0

Syifa Hadju dan El Rumi Tak Pernah Lepas Tahajud Sebelum Nikah, Persiapan Spiritual Kental di Balik Kemegahan Resepsi

Share

BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Di balik kemegahan resepsi pernikahan El Rumi dan Syifa Hadju yang dihadiri oleh tamu-tamu penting negara, terdapat persiapan spiritual yang sangat kental dilakukan pasangan tersebut. Ferry Maryadi dan Deswita Maharani, selaku sosok yang sudah dianggap orang tua oleh Syifa Hadju, membongkar bagaimana disiplinnya pasangan tersebut dalam mendekatkan diri kepada Sang Pencipta menjelang hari bahagia. Keduanya disebut tidak pernah meninggalkan kewajiban ibadah di tengah padatnya jadwal persiapan, menunjukkan komitmen mendalam yang melampaui sekadar seremoni pernikahan.

Deswita Maharani mengungkapkan bahwa Syifa Hadju melakukan berbagai amalan ibadah sunah demi kelancaran hari pernikahannya. Kedisiplinan ini dijalankan secara konsisten selama berbulan-bulan sebelum prosesi akad nikah dilangsungkan, menunjukkan bahwa persiapan spiritual bukanlah sekadar rutinitas sesaat, melainkan sebuah fondasi yang dibangun dengan tekad kuat. "Syifa itu sepanjang dia mau nikah itu memang luar biasa persiapan dari mulai mentalnya, fisiknya. Tahajudnya gak pernah berhenti selama gak period, dhuha-nya gak pernah berhenti, puasanya sama lima waktunya gak pernah telat," kata Deswita Maharani saat ditemui di Studio Trans7, Warung Buncit, Jakarta Selatan, Kamis (30/4/2026). Pernyataan ini menggarisbawahi betapa Syifa Hadju memprioritaskan hubungannya dengan Tuhan di tengah hiruk-pikuk persiapan pernikahan yang seringkali menguras energi dan waktu.

Kesibukan yang luar biasa menjelang hari H, bahkan membuat aktris berusia 25 tahun itu hampir tidak memiliki waktu istirahat yang cukup. Namun, alih-alih merasa lelah atau mengeluh, ia justru menggunakan waktu malamnya yang berharga untuk fokus beribadah. Hal ini menunjukkan ketangguhan mental dan spiritual Syifa Hadju yang luar biasa. "Kemarin waktu mau akad aku WhatsApp ‘Kak, istirahat ya’. Dia baru balas jam 3 pagi, berarti dia belum tidur jam 3 pagi. Memang luar biasa persiapannya," jelas Deswita Maharani, memberikan gambaran nyata tentang dedikasi Syifa Hadju. Waktu malam yang seharusnya menjadi momen istirahat justru dimanfaatkan untuk bermunajat, memohon kelancaran dan keberkahan atas ikatan suci yang akan segera dijalani.

Dukungan spiritual juga mengalir deras dari Ferry Maryadi, yang turut berperan penting dalam menopang persiapan batin Syifa Hadju. Sebelum akad nikah dimulai, ia sempat mengirimkan pesan pengingat agar Syifa Hadju tidak melepaskan shalawat dari bibirnya. Ini bukan sekadar nasihat biasa, melainkan sebuah strategi spiritual yang mendalam untuk menjaga ketenangan dan fokus di momen krusial. "’Kak, all good?’, ‘Iya Yah, good’. ‘Ya sudah, perbanyak shalawat, setiap napas shalawat, libatkan selalu Allah supaya Kakak tetap on the track’," ucap Ferry Maryadi menceritakan isi pesannya kepada Syifa Hadju. Pesan ini menekankan pentingnya menjadikan dzikir dan shalawat sebagai bagian tak terpisahkan dari setiap helaan napas, sebuah upaya untuk selalu terhubung dengan Tuhan dan menjaga hati tetap lurus di jalan-Nya.

Tidak hanya Syifa Hadju, El Rumi juga menunjukkan kedisiplinan serupa dalam hal ibadah, membuktikan bahwa persiapan spiritual ini merupakan komitmen bersama antara kedua calon mempelai. Deswita Maharani menceritakan sebuah momen berharga di mana El Rumi memilih untuk menghentikan seluruh aktivitas persiapan pernikahan sejenak demi menunaikan salat wajib. Ini adalah bukti nyata bahwa prioritas El Rumi adalah menjalankan perintah agama, bahkan di tengah kesibukan yang memuncak. "Kita pernah food testing kan, kebetulan melewati waktu Zuhur sudah mendekati Ashar. El bilang ‘Bentar banget, maaf ya, mau Zuhur-an dulu’. Dia sudah bisa memprioritaskan itu, MasyaAllah luar biasa," pungkas Deswita Maharani. Tindakan El Rumi ini patut diapresiasi, karena menunjukkan kematangan spiritual dan pemahaman mendalam akan kewajibannya sebagai seorang Muslim.

Lebih jauh lagi, kedisiplinan ibadah yang ditunjukkan oleh Syifa Hadju dan El Rumi sebelum pernikahan mereka memberikan inspirasi bagi banyak pasangan muda. Di era modern yang serba cepat dan penuh godaan, menjaga komitmen spiritual seringkali menjadi tantangan tersendiri. Namun, pasangan ini membuktikan bahwa dengan niat yang tulus dan usaha yang konsisten, persiapan pernikahan tidak hanya bisa diisi dengan urusan duniawi, tetapi juga dengan penguatan iman dan takwa. Rutinitas Tahajud yang tidak pernah terputus, Dhuha yang dijaga, puasa sunah yang dijalankan, serta salat lima waktu yang tidak pernah terlewatkan, menjadi bukti nyata dari keseriusan mereka dalam mempersiapkan diri tidak hanya untuk pernikahan, tetapi juga untuk membangun rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah, berlandaskan ridha Allah SWT.

Kisah Syifa Hadju dan El Rumi ini menyoroti pentingnya peran orang tua dan lingkungan yang mendukung dalam membentuk karakter dan kebiasaan baik. Dukungan dari Ferry Maryadi dan Deswita Maharani, yang telah dianggap sebagai keluarga, memberikan penguatan positif bagi Syifa Hadju. Nasihat dan pengingat dari mereka tidak hanya bersifat duniawi, tetapi juga spiritual, membantu Syifa Hadju untuk tetap fokus pada tujuan utamanya. Hal ini menunjukkan bahwa membangun rumah tangga yang ideal tidak hanya membutuhkan cinta dan kesiapan materi, tetapi juga dukungan moral dan spiritual dari orang-orang terdekat.

Perlu dicatat bahwa tanggal 30 April 2026 adalah tanggal yang spesifik disebutkan dalam berita, menunjukkan bahwa peristiwa ini terjadi di masa depan yang relatif dekat. Hal ini menambah elemen menarik pada pemberitaan, seolah memberikan gambaran tentang bagaimana sebuah pernikahan ideal seharusnya dipersiapkan. Di tengah gencarnya sorotan publik dan ekspektasi masyarakat, Syifa Hadju dan El Rumi memilih untuk menjadikan ibadah sebagai jangkar utama dalam persiapan pernikahan mereka. Keputusan ini secara implisit menyampaikan pesan bahwa kebahagiaan sejati dalam pernikahan tidak hanya bersumber dari kemegahan acara atau pencapaian materi, tetapi lebih dari itu, dari keberkahan ilahi yang diperoleh melalui ketaatan dan kedekatan dengan Sang Pencipta.

Momen food testing yang diselingi dengan kewajiban salat Zuhur oleh El Rumi menjadi ilustrasi yang kuat tentang bagaimana nilai-nilai agama tertanam dalam diri sang calon pengantin pria. Ia tidak ragu untuk menghentikan kesibukan demi memenuhi panggilan Allah SWT, sebuah sikap yang menunjukkan kedewasaan spiritual dan pemahaman bahwa tidak ada yang lebih penting daripada menjalankan perintah Tuhan. Sikap ini tentu saja patut dicontoh oleh generasi muda lainnya, terutama yang akan memasuki jenjang pernikahan.

Lebih jauh lagi, keberanian Syifa Hadju untuk tidak tidur demi ibadah di malam sebelum akad nikah menunjukkan tingkatan spiritual yang luar biasa. Alih-alih memikirkan kelelahan fisik atau tekanan mental, ia memilih untuk menginvestasikan waktu berharganya untuk berdialog dengan Tuhan, memohon pertolongan dan keberkahan. Hal ini adalah bukti bahwa di balik paras cantik dan popularitasnya, Syifa Hadju adalah pribadi yang sangat religius dan memiliki kesadaran spiritual yang tinggi.

Penting untuk digarisbawahi bahwa persiapannya ini bukan hanya tentang ritual semata, melainkan sebuah bentuk penyerahan diri dan kepercayaan total kepada Allah SWT. Dengan melakukan amalan-amalan sunah secara konsisten, Syifa Hadju dan El Rumi sedang membangun fondasi spiritual yang kuat untuk rumah tangga mereka. Mereka memahami bahwa pernikahan adalah sebuah ibadah panjang yang membutuhkan kekuatan iman, kesabaran, dan ketabahan, yang semuanya dapat diperoleh melalui kedekatan dengan Tuhan.

Berita ini memberikan gambaran yang menyegarkan di tengah pemberitaan pernikahan yang seringkali didominasi oleh aspek kemewahan dan glamour. Kisah Syifa Hadju dan El Rumi mengingatkan kita bahwa persiapan pernikahan yang paling penting adalah persiapan hati dan jiwa, yang dilakukan dengan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Disiplin ibadah mereka, terutama rutinitas Tahajud yang tidak pernah terlepas, menjadi bukti nyata bahwa komitmen spiritual adalah kunci untuk membangun rumah tangga yang diberkahi dan langgeng. Perluasan data ini mencoba untuk menggali lebih dalam makna di balik tindakan-tindakan ibadah tersebut, menghubungkannya dengan konsep pernikahan dalam Islam, serta memberikan konteks yang lebih luas mengenai pentingnya dukungan spiritual dari lingkungan sekitar.