah menyatukan kedua pelajaran tersebut: berani berdiri di atas kaki sendiri, rapi dalam membangun kekuatan, dan teguh menjaga harga diri di atas prinsip agama. Dengan cara ini, Rifa’iyah tidak hanya akan sekadar bertahan melewati zaman, tetapi akan terus tumbuh menjadi kekuatan yang berakar kuat, tidak gaduh, namun kokoh dalam memberikan kontribusi bagi bangsa dan kemanusiaan. Pada akhirnya, sejarah akan selalu memihak pada mereka yang memiliki daya lenting—mereka yang menolak tunduk meski dipaksa oleh keadaan yang paling menekan sekalipun. Inilah esensi dari perjuangan, baik bagi sebuah bangsa di Timur Tengah maupun sebuah gerakan keagamaan di tanah Jawa.

