Jemaah Jumat yang dimuliakan Allah, marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya takwa, yaitu menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya. Shalawat serta salam senantiasa kita haturkan kepada Baginda Nabi Muhammad SAW, uswatun hasanah yang membimbing umat melalui syariat, tarekat, hingga hakikat. Di tengah arus zaman yang semakin kompleks, kita dituntut untuk tetap waspada dalam menjaga kemurnian ibadah agar tidak terjebak dalam fitnah ulama duniawi yang orientasi hidupnya hanya tertuju pada kemegahan materi dan kursi jabatan.
Seorang ulama besar Nusantara, KH. Ahmad Rifa’i bin Muhammad al-Jawi, dalam karya monumentalnya berjudul Tanbih, memberikan peringatan keras kepada kita semua mengenai bahaya besar keberagamaan yang hanya bersifat ikut-ikutan tanpa landasan ilmu yang kuat. Beliau menyebut fenomena ini sebagai Taksir atau keteledoran dalam beragama. Banyak orang awam yang terjebak dalam praktik bid’ah yang menyesatkan karena mereka lebih memilih mengikuti hawa nafsu sebagai tuhannya dan menjadikan "setan berwujud manusia" sebagai gurunya. Peringatan ini bukanlah hal sepele, melainkan sebuah seruan untuk kembali kepada kemurnian tauhid dan syariat yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.
Allah SWT telah menegaskan peringatan ini di dalam Al-Qur’an surat Al-Jasiyah ayat 23: "Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat dengan sepengetahuan-Nya, dan Allah telah mengunci pendengaran dan hatinya serta meletakkan tutup atas penglihatannya? Maka siapakah yang mampu memberinya petunjuk setelah Allah (membiarkannya sesat)? Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?" Ayat ini menjadi cermin bagi kita untuk selalu memeriksa niat dan tujuan kita dalam beribadah. Jangan sampai ritual ibadah yang kita lakukan justru menjadi sia-sia karena hati kita telah tertutup oleh tabir hawa nafsu.
Dalam konteks kekinian, peringatan KH. Ahmad Rifa’i ini terasa sangat relevan dengan realitas di Indonesia. Di era disrupsi informasi dan digitalisasi, kita kerap menyaksikan fenomena "ulama instan" atau pemuka agama yang lebih mengedepankan popularitas, jumlah pengikut di media sosial, dan kepentingan politik praktis daripada substansi dakwah itu sendiri. Mereka sering kali terjebak dalam apa yang disebut sebagai ulama su’ atau ulama yang buruk. Mereka pandai bersilat lidah, mahir menyusun kata-kata untuk memukau massa, namun perilakunya justru bertolak belakang dengan syariat. Hati mereka lebih terpikat pada gemerlap dunia, kursi kekuasaan, dan pemuasan syahwat pribadi daripada menjaga amanah umat.
Fenomena ini melahirkan kebingungan di tengah masyarakat awam. Ketika seorang tokoh agama yang dianggap sebagai panutan justru menampilkan keteladanan yang cacat moral, maka kepercayaan masyarakat terhadap otoritas keagamaan menjadi goyah. Inilah yang dimaksud dengan fitnah ulama duniawi. Mereka menggunakan agama sebagai komoditas untuk meraih kepentingan duniawi. KH. Ahmad Rifa’i mengkritik keras sikap seperti ini dan menegaskan bahwa standar kebenaran bagi seorang Muslim bukanlah terletak pada seberapa hebat seorang tokoh dalam beretorika, melainkan sejauh mana ia mengikuti jejak langkah Rasulullah SAW.
Kritik KH. Ahmad Rifa’i juga menyentuh aspek formalitas ibadah. Beliau mencontohkan realitas pada zamannya tentang pelaksanaan ibadah salat Jumat. Banyak orang yang hadir di masjid hanya untuk menggugurkan kewajiban ritual semata tanpa memahami rukun dan syarat sahnya. Imam yang memimpin pun terkadang abai dalam mendidik makmumnya, sehingga ibadah yang dilakukan menjadi batal secara fikih. Hal ini adalah teguran bagi kita semua agar tidak terjebak dalam ritualitas yang kering akan makna. Ibadah kita harus didasari oleh ilmu yang sah (shihah). Sebagaimana kaidah yang sering dikutip dalam kitab-kitab klasik, termasuk dalam Nadzom Zubad yang dirujuk oleh KH. Ahmad Rifa’i dalam Ri’ayah Al-Himmah: "Setiap orang yang beramal tanpa ilmu, maka amalnya tertolak dan tidak diterima oleh Allah."

Kita harus menyadari bahwa tanda orang yang benar-benar mengagungkan Allah adalah ia yang mampu menundukkan hawa nafsunya di bawah kendali syariat. Allah SWT berfirman dalam surat An-Najm ayat 29: "Maka berpalinglah (wahai Muhammad) dari orang yang berpaling dari peringatan Kami, dan ia tidak menghendaki kecuali kehidupan dunia semata." Ayat ini adalah pedoman bagi kita untuk bersikap selektif dalam memilih guru dan panutan. Janganlah kita mudah tergiur oleh mereka yang menjual ayat-ayat Allah demi keuntungan jangka pendek, mereka yang memicu kegaduhan, menanamkan benih kebencian (hasud), dan memecah belah persatuan bangsa demi ambisi golongan.
Seorang mukmin yang jujur imannya adalah mereka yang mampu menyatukan antara syariat—yaitu fikih yang benar sesuai kaidah—dengan hakikat, yakni hati yang ikhlas dan bersih dari cinta dunia. Pertanyaan besar yang harus kita ajukan kepada diri kita masing-masing setiap selesai beribadah adalah: Apakah salat kita sudah benar-benar sesuai dengan rukun dan syaratnya? Apakah guru yang kita ikuti selama ini benar-benar menuntun kita menuju ridha Allah, atau justru membawa kita pada fanatisme golongan yang sempit dan cinta dunia yang melalaikan akhirat?
Di tengah maraknya fitnah akhir zaman, sangat penting bagi kita untuk kembali mengkaji kitab-kitab para ulama salaf yang kredibel. KH. Ahmad Rifa’i bukan hanya seorang ulama, beliau adalah sosok pejuang yang berani menyuarakan kebenaran di tengah tekanan penguasa yang zalim dan ulama yang oportunis. Pesan-pesan beliau dalam kitab Tanbih menjadi kompas moral bagi umat agar tetap teguh di jalan yang lurus. Menjaga kemurnian ibadah adalah perjuangan melawan diri sendiri, yakni melawan keinginan untuk dipuji, keinginan untuk berkuasa, dan keinginan untuk menumpuk harta dengan cara yang tidak dibenarkan oleh syariat.
Jemaah yang dirahmati Allah, marilah kita senantiasa memohon perlindungan kepada-Nya agar dijauhkan dari fitnah dunia dan tipu daya ulama yang menjual agamanya untuk kepentingan pribadi. Allah SWT menjanjikan kebersamaan-Nya bagi orang-orang yang bertakwa, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an: "Dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa." (QS. Al-Baqarah: 194). Ketakwaan inilah benteng terakhir kita dalam menghadapi berbagai godaan duniawi.
Sebagai penutup khutbah pertama, marilah kita jadikan momentum Jumat ini sebagai titik balik untuk memperbaiki kualitas ibadah kita. Janganlah kita hanya menjadi pengikut yang pasif, melainkan pengikut yang kritis, yang senantiasa menimbang setiap ajaran berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah serta pendapat para ulama yang saleh dan jujur. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan hidayah-Nya kepada kita, membimbing hati kita untuk mencintai ulama yang benar-benar takut kepada Allah, dan menerima segala amal ibadah kita dengan penerimaan yang sempurna. Amin ya Rabbal Alamin.
Khutbah kedua berisi doa-doa permohonan ampunan, kesejahteraan umat Islam, keselamatan bangsa dari perpecahan, dan harapan agar para pemimpin senantiasa diberikan petunjuk untuk menjalankan amanah dengan adil dan jujur sesuai dengan tuntunan syariat.

