Fenomena di mana generasi muda lebih fasih menceritakan kehidupan pribadi, gaya hidup, hingga drama keseharian seorang influencer media sosial dibandingkan menyebutkan nama ulama besar di daerahnya sendiri adalah potret nyata pergeseran otoritas sosial yang sedang kita alami. Ketika pertanyaan sederhana dilontarkan mengenai siapa tokoh agama yang menjadi rujukan spiritual di lingkungan terdekat mereka, banyak anak muda yang terdiam atau memberikan jawaban yang samar. Sebaliknya, saat nama-nama selebriti internet atau konten kreator populer disebut, mereka dapat memberikan detail narasi yang sangat lengkap. Ini bukan sekadar persoalan selera atau tren sesaat, melainkan indikasi perubahan fundamental dalam cara generasi muda menentukan figur panutan, sumber pengetahuan, dan rujukan nilai dalam kehidupan mereka.
Dunia digital telah merombak peta otoritas secara radikal. Dahulu, seseorang diakui sebagai pemimpin atau figur publik karena kedalaman ilmu, keteladanan akhlak, integritas, dan pengabdian nyata kepada masyarakat. Otoritas bersifat vertikal dan berbasis pada pengakuan atas keilmuan yang teruji. Namun hari ini, pengaruh ditentukan oleh metrik digital: jumlah pengikut (followers), tingkat keterlibatan (engagement), dan kemampuan untuk memanipulasi algoritma agar terus muncul di layar ponsel. Di era di mana perhatian adalah mata uang yang paling berharga, siapa yang paling sering muncul di linimasa akan lebih dikenal daripada mereka yang memiliki kedalaman ilmu namun tidak hadir dalam ekosistem digital. Popularitas telah menggeser posisi kebijakan, dan viralitas sering kali dianggap lebih berharga daripada validitas keilmuan.
Media sosial tidak dirancang untuk memuliakan kedalaman gagasan atau kebenaran yang kompleks. Platform digital bekerja berdasarkan kecepatan, resonansi emosional, daya tarik visual, dan interaksi instan. Konten yang memicu tawa, kemarahan, atau rasa penasaran jauh lebih mudah menyebar dibandingkan konten yang mengajak audiens untuk merenung, berpikir kritis, atau mempelajari teks keagamaan yang berat. Influencer, dengan pemahaman mereka yang tajam mengenai algoritma, berhasil memenangkan pertarungan perhatian ini. Di sisi lain, banyak ulama masih terjebak dalam paradigma dakwah konvensional. Mimbar masjid, pengajian tatap muka, dan kitab-kitab klasik tetap memiliki nilai abadi yang tidak tergantikan, namun cara penyampaiannya sering kali terasa berjarak bagi generasi yang menghabiskan hampir seluruh waktu produktifnya di TikTok, Instagram, atau YouTube.
Penting untuk dicatat bahwa anak muda tidak kehilangan kebutuhan akan bimbingan atau figur panutan. Mereka justru sedang mencarinya dengan penuh keresahan di tengah dunia yang serba tidak pasti. Namun, mereka tidak lagi menunggu "dijemput" oleh otoritas keagamaan tradisional. Mereka mencari sosok yang mampu menjawab kegelisahan hidup mereka dengan bahasa yang mereka mengerti. Influencer hadir sebagai sosok yang tampak nyata dan "manusiawi". Mereka menunjukkan sisi keseharian, berbagi cerita gagal, dan berkomunikasi dengan gaya bahasa percakapan yang cair. Dalam psikologi komunikasi, ini menciptakan apa yang disebut sebagai hubungan parasosial, yaitu ikatan emosional yang kuat antara audiens dan figur publik, meskipun tidak ada interaksi nyata di dunia fisik. Anak muda merasa mengenal influencer tersebut sebagai teman, sehingga pesan apa pun yang disampaikan sang influencer—baik atau buruk—akan lebih mudah diterima karena adanya rasa percaya yang telah dibangun melalui kedekatan emosional tersebut.
Sebaliknya, sebagian besar ulama masih diposisikan dalam ruang yang formal, sakral, dan berjarak. Kehormatan yang diberikan kepada ulama sering kali membuat sosok mereka tampak tidak terjangkau bagi anak muda. Ketika ulama tidak hadir di ruang digital dengan cara yang relevan, maka kekosongan itu akan segera diisi oleh aktor lain. Kita tidak bisa menyalahkan anak muda jika mereka lebih mengenal influencer; kita justru harus bertanya apakah lembaga keagamaan telah cukup cepat beradaptasi dengan perubahan budaya visual ini. Generasi Z dan Alpha adalah generasi yang belajar melalui video pendek, narasi visual, dan dialog interaktif. Jika dakwah tetap bersikeras pada metode satu arah (ceramah panjang tanpa ruang diskusi), maka jarak kultural akan semakin melebar.

Lebih mengkhawatirkan lagi, fenomena ini melahirkan krisis otoritas yang serius. Ketika popularitas di media sosial dianggap sebagai legitimasi kebenaran, seseorang yang tidak memiliki kompetensi keagamaan memadai bisa menjadi rujukan bagi jutaan orang hanya karena pandai berbicara di depan kamera. Ini adalah ancaman bagi literasi keagamaan. Masyarakat, khususnya anak muda, berisiko mengonsumsi informasi agama yang dangkal, tidak tervalidasi, dan terkadang melenceng dari esensi ajaran karena sumbernya bukan lagi dari ahli ilmu, melainkan dari mereka yang sekadar populer. Tantangannya bukan pada eksistensi influencer, melainkan pada kemampuan generasi muda untuk membedakan mana konten yang menghibur dan mana konten yang berlandaskan ilmu pengetahuan yang otoritatif.
Solusinya terletak pada penguatan literasi digital dan adaptasi dakwah. Influencer akan terus ada dan teknologi akan terus berkembang. Kita tidak mungkin melawan arus perkembangan zaman dengan cara-cara yang usang. Literasi adalah kunci agar generasi muda mampu menikmati media sosial tanpa menjadikannya satu-satunya kompas moral. Mereka harus dibekali dengan kemampuan kritis untuk memverifikasi informasi dan memahami di mana letak kebenaran yang sesungguhnya.
Tugas ini menjadi tanggung jawab kolektif para ulama, pesantren, organisasi Islam, dan keluarga. Ulama tidak boleh hanya menjadi tokoh yang menunggu di atas mimbar. Mereka harus bertransformasi menjadi pemimpin opini di ruang digital. Pesantren tidak boleh hanya mencetak pakar kitab yang menutup diri dari realitas zaman; mereka harus melahirkan komunikator-komunikator ulung yang mampu menerjemahkan nilai-nilai Islam yang mendalam ke dalam bahasa media sosial yang kreatif dan menyentuh. Organisasi keagamaan pun harus berhenti terjebak dalam rutinitas struktural dan mulai berinvestasi dalam pembangunan ekosistem konten digital yang edukatif.
Pertempuran masa depan bukanlah perebutan wilayah fisik, melainkan perebutan perhatian (attention economy). Siapa yang mampu menyajikan nilai-nilai kebajikan dengan cara yang relevan dan menarik bagi generasi digital, dialah yang akan membentuk masa depan. Pertanyaan mengenai mengapa anak muda lebih mengenal influencer bukanlah sebuah kritik yang bersifat menghakimi terhadap generasi muda, melainkan sebuah cermin bagi kita semua. Bahwa kepercayaan dan otoritas tidak lagi diwariskan secara otomatis hanya karena gelar atau posisi sosial. Otoritas harus diperjuangkan, dikomunikasikan, dan dibuktikan dalam ruang baru yang penuh dengan kebisingan informasi.
Ulama tetaplah sosok yang sangat dibutuhkan, bahkan kebutuhan akan sosok pembimbing di tengah disrupsi informasi ini jauh lebih besar daripada sebelumnya. Namun, kebutuhan itu menuntut keberanian untuk melakukan inovasi. Jika dunia dakwah tidak segera beradaptasi, kita akan terus melihat ironi yang menyedihkan: generasi yang mengenal seluk-beluk kehidupan influencer hingga ke hal-hal terkecil, namun asing dengan ulama yang seharusnya menuntun arah hidup mereka. Jika keadaan ini dibiarkan, bukan hanya pengaruh ulama yang memudar, tetapi kualitas moral dan intelektual bangsa ini yang dipertaruhkan. Kita sedang membangun masa depan dengan generasi yang sangat terhubung secara teknologi, namun terancam terputus dari akar keilmuan yang kokoh. Inilah saatnya untuk mengubah strategi, mendatangi ruang-ruang digital dengan pesan yang penuh kedalaman, dan merebut kembali perhatian generasi muda dengan keteladanan yang nyata dan relevan.

