Tue 8 Sep 2026 International edition

Ulasan Gadgets dan Teknologi Terkini

Rifaiyah

Kaji Kitab Ri’ayah Al-Himmah, Pengajian Selapanan FUKKAR Soroti Ketelitian Memahami Struktur Kalimat Tarajumah

Forum Komunikasi Keluarga Rifa’iyah (FUKKAR) kembali mempertegas komitmennya dalam menjaga kemurnian pemahaman ajaran agama melalui kegiatan rutin Pengajian Selapanan. Acara yang diselenggarakan pada Senin, 31 Agustus 2026, di Pondok Pesantren An-Nasikhun, Paesan Utara, Kedungwuni, Pekalongan ini menjadi wadah krusial bagi warga Rifa’iyah untuk mendalami khazanah intelektual KH. Ahmad Rifa’i. Dalam pertemuan tersebut, hadir sebagai narasumber utama KH. Imbuh Jumali, Pengasuh Pondok Pesantren Riyadhus Sholihin Wa Shalihat, Temanggung, yang juga merupakan anggota Dewan Syura Pimpinan Pusat Rifa’iyah.

Fokus utama kajian kali ini adalah membedah isi Kitab Ri’ayah Al-Himmah, sebuah mahakarya KH. Ahmad Rifa’i yang berbentuk nadham (syair) berbahasa Jawa dengan aksara Arab pegon. Kitab ini secara spesifik memuat penjelasan mendalam mengenai rukun iman. Sebelum memasuki materi inti, KH. Muhdlor Hasbi, sosok pelopor entitas FUKKAR, memberikan pengantar mengenai pentingnya menjaga mata rantai keilmuan. Beliau memaparkan silsilah keguruan KH. Imbuh Jumali yang tersambung secara otoritatif hingga kepada KH. Ahmad Rifa’i, yakni melalui jalur KH. Abdul Malik, K. Imam Basyari, dan K. Abu Ilham. Silsilah ini menjadi penanda bahwa transmisi ilmu yang disampaikan memiliki sanad yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan.

Penyelenggaraan pengajian ini didasari oleh keprihatinan kolektif di lingkungan keluarga besar Rifa’iyah. Terdapat keresahan bahwa selama ini masih sering terjadi kesalahpahaman dalam menafsirkan teks-teks Tarajumah karangan KH. Ahmad Rifa’i. Masalah utama sering kali terletak pada ketelitian dalam menempatkan jeda, pemenggalan antar anak kalimat, serta pemahaman terhadap struktur gramatikal dalam bait-bait nadham. Ketidaktepatan dalam mengidentifikasi subjek (fa’il) dan objek (maf’ul), atau kesalahan dalam meletakkan tanda baca, bukan sekadar masalah teknis bahasa, melainkan hal fundamental yang berisiko mengubah esensi ajaran yang hendak disampaikan oleh penulisnya.

Kaji Kitab Ri’ayah Al-Himmah, Pengajian Selapanan FUKKAR Soroti Ketelitian Memahami Struktur Kalimat Tarajumah

KH. Imbuh Jumali dalam penjelasannya berkali-kali menekankan pentingnya kecermatan linguistik. Sebagai contoh, saat mengulas bait mengenai penciptaan malaikat, beliau menyoroti pentingnya jamaah untuk tidak gegabah dalam menentukan kedudukan kata dalam kalimat. Beliau menjelaskan bahwa jika seorang pembaca keliru menentukan mana pelaku dan mana sasaran perbuatan, maka kesimpulan teologis yang diambil bisa menyimpang. Misalnya, terkait sifat ketaatan malaikat, jamaah harus memahami bahwa ketaatan tersebut bukanlah watak asal yang muncul dari diri malaikat itu sendiri, melainkan karena Allah SWT yang menjadikannya taat. Pemahaman yang keliru di titik ini dapat mengaburkan hakikat tauhid yang ingin ditegaskan oleh KH. Ahmad Rifa’i.

Dalam sesi pemaparan materi, KH. Imbuh Jumali mengupas tuntas empat poin utama rukun iman yang tertuang dalam Ri’ayah Al-Himmah. Pertama, mengenai iman kepada malaikat. Beliau menekankan bahwa malaikat adalah hamba Allah yang sangat istimewa, yang tidak memiliki hawa nafsu dan selalu dalam kondisi beribadah. Beliau menguraikan tugas-tugas pokok malaikat utama seperti Jibril, Mikail, Israfil, dan Izrail secara mendetail. Lebih jauh, beliau mengingatkan bahwa meyakini keberadaan malaikat, termasuk malaikat pencatat amal, adalah kewajiban yang tidak bisa ditawar. Meragukan eksistensi malaikat, apalagi membencinya, merupakan bentuk kekufuran yang nyata.

Kedua, iman kepada kitab-kitab Allah. Dalam bagian ini, KH. Imbuh Jumali memberikan daftar historis mengenai wahyu yang diturunkan Allah kepada para nabi, mulai dari suhuf yang diberikan kepada Nabi Adam, Nabi Syits, Nabi Idris, hingga Nabi Ibrahim. Beliau juga menegaskan keutamaan kitab-kitab besar seperti Taurat, Zabur, dan Injil, sebelum akhirnya menutupnya dengan pembahasan Al-Qur’an. Beliau menegaskan bahwa Al-Qur’an adalah mukjizat terbesar yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dan berfungsi sebagai obat penyembuh penyakit hati bagi umat manusia hingga akhir zaman.

Ketiga, iman kepada nabi dan rasul. Penjelasan KH. Imbuh Jumali mengenai perbedaan nabi dan rasul menjadi sangat informatif bagi jamaah. Beliau menjelaskan bahwa rasul memiliki kewajiban untuk menyampaikan syariat kepada umatnya, sementara nabi tidak secara eksplisit diwajibkan demikian. Beliau juga merinci 25 nabi dan rasul yang wajib diimani, serta menyoroti sosok para rasul Ulul Azmi yang memiliki ketabahan luar biasa dalam menyampaikan risalah. Penekanan beliau pada sifat maksum atau terjaga dari dosa bagi para nabi menjadi poin penting agar umat tidak salah paham dalam memandang derajat kemuliaan para utusan Allah tersebut.

Kaji Kitab Ri’ayah Al-Himmah, Pengajian Selapanan FUKKAR Soroti Ketelitian Memahami Struktur Kalimat Tarajumah

Keempat, iman kepada hari kiamat. KH. Imbuh Jumali membagi pemahaman kiamat menjadi dua, yakni kiamat sughra (kematian individu) dan kiamat kubra (kehancuran alam semesta). Beliau menggambarkan suasana hari akhir dengan sangat hidup, termasuk durasi masa di padang mahsyar yang setara dengan lima puluh ribu tahun. Deskripsi mengenai shirat yang tajam dan mizan sebagai timbangan amal disampaikan bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk membangun kesadaran akan tanggung jawab manusia atas perbuatannya di dunia. Beliau juga menguraikan dengan gamblang hakikat surga sebagai balasan bagi orang beriman dan neraka bagi orang yang ingkar.

Melalui pendekatan edukatif yang mengombinasikan kajian literatur klasik dan analisis struktur kalimat, KH. Imbuh Jumali berhasil membawa suasana pengajian menjadi lebih hidup dan reflektif. Beliau tidak hanya sekadar membacakan teks, tetapi juga mengajak jamaah untuk "berpikir" bersama dalam memahami maksud asli dari pengarang kitab. Hal ini merupakan upaya nyata dalam menjaga kualitas keilmuan di lingkungan Rifa’iyah agar tidak tergerus oleh pemahaman yang dangkal atau bias interpretasi.

FUKKAR sendiri memandang kegiatan ini sebagai investasi jangka panjang bagi generasi muda Rifa’iyah. Di tengah arus informasi yang serba cepat namun sering kali minim validitas, pengajian selapanan ini hadir sebagai filter sekaligus pusat transmisi keilmuan yang otentik. Dengan rutin melakukan bedah kitab secara mendalam, diharapkan jamaah tidak hanya sekadar mengenal isi kitab, tetapi juga memiliki kemampuan literasi agama yang mumpuni untuk membaca karya-karya ulama salaf secara mandiri dengan metode yang benar.

Harapan ke depan, kegiatan rutin ini dapat terus berkembang, baik dari segi kuantitas jamaah maupun kedalaman materi yang dibahas. FUKKAR berkomitmen untuk terus menghadirkan narasumber yang memiliki kedalaman ilmu dan sanad yang jelas, sehingga kemurnian ajaran KH. Ahmad Rifa’i tetap terjaga. Bagi masyarakat Rifa’iyah, Ri’ayah Al-Himmah bukan sekadar kitab yang dibaca untuk mencari berkah, melainkan panduan hidup yang harus dipahami strukturnya, dihayati maknanya, dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Upaya kolektif ini diharapkan mampu membentengi umat dari berbagai paham yang menyimpang dan memperkokoh fondasi iman di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks. Pengajian di Paesan Utara ini menjadi bukti nyata bahwa tradisi keilmuan yang dirawat dengan penuh ketelitian akan melahirkan kesadaran beragama yang lebih cerdas dan beradab.

Related stories

More from Rifaiyah

View all →

Most viewed across the site