0

Grebeg Besar Demak 2026: Aksi Memukau Rebana Tanbihun Rifa’iyah dalam Iring-Iringan Patang Puluhan

Share

Kabupaten Demak kembali bergetar oleh lantunan selawat dan irama rebana yang syahdu saat perayaan Grebeg Besar 2026, yang bertepatan dengan 10 Dzulhijjah 1447H atau 27 Mei 2026. Ribuan pasang mata dari berbagai penjuru daerah memadati jalanan protokol kota wali, menanti detik-detik prosesi sakral Iring-Iringan Prajurit Patang Puluhan menuju kompleks pemakaman Sunan Kalijaga di Kadilangu. Di tengah lautan manusia yang antusias, rombongan dari organisasi Rifa’iyah Kabupaten Demak hadir memberikan warna tersendiri melalui penampilan Grup Rebana Tanbihun yang memukau, sebuah perpaduan apik antara dakwah kultural dan pelestarian tradisi Islam Nusantara.

Tahun ini, keterlibatan Rifa’iyah bukan sekadar partisipasi simbolis, melainkan sebuah aksi nyata yang melibatkan sinergi lintas elemen internal organisasi. Personel yang terjun langsung ke lapangan merupakan gabungan solid dari Angkatan Muda Rifa’iyah (AMRI) dan Barisan AMRI Nusantara (BARANUSA). Mereka menyatu dalam harmoni di bawah panji Grup Rebana Tanbihun, menunjukkan kepada publik bahwa generasi muda Rifa’iyah memiliki kepedulian tinggi terhadap akar budaya lokal yang beririsan dengan nilai-nilai religiusitas Islam.

Grebeg Besar Demak 2026: Aksi Rebana Tanbihun Rifa’iyah di Iring-Iringan Patang Puluhan

Dalam prosesi kirab menuju lokasi penjamasan benda-benda pusaka peninggalan Sunan Kalijaga, posisi Grup Rebana Tanbihun menjadi elemen vital yang mengawal langkah-langkah tegap para Prajurit Patang Puluhan. Sepanjang rute yang ditempuh, mereka tidak hanya sekadar memainkan alat musik perkusi, melainkan melantunkan selawat yang dipadukan dengan syair-syair berbahasa Jawa yang sarat akan nasihat moral. Syair-syair tersebut merupakan karya monumental dari ulama besar KH. Ahmad Rifa’i, yang hingga kini masih menjadi pedoman hidup dan ruh dakwah bagi warga Rifa’iyah di seluruh penjuru tanah air.

Harmonisasi tabuhan terbang yang rancak dan ritmis berpadu sempurna dengan derap langkah para prajurit, menciptakan atmosfer yang tidak hanya syahdu, tetapi juga membangkitkan rasa takzim bagi siapa saja yang menyaksikannya. Visual para pemain pun menambah daya tarik tersendiri; mereka tampil rapi dengan balutan busana batik khas Rifa’iyah yang menjadi identitas kebanggaan. Kekompakan antara AMRI dan BARANUSA dalam menjaga tempo musik sepanjang kirab menunjukkan kedisiplinan dan persiapan matang yang telah dilakukan jauh-jauh hari sebelum perhelatan akbar ini berlangsung.

Partisipasi aktif Rifa’iyah dalam Grebeg Besar Demak 2026 merupakan manifestasi dari ikhtiar panjang untuk merawat tradisi Islam Nusantara. Di tengah arus modernisasi yang kerap mengikis nilai-nilai tradisional, Rifa’iyah memilih untuk tetap berdiri teguh melestarikan warisan para wali dengan cara yang tetap relevan dengan zaman. Bagi organisasi ini, Grebeg Besar bukan hanya sekadar seremoni tahunan, melainkan medium efektif untuk memperkenalkan nilai dakwah yang santun, inklusif, dan sangat menghargai kearifan lokal.

Grebeg Besar Demak 2026: Aksi Rebana Tanbihun Rifa’iyah di Iring-Iringan Patang Puluhan

"Kehadiran teman-teman AMRI, BARANUSA, dan Rebana Tanbihun ini adalah bukti nyata bahwa generasi muda Rifa’iyah siap menjadi garda depan dalam merawat warisan para wali. Kami ingin menunjukkan bahwa menjadi religius tidak harus meninggalkan budaya, justru sebaliknya, budaya adalah kendaraan yang tepat untuk menyebarkan syiar Islam agar lebih mudah diterima oleh masyarakat luas," ujar salah satu koordinator lapangan di sela-sela kepadatan acara.

Lebih jauh, keterlibatan ini juga menjadi ajang penguatan ukhuwah islamiyah di tengah masyarakat Demak yang multikultural. Ketika irama rebana beradu dengan dentuman suara prajurit, terjadi sebuah perpaduan energi yang menyatukan masyarakat dalam satu kesadaran kolektif: menjaga martabat kota Demak sebagai pusat sejarah Islam di Pulau Jawa. Semangat inilah yang ingin ditularkan oleh Rifa’iyah kepada generasi muda lainnya agar tidak merasa asing dengan akar sejarah bangsanya sendiri.

Grebeg Besar Demak, yang ditandai dengan prosesi penjamasan pusaka keris Kiai Carubuk dan Payung Tunggul Naga, merupakan momen langka yang sarat makna spiritual. Dengan hadirnya Rebana Tanbihun, prosesi yang biasanya terasa kaku dan sakral kini memiliki sentuhan dakwah yang lebih merakyat dan menyentuh kalbu. Masyarakat yang menyaksikan tampak khusyuk mendengarkan syair-syair KH. Ahmad Rifa’i yang dilantunkan, menciptakan jembatan komunikasi antara nilai sejarah masa lalu dengan kebutuhan spiritual masyarakat di masa kini.

Grebeg Besar Demak 2026: Aksi Rebana Tanbihun Rifa’iyah di Iring-Iringan Patang Puluhan

Organisasi Rifa’iyah berharap bahwa aksi di tahun 2026 ini akan menjadi pemicu semangat bagi kader-kader di daerah lain untuk melakukan hal serupa. Mempertahankan tradisi tidak berarti jalan di tempat, namun melakukan adaptasi kreatif agar nilai-nilai kebaikan yang diwariskan para ulama tidak punah dimakan waktu. Melalui rebana, selawat, dan syair, Rifa’iyah telah berhasil membuktikan bahwa dakwah bisa dilakukan dengan cara yang estetik, damai, dan penuh dengan keindahan.

Kesuksesan penampilan ini tidak lepas dari dedikasi para anggota yang telah berlatih keras demi memberikan yang terbaik bagi masyarakat Demak. Mereka menganggap tugas ini sebagai ibadah, sebuah bentuk pengabdian kepada organisasi, ulama, dan tanah air. Di bawah terik matahari dan padatnya lautan manusia, semangat para anggota grup rebana tidak sedikit pun surut. Mereka justru semakin bersemangat ketika melihat respon positif dari warga yang turut mengabadikan momen tersebut melalui kamera ponsel mereka.

Ke depan, Rifa’iyah berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas seni budaya dalam lingkup dakwahnya. Hal ini selaras dengan visi organisasi untuk menjadi kelompok masyarakat yang moderat namun tetap teguh memegang prinsip syariat. Tradisi Grebeg Besar pun akan selalu menjadi panggung yang dinantikan, di mana Rifa’iyah dapat kembali menunjukkan eksistensinya sebagai bagian tak terpisahkan dari denyut nadi kehidupan religi di Kabupaten Demak.

Grebeg Besar Demak 2026: Aksi Rebana Tanbihun Rifa’iyah di Iring-Iringan Patang Puluhan

Penutup dari rangkaian kegiatan ini adalah refleksi mendalam bagi seluruh kader Rifa’iyah. Bahwa menjadi bagian dari sebuah organisasi besar tidak hanya tentang pengakuan, tetapi tentang sejauh mana kita bisa memberikan manfaat nyata bagi masyarakat di sekitar kita. Dengan melestarikan budaya lokal, Rifa’iyah telah turut serta dalam menjaga benteng identitas bangsa dari pengaruh budaya asing yang tidak sesuai dengan karakter masyarakat Indonesia yang religius dan menjunjung tinggi adab.

Perhelatan Grebeg Besar Demak 2026 ini pun berakhir dengan kesan mendalam. Iring-iringan Prajurit Patang Puluhan yang dikawal oleh lantunan rebana Tanbihun Rifa’iyah akan terus dikenang sebagai salah satu momen yang paling berkesan dalam sejarah perayaan tahunan ini. Bagi masyarakat Demak, kehadiran Rifa’iyah adalah pengingat bahwa Islam di tanah Jawa selalu tumbuh subur di atas tanah budaya yang subur pula. Semangat inilah yang akan terus dijaga, dirawat, dan diwariskan kepada generasi-generasi mendatang, demi tegaknya marwah Islam Nusantara yang damai dan bersahaja.

Penulis: Muhammad Taufik
Editor: Ahus Jalaludin