Amerika Serikat, Inggris, dan Australia telah mengumumkan inisiatif strategis yang signifikan di bawah aliansi militer AUKUS, yakni pengembangan teknologi drone bawah air (Unmanned Underwater Vehicles/UUV) untuk memperkuat pertahanan dan melindungi infrastruktur kabel bawah laut yang krusial. Pengumuman ini, yang disampaikan oleh para menteri pertahanan ketiga negara pada KTT keamanan di Singapura, menandai langkah konkret pertama dalam "Pilar Kedua" AUKUS yang berfokus pada kemampuan canggih, dan dipandang sebagai respons langsung terhadap meningkatnya ancaman dari negara-negara seperti Rusia dan, secara lebih luas, China di kawasan Indo-Pasifik.
Aliansi AUKUS, yang dibentuk pada tahun 2021, pada awalnya dikenal karena komitmennya untuk membantu Australia mengembangkan kapal selam bertenaga nuklir. Namun, pakta ini memiliki dua pilar utama: Pilar Pertama yang berfokus pada kapal selam nuklir, dan Pilar Kedua yang mencakup kerja sama dalam pengembangan kemampuan militer canggih seperti rudal hipersonik jarak jauh, robotika bawah air, kecerdasan buatan (AI), dan perang elektronik. Proyek UUV ini merupakan proyek unggulan pertama di bawah Pilar Kedua, menunjukkan evolusi dan pendalaman kerja sama teknologi di antara ketiga sekutu.
Teknologi UUV ini diperkirakan akan siap beroperasi paling lambat tahun depan, yakni pada tahun 2025. Meskipun total biaya proyek ini belum diungkapkan secara spesifik, Menteri Pertahanan Inggris, John Healey, mengonfirmasi bahwa negaranya akan berkontribusi sebesar USD 201 juta. Pernyataan ini muncul di tengah kritik mengenai lambatnya kemajuan proyek-proyek AUKUS sebelumnya. Healey secara terbuka mengakui kritik tersebut, menyatakan bahwa "sudah terlalu lama AUKUS terlalu banyak bicara namun kurang bertindak," sebuah pengakuan yang menekankan urgensi dan kebutuhan untuk menunjukkan hasil nyata dari aliansi tersebut.
Pengembangan UUV ini dirancang untuk memiliki beragam kemampuan operasional. Mereka akan mampu melindungi infrastruktur dasar laut yang vital, melakukan operasi pengawasan dan pengintaian (ISR), menyediakan dukungan logistik, dan bahkan melancarkan serangan presisi jika diperlukan. Untuk mencapai tujuan-tujuan ini, UUV akan dilengkapi dengan sensor canggih dan sistem persenjataan yang dikembangkan khusus. Fleksibilitas ini menjadikan UUV sebagai aset multifungsi yang dapat beradaptasi dengan berbagai skenario ancaman di bawah laut.
Fokus utama dari inisiatif ini adalah perlindungan kabel bawah laut, yang merupakan tulang punggung komunikasi dan ekonomi global. Kabel-kabel ini menopang hampir 95% lalu lintas internet global dan triliunan dolar transaksi finansial setiap hari. Kerusakan pada kabel-kabel ini, baik disengaja maupun tidak, dapat melumpuhkan ekonomi, mengganggu komunikasi, dan bahkan mengancam keamanan nasional. Jaringan yang luas dan sulit dipantau ini menjadikannya target yang rentan dalam konflik modern atau tindakan perang hibrida.
Ancaman terhadap infrastruktur bawah laut bukan hanya teoritis. Pengumuman AUKUS ini muncul sebulan setelah Menteri Pertahanan Inggris, John Healey, menuduh Rusia menjalankan operasi rahasia terhadap kabel dan pipa di perairan utara Inggris. Tuduhan ini, meskipun dibantah oleh Moskow, menyoroti kekhawatiran yang mendalam di kalangan negara-negara Barat mengenai niat dan kemampuan Rusia untuk mengganggu infrastruktur vital. Di bulan Desember tahun sebelumnya, Inggris dan Norwegia bahkan telah menandatangani pakta untuk memburu kapal selam Rusia di Atlantik Utara, sebuah langkah yang secara spesifik dirancang untuk melindungi kabel bawah laut yang menghubungkan benua. Inggris, sebagai negara kepulauan, sangat bergantung pada sekitar 60 kabel bawah laut, dan pejabat Inggris melaporkan adanya peningkatan 30% kapal Rusia yang terlihat di perairan Inggris selama beberapa tahun terakhir, menunjukkan eskalasi aktivitas bawah air oleh Moskow.
Motivasi Rusia dalam aktivitas bawah laut ini diyakini beragam, mulai dari pengumpulan intelijen dan pemetaan infrastruktur kritis hingga potensi persiapan untuk tindakan sabotase di masa konflik. Dalam konteks doktrin "perang hibrida," mengganggu komunikasi dan infrastruktur digital musuh tanpa harus melancarkan serangan militer terbuka adalah strategi yang sangat menarik. Ini menciptakan ketidakpastian, menimbulkan biaya ekonomi, dan dapat melemahkan kapasitas pertahanan suatu negara.
Selain Rusia, laporan mengenai kerusakan kabel bawah laut juga dikaitkan dengan aktivitas negara lain. Kapal-kapal China diduga telah merusak kabel bawah laut di perairan sekitar Taiwan dan di wilayah Swedia, mencerminkan pola yang mirip dengan Rusia dalam upaya untuk memproyeksikan kekuatan dan mengganggu stabilitas regional. Terdapat pula sejumlah laporan mengenai kerusakan kabel di Laut Baltik, yang semakin menggarisbawahi kerentanan infrastruktur ini di berbagai wilayah maritim yang strategis.
Dengan mengembangkan UUV, AUKUS bertujuan untuk menciptakan lapisan pertahanan baru yang lebih efektif dan efisien. Drone bawah air ini dapat beroperasi secara mandiri untuk jangka waktu yang lama, melakukan patroli di area yang luas, memantau aktivitas mencurigakan, dan bahkan mendeteksi upaya sabotase sebelum terjadi. Keunggulan UUV termasuk kemampuan untuk beroperasi di lingkungan yang berbahaya bagi manusia, biaya operasional yang lebih rendah dibandingkan kapal selam berawak, dan jejak akustik yang lebih kecil, menjadikannya sulit dideteksi oleh musuh.
Proyek UUV ini juga menunjukkan komitmen AUKUS untuk berinovasi dan menjaga keunggulan teknologi di medan perang masa depan. Pilar Kedua aliansi ini bukan hanya tentang berbagi teknologi yang ada, tetapi juga tentang bersama-sama mengembangkan kapabilitas yang belum ada. Ini adalah respons terhadap pergeseran dinamika kekuatan global, di mana kemajuan teknologi militer menjadi penentu utama dalam strategi pertahanan dan deterensi.
Meskipun menghadapi tantangan dalam hal koordinasi, pendanaan, dan kompleksitas teknologi, inisiatif UUV ini mencerminkan tekad kuat dari Amerika Serikat, Inggris, dan Australia untuk melindungi kepentingan strategis mereka di bawah laut. Ini adalah langkah krusial dalam menghadapi era baru ancaman bawah air, di mana infrastruktur digital menjadi medan pertempuran yang tak terlihat namun sangat vital. Keberhasilan proyek ini tidak hanya akan memperkuat pertahanan ketiga negara anggota AUKUS, tetapi juga akan memberikan pelajaran penting bagi negara-negara sekutu lainnya dalam menghadapi tantangan keamanan maritim yang terus berkembang. Melalui investasi pada teknologi mutakhir seperti UUV, AUKUS berharap dapat memastikan keamanan dan stabilitas di lautan dunia, khususnya di tengah lanskap geopolitik yang kian kompleks dan penuh tantangan.

