Thu 3 Sep 2026 International edition

Ulasan Gadgets dan Teknologi Terkini

Rifaiyah

Benarkah Ahli Kubur Melihat Orang yang Menziarahinya? Ini Penjelasannya

Fenomena ziarah kubur merupakan praktik ibadah yang sudah mendarah daging dalam tradisi masyarakat Muslim di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Selain sebagai sarana untuk mengingat kematian (dzikrul maut), ziarah kubur juga menyimpan dimensi spiritual yang mendalam terkait interaksi antara yang hidup dan yang telah wafat. Salah satu pertanyaan yang sering muncul di benak masyarakat adalah, apakah ahli kubur menyadari kehadiran orang yang menziarahinya? Apakah mereka bisa melihat dan mendengar orang-orang yang datang mendoakan mereka di pusara?

Secara teologis dan merujuk pada khazanah literatur klasik Islam, para ulama memberikan penjelasan yang menenangkan bagi mereka yang gemar melakukan ziarah. Berdasarkan pandangan otoritatif dari para ahli fikih dan ulama besar, terdapat dasar yang kuat bahwa orang yang telah meninggal dunia tidak sepenuhnya terputus hubungannya dengan dunia, khususnya dalam hal mengetahui siapa yang datang menziarahi mereka.

Pandangan Ulama Mengenai Kesadaran Ahli Kubur

Imam Al-Qurtubi, salah satu ulama tafsir terkemuka, memberikan penjelasan yang sangat komprehensif mengenai hal ini. Beliau mengutip keterangan dari sebagian ulama yang menyatakan bahwa arwah orang yang telah meninggal memiliki keterikatan dengan tempat pembaringan terakhir mereka di dunia. Disebutkan bahwa arwah orang-orang yang telah berpulang ke rahmatullah sering kali datang ke kubur mereka sendiri, terutama pada waktu-waktu yang diistimewakan, seperti hari Jumat.

Lebih lanjut, Imam Al-Qurtubi menjelaskan bahwa para ahli kubur mendapatkan izin dari Allah SWT untuk menampakkan diri atau setidaknya menyadari keberadaan keluarga yang menziarahinya, baik ketika keluarga tersebut berada di area pemakaman maupun saat mereka berada di rumah. Hal ini ditegaskan dalam kitab Fatawa Ar-Ramli karya Al-Imam Syihabuddin Abu al-Abbas Ahmad bin Hamzah al-Ramli pada Juz 4 halaman 235. Dalam kitab tersebut dijelaskan bahwa hubungan spiritual ini memungkinkan arwah merasakan kehadiran kerabat yang datang mendoakan.

Senada dengan hal tersebut, Al-Imam Ibnu Hajar Al-Haitami dalam karyanya Al-Fatawa al-Fiqhiyah al-Kubro (2/8) juga menegaskan bahwa para ahli kubur senantiasa melakukan ziarah ke kuburan mereka sendiri pada hari Jumat. Inilah salah satu alasan mengapa syariat Islam menganjurkan umat Muslim untuk memperbanyak ziarah kubur pada waktu-waktu tertentu, yakni pada malam Jumat, hari Jumat, dan pagi hari Sabtu. Waktu-waktu ini diyakini sebagai momen di mana koneksi spiritual antara alam dunia dan alam barzakh menjadi lebih kuat.

Hikmah dan Keutamaan Ziarah Kubur, Terutama Orang Tua

Ziarah kubur bukan sekadar aktivitas fisik datang ke pemakaman, melainkan bentuk nyata dari bakti seorang anak kepada orang tuanya, bahkan setelah orang tua tersebut wafat. Dalam sebuah riwayat yang disampaikan oleh Al-Hakim dari sahabat Nabi, Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW memberikan kabar gembira bagi mereka yang rajin menziarahi kubur kedua orang tuanya.

Benarkah Ahli Kubur Melihat Orang yang Menziarahinya? Ini Penjelasannya

Disebutkan bahwa barang siapa yang menziarahi kubur kedua orang tuanya—atau salah satunya—setiap hari Jumat, maka Allah SWT akan memberikan ampunan baginya. Lebih dari itu, orang tersebut dicatat sebagai anak yang berbakti (birrul walidain). Sering kali muncul kekhawatiran dari seseorang yang merasa belum cukup berbakti ketika orang tuanya masih hidup, atau bahkan pernah berbuat durhaka. Islam memberikan solusi melalui doa dan ziarah. Jika seseorang mendoakan orang tuanya setelah mereka wafat, Allah tetap mencatatnya sebagai golongan orang-orang yang berbakti.

Terdapat pula riwayat yang menyebutkan bahwa ziarah pada hari Jumat yang disertai dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an, seperti Surah Yasin, memberikan keberkahan yang luar biasa. Disebutkan bahwa setiap huruf dan ayat yang dibacakan akan menjadi sebab diampuninya dosa-dosa sang penziarah. Bahkan, dalam riwayat lain disebutkan bahwa pahala ziarah ke kubur orang tua pada hari Jumat setara dengan pahala ibadah haji. Meskipun secara fikih ini berkaitan dengan keutamaan amal, poin penting yang ingin disampaikan adalah besarnya kasih sayang Allah kepada hamba-Nya yang tetap menjalin silaturahmi dengan orang tuanya melalui ziarah.

Pendapat Imam as-Subki dan Ibnu Wasi’

Imam as-Subki, seorang ulama besar mazhab Syafi’i, memberikan fatwa yang sangat mendukung praktik ini. Beliau menyatakan bahwa ziarah yang dilakukan untuk menunaikan hak—seperti mengunjungi makam orang tua—sangat disunnahkan. Bahkan, melakukan perjalanan khusus atau safar untuk berziarah ke makam orang tua diperbolehkan karena hal tersebut merupakan bentuk penghormatan dan pemenuhan hak orang tua yang harus dijaga meskipun mereka telah tiada.

Selain itu, terdapat kisah dari Ibnu Wasi’ yang memiliki kebiasaan rutin menziarahi kubur setiap hari Jumat. Beliau pernah berkata, "Telah sampai kepadaku kabar bahwa orang-orang yang telah meninggal mengetahui orang-orang yang menziarahi mereka pada hari Jumat dan sehari setelahnya (Sabtu)." Keterangan ini memperkuat keyakinan bahwa orang yang diziarahi benar-benar merasakan kehadiran orang yang dicintainya.

Kesimpulan untuk Umat

Berdasarkan paparan dari kitab Hasyiah Al-Bujairimi ‘ala Al-Khatib (Tuhfatu Al-Habib), kita dapat menyimpulkan bahwa ziarah kubur bukan merupakan kegiatan yang sia-sia. Ada interaksi spiritual yang terjadi. Bagi ahli kubur, kedatangan keluarga atau kerabat memberikan kebahagiaan dan menjadi penyejuk bagi mereka di alam barzakh. Bagi yang menziarahi, kegiatan ini menjadi sarana untuk meraih pahala, mendapatkan ampunan, serta memperkuat ikatan kasih sayang.

Oleh karena itu, janganlah merasa ragu atau takut untuk sering menziarahi kubur orang tua, guru, atau orang-orang saleh. Pastikan saat melakukan ziarah, kita membawa serta adab-adab yang dianjurkan, seperti mengucapkan salam saat memasuki area pemakaman, membacakan doa-doa yang diajarkan Rasulullah SAW, serta membacakan ayat suci Al-Qur’an dengan niat menghadiahkan pahalanya kepada ahli kubur.

Keyakinan bahwa mereka "melihat" dan "mengetahui" kehadiran kita seharusnya menjadi pendorong bagi kita untuk lebih rutin melakukan ziarah. Jadikan ziarah sebagai momen muhasabah diri bahwa suatu saat nanti, kita pun akan berada di posisi mereka, menunggu kiriman doa dan kunjungan dari orang-orang yang kita tinggalkan di dunia. Dengan memahami penjelasan para ulama ini, semoga praktik ziarah kubur kita menjadi lebih bermakna dan memberikan manfaat yang nyata bagi kedua belah pihak, baik yang masih hidup maupun yang telah berpulang ke hadirat Allah SWT.

Related stories

More from Rifaiyah

View all →

Most viewed across the site