0

Simposium Pemikiran KH Ahmad Rifa’i Soroti Relevansi Warisan Intelektual bagi Islam Kontemporer di Nusantara

Share

Pemikiran KH Ahmad Rifa’i kini tidak lagi sekadar dipandang sebagai artefak sejarah masa lalu, melainkan sebagai kompas pemikiran yang menawarkan perspektif kritis dan solutif dalam menghadapi kompleksitas tantangan umat Islam di era modern. Gagasan fundamental ini menjadi benang merah dalam Simposium Pemikiran KH Ahmad Rifa’i dan Pameran Manuskrip Kitab Tarajumah yang diselenggarakan secara khidmat di Gedung Pascasarjana UIN Raden Mas Said Surakarta pada Senin (13/7). Acara ini mempertemukan para akademisi, peneliti manuskrip, serta tokoh-tokoh organisasi Rifa’iyah untuk membedah kedalaman intelektual sang ulama dari berbagai dimensi, mulai dari sejarah manuskrip, strategi dakwah, sistem pendidikan, hingga doktrin keagamaan yang termaktub dalam karya monumentalnya, Kitab Tarajumah.

Simposium Pemikiran KH Ahmad Rifa’i Soroti Relevansi Warisan Intelektual bagi Islam Kontemporer di Nusantara

Rektor UIN Raden Mas Said Surakarta, Prof. Dr. H. Toto Suharto, S.Ag., M.Ag., dalam sambutan pembukaannya, menegaskan bahwa dukungan perguruan tinggi terhadap kegiatan ini merupakan wujud nyata tanggung jawab akademik dalam melestarikan warisan khazanah Islam Nusantara. Menurutnya, pemikiran ulama lokal seperti KH Ahmad Rifa’i merupakan modal intelektual yang sangat berharga untuk memperkuat tradisi keilmuan bangsa sekaligus membentengi umat dari arus pemikiran yang tercerabut dari akar budayanya sendiri.

Salah satu sesi yang paling menyita perhatian adalah penyampaian keynote lecture oleh Direktur Pascasarjana UIN Raden Mas Said Surakarta, Prof. Dr. Islah Gusmian, S.Ag., M.Ag., yang mengangkat tema provokatif: "Manuskrip yang Hidup: Pembangkangan Epistemik di Nusantara." Dalam paparannya, Prof. Islah menjelaskan bahwa kolonialisme Belanda tidak hanya hadir dalam bentuk fisik atau penguasaan teritorial semata, melainkan juga melalui "penjajahan pikiran" atau hegemoni epistemik. Penjajahan yang paling berbahaya, menurutnya, adalah ketika sistem pengetahuan, otoritas keilmuan, dan cara pandang masyarakat terhadap agamanya sendiri didikte oleh logika kolonial.

Simposium Pemikiran KH Ahmad Rifa’i Soroti Relevansi Warisan Intelektual bagi Islam Kontemporer di Nusantara

Dalam konteks inilah, sosok KH Ahmad Rifa’i muncul sebagai antitesis. Sepulang dari pengembaraan intelektualnya di Makkah selama dua dekade, beliau tidak hanya berdakwah secara lisan, tetapi bertindak sebagai produsen pengetahuan yang revolusioner. Beliau melakukan vernakularisasi ilmu dengan menerjemahkan khazanah kitab klasik Timur Tengah ke dalam bahasa Jawa beraksara Arab Pegon. Strategi ini bukan sekadar upaya teknis, melainkan sebuah gerakan politik keilmuan yang memutus ketergantungan masyarakat pada otoritas pengetahuan yang dikendalikan penjajah. Dengan bahasa yang dipahami rakyat jelata, KH Ahmad Rifa’i berhasil membangun literasi mandiri yang menjadi infrastruktur gerakan sosial yang masif dan tersebar di berbagai daerah.

Manuskrip-manuskrip karya beliau, lanjut Prof. Islah, menjadi bukti bahwa tradisi literasi adalah alat perlawanan yang sangat efektif. Meskipun pemerintah kolonial berusaha membungkam pengaruhnya melalui pengasingan yang panjang—mulai dari Ambon hingga ke Minahasa pada tahun 1859—gagasan-gagasan beliau tetap hidup. Hal ini terjadi karena adanya jejaring santri yang secara estafet menyalin manuskrip tersebut, menciptakan sistem pendidikan mandiri yang tidak bergantung pada pusat kekuasaan manapun.

Simposium Pemikiran KH Ahmad Rifa’i Soroti Relevansi Warisan Intelektual bagi Islam Kontemporer di Nusantara

Senada dengan hal tersebut, Ketua Umum Pimpinan Pusat Rifa’iyah, Dr. KH. Mukhlisin Muzarie, M.A., menyoroti ketangguhan dakwah KH Ahmad Rifa’i yang berakar pada pemurnian akidah dan keberanian melakukan kritik sosial. KH Mukhlisin menjelaskan bahwa KH Ahmad Rifa’i adalah sosok yang tidak kompromistis terhadap ketidakadilan. Dakwah beliau yang menitikberatkan pada amar makruf nahi munkar secara lugas menyasar praktik kolonialisme dan para aparat pribumi yang menjadi kaki tangan penjajah.

Lebih jauh, KH Mukhlisin menguraikan konsep pendidikan Rifa’iyah yang sangat relevan untuk diimplementasikan kembali saat ini. Beliau menekankan pentingnya integrasi tiga pilar ilmu: ushuluddin sebagai fondasi akidah yang kokoh, fikih sebagai pedoman ibadah yang praktis, serta tasawuf sebagai instrumen penyucian jiwa dan pembinaan akhlak. Ketiganya merupakan satu kesatuan utuh yang menjadi ciri khas pendidikan Rifa’iyah. Saat ini, tantangan terbesar adalah bagaimana menerjemahkan pemikiran-pemikiran dalam Kitab Tarajumah tersebut ke dalam bahasa Indonesia modern agar dapat diakses lebih luas oleh generasi milenial dan Gen Z, sehingga nilai-nilai perjuangan beliau tidak lekang oleh zaman.

Simposium Pemikiran KH Ahmad Rifa’i Soroti Relevansi Warisan Intelektual bagi Islam Kontemporer di Nusantara

Dalam sesi pendalaman materi, KH Muhammad Abidun, Lc., membedah konsep "Ilmu Telung Perkoro" yang menjadi jantung ajaran KH Ahmad Rifa’i. Beliau menjelaskan bahwa konsep ini adalah manifestasi dari kesempurnaan iman, Islam, dan ihsan. Dalam perspektif KH Ahmad Rifa’i, keimanan bukan hanya urusan batiniah, melainkan harus melahirkan keberanian nyata untuk menolak kezaliman. Beliau secara tegas mengecam praktik keagamaan yang cenderung melegitimasi kekuasaan zalim, sebuah pesan yang sangat relevan dengan tuntutan integritas moral bagi umat Islam hari ini.

Di ranah fikih, KH Ahmad Rifa’i menunjukkan kebijaksanaan dengan mengedepankan prinsip kemudahan bagi masyarakat awam (rukhsah), tanpa harus keluar dari koridor syariat. Sementara dalam tasawuf, beliau menekankan bahwa tasawuf sejati bukanlah pelarian dari dunia atau pengabaian terhadap syariat. Sebaliknya, tasawuf adalah upaya aktif untuk menghindari delapan sifat tercela seperti riya, ujub, takabur, dan hubbud dunia (cinta dunia berlebihan). KH Muhammad Abidun menutup paparannya dengan pesan kunci bahwa karamah bagi seorang pengikut ajaran KH Ahmad Rifa’i bukanlah kemampuan klenik atau kesaktian yang irasional, melainkan konsistensi (istiqamah) dalam menjaga keimanan dan mengikuti jejak perjuangan Rasulullah SAW.

Simposium Pemikiran KH Ahmad Rifa’i Soroti Relevansi Warisan Intelektual bagi Islam Kontemporer di Nusantara

Sebagai representasi generasi penerus, Ketua Umum Pimpinan Pusat Angkatan Muda Rifa’iyah (AMRI), Abdul Kholiq, M.Pd., A.H., menegaskan bahwa tantangan era digital menuntut kreativitas baru dalam berdakwah. Generasi muda tidak boleh hanya menjadi konsumen informasi, tetapi harus menjadi produsen literasi seperti yang dicontohkan oleh KH Ahmad Rifa’i. Penguatan literasi digital, pendidikan yang adaptif, dan gerakan sosial yang relevan dengan kebutuhan masyarakat modern adalah jalan untuk menjaga agar api perjuangan Rifa’iyah tetap menyala. Beliau menekankan bahwa menjadi modern tidak harus berarti kehilangan jati diri sebagai pengikut tradisi keilmuan Islam Nusantara yang kaya akan nilai-nilai lokal.

Puncak dari simposium ini adalah pameran manuskrip Kitab Tarajumah yang memukau para peserta. Naskah-naskah kuno yang dipamerkan bukan sekadar barang antik, melainkan bukti nyata dari ketahanan intelektual sebuah komunitas. Melihat deretan manuskrip beraksara Pegon tersebut, peserta diajak untuk merefleksikan kembali bahwa kekuatan sebuah bangsa terletak pada kemampuannya menjaga tradisi literasi dan kemandirian berpikir.

Simposium Pemikiran KH Ahmad Rifa’i Soroti Relevansi Warisan Intelektual bagi Islam Kontemporer di Nusantara

Simposium ini berhasil memberikan pesan tegas bahwa KH Ahmad Rifa’i bukan hanya milik warga Rifa’iyah, melainkan milik khazanah Islam Nusantara secara luas. Warisan intelektual beliau—berupa ketajaman akidah, kemudahan fikih, kebersihan tasawuf, dan keberanian melawan kezaliman—adalah fondasi yang sangat kokoh untuk memperkuat identitas umat Islam di tengah arus globalisasi yang sering kali mengaburkan nilai-nilai lokal. Di tengah derasnya informasi yang sering kali dangkal, kembali kepada warisan intelektual yang mendalam seperti pemikiran KH Ahmad Rifa’i menjadi keniscayaan. Melalui simposium ini, diharapkan tradisi "membaca dan menyalin" yang menjadi napas perjuangan para santri di masa lalu dapat ditransformasikan ke dalam bentuk-bentuk baru, seperti digitalisasi manuskrip dan kajian-kajian kontemporer yang lebih dinamis.

Sebagai penutup, seluruh rangkaian acara ini menjadi pengingat bahwa kemandirian berpikir adalah kunci dari kemajuan umat. KH Ahmad Rifa’i telah memberikan cetak biru bagaimana seorang muslim seharusnya bersikap: cerdas secara intelektual, taat secara syariat, bersih secara hati, dan berani secara sosial. Relevansi pemikiran beliau hari ini bukan hanya terletak pada apa yang beliau tulis, tetapi pada semangat beliau dalam membebaskan umat dari belenggu kebodohan dan ketidakadilan. Semoga simposium ini menjadi langkah awal dari revitalisasi pemikiran KH Ahmad Rifa’i yang lebih luas, agar warisan berharga ini terus memberi manfaat bagi peradaban Islam di Nusantara dan dunia.