0

Pemikiran Keagamaan KH. Ahmad Rifa’i dalam Kitab Tarajumah

Share

KH. Ahmad Rifa’i merupakan figur ulama pembaru sekaligus pahlawan nasional abad ke-19 yang memiliki pengaruh religius-sosial mendalam hingga era kontemporer. Di tengah cengkeraman hegemoni kolonial Belanda serta degradasi pemahaman keagamaan masyarakat Jawa pada masanya, beliau muncul sebagai sosok revolusioner yang menggunakan media sastra lokal sebagai senjata dakwah. Melalui karya-karyanya yang dikenal sebagai kitab Tarajumah, beliau secara konsisten mengampanyekan penguatan akidah Islam Ahlussunnah wal Jama’ah dan melakukan perlawanan kultural terhadap penjajahan. Komunitas Rifa’iyah yang lahir dari gagasannya bukan sekadar gerakan pengajian, melainkan pilar ortodoksi Islam Nusantara yang berperan penting dalam menjaga nalar kritis-religius masyarakat.

Dalam konstruksi pemikiran keagamaan KH. Ahmad Rifa’i, bangunan Islam yang kokoh harus berdiri di atas fondasi integratif yang beliau sebut sebagai “ilmu telung perkoro” (ilmu tiga perkara), yakni Ushuluddin, Fikih, dan Tasawuf. Beliau menolak segala bentuk dikotomi antar disiplin ilmu tersebut; baginya, ketiganya merupakan kesatuan organis yang merefleksikan manifestasi iman, islam, dan ihsan. Karena sifatnya yang fardhu ‘ain, mempelajari dan mengamalkan trilogi ini adalah keharusan, di mana cacat pada salah satu pilar akan merusak keabsahan amal ibadah di hadapan Allah SWT.

Guna memastikan ajaran ini dapat dipahami oleh masyarakat awam yang mayoritas adalah petani, KH. Ahmad Rifa’i menuangkan rumusan teologis-praktis ini ke dalam bait-bait syair berbahasa Jawa yang indah. Beliau memposisikan Ushuluddin sebagai akar kemurnian Tauhid, Fikih sebagai standar hukum lahiriah, dan Tasawuf sebagai ruh pembersih hati yang menjaga keikhlasan. Dalam bait-baitnya, beliau menegaskan bahwa setiap mukalaf wajib mengetahui perkara yang mengesahkan iktikad (Ushuluddin), perkara yang mengatur ibadah lahiriah (Fikih), serta perkara yang membersihkan hati dari sifat tercela (Tasawuf).

Di bidang Ushuluddin, KH. Ahmad Rifa’i membangun teologi perlawanan yang sangat radikal pada zamannya. Akidah, menurut beliau, bukan sekadar doktrin hafalan, melainkan daya penggerak untuk menolak kezaliman. Beliau berpendapat bahwa seorang mukmin sejati tidak boleh tunduk kepada kekuasaan yang menindas. Oleh karena itu, kolonialisme Belanda dan para pejabat pribumi yang menjadi kaki tangannya dianggap sebagai ancaman nyata terhadap martabat muslim. Beliau secara tegas mengharamkan pengabdian kepada penguasa yang tunduk kepada penjajah kafir, sebuah sikap yang menunjukkan bahwa tauhid adalah kekuatan spiritual yang melahirkan keberanian melawan penindasan.

Salah satu pemikiran beliau yang kerap memicu diskusi adalah konsep "Rukun Islam Satu". Secara esensi, beliau menegaskan bahwa rukun Islam adalah dua kalimat syahadat. Hal ini tidak berarti beliau menafikan salat, zakat, puasa, dan haji, melainkan beliau ingin menegaskan bahwa syahadat adalah batang pohon, sementara rukun-rukun lainnya adalah cabang-cabangnya. Pendapat ini selaras dengan pandangan ulama besar seperti Syaikh ar-Ramli dalam Ghayah al-Bayan, yang menyatakan bahwa syahadat adalah pintu masuk hukum Islam di dunia. Selain itu, beliau juga menekankan pentingnya sosok "Alim Adil"—guru yang memiliki kedalaman ilmu syara’ dan bersih dari dosa besar—sebagai prasyarat mutlak untuk menjaga kemurnian agama agar tidak terdistorsi oleh penafsiran orang-orang bodoh.

Pemikiran Keagamaan KH. Ahmad Rifa’i dalam Kitab Tarajumah

Dalam ranah Fikih, KH. Ahmad Rifa’i tetap teguh berpegang pada madzhab Syafi’i. Namun, pendekatan beliau sangat unik karena berfokus pada "Fikih Prioritas". Beliau sengaja hanya menuliskan perkara-perkara wajib agar masyarakat awam tidak merasa terbebani. Beliau menegaskan bahwa mendahulukan ibadah sunnah dengan meninggalkan kewajiban adalah perilaku yang tidak dibenarkan. Prinsip Taisir atau kemudahan menjadi nafas dalam setiap fatwa beliau. Beliau bahkan memperbolehkan penggunaan pendapat yang dhaif (lemah) apabila hal itu menjadi satu-satunya jalan agar kewajiban syariat dapat terlaksana oleh masyarakat awam, seperti dalam masalah Muqaranah Urfiyah saat berniat dalam salat.

Sikap toleransi KH. Ahmad Rifa’i terhadap perbedaan pendapat di kalangan ulama mujtahid juga patut dicontoh. Beliau menganggap perbedaan di antara para sahabat dan mujtahid sebagai rahmat. Beliau memberikan kebebasan kepada kaum muslimin untuk memilih pendapat ulama yang dianggap paling mudah untuk diamalkan, selama berada dalam koridor syariat. Ini membuktikan bahwa di balik ketegasan beliau melawan penjajah, beliau adalah sosok yang sangat bijaksana dan lapang dada dalam masalah khilafiyah, jauh dari kesan ekstrem atau kaku yang sering disematkan oleh pihak-pihak yang tidak memahami konteks perjuangannya.

Pada bidang Tasawuf, fokus utama KH. Ahmad Rifa’i adalah pembersihan hati dari sifat-sifat tercela seperti hubbuddunya (cinta dunia), ujub, riya, dan takabur, serta menghiasinya dengan sifat terpuji seperti zuhud, sabar, dan ikhlas. Beliau memberikan kritik tajam kepada fenomena orang yang mengaku mencapai maqam hakikat namun meninggalkan syariat. Baginya, hakikat tanpa syariat adalah kehancuran, dan syariat tanpa hakikat adalah kekosongan. Beliau juga mengkritik mereka yang hanya bersimbol sufi melalui pakaian, namun perilakunya jauh dari nilai-nilai spiritualitas yang sesungguhnya. Menurut beliau, karomah sejati bukanlah kesaktian yang bersifat fisik, melainkan istiqamah dalam menjalankan ajaran Rasulullah.

Pemikiran KH. Ahmad Rifa’i dalam kitab-kitab Tarajumah merupakan kekayaan intelektual yang sangat berharga. Beliau tidak hanya memberikan pedoman ibadah, tetapi juga membangun karakter muslim yang merdeka, kritis, dan memiliki integritas moral tinggi. Di era modern yang penuh dengan materialisme dan krisis identitas, gagasan beliau mengenai integrasi antara syariat, akidah, dan tasawuf tetap menjadi lentera yang relevan. Beliau mengajarkan bahwa menjadi muslim adalah menjadi pribadi yang kuat secara teologis, tertib secara hukum, dan bersih secara spiritual.

Sebagai penutup, urgensi untuk terus menggali warisan pemikiran KH. Ahmad Rifa’i tidak boleh berhenti. Beliau adalah sosok yang mampu menjembatani teks-teks klasik dengan realitas masyarakat bawah. Pendekatannya yang mengedepankan kemudahan tanpa mengorbankan esensi hukum, serta keberaniannya melawan ketidakadilan, adalah nilai-nilai yang sangat dibutuhkan oleh umat Islam saat ini. Mempelajari Tarajumah berarti mempelajari bagaimana sebuah agama dipraktikkan dengan penuh kesadaran, keikhlasan, dan kemerdekaan jiwa. Dengan memahami pemikiran beliau, kita diingatkan kembali bahwa tugas seorang muslim bukan hanya beribadah secara ritual, melainkan juga menjaga kemurnian ajaran Islam dan martabat umat dari segala bentuk hegemoni yang merusak tatanan kemanusiaan. Wallahu A’lam bish-shawab.