0

Tiga Ilmu Sejati: Jalan Pulang ke Diri

Share

Di balik megahnya gedung Pimpinan Pusat (PP) Rifaiyah yang berdiri kokoh di Jalan Dr. Sutomo No. 40, Watasalit, Batang, kini terpatri sebuah identitas baru yang sarat akan makna spiritual: Masjid Al-Jailani. Pengesahan nama ini bukan sekadar formalitas administratif, melainkan sebuah penghormatan mendalam terhadap sejarah wakaf tanah yang menjadi fondasi bangunan tersebut. Nama "Al-Jailani" yang disematkan, selain merujuk pada sosok agung Syekh Abdul Qadir al-Jailani, juga mengandung filosofi "Jail" atau generasi, sebagaimana pesan H. Kadirin selaku motor pembangunan bahwa gedung ini dipersiapkan sebagai kawah candradimuka bagi generasi penerus. Dalam pengajian khidmat yang digelar pada 3 Juni 2026, masjid ini resmi dideklarasikan bukan hanya sebagai ruang fisik untuk bersujud, melainkan sebagai wadah pencarian hakikat diri dan tempat menyalakan kembali api ilmu yang selama ini menjadi ruh pergerakan Rifaiyah.

Ibadah tanpa ilmu diibaratkan seperti sebuah bangunan megah yang didirikan tanpa pondasi; ia akan runtuh saat badai keraguan menerpa. Prinsip inilah yang menjadi napas utama dalam setiap pengajian di Masjid Al-Jailani, merujuk pada kitab Thariqat karya Kiai Haji Ahmad Rifai ibni Muhammad. Sang kiai, yang dikenal dengan ketajaman pemikiran dan kedalaman tasawufnya, menegaskan bahwa bagi setiap mukallaf, terdapat tiga ilmu utama yang wajib dikuasai. Ketiganya bukanlah pilihan, melainkan syarat mutlak agar langkah seorang hamba dalam beragama tidak melenceng dari rel yang telah ditetapkan oleh syariat. Tanpa ilmu, amal ibadah seseorang hanyalah sebuah kesia-siaan, bahkan berpotensi menjerumuskan pelakunya ke dalam kehancuran spiritual.

KH. Imbuh Jumali dalam ceramahnya memberikan analogi yang sangat membumi. Ia mengumpamakan ilmu dengan keterampilan memasak. Seseorang bisa saja memiliki ratusan piring mewah, sendok perak, dan peralatan dapur terlengkap di dunia, namun jika ia tidak mengetahui cara mengolah bahan makanan menjadi hidangan yang layak, maka semua peralatan itu hanyalah pajangan yang tak memberi manfaat. Begitu pula dengan ibadah; sekadar menjalankan ritual tanpa memahami syarat, rukun, dan hakikatnya akan membuat ibadah tersebut kehilangan ruhnya. Ilmu adalah pemimpin bagi amal, dan amal yang benar harus senantiasa mengekor di belakang bimbingan ilmu yang shahih.

Tiga Ilmu Sejati: Jalan Pulang ke Diri

Bahaya dari ibadah tanpa ilmu sangat nyata dan mengancam. Dalam kajian tersebut, dipaparkan tiga penyebab mengapa ibadah bisa berubah menjadi sesuatu yang haram atau tidak bernilai. Pertama, ketika seorang hamba lalai mempelajari ilmu yang mensahkannya, sehingga ibadah yang dilakukan batal secara hukum tanpa disadari. Kedua, ibadah menjadi ternodai jika dilakukan di lingkungan atau majelis yang penuh dengan kemungkaran, yang secara tidak langsung merusak kesucian niat. Ketiga, dan yang paling halus namun mematikan, adalah ketika seseorang terjebak dalam fanatisme buta yang mengharamkan apa yang sebenarnya dihalalkan oleh Allah, hanya karena salah dalam mengikuti petunjuk ilmu yang tidak jelas sumbernya. Banyak orang yang rajin beribadah namun tetap sesat, karena mereka tidak pernah mau duduk bersimpuh untuk menuntut ilmu yang benar.

Tarekat Rifaiyah, yang sering disalahpahami oleh orang awam sebagai sebuah organisasi dengan ritual-ritual rahasia yang eksklusif, justru menawarkan jalan yang sangat sederhana namun berat untuk diistiqamahkan. Penceramah menegaskan bahwa puncak dari tarekat Rifaiyah bukanlah pada wirid-wirid yang aneh, melainkan pada keteguhan dalam menjalankan ibadah wajib: salat lima waktu, puasa Ramadan, zakat, hingga menunaikan haji bagi yang mampu. Inilah "jalan pulang" yang sesungguhnya. Syekh Ahmad Rifai menekankan bahwa di tengah keriuhan dunia tarekat yang sering mengejar karamah atau ijazah rahasia, kembali pada ketaatan syariat yang murni adalah bentuk suluk yang paling tinggi. Tarekat, secara harfiah, berarti "jalan". Menempuh jalan ini membutuhkan kesungguhan luar biasa dalam mencari ilmu, hingga setiap detak jantung dan detik waktu yang terbuang benar-benar dihitung sebagai bagian dari pengabdian kepada Sang Khalik.

Namun, di atas ilmu dan amal, terdapat satu kunci yang sering tersembunyi namun menentukan segalanya: Ikhlas. Ikhlas adalah udara yang memberi kehidupan bagi bangunan ibadah. Tanpa ikhlas, ibadah yang paling megah pun akan terasa seperti penjara yang menyesakkan dada. Penceramah mengutip kitab fikih yang memperingatkan tentang bahaya riya yang tersembunyi—penyakit hati yang paling sulit dideteksi karena ia sering menyamar dalam bentuk semangat beragama yang tampak luar biasa. Seseorang mungkin bisa tampak khusyuk, berpakaian islami, dan selalu hadir di barisan depan dalam setiap majelis, namun jika ada seutas benang tipis dalam hatinya yang mengharap pandangan atau pujian manusia, maka seluruh amal tersebut akan sirna tak berbekas. Ikhlas adalah kejujuran di hadapan Allah, sebuah pertanyaan yang hanya bisa dijawab oleh hati yang bersih di tengah sunyinya Masjid Al-Jailani.

Nama "Al-Jailani" yang kini tersemat pada gedung tersebut bukan sekadar label, melainkan sebuah janji yang diikat antara komunitas Rifaiyah dengan tradisi leluhur mereka. Ada tanggung jawab besar yang dipikul oleh generasi saat ini untuk menjaga agar ruh perjuangan Syekh Ahmad Rifai tidak padam. Dana wakaf yang mengalir untuk pembangunan gedung ini merupakan investasi abadi bagi para wakif, selama ilmu-ilmu yang bermanfaat terus diajarkan dan ibadah terus ditegakkan di dalamnya. Wakaf bukan sekadar harta yang disumbangkan; ia adalah "warisan waktu" yang akan terus mengalirkan pahala selama kitab-kitab karya Syekh Ahmad Rifai, seperti Abyan al-Hawajit dan Jami’ul Masa’il, terus dibaca dan dipelajari dengan penuh ketakziman.

Tiga Ilmu Sejati: Jalan Pulang ke Diri

Setiap Jumat pagi, saat halaman-halaman kitab tersebut dibuka dan dibacakan dalam bahasa Jawa kuno yang sarat dengan kearifan Arab, Masjid Al-Jailani bertransformasi menjadi ruang pertemuan antar generasi. Di sana, bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan masa depan. Para jemaah yang hadir diingatkan bahwa mencari ilmu adalah perjalanan panjang yang tidak mengenal kata berhenti. Jalan pulang ke diri yang sejati adalah dengan terus memperbaiki niat, memperdalam ilmu, dan menyempurnakan amal dengan landasan keikhlasan yang tulus.

Pada akhirnya, pengesahan Masjid Al-Jailani menjadi simbol kebangkitan intelektual dan spiritual bagi warga Rifaiyah. Ia menjadi pengingat bahwa di era modern yang penuh dengan distraksi, kembali kepada dasar-dasar agama yang diajarkan oleh para ulama salaf adalah satu-satunya cara untuk tidak tersesat. Setiap sujud yang dilakukan di masjid tersebut adalah pernyataan komitmen untuk terus belajar, terus berbenah, dan terus mencari keridaan Allah di atas segalanya. Sebagaimana doa yang selalu dipanjatkan, Rabbana taqabbal minna, semoga setiap langkah, setiap huruf ilmu yang dipelajari, dan setiap tetes keringat dalam membangun peradaban ini diterima oleh Allah SWT. Masjid Al-Jailani telah berdiri, dan perjalanan menuju kematangan diri baru saja dimulai, menanti siapa saja yang berani jujur pada hatinya sendiri untuk menapaki jalan kebenaran dengan ilmu yang nyata.