0

3 Kandidat Peraih Ballon d’Or Versi Luis Figo, Tak Ada Messi

Share

BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Legenda sepak bola Portugal, Luis Figo, telah mengutarakan pandangannya mengenai tiga kandidat terkuat yang layak meraih Ballon d’Or tahun ini. Yang menarik, dalam daftar eksklusifnya, nama megabintang asal Argentina, Lionel Messi, justru tidak tercantum. Keputusan Figo ini menimbulkan perdebatan sengit di kalangan pengamat sepak bola, terutama mengingat performa Messi di Piala Dunia 2026 yang baru saja berakhir, di mana ia gagal mengantarkan Argentina mempertahankan gelar juara dunia mereka.

Piala Dunia 2026 menjadi panggung yang cukup dramatis bagi Lionel Messi dan timnas Argentina. Meski telah berjuang keras, Albiceleste harus mengakui keunggulan Spanyol di partai final, yang mengakhiri mimpi mereka untuk meraih gelar juara berturut-turut. Hasil ini, yang berujung pada raihan runner-up, secara otomatis memengaruhi persepsi banyak orang terhadap kontribusi Messi di turnamen akbar tersebut. Lebih lanjut, Messi juga gagal merebut gelar Sepatu Emas, penghargaan bagi pencetak gol terbanyak, yang kali ini jatuh ke tangan pemain muda Prancis, Kylian Mbappe, dengan torehan impresif 10 gol.

Di sisi lain, pencapaian luar biasa Paris Saint-Germain (PSG) di level klub pada musim ini menjadi faktor penting dalam penilaian Figo. Klub asal Paris tersebut berhasil meraih dua gelar prestisius: Liga Champions Eropa dan Ligue 1 Prancis. Kesuksesan tim ini secara kolektif, ditambah dengan performa individu beberapa pemainnya, membuat mereka dianggap sebagai kandidat kuat untuk memperebutkan penghargaan bola emas. Figo secara spesifik menyoroti dua pemain dari kubu PSG yang menurutnya telah menunjukkan performa menonjol sepanjang musim.

Dua nama yang disebut Figo secara eksplisit adalah Vitinha dan Desire Doue. Sebagai mantan pemain yang pernah merumput di klub-klub raksasa seperti Barcelona dan Real Madrid, penilaian Figo memiliki bobot tersendiri. Ia berpendapat bahwa kedua pemain muda ini telah menunjukkan perkembangan pesat dan kontribusi signifikan bagi timnya, terlepas dari hasil yang diraih oleh negara mereka masing-masing di Piala Dunia 2026. Kombinasi antara kesuksesan tim di level klub dan performa individu yang konsisten menjadi landasan utama Figo dalam menyusun daftar kandidatnya.

Oleh karena itu, Figo dengan tegas menjagokan Kylian Mbappe, Vitinha, dan Desire Doue sebagai tiga calon terkuat untuk memenangkan Ballon d’Or tahun ini. Ia menggarisbawahi pentingnya performa yang ditunjukkan oleh para pemain di berbagai kompetisi sepanjang tahun, bukan hanya berfokus pada satu turnamen besar seperti Piala Dunia. "Mbappe dan penampilannya yang luar biasa di Piala Dunia tentu akan menempatkannya di antara para calon pemenang," ujar Figo, mengakui dampak besar yang ditimbulkan oleh performa impresif sang penyerang di panggung internasional.

Figo juga menambahkan bahwa pencapaian tim di level klub tidak bisa diabaikan. "Dan saya tentu akan memasukkan pemain PSG yang telah menjuarai Liga Champions lagi," lanjutnya, merujuk pada kesuksesan PSG di kompetisi antarklub paling bergengsi di Eropa. Ia menekankan bahwa evaluasi harus mencakup performa sepanjang tahun, termasuk kontribusi di liga domestik dan kesuksesan di Liga Champions. "Perhitungan harus mencakup performa sepanjang tahun. Secara logis, Piala Dunia memang bisa menjadi penentu kemenangan, tetapi gelar domestik dan Liga Champions juga sangat penting," jelas Figo, memberikan perspektif yang lebih komprehensif dalam penilaian Ballon d’Or.

Lebih lanjut, Figo mengungkapkan apresiasinya yang mendalam terhadap dua pemain muda yang ia sebutkan. "Saya mungkin akan menyoroti Vitinha dan Desire Doue, yang telah menjalani musim luar biasa meskipun Piala Dunia tidak berjalan baik bagi mereka, khususnya untuk Portugal," kata Figo, mengacu pada performa timnas Portugal yang tidak sesuai ekspektasi di Piala Dunia 2026. Pernyataan ini menunjukkan bahwa Figo melihat kualitas dan konsistensi yang ditunjukkan oleh Vitinha dan Doue di level klub sebagai faktor penentu, yang mampu menutupi kekurangan performa di ajang internasional. "Saya akan memasukkan mereka semua ke dalam daftar kandidat," tegas Figo, menutup pernyataannya dengan keyakinan penuh terhadap pilihan tiga pemainnya tersebut.

Pilihan Figo yang menyingkirkan Lionel Messi tentu akan memicu perdebatan. Messi, yang telah memenangkan Ballon d’Or sebanyak delapan kali, selalu menjadi nama yang identik dengan penghargaan ini. Namun, performa Argentina di Piala Dunia 2026, yang tidak sesuai dengan ekspektasi tinggi sebagai juara bertahan, tampaknya menjadi pertimbangan utama bagi Figo. Selain itu, fakta bahwa Messi tidak berhasil meraih Sepatu Emas Piala Dunia, yang jatuh ke tangan Kylian Mbappe, semakin memperkuat argumen Figo bahwa ada pemain lain yang mungkin lebih layak mendapatkan penghargaan individu paling bergengsi di dunia sepak bola ini.

Kylian Mbappe, dengan performa gemilangnya di Piala Dunia 2026, telah membuktikan dirinya sebagai salah satu talenta terbesar sepak bola modern. Ia tidak hanya menjadi pencetak gol terbanyak, tetapi juga menjadi motor serangan bagi timnas Prancis, membawa timnya melaju jauh di turnamen. Konsistensinya di level klub, di mana ia juga menjadi pemain kunci bagi PSG, semakin memperkuat posisinya sebagai kandidat utama peraih Ballon d’Or. Kecepatan, dribbling, dan naluri mencetak golnya yang luar biasa menjadikannya ancaman konstan bagi pertahanan lawan.

Sementara itu, penekanan Figo pada Vitinha dan Desire Doue menunjukkan apresiasinya terhadap pemain-pemain yang mungkin tidak selalu menjadi sorotan utama, namun memiliki dampak signifikan bagi tim mereka. Vitinha, sebagai gelandang yang energik dan kreatif, telah menjadi tulang punggung PSG di lini tengah. Ia tidak hanya piawai dalam mendistribusikan bola, tetapi juga mampu mencetak gol dan memberikan assist. Kemampuannya untuk mengontrol tempo permainan dan membuka ruang bagi rekan-rekannya menjadikannya aset berharga bagi klub.

Desire Doue, pemain muda yang beroperasi di lini tengah, juga telah menarik perhatian dengan gaya permainannya yang dinamis dan penuh keberanian. Meskipun usianya masih muda, ia menunjukkan kedewasaan dalam bermain dan kemampuan untuk bersaing dengan pemain-pemain yang lebih berpengalaman. Kontribusinya dalam membangun serangan dan kemampuannya untuk memenangkan bola dari lawan menjadikannya pemain yang serba bisa. Keduanya, dengan performa impresif mereka di level klub, telah membuktikan bahwa mereka memiliki potensi besar untuk bersaing di panggung tertinggi sepak bola.

Pentingnya kompetisi antarklub seperti Liga Champions Eropa dalam penilaian Ballon d’Or juga menjadi sorotan. Kemenangan PSG di kompetisi ini memberikan nilai tambah yang signifikan bagi para pemainnya, termasuk Vitinha dan Doue. Liga Champions adalah tolok ukur tertinggi bagi kualitas tim dan individu di Eropa, dan meraih gelar tersebut seringkali menjadi faktor penentu dalam perebutan penghargaan individu. Oleh karena itu, argumen Figo bahwa gelar domestik dan Liga Champions sama pentingnya dengan performa di Piala Dunia memiliki dasar yang kuat.

Keputusan Figo untuk tidak memasukkan Lionel Messi dalam daftar kandidatnya bisa jadi merupakan sebuah pernyataan tentang evolusi sepak bola dan munculnya talenta-talenta baru yang siap mengambil alih panggung. Meskipun Messi telah mendominasi sepak bola selama bertahun-tahun, setiap generasi memiliki bintang-bintangnya sendiri, dan Figo tampaknya melihat bahwa era dominasi Messi mungkin akan segera berakhir, digantikan oleh generasi baru yang dipimpin oleh pemain-pemain seperti Mbappe, Vitinha, dan Doue.

Sebagai mantan pemain yang memiliki pengalaman luas di berbagai level sepak bola, pandangan Luis Figo patut dihormati. Ia tidak hanya melihat statistik, tetapi juga menganalisis dampak seorang pemain terhadap timnya dan konsistensi performanya sepanjang musim. Dengan demikian, daftar kandidat peraih Ballon d’Or versinya, yang tidak mencakup Lionel Messi, melainkan menyoroti Kylian Mbappe, Vitinha, dan Desire Doue, memberikan perspektif yang menarik dan memicu diskusi yang lebih luas mengenai siapa saja pemain yang layak mendapatkan pengakuan tertinggi di dunia sepak bola.