0

Harga Meroket, Penjualan PS5 Anjlok: Terburuk dalam 25 Tahun

Share

Jakarta – Keputusan strategis yang diambil oleh raksasa teknologi Sony dan Microsoft untuk menaikkan harga konsol game mereka, PlayStation 5 dan Xbox Series X|S, ternyata telah memicu konsekuensi yang fatal bagi volume penjualan global. Data terbaru yang dirilis dari pasar Amerika Serikat (AS) secara gamblang menunjukkan bahwa bulan Mei 2026 telah tercatat sebagai bulan terburuk dalam 25 tahun terakhir bagi merek PlayStation dan juga menjadi titik nadir dalam sejarah penjualan Xbox. Kondisi ini menguak paradoks menarik di tengah industri game yang terus berkembang pesat.

Ironisnya, di saat jumlah unit konsol yang terjual dari kedua pemain dominan ini mengalami penurunan drastis, total belanja perangkat keras secara keseluruhan di industri game justru menunjukkan peningkatan yang tajam. Fenomena ini sebagian besar dapat diselamatkan oleh dua faktor utama: lonjakan harga konsol itu sendiri yang membuat nilai transaksi per unit lebih tinggi, serta keberhasilan luar biasa dari konsol pendatang baru, Nintendo Switch 2, yang laris manis di pasaran.

Rekor Terburuk yang Mengguncang PlayStation dan Xbox

Menurut laporan mendalam yang disusun oleh Mat Piscatella, seorang analis terkemuka dari firma riset pasar Circana, Mei 2026 telah mencatatkan rekor penjualan unit konsol PlayStation terendah di AS sejak Mei 2000. Periode tersebut terjadi hanya beberapa bulan sebelum peluncuran legendaris PlayStation 2, yang kemudian menjadi salah satu konsol terlaris sepanjang masa. Data ini mengindikasikan bahwa penjualan PS5 dan model PlayStation lainnya saat ini berada di titik yang belum pernah terlihat dalam seperempat abad terakhir, sebuah pertanda yang mengkhawatirkan bagi Sony.

Senada dengan PlayStation, lini konsol Xbox juga tidak luput dari pukulan telak. Laporan yang sama mengungkapkan bahwa Xbox mengalami bulan Mei terburuk sepanjang sejarah pencatatannya, sebuah rekor negatif yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kedua raksasa gaming ini, yang selama bertahun-tahun bersaing ketat memperebutkan pangsa pasar, kini harus menghadapi kenyataan pahit bahwa strategi harga mereka telah berdampak negatif pada adopsi unit oleh konsumen.

Penurunan penjualan unit ini bukan sekadar fluktuasi musiman biasa, melainkan sebuah indikasi adanya pergeseran signifikan dalam perilaku konsumen yang dipicu oleh kebijakan harga baru yang sangat agresif. Harga PlayStation 5 yang telah melewati ambang batas psikologis bagi banyak konsumen, ditambah dengan kenaikan serupa pada Xbox Series X|S, telah menciptakan hambatan besar bagi calon pembeli.

Biang Kerok: Demam AI Bikin Komponen Mahal Merajalela

Tren kenaikan harga pada perangkat keras konsumen, termasuk konsol game, bukanlah tanpa alasan yang kuat. Akar permasalahan ini terletak pada revolusi Kecerdasan Buatan (AI) yang sedang berlangsung secara global. Pembangunan fasilitas pusat data AI berskala masif di seluruh dunia telah memicu permintaan yang sangat besar dan mengganggu rantai pasok global untuk komponen penyimpanan (storage) dan RAM.

Pusat data AI modern membutuhkan memori dalam jumlah yang luar biasa besar dan berkinerja tinggi untuk melatih model-model AI yang kompleks dan menjalankan inferensi data dalam skala besar. Komponen seperti High Bandwidth Memory (HBM), DRAM (Dynamic Random-Access Memory), dan NAND flash, yang juga merupakan tulang punggung bagi konsol game seperti PS5 dan Xbox, kini menjadi komoditas yang sangat diperebutkan. Industri AI bersedia membayar harga premium untuk mendapatkan pasokan yang dibutuhkan, menggeser prioritas produsen komponen dari pasar konsumen ke pasar AI yang lebih menguntungkan.

Para pakar industri memprediksi bahwa situasi kelangkaan dan mahalnya komponen memori ini tidak akan membaik dalam waktu dekat, bahkan diperkirakan tidak akan stabil sebelum tahun 2028. Prediksi suram ini didukung oleh langkah strategis produsen memori terkemuka dunia. Contohnya, Micron, salah satu pemain kunci dalam produksi chip memori, baru-baru ini dilaporkan telah memutuskan untuk membekukan harga kontrak mereka untuk lima tahun ke depan. Keputusan ini mencerminkan ekspektasi bahwa permintaan dan harga komponen memori akan tetap tinggi dan stabil dalam jangka panjang, memberikan tekanan berkelanjutan pada biaya produksi perangkat elektronik, termasuk konsol game.

Anomali Pasar dan Kejayaan Nintendo Switch 2

Di tengah kelesuan yang melanda PlayStation dan Xbox, laporan bulan Mei 2026 justru menunjukkan fenomena anomali yang unik dan menarik. Meskipun volume penjualan unit Xbox menurun 12% secara tahunan, sebuah angka yang signifikan, total pengeluaran pelanggan untuk merek tersebut justru mengalami kenaikan sebesar 7%. Ini adalah bukti nyata bahwa meskipun lebih sedikit orang membeli konsol Xbox, mereka yang membeli membayar harga yang jauh lebih mahal, sehingga secara agregat meningkatkan nilai transaksi.

Secara keseluruhan, total belanja hardware di pasar AS meroket hingga 38% dibandingkan tahun sebelumnya. Angka hijau yang mengejutkan ini dapat dijelaskan berkat satu nama: Nintendo Switch 2. Konsol portabel ini dengan cerdik menunda kenaikan harga USD 50-nya hingga September nanti, sebuah strategi yang terbukti sangat efektif. Dengan harga yang relatif lebih stabil dan terjangkau dibandingkan pesaingnya, Switch 2 sukses menjadi opsi paling menarik bagi konsumen yang mencari nilai lebih. Ini memungkinkan Nintendo untuk menutupi kelemahan penjualan unit yang dialami oleh Sony dan Microsoft, dan menjadi penyelamat bagi angka pertumbuhan belanja hardware industri secara keseluruhan.

Bulan Mei 2026 juga sekaligus menandai berakhirnya tahun pertama kiprah Nintendo Switch 2 di pasaran. Dalam kurun waktu tersebut, konsol ini diperkirakan telah mencapai total penjualan fantastis sebesar 5,9 juta unit di AS. Angka ini menobatkannya sebagai konsol portabel dengan rekor penjualan tercepat kedua dalam sejarah AS sejak pencatatan dimulai pada tahun 1995. Switch 2 hanya kalah tipis dari sang legenda, Game Boy Advance, yang pada masa kejayaannya berhasil menjual 6,5 juta unit dalam periode yang sama. Keberhasilan Switch 2 menegaskan kembali posisi unik Nintendo di pasar, dengan fokus pada inovasi dan pengalaman bermain yang berbeda, yang seringkali memungkinkannya untuk berlayar di tengah badai yang melanda pesaingnya.

Pandangan ke Depan: Ancaman Harga dan Harapan GTA VI

Mat Piscatella, dalam analisisnya, memprediksi bahwa bulan Mei 2026 mungkin akan menjadi penanda tren kenaikan tahunan terakhir untuk belanja hardware dalam beberapa waktu ke depan. Ancaman harga yang terus mencekik konsumen kemungkinan besar akan membuat mereka menahan diri untuk membeli konsol, setidaknya hingga musim liburan tiba. Periode ini secara tradisional merupakan puncak penjualan di industri game, didorong oleh promosi besar-besaran dan peluncuran game-game blockbuster.

Faktor penyelamat terbesar yang diantisipasi untuk menggerakkan pasar adalah peluncuran Grand Theft Auto VI (GTA VI). Game yang sangat dinanti-nantikan ini diprediksi akan meledakkan permintaan dan menguras pasokan pasar konsol, terutama PS5 dan Xbox Series X|S, yang akan menjadi platform utama untuk judul tersebut. Sejarah telah menunjukkan bahwa game-game dalam seri Grand Theft Auto memiliki kekuatan untuk secara signifikan mendorong penjualan konsol, menarik jutaan pemain baru dan lama untuk meng-upgrade atau membeli perangkat keras terbaru demi pengalaman bermain yang optimal.

Namun, Piscatella juga mengingatkan bahwa lonjakan permintaan yang didorong oleh GTA VI mungkin hanya bersifat sementara. Jika masalah biaya komponen yang tinggi dan harga konsol yang mahal terus berlanjut di luar musim liburan, industri game bisa menghadapi periode stagnasi penjualan unit yang berkepanjangan. Konsumen mungkin akan semakin beralih ke platform lain seperti PC gaming yang menawarkan fleksibilitas lebih, atau layanan cloud gaming yang menghilangkan kebutuhan akan perangkat keras yang mahal.

Dampak jangka panjang dari tren ini bisa jadi mengubah lanskap industri konsol secara fundamental. Sony dan Microsoft perlu menemukan cara untuk menawarkan nilai yang menarik bagi konsumen di tengah tekanan harga, mungkin melalui bundel game yang lebih agresif, program loyalitas, atau bahkan eksplorasi model bisnis baru. Krisis ini juga bisa menjadi katalis bagi inovasi dalam rantai pasok dan produksi, mencari cara untuk mengurangi ketergantungan pada komponen yang harganya fluktuatif.

Secara keseluruhan, bulan Mei 2026 menjadi cerminan dari kompleksitas pasar game modern. Di satu sisi, industri ini menunjukkan ketahanan dengan peningkatan total belanja, namun di sisi lain, ia bergulat dengan tantangan adopsi unit yang belum pernah terjadi sebelumnya. Bagaimana para raksasa game ini akan menavigasi masa depan yang penuh ketidakpastian ini akan menjadi kisah yang menarik untuk disaksikan, demikian dikutip detikINET dari Techspot, Senin (29/6/2026).

(asj/rns)