BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Komedian Bedu, yang telah enam bulan menyandang status duda, menegaskan bahwa saat ini ia lebih menikmati kebersamaan dalam bingkai pertemanan. Ia secara tegas menyatakan bahwa kedekatannya dengan perempuan saat ini bukan didorong oleh perasaan suka atau keinginan untuk menjalin hubungan romantis, melainkan semata-mata untuk menjalin pertemanan. Pernyataan ini diungkapkannya saat menjadi bintang tamu dalam acara "Brownis" pada Sabtu, 30 Mei 2026.
Komedian yang memiliki nama lengkap Harabdu Tohar ini menjelaskan bahwa keputusannya untuk tidak terburu-buru mencari pendamping hidup bukanlah karena trauma pasca perceraian, melainkan lebih kepada kesadaran diri yang mendalam. Ia mengakui bahwa dalam kondisi situasi yang ada, ia merasa sulit untuk menemukan seorang wanita yang benar-benar setia dan tulus ingin mendampinginya. Kesadaran ini datang dari pengalaman dan pandangannya terhadap realitas.
Lebih lanjut, Bedu melontarkan sebuah seloroh yang cukup menggelitik mengenai permintaan anak-anaknya terkait figur seorang ibu sambung. Menurut pengakuannya, anak-anaknya telah menetapkan sebuah syarat yang cukup unik: calon ibu sambung harus lebih cantik dari mendiang ibu mereka. "Jadi anak-anak gue itu minta kalau gue itu harus cari pengganti ibunya harus lebih cantik dari ibunya. Kalau nggak lebih cantik anak-anak gue nggak mau," ungkap Bedu dengan nada bercanda namun tersirat adanya keraguan. Ia kemudian melanjutkan dengan pertanyaan retoris yang mencerminkan dilema yang dihadapinya, "Masalahnya ada nggak yang lebih cantik dari mantan gue, mau sama gue?" Pertanyaan ini bukan hanya menggambarkan tantangan dalam menemukan pasangan yang sesuai dengan kriteria anak-anaknya, tetapi juga menunjukkan keraguan Bedu akan daya tariknya sendiri di mata wanita lain.
Bedu juga menekankan bahwa selama ini ia tidak pernah menjalin kedekatan dengan perempuan lain selain mendiang istrinya. Fakta ini yang kemudian membuatnya merasa kesulitan untuk memulai proses pendekatan atau pdkt (pendekatan). Ia merasa sudah "lupa cara dekati cewek" setelah kurang lebih 15 tahun hanya berinteraksi secara romantis dengan satu wanita. Pengalaman masa lalu dalam melakukan pendekatan, yang menurutnya membutuhkan banyak effort atau usaha, baik dalam bentuk tenaga, pemikiran, maupun memberikan sesuatu yang berharga, kini membuatnya merasa enggan dan tidak berani untuk mengulanginya. "Gue sudah lupa cara dekati cewek. Selama 15 tahun nggak pernah dekat sama siapa-siapa selain istri gue. Biasanya pdkt itu gue pakai effort entah tenaga, pemikiran, memberikan sesuatu buat dia. Makanya gue udah nggak berani lagi," aku Bedu.
Pernyataan Bedu ini mencerminkan kompleksitas perasaannya pasca perceraian. Di satu sisi, ia terbuka untuk menjalin pertemanan, menunjukkan bahwa ia tidak menutup diri dari interaksi sosial. Namun, di sisi lain, ia memiliki kesadaran diri yang kuat mengenai tantangan yang dihadapinya dalam mencari pasangan hidup. Kesadaran ini bukan hanya tentang kondisi emosionalnya sendiri, tetapi juga tentang bagaimana ia memandang dirinya sendiri dan kemungkinan penerimaan dari wanita lain, terutama dengan adanya tuntutan dari anak-anaknya.
Konteks "situasi" yang disebutkan Bedu bisa diinterpretasikan dalam beberapa lapis. Pertama, situasi pasca perceraian yang masih tergolong baru, di mana ia masih dalam proses adaptasi dan penyembuhan emosional. Kedua, situasi sosial yang mungkin membuatnya merasa kurang percaya diri atau khawatir akan stigma negatif yang mungkin melekat pada dirinya sebagai seorang duda yang memiliki anak. Ketiga, situasi ekonomi atau profesi yang mungkin juga menjadi pertimbangan dalam memilih pasangan. Semua faktor ini berkontribusi pada pandangan "sadar diri" yang ia miliki.
Permintaan anak-anaknya yang unik juga menjadi elemen penting dalam memperkaya narasi ini. Hal ini tidak hanya menambah unsur humor, tetapi juga menyoroti peran krusial anak-anak dalam keputusan hidup Bedu, terutama dalam hal percintaan. Kriteria yang mereka tetapkan menunjukkan bahwa mereka peduli terhadap kebahagiaan ayah mereka, namun juga memiliki standar tersendiri yang mungkin sulit dipenuhi oleh Bedu. Ini menciptakan dilema tersendiri bagi Bedu, di mana ia harus menyeimbangkan keinginan anak-anaknya dengan realitas yang ada.
Pengakuan Bedu tentang "lupa cara dekati cewek" setelah 15 tahun hidup bersama satu pasangan juga sangat relevan. Ini menunjukkan betapa dalam hubungan pernikahannya, sehingga membuatnya kehilangan "skill" dalam memulai hubungan baru. Proses pdkt yang membutuhkan "effort" besar di masa lalu kini menjadi penghalang baginya untuk mencoba kembali. Hal ini menggambarkan betapa ia terbiasa dengan hubungan yang stabil dan terstruktur, sehingga fase awal pendekatan terasa asing dan menakutkan.
Secara keseluruhan, berita ini menggambarkan Bedu sebagai sosok yang realistis dan introspektif. Ia tidak memaksakan diri untuk segera menemukan pasangan, melainkan memilih untuk menjalani hidupnya dengan tenang, menikmati pertemanan, dan merenungkan langkah selanjutnya dengan penuh kesadaran. Pengakuannya yang jujur dan penuh humor memberikan gambaran yang otentik tentang perasaannya, tantangan yang dihadapi, dan pandangannya terhadap dunia percintaan pasca perceraian. Ketidakberaniannya untuk melakukan pdkt bukanlah tanda kelemahan, melainkan refleksi dari kedalaman pengalamannya dan kesadaran akan kompleksitas hubungan antarmanusia. Ia tampaknya sedang dalam fase peninjauan kembali atas dirinya sendiri dan apa yang ia inginkan dari sebuah hubungan, sambil tetap mempertimbangkan kebahagiaan anak-anaknya sebagai prioritas utama.

