0

Reportase Haul KH. Ahmad Rifa’i: Menjaga Adab, Merawat Kenangan

Share

Sabtu malam, 2 Agustus 2026, suasana Masjid Baiturrahman di Kelurahan Tirto, Kota Pekalongan, memancarkan aura keteduhan yang luar biasa. Di bawah kerlap-lampu yang membingkai spanduk besar bertuliskan kaligrafi indah, ratusan jemaah dari Jam’iyyah Rifa’iyah Kota Pekalongan berkumpul dengan khusyuk. Mereka duduk bersila di atas permadani merah, menyatu dalam barisan yang rapi, menanti lantunan doa dan hikmah dalam peringatan Haul Syaikhina KH. Ahmad Rifa’i RA. Kalimat emas yang terpampang di puncak spanduk, "Adab seorang murid adalah menjaga kehormatan gurunya, baik ketika sang guru masih hidup maupun setelah wafat," menjadi ruh sekaligus pedoman utama bagi setiap jiwa yang hadir di sana.

Acara dibuka dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan tahlil yang menggema syahdu, memenuhi setiap sudut masjid. Peringatan haul ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan sebuah manifestasi kecintaan para pengikut Syaikh Ahmad Rifa’i terhadap sosok ulama besar yang pemikirannya terus relevan melintasi zaman. KH. Ahmad Rifa’i, yang dikenal sebagai pejuang integritas dan pelopor pendidikan berbasis kemandirian, telah mewariskan ribuan bait nazham yang menjadi pegangan umat dalam beragama dan bernegara.

Dalam kesempatan yang mulia ini, hadir KH. Rosalin Syahroni, Pengasuh Pondok Pesantren INSAP 2 Paesan Tengah, Kedungwuni, Pekalongan, yang menyampaikan mauidhoh hasanah. Dengan tutur kata yang menyejukkan namun sarat makna, beliau mengawali ceramahnya dengan sebuah perumpamaan tentang hakikat majelis ilmu. Beliau mengibaratkan sebuah majelis taklim seperti sekuntum bunga yang sedang mekar. Bunga tersebut memancarkan keharuman yang mengundang berbagai pihak untuk datang. Ada yang hadir dengan niat tulus bagaikan lebah dan kupu-kupu; mereka datang untuk menghisap sari madu ilmu, membantu penyerbukan agar kebaikan semakin tersebar, dan menjaga keindahan bunga itu sendiri tanpa sedikit pun merusaknya.

Namun, KH. Rosalin juga memberikan peringatan keras sekaligus reflektif. Beliau mengingatkan bahwa dalam setiap majelis ilmu, tidak semua orang datang dengan niat yang suci. Ada pula yang hadir bagaikan ulat atau hama yang justru ingin menggerogoti kelopak dan daun bunga tersebut hingga layu sebelum sempat mekar sempurna. Pesan ini menjadi tamparan halus bagi jemaah agar senantiasa menata niat. Menghadiri haul bukan untuk mencari panggung atau kepentingan duniawi, melainkan untuk meneguhkan adab, mengambil ibrah (pelajaran), dan memetik keberkahan dari sosok yang di-haul-kan. Kesucian niat adalah kunci utama agar ilmu yang diperoleh menjadi cahaya yang menerangi jalan kehidupan, bukan justru menjadi beban yang memadamkan hati.

Di balik khidmatnya acara malam itu, terselip sebuah catatan sejarah yang sangat dalam mengenai lokasi digelarnya acara: Kelurahan Tirto Meduri. Bagi warga Rifa’iyah, Tirto bukan sekadar lokasi administratif. Kawasan ini merupakan saksi bisu perjuangan panjang, keringat, air mata, dan keteguhan iman. Sekitar tahun 1967, lokasi ini pernah menjadi medan ujian bagi eksistensi Jam’iyyah Rifa’iyah. Saat itu, ketika warga Rifa’iyah Cabang Tirto berikhtiar untuk mendeklarasikan kepengurusan mandiri dan merintis pelaksanaan salat Jumat di Masjid Baiturrahman, tantangan yang dihadapi tidaklah ringan.

Ketegangan mencapai puncaknya ketika akses menuju masjid diblokir oleh pihak-pihak yang tidak setuju. Tumpukan pohon pisang dan bambu diletakkan melintang di jalan, lampu-lampu penerangan dipadamkan untuk menciptakan suasana mencekam, bahkan intimidasi fisik dan verbal ditujukan kepada para tokoh perintis. Dalam kondisi yang terdesak demi menjaga keselamatan umat, panitia saat itu dengan berat hati harus memindahkan lokasi pelantikan ke Gedung Pemuda Pekalongan. Peristiwa tersebut menjadi luka sekaligus pemacu semangat bagi para ulama perintis seperti Kiai Ahmad Nasichun, KH. Rahmatullah, KH. Syafi’i, dan Saudara Warsito Hadiprayitno.

Reportase Haul KH. Ahmad Rifa’i: Menjaga Adab, Merawat Kenangan

Alih-alih membalas dengan kekerasan, para tokoh Rifa’iyah memilih jalur diplomasi dan intelektual yang elegan. Mereka menempuh jalur konstitusional dengan mengajukan permohonan resmi kepada Departemen Agama RI agar kitab-kitab karya KH. Ahmad Rifa’i diteliti secara ilmiah. Mereka ingin membuktikan bahwa ajaran Syaikh Ahmad Rifa’i adalah ajaran yang sesuai dengan syariat dan membawa kemaslahatan bagi bangsa. Ikhtiar yang panjang dan melelahkan itu akhirnya membuahkan hasil manis pada 29 Februari dan 2 Juli 1968. Direktorat Pendidikan Agama RI secara resmi menerbitkan dua surat rekomendasi yang mengakui keabsahan kitab-kitab tersebut. Pengakuan negara ini menjadi legitimasi sekaligus pintu gerbang bagi kedamaian yang dirasakan saat ini.

Melihat Masjid Baiturrahman yang kini dipenuhi ratusan jemaah yang duduk bersimpuh dengan damai, kita diajak merenungkan betapa agungnya kekuatan kesabaran. Hampir enam dasawarsa berlalu, tempat yang dulunya disekat oleh pohon pisang dan kebencian, kini menjadi taman surgawi tempat dzikir dan ilmu disemai. Tidak ada lagi blokade, tidak ada lagi ketakutan. Yang ada hanyalah rasa persaudaraan yang erat di bawah naungan nilai-nilai Rifa’iyah. Ini adalah bukti nyata bahwa jika sebuah perjuangan dilakukan dengan cara yang benar, niat yang bersih, dan kesabaran yang tak bertepi, maka pertolongan Allah SWT akan selalu datang di waktu yang tepat.

Dalam konteks yang lebih luas, haul ini menjadi momentum untuk merefleksikan kembali pentingnya adab dalam berilmu. Di era digital yang penuh dengan distraksi, di mana informasi dapat diakses dengan mudah namun sering kali kehilangan sanad dan keberkahan, menjaga adab kepada guru menjadi sesuatu yang sangat langka sekaligus sangat mendesak. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang dikutip dalam acara tersebut, bahwa bukanlah golongan kita orang yang tidak menghormati yang lebih tua dan tidak menyayangi yang lebih muda, hal ini juga mencakup rasa hormat kepada ulama sebagai pewaris para nabi. Menghormati guru, baik secara fisik maupun pemikirannya setelah beliau wafat, adalah bagian dari memuliakan ilmu itu sendiri.

Menjaga kenangan akan KH. Ahmad Rifa’i bukanlah sekadar membicarakan sejarah masa lalu. Lebih dari itu, haul ini adalah tentang bagaimana menerjemahkan semangat beliau ke dalam tindakan nyata di masa kini. KH. Ahmad Rifa’i dikenal sebagai sosok yang sangat kritis terhadap kebodohan dan ketidakadilan. Beliau mendorong murid-muridnya untuk mandiri, berilmu, dan tidak mudah didikte oleh pihak-pihak yang ingin memecah belah umat. Semangat kemandirian inilah yang harus terus dirawat oleh generasi penerus Jam’iyyah Rifa’iyah.

Acara malam itu pun ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh para sesepuh Rifa’iyah. Suasana menjadi semakin syahdu saat lantunan doa untuk keselamatan bangsa dan kejayaan Islam dipanjatkan. Jemaah yang hadir tampak terhanyut dalam haru. Ada rasa syukur yang mendalam karena mereka masih bisa duduk di masjid tersebut, di atas permadani yang sama, menyambung sanad ilmu yang telah dirintis dengan penuh perjuangan oleh para pendahulu.

Sebagai penutup, reportase ini ingin menegaskan bahwa dari kupu-kupu yang hinggap di bunga hingga blokade jalan yang kini berubah menjadi majelis ilmu, ada satu benang merah yang sangat jelas: kemuliaan tidak pernah datang secara instan. Kemuliaan adalah hasil dari perjuangan yang diiringi dengan akhlak yang terjaga. Haul KH. Ahmad Rifa’i tahun 2026 ini telah berhasil menjadi pengingat bagi kita semua bahwa menjaga kehormatan guru adalah kunci untuk menjaga keberkahan ilmu. Selama jemaah masih memegang teguh adab, selama mereka masih mau menata niat untuk menjadi "lebah" yang memberi manfaat bagi sesama, maka selama itu pula warisan KH. Ahmad Rifa’i akan terus hidup dan memancar, menerangi kegelapan zaman.

Perjalanan Tirto dari masa kelam menuju masa yang penuh cahaya ini adalah inspirasi bagi daerah-daerah lain untuk terus istiqamah dalam perjuangan. Bahwa dalam menghadapi tantangan zaman, cara-cara yang santun, intelektual, dan taat aturan adalah senjata yang paling ampuh. Semoga semangat yang berkobar di Masjid Baiturrahman malam itu tidak padam seiring berakhirnya acara, melainkan terus menyala dalam sanubari setiap jemaah yang hadir, membimbing mereka untuk menjadi pribadi yang lebih baik, lebih beradab, dan lebih bermanfaat bagi umat manusia. Selamat mengenang sang guru, selamat merawat warisan ilmu, dan selamat menjaga adab sebagai murid yang mencintai gurunya hingga ke akhirat.