0

Ruben Onsu Merasa Jadi Orang Asing, Minder Mau Ketemu Anak Sendiri

Share

BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Keretakan rumah tangga yang berujung pada perceraian pada tahun 2024 lalu antara presenter ternama Ruben Onsu dan istrinya, Sarwendah, ternyata meninggalkan luka batin yang mendalam bagi sang presenter. Bukan sekadar perselisihan mengenai harta benda atau perbedaan prinsip pribadi, kini Ruben Onsu justru tengah dihantui perasaan pilu yang menyangkut hubungannya dengan kedua putri kesayangannya, Thalia dan Thania. Intensitas pertemuan yang semakin jarang terjadi membuat Ruben Onsu merasakan adanya tembok besar yang seolah sengaja dibangun di antara dirinya dan anak-anaknya. Perasaan ini diungkapkan secara langsung oleh kuasa hukumnya, Minola Sebayang, yang menyatakan bahwa presenter berusia 42 tahun itu kini kehilangan rasa percaya diri ketika hendak menemui buah hati kandungnya sendiri. "Karena dia sudah merasa diberikan jarak dengan anaknya, sehingga dia juga mengatakan ada kurang rasa percaya diri kan untuk ketemu sama anaknya," ujar Minola Sebayang saat ditemui di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Minggu (7/6/2026).

Kesedihan Ruben Onsu semakin terasa berlipat ganda karena ia merasa peran dan posisinya sebagai seorang ayah kandung perlahan-lahan mulai tersisih. Presenter yang dikenal luas melalui program "Brownis" di Trans TV itu merasa ironis. Di saat dirinya mengalami kesulitan untuk bertemu dengan anak-anaknya, justru ada pihak lain di luar lingkaran keluarga yang tampak begitu leluasa hadir dan berperan dalam kehidupan sehari-hari anak-anaknya. "Dia merasakan bahwa dia sebagai ayah diperlakukan seperti orang asing, justru orang asing diperlakukan seperti ayah. Inilah yang sebenarnya menurut Ruben itu sesuatu yang tidak tepat," tegas Minola Sebayang. Pernyataan ini menggarisbawahi rasa sakit hati Ruben Onsu yang melihat posisinya sebagai ayah tergantikan atau terabaikan.

Lebih lanjut, Minola Sebayang juga membeberkan momen-momen menyedihkan yang dialami oleh kliennya. Ruben Onsu bahkan harus rela menunggu layaknya orang lain yang tidak memiliki hubungan langsung, hanya demi bisa melihat anak-anaknya beraktivitas. Padahal, Ruben Onsu adalah ayah sah yang selama ini telah mencurahkan segalanya untuk memenuhi seluruh kebutuhan hidup buah hatinya tanpa pernah ragu. "Ya, artinya Ruben harus ngantri gitu lho misalnya pada saat anaknya ada acara-acara tertentu di sekolah balet, dia harus ngantri, dia harus menunggu. Dia kandungnya lho," ungkap Minola Sebayang dengan nada prihatin. Situasi ini tentu saja sangat menyakitkan bagi seorang ayah yang seharusnya memiliki hak istimewa untuk hadir dalam setiap momen penting anak-anaknya.

Kondisi yang dialami Ruben Onsu saat ini membuatnya dilingkupi rasa cemas yang luar biasa. Ia sangat mengkhawatirkan jika jarak yang tercipta ini justru dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk memberikan pengaruh atau ajaran yang tidak sesuai dengan nilai-nilai yang ia yakini dan terapkan. Kekhawatiran terbesarnya adalah jika hal tersebut pada akhirnya akan membuat ikatan batin yang kuat antara dirinya dan anak-anaknya semakin memudar seiring berjalannya waktu. "Karena dia gak tahu anaknya dikasih masukan apa, dikasih apa namanya itu didikan seperti apa," pungkas Minola Sebayang, menggambarkan kegelisahan yang dirasakan Ruben Onsu. Perasaan menjadi orang asing di tengah keluarganya sendiri, ditambah dengan rasa minder untuk bertemu anak-anaknya, menjadi beban emosional yang sangat berat bagi sang presenter.

Perasaan terasing yang dialami Ruben Onsu tidak hanya sekadar emosi sesaat, melainkan berakar pada perubahan signifikan dalam dinamika keluarganya pasca-perceraian. Sebelum perceraian, meskipun menghadapi tantangan dalam rumah tangga, Ruben Onsu tetap menjadi figur ayah yang aktif dan hadir dalam kehidupan anak-anaknya. Ia kerap membagikan momen kebersamaan dengan Thalia dan Thania di media sosial, menunjukkan kedekatannya. Namun, setelah keputusan berpisah dengan Sarwendah, arus komunikasi dan interaksi tatap muka dengan anak-anaknya menjadi sangat terbatas. Hal ini menciptakan jurang pemisah yang dirasakan begitu dalam oleh Ruben, membuatnya merasa seperti tamu di rumah sendiri, atau bahkan lebih buruk, seperti orang asing yang tidak lagi memiliki tempat di lingkaran inti kehidupan anak-anaknya.

Minola Sebayang menekankan bahwa perasaan "minder" yang dirasakan Ruben Onsu bukanlah bentuk kelemahan karakter, melainkan manifestasi dari kepedihan mendalam akibat perubahan drastis dalam perannya sebagai ayah. Ia merasa kehilangan otoritas dan keintiman yang seharusnya dimiliki oleh seorang ayah. Bayangkan saja, seorang ayah yang selama ini menjadi tulang punggung, pencari nafkah utama, dan pendukung emosional bagi anak-anaknya, kini harus berhadapan dengan kenyataan bahwa ia merasa tidak lagi memiliki kedekatan yang sama. Perasaan ini semakin diperparah ketika ia menyaksikan pihak lain yang mungkin tidak memiliki ikatan darah yang sama, justru terlihat lebih dekat dan memiliki pengaruh lebih besar dalam kehidupan anak-anaknya. Hal ini menimbulkan pertanyaan getir bagi Ruben Onsu: apa yang salah dengan dirinya sehingga ia harus merasa seperti ini?

Lebih jauh, situasi ini menimbulkan kekhawatiran serius mengenai dampak jangka panjang terhadap perkembangan psikologis anak-anak. Meskipun perceraian adalah hal yang sulit bagi semua pihak, menjaga hubungan yang sehat antara orang tua dan anak adalah kunci utama untuk meminimalkan dampak negatif. Ruben Onsu merasa khawatir bahwa ketidakadaan dirinya secara konsisten dan intens dalam kehidupan anak-anaknya dapat menciptakan celah yang sulit diperbaiki di masa depan. Ia tidak ingin anak-anaknya tumbuh dengan persepsi bahwa ayahnya tidak hadir atau tidak peduli, padahal dalam hatinya, ia sangat mencintai dan merindukan mereka.

Salah satu aspek yang paling menyakitkan bagi Ruben adalah pengalaman harus "mengantri" untuk melihat anak-anaknya. Momen ini, seperti yang diceritakan oleh kuasa hukumnya, menunjukkan betapa jauhnya ia merasa terlempar dari peran sentralnya. Aktivitas seperti sekolah balet, yang seharusnya menjadi momen kebahagiaan bagi seorang ayah untuk menyaksikan perkembangan anaknya, justru berubah menjadi pengalaman yang penuh dengan rasa canggung dan ketidakpastian. Ia harus bersikap hati-hati, tidak ingin dianggap mengganggu atau mengambil alih peran pihak lain. Padahal, jika dilihat dari sisi legal dan emosional, ia adalah ayah kandung yang paling berhak berada di sana.

Perasaan menjadi orang asing ini juga dapat dianalisis dari sudut pandang psikologis. Ketika seseorang merasa terasing dari lingkungan terdekatnya, terutama keluarga, dapat timbul berbagai macam masalah psikologis seperti depresi, kecemasan, dan rendah diri. Bagi Ruben Onsu, yang terbiasa tampil percaya diri dan memimpin di depan publik, pengalaman ini tentu sangat kontras dan menguras energi mentalnya. Ia harus berjuang melawan perasaan tidak berharga dan keraguan diri setiap kali memikirkan atau merencanakan pertemuan dengan anak-anaknya.

Potensi pengaruh negatif dari pihak luar yang dikhawatirkan Ruben Onsu juga merupakan poin krusial. Dalam masa transisi perceraian, anak-anak sangat rentan terhadap pengaruh baru. Jika orang tua kandung tidak hadir secara konsisten untuk memberikan panduan, nilai-nilai, dan dukungan emosional, maka ada risiko anak-anak akan menyerap nilai-nilai atau pandangan dari sumber lain yang mungkin tidak selalu positif atau sesuai dengan apa yang diinginkan oleh Ruben. Kekhawatiran ini menunjukkan bahwa Ruben Onsu memiliki pandangan yang jauh ke depan mengenai masa depan anak-anaknya dan ingin memastikan mereka tumbuh menjadi individu yang baik, terlepas dari kondisi perceraian orang tuanya.

Lebih dalam lagi, perasaan minder yang dialami Ruben Onsu juga bisa dipicu oleh dinamika yang terjadi di media sosial. Meskipun tidak disebutkan secara eksplisit, seringkali kehidupan figur publik menjadi sorotan. Jika ada narasi atau pemberitaan yang cenderung menyudutkan Ruben atau menampilkan Sarwendah sebagai satu-satunya figur ibu yang kuat dan hadir, hal ini bisa semakin memperburuk perasaan insecure sang presenter. Ia mungkin merasa bahwa citra publiknya sebagai ayah yang baik sedang tergerus, dan ia kesulitan untuk mengimbanginya di dunia nyata.

Kasus Ruben Onsu ini menyoroti kompleksitas emosional yang dihadapi oleh individu pasca-perceraian, terutama ketika menyangkut hak asuh dan hubungan dengan anak. Meskipun perceraian mungkin tak terhindarkan, menjaga keseimbangan dan memastikan anak-anak tetap merasa dicintai dan terhubung dengan kedua orang tua mereka adalah prioritas utama. Pengalaman Ruben Onsu menjadi pengingat bahwa luka perceraian tidak hanya dirasakan oleh pasangan yang berpisah, tetapi juga memiliki dampak yang signifikan terhadap anak-anak dan peran orang tua. Upaya untuk memulihkan rasa percaya diri dan membangun kembali kedekatan dengan anak-anak akan menjadi tantangan besar bagi Ruben, yang membutuhkan dukungan tidak hanya dari kuasa hukumnya, tetapi juga dari lingkungan yang lebih luas agar ia dapat kembali merasa menjadi ayah yang utuh bagi Thalia dan Thania.

Keinginan Ruben Onsu untuk kembali menjadi ayah yang hadir dan memiliki kedekatan dengan anak-anaknya sangatlah beralasan. Ini adalah naluri alami seorang ayah yang mencintai buah hatinya. Namun, proses pemulihan ini tidak akan mudah. Ia harus menghadapi rasa sakit hati, ketidakpastian, dan kemungkinan penolakan dari anak-anaknya yang mungkin belum sepenuhnya memahami situasi atau telah terpengaruh oleh narasi lain. Namun, keteguhan hatinya untuk berjuang demi anak-anaknya patut diapresiasi. Harapannya adalah agar semua pihak yang terlibat dapat mengedepankan kepentingan terbaik anak-anak, menciptakan lingkungan yang kondusif bagi mereka untuk tetap memiliki hubungan yang sehat dengan kedua orang tuanya, tanpa ada yang merasa menjadi orang asing atau minder untuk menjalankan peran fundamental mereka. Perjuangan Ruben Onsu ini adalah bukti nyata dari cinta seorang ayah yang luar biasa, yang rela berjuang melawan perasaan terpuruk demi kebahagiaan buah hatinya.