Bulan Rabiul Awal selalu membawa umat Islam ke dalam satu perenungan spiritual yang mendalam tentang betapa terjaganya kelahiran Nabi Muhammad SAW jauh sebelum beliau menapaki dunia. Di balik sejarah besar lahirnya sang pembawa risalah, terdapat sebuah fragmen kisah yang jarang diulas namun mengandung hikmah yang luar biasa, yakni nadzar Abdul Muthallib, kakek Rasulullah SAW, yang hampir saja mengorbankan Abdullah, ayahanda Nabi Muhammad SAW, demi memenuhi janji kepada Tuhannya. Peristiwa ini bukan sekadar catatan sejarah, melainkan bukti nyata adanya penjagaan ilahiah (inayah) atas nasab suci sang nabi akhir zaman.
Pada masa jahiliyah, Abdul Muthallib, pemimpin Quraisy yang dihormati, merasa dirinya berada dalam posisi yang rentan karena hanya memiliki satu anak laki-laki bernama al-Harits. Dalam budaya kesukuan Arab saat itu, memiliki banyak anak laki-laki adalah simbol kekuatan, kehormatan, dan jaminan keamanan bagi kaumnya. Dalam kondisi keterbatasan tersebut, Abdul Muthallib memanjatkan doa dan bernadzar di depan Ka’bah: jika Allah SWT berkenan memberikan kepadanya sepuluh anak laki-laki yang beranjak dewasa, maka ia akan mengurbankan salah satu dari mereka sebagai wujud syukur dan pengabdian.
Seiring berjalannya waktu, Allah SWT mengabulkan permohonan tersebut. Satu per satu anak laki-laki lahir dari rahim istri-istri Abdul Muthallib hingga jumlahnya genap sepuluh orang. Mereka tumbuh menjadi pemuda-pemuda gagah yang disegani di Mekkah. Ketika kesepuluh putranya telah dewasa, Abdul Muthallib teringat akan nadzarnya yang pernah ia ucapkan. Ia menyadari bahwa janji kepada Sang Pencipta adalah hutang yang harus dilunasi, meskipun harus mengorbankan hal yang paling dicintainya.
Dengan tekad yang bulat namun hati yang berat, Abdul Muthallib mengumpulkan kesepuluh putranya dan menyampaikan nadzar tersebut. Mereka pun berangkat menuju Ka’bah untuk melakukan undian (qur’ah) di hadapan patung Hubal, sebuah praktik yang lazim dilakukan bangsa Quraisy untuk menentukan nasib atau keputusan sulit. Nama kesepuluh putranya dituliskan pada anak panah dan diserahkan kepada juru kunci Ka’bah. Dengan tangan gemetar, sang juru kunci mengocok anak panah tersebut, dan hasilnya jatuh pada nama Abdullah.
Abdullah adalah anak yang paling dicintai oleh Abdul Muthallib. Ia dikenal sebagai pemuda yang memiliki paras sangat tampan, budi pekerti yang luhur, tutur kata yang lembut, serta aura kebaikan yang memancar dari wajahnya. Abdullah bukanlah sekadar anak, ia adalah sosok yang paling bersinar di antara saudara-saudaranya. Ketika namanya keluar sebagai sosok yang harus dikurbankan, suasana di sekitar Ka’bah menjadi tegang. Abdul Muthallib dilanda pergulatan batin yang hebat antara menepati janji suci dan melepaskan nyawa putra kesayangannya.
Berita tentang rencana kurban ini tersebar cepat di kalangan Quraisy. Saudara-saudara Abdullah serta para pembesar suku Quraisy merasa keberatan dan terkejut. Mereka tidak rela jika Abdullah, pemuda dengan kualitas diri yang luar biasa, harus berakhir di mata pisau. Mereka mendesak Abdul Muthallib untuk membatalkan nadzar tersebut atau mencari cara lain. Namun, Abdul Muthallib tetap teguh pada pendiriannya bahwa sebuah nadzar adalah janji yang mengikat. Akhirnya, setelah melalui perdebatan yang alot, disepakati untuk melakukan undian ulang antara Abdullah dan sepuluh ekor unta.
Dalam tradisi masa itu, jika undian jatuh pada unta, maka kurban tersebut dianggap sah dengan penggantian tebusan. Namun, setiap kali undian dilakukan, nama Abdullah yang selalu muncul. Abdul Muthallib terus menambah jumlah unta—sepuluh, dua puluh, hingga terus bertambah—setiap kali undian menunjukkan nama Abdullah. Ketegangan memuncak hingga jumlah unta mencapai seratus ekor. Pada putaran terakhir, ketika undian diulang antara Abdullah dan seratus ekor unta, anak panah akhirnya jatuh pada pihak unta.

Melihat hal tersebut, Abdul Muthallib segera memerintahkan penyembelihan seratus ekor unta sebagai tebusan atas nyawa Abdullah. Peristiwa ini menjadi momen bersejarah dalam hukum adat Arab, di mana seratus ekor unta kemudian ditetapkan sebagai standar diyat (denda atau tebusan nyawa) yang sangat besar. Ketetapan ini nantinya tetap diakui dan disahkan dalam syariat Islam sebagai ganti rugi atas hilangnya nyawa seseorang.
Di balik drama penyembelihan unta ini, tersimpan hikmah besar yang sangat agung. Jika Abdullah benar-benar dikurbankan saat itu, maka dunia tidak akan pernah melihat kehadiran Nabi Muhammad SAW. Abdullah adalah wadah suci yang dipersiapkan Allah untuk menurunkan cahaya kenabian melalui rahim Aminah binti Wahab. Penyelamatan Abdullah dari kematian adalah bukti nyata bahwa Allah SWT telah menjaga nasab Nabi Muhammad SAW sejak jauh hari. Tidak ada kekuatan manusia yang bisa memadamkan cahaya yang telah ditetapkan oleh Allah untuk bersinar di muka bumi.
Kisah ini memberikan pelajaran penting bahwa setiap garis kehidupan Rasulullah SAW adalah bagian dari skenario besar Allah SWT. Bahkan sebelum beliau lahir, sang ayah sudah dijaga sedemikian rupa agar tetap hidup dan dapat melangsungkan pernikahan suci yang kelak melahirkan sosok Rahmatan lil ‘Alamin. Ini adalah bukti bahwa kelahiran Rasulullah bukanlah kebetulan, melainkan takdir agung yang sudah diatur dengan sangat presisi.
Momen Maulid Nabi Muhammad SAW seharusnya menjadi titik balik bagi kita untuk kembali merenungkan betapa besar nikmat Allah yang telah melimpahkan cahaya Islam kepada kita melalui perantara Nabi yang sangat terjaga silsilahnya. Kita bukan sekadar pengikut agama, melainkan bagian dari umat yang dicintai oleh sosok yang bahkan nyawa ayahnya dijaga oleh Allah agar ia bisa hadir membawa kebenaran.
Cinta kepada Rasulullah SAW adalah sebuah karunia yang tidak terhingga. Dengan mencintai beliau, kita tidak hanya menjalankan kewajiban agama, tetapi juga membangun ikatan batin yang akan membawa kita pada syafaat di hari akhir nanti. Sebagaimana janji beliau yang tercatat dalam hadits shahih riwayat Bukhari dan Muslim, "Seseorang akan dikumpulkan bersama orang yang dicintainya." Kedekatan kita dengan Rasulullah di akhirat sangat bergantung pada seberapa besar rasa cinta dan ketaatan kita kepada ajaran yang beliau bawa.
Mari kita jadikan momentum peringatan Maulid ini untuk memperbaharui komitmen diri dalam meneladani akhlak Rasulullah. Jika Allah saja begitu menjaga sang ayah agar Rasulullah bisa lahir ke dunia, maka sudah seharusnya kita menjaga risalah yang beliau bawa dengan sebaik-baiknya. Kita harus memastikan bahwa cahaya kebenaran yang dibawa oleh anak dari Abdullah yang selamat ini tetap menyala dalam hati kita, dalam keluarga kita, dan dalam kehidupan bermasyarakat kita.
Semoga dengan memahami kisah Abdullah yang hampir dikurbankan ini, iman kita semakin menebal. Kita sadar bahwa setiap detak jantung dan langkah kehidupan Nabi Muhammad SAW adalah anugerah yang harus kita syukuri. Jangan biarkan momentum Maulid berlalu tanpa kesan, namun jadikanlah ia sebagai sarana untuk meningkatkan rasa syukur atas kehadiran sang kekasih Allah, Nabi Muhammad SAW. Dengan mencintai beliau, kita telah menapaki jalan yang benar menuju ridha Allah SWT, karena dialah sang pembuka pintu rahmat bagi seluruh alam semesta, yang kehadirannya telah dinanti-nanti sejak zaman nenek moyangnya. Selamat merayakan Maulid Nabi, semoga kita selalu dalam naungan syafaat beliau hingga di hari kiamat kelak.
0 Comments