Komitmen untuk membumikan pemikiran dan perjuangan Syaikhina KH. Ahmad Rifa’i di ruang lingkup akademik terus diperkuat melalui langkah strategis yang konkret. Pengurus Pusat Angkatan Muda Rifa’iyah (PP AMRI) secara resmi menjalin Nota Kesepahaman (MoU) dengan Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Mas Said Surakarta. Kerja sama ini difokuskan pada pengembangan kajian Islam Nusantara, dengan tujuan utama menjadikan pemikiran KH. Ahmad Rifa’i sebagai subjek penelitian ilmiah yang mendalam, mengingat beliau merupakan salah satu ulama besar Nusantara yang memiliki kontribusi fundamental dalam sejarah keislaman sekaligus perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia.
Sebagai bentuk nyata dari nota kesepahaman tersebut, kedua belah pihak sepakat untuk menyelenggarakan agenda besar bertajuk Simposium Nasional Pemikiran KH. Ahmad Rifa’i yang dijadwalkan berlangsung pada 13 Juli 2026. Forum ini dirancang sebagai ruang temu intelektual yang mempertemukan para akademisi, peneliti, dosen, mahasiswa, pegiat sejarah, hingga pemerhati Islam Nusantara untuk membedah lebih jauh relevansi pemikiran dan warisan intelektual sang ulama. Tidak berhenti di sana, rangkaian acara akan berlanjut pada 13 hingga 14 Juli 2026 dengan digelarnya Pameran Manuskrip Tarajumah. Pameran ini akan menampilkan koleksi kitab-kitab karya KH. Ahmad Rifa’i ibn Muhammad serta berbagai dokumen sejarah perjuangan beliau yang otentik, yang diharapkan mampu menjadi media edukasi bagi masyarakat luas mengenai kekayaan khazanah intelektual Rifa’iyah.
Direktur Pascasarjana UIN Raden Mas Said Surakarta, Prof. Islah Gusmian, memberikan penekanan khusus mengenai urgensi perubahan paradigma dalam memandang warisan ulama. Menurutnya, selama ini manuskrip kuno cenderung hanya diperlakukan sebagai "pusaka"—benda warisan yang sekadar disimpan, dirawat, dan disakralkan. Padahal, jika dikaji secara serius, manuskrip tersebut mengandung nilai-nilai keilmuan yang sangat dinamis dan relevan untuk menjawab tantangan zaman. "Visi kita ini penting, kenapa? Karena manuskrip-manuskrip itu sejauh ini sering kali dipandang sebagai hal-hal sebatas pusaka. Nah, kita akan geser dan kembangkan, bukan hanya sebagai pusaka tetapi sebagai pustaka," ujar Prof. Islah. Pernyataan ini menegaskan bahwa manuskrip harus bertransformasi menjadi sumber literatur yang hidup (pustaka) yang terus diteliti, diterjemahkan, dan didiskusikan dalam diskursus akademik modern.
Sinergi antara PP AMRI dan UIN Raden Mas Said ini sejalan dengan visi besar untuk membawa kitab-kitab karya KH. Ahmad Rifa’i keluar dari lingkungan internal organisasi menuju panggung kajian ilmiah nasional. Ketua Umum PP AMRI, Abdul Kholiq, M.Pd., AH., menyatakan bahwa inisiatif ini adalah bagian dari ikhtiar kolektif untuk menempatkan pemikiran KH. Ahmad Rifa’i dalam peta besar keilmuan Islam Nusantara. Beliau menegaskan bahwa sosok KH. Ahmad Rifa’i bukan sekadar tokoh bagi warga Rifa’iyah, melainkan figur yang pemikirannya memiliki dimensi keagamaan, pendidikan, dan kebangsaan yang sangat kuat. Dengan demikian, sudah sepatutnya pemikiran tersebut menjadi objek kajian yang lebih luas di perguruan tinggi.
Lebih jauh, Abdul Kholiq berharap bahwa melalui simposium dan pameran ini, karya-karya KH. Ahmad Rifa’i akan semakin dikenal dan diakui eksistensinya. Semakin banyak riset yang dilakukan oleh para akademisi, maka akan semakin terbuka pula tabir kontribusi besar beliau sebagai ulama yang sangat produktif di tengah tekanan kolonialisme. KH. Ahmad Rifa’i tercatat menghasilkan puluhan karya tulis yang tidak hanya menjadi panduan ibadah dan hukum, tetapi juga menjadi instrumen perlawanan intelektual terhadap ketidakadilan. Relevansi karya-karya ini dalam konteks masa kini menjadi nilai jual utama bagi para peneliti di tingkat pascasarjana.
Kolaborasi ini juga menjadi bukti nyata keterbukaan antara organisasi masyarakat Islam dengan institusi perguruan tinggi. Langkah ini sejalan dengan semangat UIN Raden Mas Said Surakarta dalam memperkuat kajian Islam Nusantara sebagai salah satu fokus pengembangan akademik unggulan. Kerja sama ini tidak hanya mencakup penyelenggaraan acara seremonial, tetapi juga mencakup ruang kolaborasi riset, pengabdian masyarakat, dan pertukaran gagasan akademik yang berkelanjutan. Hal ini diharapkan mampu membangun ekosistem akademik yang sehat di mana warisan pemikiran ulama lokal mendapatkan porsi yang layak dalam kurikulum dan penelitian di universitas.

Dengan terselenggaranya Simposium Nasional dan Pameran Manuskrip Tarajumah nanti, gaung pemikiran Syaikhina KH. Ahmad Rifa’i diharapkan mampu menembus batas-batas tradisional dan merambah ke kalangan generasi muda serta komunitas akademisi yang lebih luas. Konsep "menggeser manuskrip dari pusaka menjadi pustaka" yang diusung oleh Prof. Islah Gusmian akan menjadi tonggak baru dalam upaya pelestarian sekaligus pengembangan warisan intelektual Rifa’iyah. Hal ini memastikan bahwa karya-karya beliau tetap hidup, relevan, dan terus memberikan manfaat praktis maupun teoritis bagi perkembangan keilmuan Islam di Indonesia.
Melalui upaya sistematis ini, PP AMRI juga ingin menunjukkan bahwa organisasi kepemudaan Islam memiliki peran penting dalam menjembatani antara tradisi pesantren dengan dunia kampus. Dengan melibatkan para ahli, pakar manuskrip, dan mahasiswa dalam kegiatan ini, diharapkan akan muncul generasi peneliti baru yang mampu menggali lebih dalam sisi-sisi lain dari pemikiran KH. Ahmad Rifa’i yang mungkin belum banyak tersentuh. Misalnya, kajian mengenai sosiologi agama, strategi dakwah, hingga perspektif KH. Ahmad Rifa’i mengenai tata negara dan kemanusiaan.
Pada akhirnya, keberhasilan kerja sama ini akan diukur dari seberapa besar dampak yang dihasilkan, baik itu berupa peningkatan jumlah riset, terbitnya buku-buku hasil kajian, maupun semakin luasnya pengakuan masyarakat terhadap warisan KH. Ahmad Rifa’i sebagai bagian tak terpisahkan dari khazanah Islam Nusantara. PP AMRI berkomitmen untuk terus mengawal proses ini hingga mencapai tujuan jangka panjang, yakni menjadikan pemikiran KH. Ahmad Rifa’i sebagai salah satu rujukan utama dalam studi Islam di tingkat nasional. Langkah ini merupakan bentuk penghormatan sekaligus aktualisasi nyata terhadap nilai-nilai perjuangan yang telah beliau wariskan kepada bangsa.
Sebagai bagian dari rangkaian persiapan, kedua belah pihak akan terus melakukan koordinasi intensif untuk memastikan simposium dan pameran berjalan dengan standar akademik yang tinggi. Panitia akan mengundang para pakar dari berbagai universitas di Indonesia untuk membedah manuskrip-manuskrip tersebut dengan pendekatan yang komprehensif, mulai dari filologi, sejarah, hingga konteks kekinian. Dengan persiapan yang matang, diharapkan acara ini tidak hanya akan sukses secara administratif, tetapi juga sukses dalam memberikan kontribusi intelektual yang signifikan bagi dunia pendidikan Islam di Indonesia.
Publikasi hasil-hasil penelitian dari simposium tersebut nantinya akan menjadi aset penting bagi perpustakaan-perpustakaan universitas, sehingga dapat diakses oleh mahasiswa yang sedang melakukan riset terkait sejarah Islam Nusantara. Dengan tersedianya akses data yang lebih baik, diharapkan KH. Ahmad Rifa’i akan semakin dikenal sebagai ulama pejuang yang pemikirannya melampaui zamannya. Ini adalah langkah besar, sebuah ikhtiar berkelanjutan yang membutuhkan dukungan dari berbagai elemen, baik akademisi, pengurus organisasi, maupun masyarakat umum yang peduli terhadap pelestarian warisan intelektual Nusantara.
Penulis: Ahmad Zahid Ali
Editor: Yusril Mahendra

