Di sebuah kampung kecil yang sunyi, di mana waktu seolah berjalan lebih lambat mengikuti ayunan langkah penduduknya, hiduplah seorang lelaki tua bernama Kasan. Di sudut ruang tamunya yang sederhana, terdapat sebuah rak kayu tua yang menjadi saksi bisu perjalanan hidupnya. Di atas rak itulah, tersimpan sebuah Al-Qur’an bersampul hijau tua. Warnanya telah memudar, kusam dimakan usia, dan pinggiran kertasnya mulai menguning, namun bagi Kasan, kitab itu adalah benda paling berharga di rumahnya.
Setiap pagi, saat matahari baru menyapa jendela, Kasan akan melewati rak itu dengan rasa hormat. Setiap malam, sebelum ia memejamkan mata untuk beristirahat, ia akan melirik ke arah sudut ruangan tersebut. Baginya, kehadiran fisik Al-Qur’an di dalam rumah memberikan rasa tenang yang tak terlukiskan. Ia merasa bahwa selama kitab itu ada di sana, rumahnya terlindungi dan berkah akan selalu menaungi keluarganya. "Syukurlah," gumamnya suatu malam dengan suara serak, "Aku masih punya Qur’an." Kasan merasa cukup dengan hanya memilikinya, tanpa pernah benar-benar menjadikannya pedoman hidup.
Namun, waktu adalah sungai yang terus mengalir tanpa henti. Bertahun-tahun berlalu, dan sang waktu telah mencuri masa muda Kasan, mengubah rambutnya menjadi putih dan punggungnya menjadi bungkuk. Anehnya, Al-Qur’an itu tetap berada di tempat yang sama. Tidak banyak yang berubah, kecuali debu yang perlahan menebal di atas sampulnya, membentuk lapisan kelabu yang melambangkan kealpaan sang pemilik. Kasan terjebak dalam ilusi bahwa memiliki berarti mencintai, dan menyimpan berarti mengamalkan.
Hingga suatu hari, sebuah kejutan datang. Cucu laki-laki Kasan yang selama ini menimba ilmu di sebuah pesantren di luar kota, pulang ke rumah untuk melepas rindu. Sang cucu, yang telah terbiasa hidup dengan cahaya ayat-ayat suci, segera menyadari ada yang janggal di rumah kakeknya. Ia melihat sang kakek sedang duduk termenung di depan rak, menatap kosong pada kitab yang tak tersentuh itu.
"Kek, kenapa Qur’annya tidak pernah dibaca?" tanya sang cucu dengan nada lembut namun menusuk tepat ke ulu hati.
Kasan terdiam seribu bahasa. Pertanyaan sederhana itu bagaikan guntur di siang bolong yang meruntuhkan dinding pertahanan egonya. Perlahan, dengan tangan yang gemetar hebat karena usia dan perasaan yang bercampur aduk, ia meraih kitab itu. Saat ia meniup debu yang menempel di sampulnya, partikel-partikel halus itu beterbangan di udara, menari-nari dalam cahaya sore yang masuk dari celah pintu. Entah mengapa, mata Kasan tiba-tiba basah. Ada rasa sesak yang hebat di dadanya—rasa penyesalan yang tertahan selama puluhan tahun.
"Cucuku," katanya lirih, hampir berupa bisikan, "ternyata selama ini aku bukan kehilangan Qur’an." Ia berhenti sejenak, mencoba menelan ludah yang terasa pahit. "Aku yang kehilangan jalan menuju Qur’an."
Kalimat itu menggantung di ruang kecil yang sunyi, menyisakan gema yang menyayat. Sang cucu hanya menunduk, memahami bahwa kakeknya sedang mengalami sebuah titik balik spiritual yang mendalam. Kasan membuka lembar pertama dengan sangat hati-hati. Jemarinya yang kasar dan penuh kerutan menyentuh huruf-huruf hijaiyah yang selama puluhan tahun hanya ia pandangi sebagai benda suci yang harus dijaga, bukan dipelajari.
Lalu, dengan sisa-sisa penglihatan yang mulai kabur, ia mulai membaca. Bacaannya terbata-bata, terbata-bata oleh air mata dan kekakuan lidah yang jarang melafalkan kalam ilahi. Satu ayat ia baca dengan penuh penghayatan. Kemudian satu ayat lagi. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, rumah itu tidak hanya memiliki Al-Qur’an sebagai pajangan, tetapi mulai dihidupkan oleh ruh dari Al-Qur’an itu sendiri.

Fenomena yang dialami Kasan sebenarnya adalah cerminan dari kondisi masyarakat modern saat ini. Kita sering terjebak dalam kebanggaan semu. Kita bangga memiliki mushaf yang mahal dengan sampul emas di rumah, tetapi kita lupa membiarkan ayat-ayat di dalamnya menetap dan tumbuh di dalam hati. Kita sangat mampu menyisihkan uang untuk membeli Al-Qur’an cetakan terbaru, tetapi kita sangat sulit menyisihkan waktu, barang lima atau sepuluh menit saja, untuk membacanya dengan tadabbur. Kita mampu menghafal nama-nama surah yang indah, tetapi kita sering lupa mengamalkan pesan moral dan hukum yang terkandung di dalamnya.
KH. Ahmad Rifa’i, seorang ulama besar yang pemikirannya tetap relevan hingga kini, telah mengingatkan kita dengan kalimat yang sederhana, namun menusuk jauh ke dalam jiwa melalui bait syairnya:
Akeh wong podo duwe Qur’an kang ono
Gholib teqsir ilmune tan diretenono.
Artinya, banyak orang yang memiliki Al-Qur’an, namun kebanyakan dari mereka kurang ilmunya dan tidak memperhatikan isi serta perintah yang ada di dalamnya. Ini adalah kritik keras bagi kita semua. Memiliki fisik mushaf adalah awal, tetapi menjadikannya panduan adalah tujuan. Jika Al-Qur’an hanya dijadikan pajangan atau benda pelindung rumah tanpa pernah dibaca dan dipahami, maka ia hanyalah benda mati yang akan menjadi saksi atas kelalaian kita di hadapan Allah SWT.
Persoalannya bukan lagi tentang ada atau tidak adanya Al-Qur’an di rumah kita. Hampir setiap rumah Muslim di negeri ini memiliki setidaknya satu mushaf. Persoalan yang sesungguhnya adalah: Apakah Al-Qur’an sudah ada di dalam hidup kita? Apakah ia sudah menjadi kompas saat kita bingung, menjadi penghibur saat kita sedih, dan menjadi teguran saat kita mulai melenceng dari jalan yang benar?
Seringkali kita merasa bahwa kematian masih jauh, sehingga kita menunda untuk mempelajari kitab suci. Kita sibuk mengejar dunia yang fana, mengumpulkan harta yang tak akan dibawa mati, sementara pesan-pesan abadi dari Sang Pencipta dibiarkan berdebu di rak-rak rumah kita. Kita lupa bahwa waktu adalah modal utama yang paling cepat habis.
Jangan sampai kelak, ketika tangan kita sudah tak mampu lagi membuka lembaran mushaf karena rematik, mata kita sudah tak mampu lagi membaca huruf-hurufnya karena rabun, dan umur telah sampai di penghujung perjalanan, barulah kita sadar akan sebuah kenyataan yang pahit: Al-Qur’an ternyata selama ini begitu dekat dengan kita, berada dalam jangkauan tangan kita. Hanya saja, kitalah yang membiarkan diri kita terlalu jauh darinya.
Mari kita ambil hikmah dari kisah Kasan. Jangan biarkan debu menutupi mushaf kita, dan yang lebih penting, jangan biarkan debu dosa menutupi hati kita sehingga kita tidak bisa lagi menerima cahaya hidayah. Mulailah membuka Al-Qur’an hari ini, meskipun hanya satu ayat. Bacalah, pahami artinya, dan biarkan ia menyentuh relung hati yang paling dalam. Karena pada akhirnya, bukan seberapa banyak kita memiliki Al-Qur’an di rak, melainkan seberapa besar Al-Qur’an telah mengubah diri kita menjadi pribadi yang lebih baik sebelum waktu kita di dunia ini habis.
Jadikan rumah kita bukan sekadar bangunan tempat tinggal, melainkan tempat di mana ayat-ayat Allah dibacakan dan diamalkan. Sebab rumah yang di dalamnya dibacakan Al-Qur’an akan bercahaya bagi penduduk langit, sebagaimana bintang-bintang yang bercahaya bagi penduduk bumi. Inilah saatnya untuk bangkit dari kelalaian, membersihkan debu-debu pada mushaf kita, dan membiarkan cahaya Al-Qur’an menerangi jalan pulang kita menuju keabadian.
