0

Pelajaran tentang Rezeki: Kisah Pak Sulaiman dan Makna Tawakal kepada Allah

Share

Setiap pagi, sebelum ufuk timur memerah dan embun masih membasahi dedaunan, Pak Sulaiman sudah melangkah mantap menuju sawahnya. Di tangannya, cangkul tua yang gagangnya telah halus karena gesekan telapak tangan selama puluhan tahun menjadi saksi bisu kerja kerasnya. Ia bukan petani yang hanya menunggu hujan; ia adalah seorang pekerja keras yang merawat tanah dengan penuh kasih. Setelah memastikan tanaman padi tumbuh subur dan mencabut gulma yang mengganggu, ia segera bergegas pulang. Namun, baginya, matahari yang mulai meninggi bukanlah tanda untuk beristirahat. Di depan rumahnya, sebuah toko kelontong sederhana sudah menanti. Begitulah ritme hidup Pak Sulaiman selama puluhan tahun: pagi menjadi petani, siang hingga malam menjadi pedagang. Ia menjalani dua peran tersebut dengan ketekunan yang jarang dimiliki orang lain di desanya.

Di mata penduduk desa, Pak Sulaiman bukan sekadar pedagang, melainkan sosok yang memegang teguh integritas. Kejujurannya menjadi ciri khas yang membuatnya dihormati. Jika beras yang dijual kualitasnya sedang, ia akan mengatakannya apa adanya. Ia tidak akan menutupi cacat barang dagangannya demi mendapatkan keuntungan sesaat. Baginya, menjual barang adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat nanti. "Terlalu jujur tidak baik untuk dagangan, Pak. Nanti orang enggan membeli kalau Bapak jujur tentang kekurangan barang," ujar seorang pedagang muda yang mencoba memberinya nasihat pragmatis suatu hari. Pak Sulaiman hanya merespons dengan senyum teduh yang menenangkan. "Mungkin daganganku tidak membuatku cepat kaya atau menumpuk harta, tapi aku ingin tidur nyenyak dan merasa tenang ketika nanti menghadap Allah," jawabnya singkat namun penuh makna.

Namun, roda kehidupan tidak selamanya berada di atas. Pada suatu musim, ujian berat datang menghampiri. Kemarau berkepanjangan melanda desa tersebut, membuat tanah retak-retak dan padi di sawah Pak Sulaiman gagal panen. Harapan untuk mendapatkan hasil dari jerih payah selama berbulan-bulan sirna begitu saja. Ironisnya, di saat yang sama, toko kelontongnya pun mengalami kelesuan. Daya beli warga menurun drastis akibat gagal panen massal, sehingga orang-orang hanya membeli kebutuhan pokok yang paling mendesak. Tabungan yang selama ini dikumpulkan sedikit demi sedikit mulai menipis hingga hampir habis. Kecemasan mulai menyelinap ke dalam hati Pak Sulaiman.

Suatu malam yang sunyi, Pak Sulaiman duduk sendirian di teras rumah. Lampu toko sudah dipadamkan karena tak ada lagi pembeli yang datang. Dari dalam rumah, terdengar suara istrinya yang sedang menghitung sisa uang di laci dengan nada lirih, mengingat anak bungsunya akan segera masuk sekolah dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Untuk pertama kalinya dalam hidup, Pak Sulaiman merasakan ketakutan yang mencekam. Ia bertanya-tanya, bagaimana jika musim depan sawahnya kembali gagal? Bagaimana jika tokonya terus sepi? Bagaimana jika ia gagal menafkahi keluarganya? Di tengah kegelisahan yang memuncak, tangannya tergerak untuk mengambil sebuah kitab tua peninggalan ayahnya. Kitab itu tampak usang, halamannya menguning, namun menyimpan hikmah yang luar biasa. Matanya tertuju pada nazam Targhib korasan 17 karya KH. Ahmad Rifa’i.

Ia mulai membaca bait demi bait dengan suara berbisik: "Syariate wong dagangan kelakuhane, Yoiku arep netepi Syara’ sah hukumane. Mengkono ugo wong kang nenandur, Wajib anut ing lakune Syara’ jujur, Ojo ngelakoaken harom kang pinilahur." Pak Sulaiman menghela napas panjang. Bait tersebut bagaikan tamparan lembut bagi jiwanya. Ia teringat kembali perjalanan hidupnya. Selama ini, ia tidak pernah mengurangi timbangan, tidak pernah memalsukan kualitas, dan tidak pernah mengambil hak orang lain. Ia menyadari bahwa selama ini ia sedang menjaga syariat Allah dalam setiap jengkal langkahnya. "Ya Allah," gumamnya, "aku hanya berusaha menjaga syariat-Mu, mohon berikanlah petunjuk-Mu di tengah kegelapan ini."

Pelajaran tentang Rezeki: Kisah Pak Sulaiman dan Makna Tawakal kepada Allah

Matanya kemudian beralih ke bait berikutnya yang membahas tentang thoriqot (jalan spiritual) dalam berdagang dan bertani: "Utawi thoriqote wong dagang lan nenandur, Yoiku arep nejo atine ing Allah toat. Munfaate Arto ginawe nulungi ibadat, Netepi wajib ngedohi maksiyat, Nejone ati amrih munfaate akhirat." Pak Sulaiman terdiam. Ia merenungkan tujuan hidupnya yang selama ini dianggapnya hanya untuk mencari nafkah duniawi. Ternyata, ia menemukan jawaban yang lebih mendalam: ia berdagang agar keluarganya bisa mengonsumsi makanan yang halal, ia bertani agar anak-anaknya mendapatkan pendidikan yang layak, dan ia bekerja agar dapat membantu tetangga yang kesusahan. Ia menyadari bahwa pekerjaannya adalah sarana untuk beribadah. Ternyata, selama ini pekerjaan yang ia anggap biasa memiliki nilai tinggi di mata Allah. Air matanya mulai mengalir, menyadari bahwa ia telah diberi kesempatan untuk mengabdi melalui profesi yang sederhana.

Semangatnya kembali bangkit saat ia membaca bait peringatan: "Ojo pisan nejo kerono dunyo beloko, Nenandur lan dagangan nulungi duroko. Iku ora syari’at ora thoriqot kareko, Balik iku lakune wong kafir ciloko." Dadanya bergetar hebat. Selama beberapa bulan terakhir, ia mengakui bahwa dirinya terlalu sibuk memikirkan untung dan rugi. Ia terjebak dalam angka-angka duniawi yang fana, hingga melupakan bahwa dunia hanyalah tempat singgah. Yang paling penting bukanlah seberapa banyak hasil panen atau seberapa ramai pembeli, melainkan apakah semua itu mendekatkannya kepada Allah atau justru menjauhkannya. Ia menyadari bahwa selama ini ia telah lalai memandang hakikat rezeki.

Bagian terakhir dari kitab tersebut membukakan pintu hatinya sepenuhnya: "Utawi partelane Kanti haqeqot, Ingatase wong dagangan dihajat. Tuwin nenandur barang opo dihimmat, Yoiku arep mandeng ing Rohmat. Saking Allah paring rizqi wus ginawaruhan, Solah tingkah ugo saking Allah tulungan. Kabecikan dhohir batin saking pengeran, Ora rumoso duwe tingale kebatinan." Saat itulah, transformasi batin terjadi dalam diri Pak Sulaiman. Ia akhirnya memahami bahwa sawah dan toko hanyalah "sebab" atau perantara. Rezeki tidak datang dari tanah yang subur atau toko yang ramai, melainkan dari Allah SWT. Tanpa izin-Nya, benih tidak akan tumbuh dan pembeli tidak akan datang. Bahkan tenaga yang ia gunakan untuk bekerja pun adalah titipan dan karunia-Nya.

Malam itu, Pak Sulaiman tidak lagi menangis karena kemiskinan atau ketakutan akan masa depan. Ia menangis karena rasa syukur yang meluap-luap. Ia menyadari bahwa selama ini ia terlalu fokus memandang sawah dan tokonya, hingga lupa memandang Allah yang berada di balik semua peristiwa. Rasa takutnya hilang, digantikan oleh tawakal yang kokoh. Ia menyerahkan sepenuhnya hasil usahanya kepada Sang Pemilik Rezeki.

Beberapa bulan kemudian, keadaan mulai membaik. Hujan turun dengan intensitas yang cukup, membuat tanah yang tadinya gersang berubah menjadi menghijau subur. Pembeli pun kembali berdatangan ke tokonya. Namun, ada perubahan mendasar pada diri Pak Sulaiman. Ia tidak lagi merasa sombong ketika dagangannya laris manis, dan ia tidak lagi putus asa ketika panen berkurang. Baginya, keduanya adalah ujian yang sama-sama harus disikapi dengan syukur. Kini, setiap kali ia melangkah ke sawah atau membuka pintu toko, ia selalu memanjatkan doa: "Ya Allah, jadikanlah daganganku dan tanamanku sebagai sarana untuk taat kepada-Mu. Jika Engkau memberi banyak, aku akan bersyukur. Jika Engkau memberi sedikit, aku akan tetap bersyukur. Karena yang kucari bukanlah seberapa banyak hasilnya, melainkan ridha-Mu."

Sawah dan toko kecil Pak Sulaiman pun kini bukan sekadar tempat mencari nafkah duniawi. Tempat-tempat tersebut telah bertransformasi menjadi "madrasah" kehidupan yang mengajarkannya tentang hakikat syariat, tarekat, dan hakikat. Ia belajar bahwa kerja keras tanpa keikhlasan adalah sia-sia, dan usaha tanpa tawakal adalah bentuk kesombongan. Pak Sulaiman telah menemukan kedamaian yang sesungguhnya. Ia sadar bahwa rezeki selalu datang dari Allah melalui jalan yang telah ditentukan, dan tugas manusia hanyalah menjalankan peran dengan kejujuran serta ketakwaan yang tak tergoyahkan. Ia membuktikan bahwa di balik kesederhanaan hidup, seseorang bisa mencapai derajat spiritual yang tinggi jika ia mampu melihat Allah dalam setiap aktivitasnya. Kisah Pak Sulaiman menjadi pengingat bagi kita semua bahwa rezeki bukan tentang angka, melainkan tentang keberkahan yang didapat dari hati yang selalu bersandar pada Sang Pencipta.