"Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung." (QS. Al-Qalam [68]: 4).
Berapa banyak dari kita yang pernah memejamkan mata, mencoba membayangkan wajah yang cahayanya disebut menyerupai purnama? Wajah yang senyumnya mampu menenteramkan hati paling gundah, langkahnya membawa keteduhan ke tempat-tempat paling gersang, dan tatapannya menyimpan samudera kasih sayang yang tak pernah surut. Pertanyaan ini terus hidup, menggema melintasi empat belas abad sejarah: seperti apa sesungguhnya rupa Rasulullah SAW? Bagaimana beliau berdiri, berjalan, duduk, tersenyum, hingga cara beliau berdiam diri?
Umat Islam dianugerahi keberuntungan yang jarang dimiliki umat lain. Jika tokoh-tokoh besar dunia seringkali terkubur dalam kabut legenda atau sekadar lukisan khayalan tanpa dasar, sosok Nabi Muhammad SAW justru diabadikan dengan ketelitian yang menakjubkan. Orang-orang yang hidup di sisinya—istri, sahabat, hingga cucu tercinta—merekam setiap lekuk wajah, intonasi suara, hingga kebiasaan terkecil beliau. Mereka menjaga cahaya itu agar tidak pudar, memastikan bahwa generasi mendatang memiliki kompas spiritual yang nyata.
Ada riwayat tentang seorang sahabat yang begitu terpukau oleh pesona Nabi hingga bertanya dengan polos, "Siapa yang lebih tampan, engkau atau Nabi Yusuf?" Nabi tersenyum lembut dan menjawab, "Yusuf memang lebih tampan, tetapi aku lebih manis." Jawaban ini bukan sekadar kerendahan hati, melainkan pengakuan akan kedekatan spiritual yang melampaui keindahan fisik semata. Ada pula sahabat yang gemetar saat pertama kali berhadapan dengan wibawa beliau. Dengan penuh kasih, Rasulullah menenangkan, "Tenanglah, aku ini hanya manusia biasa, yang juga suka makan daging."
Kisah-kisah ini bukan sekadar anekdot, melainkan bukti otentik kemanusiaan beliau. Sahabat yang menggenggam tangan Nabi merasakan kesejukan yang melebihi salju dan keharuman yang melampaui kesturi. Ulama besar seperti Al-Husain bin Mas’ud Al-Baghawi dalam kitab Al-Anwār fī Syamā’il an-Nabiyy al-Mukhtār telah menghimpun fragmen-fragmen cahaya ini. Namun, deskripsi paling utuh justru lahir dari keluarga terdekat, melalui kesaksian yang diturunkan kepada cucu beliau, Al-Hasan bin Ali.
Al-Hasan, yang tumbuh dengan kerinduan mendalam akan sosok kakeknya, mendatangi pamannya, Hind bin Abi Halah. Hind adalah putra Sayyidah Khadijah dari pernikahan sebelumnya, seorang yang dikenal memiliki kemampuan luar biasa dalam melukiskan sesuatu dengan kata-kata. Al-Hasan memohon agar Hind menceritakan sifat-sifat Nabi agar ia memiliki pegangan yang erat tentang sosok yang sangat ia cintai itu. Hind kemudian bertutur, "Rasulullah SAW adalah pribadi yang agung lagi penuh wibawa; wajahnya bersinar bagaikan cahaya bulan purnama."
Deskripsi Hind sangat detail. Tubuh Nabi sedang—tidak menjulang tinggi, namun tidak pula pendek. Kepalanya besar, rambutnya sedikit berombak, tidak pernah melewati daun telinga jika terurai. Keningnya lapang, alisnya panjang dan lentik tanpa bertaut, dengan pembuluh halus di antaranya yang hanya tampak jelas saat beliau sedang serius atau marah. Hidungnya mancung dengan cahaya yang seolah menyelimutinya. Matanya hitam pekat namun teduh, pipinya halus, dan mulutnya lebar dengan gigi yang renggang dan bersih. Leher beliau digambarkan seindah leher patung perak, bersih dan berkilau.

Gerak-gerik beliau pun penuh makna. Saat berjalan, Nabi melangkah dengan mantap, condong ke depan seolah menuruni bukit, ringan namun penuh tujuan. Beliau tidak pernah berjalan dengan terburu-buru atau gontai. Saat berbicara dengan seseorang, Nabi akan menghadapkan seluruh tubuhnya, menunjukkan perhatian penuh. Beliau adalah orang pertama yang selalu memulai salam, bahkan kepada orang asing yang berpapasan di jalan.
Dalam hal berkomunikasi, Rasulullah adalah teladan kefasihan. Beliau jarang berbicara kecuali jika memang diperlukan. Kata-katanya singkat, padat, tanpa satu pun ucapan yang sia-sia, namun mampu menyentuh relung hati pendengarnya. Beliau tidak pernah kasar, tidak pula menyakiti. Bahkan saat marah—kemarahan beliau adalah kemarahan yang murni, muncul hanya ketika hak orang lain dirampas—beliau tidak pernah kehilangan kendali diri atau mengucapkan kata-kata yang merendahkan.
Majelis Rasulullah adalah cerminan dari kesabaran dan kejujuran. Tidak ada suara yang ditinggikan, tidak ada tuduhan yang dilemparkan sembarangan. Setiap orang yang duduk di hadapan beliau merasa menjadi orang yang paling istimewa karena perhatian yang adil. Beliau rendah hati kepada yang lemah, hormat kepada yang tua, penyayang kepada yang muda, dan dermawan kepada yang papa.
Diamnya pun adalah diam yang penuh makna. Imam Ali menjelaskan bahwa diamnya Rasulullah lahir dari empat perkara: kesabaran, kehati-hatian, pertimbangan yang matang, dan perenungan yang dalam. Beliau menggunakan waktu diamnya untuk memilah mana yang bermanfaat bagi umat dan mana yang patut ditinggalkan. Waktu beliau di rumah pun tertata rapi, terbagi menjadi tiga bagian: untuk beribadah kepada Allah, untuk keluarganya, dan untuk dirinya sendiri yang kemudian beliau buka bagi para sahabat. Tidak ada satu pun detik yang terbuang untuk kepentingan ego pribadi.
Dalam pergaulan, Nabi adalah sosok yang ceria namun tetap menjaga kehormatan. Beliau tidak suka mencari-cari kesalahan orang lain, juga tidak suka memuji secara berlebihan. Jika melihat perilaku yang tidak berkenan, beliau hanya mengabaikannya dengan halus, sehingga orang tersebut tidak merasa dipermalukan. Beliau menjaga lisan dari pertengkaran dan pembicaraan yang tidak berguna. Saat beliau berbicara, para sahabat menunduk penuh khidmat, seolah ada burung yang bertengger di atas kepala mereka.
Potret yang dilukiskan oleh Hind bin Abi Halah ini adalah cermin bagi kita hari ini. Tugas kita bukan sekadar menghafal deskripsi fisik beliau, melainkan menghidupkan karakter tersebut dalam keseharian. "Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat, serta banyak mengingat Allah." (QS. Al-Ahzab [33]: 21).
Meneladani Rasulullah berarti meniru cara beliau membagi waktu, cara beliau menahan lisan di tengah derasnya arus informasi yang penuh kebencian, serta cara beliau menyapa sesama dengan ketulusan. Di dunia yang semakin individualistis ini, sifat-sifat beliau adalah oase. Kita dipanggil untuk menjadi rahmat, sebagaimana beliau diutus: "Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam." (QS. Al-Anbiya [21]: 107).
Selama umat ini masih mau mendengar, merenung, dan mempraktikkan sunnah-sunnah beliau, maka cahaya wajah yang diceritakan Hind bin Abi Halah empat belas abad silam tidak akan pernah benar-benar padam. Cahaya itu tetap berpijar, menuntun langkah kita melewati kegelapan zaman menuju keridaan Ilahi. Nabi Muhammad SAW bukanlah masa lalu yang terkubur, melainkan masa depan yang terus hidup dalam setiap hati yang mencintainya. Dengan meneladani akhlaknya, kita sebenarnya sedang membangun jembatan untuk bertemu dengannya di telaga kautsar kelak. Semoga kerinduan kita akan sosok beliau berbuah pada ketaatan yang nyata, mengubah cara pandang kita terhadap dunia, dan memperhalus budi pekerti kita hingga menyerupai percikan akhlak sang Nabi. Itulah esensi dari mencintai, yakni berjalan di jejak yang sama, membawa damai, dan menebar kasih sayang bagi semesta.
0 Comments