Perdana Menteri Norwegia, Jonas Gahr Stoere, dalam konferensi pers pada Jumat, 19 Juni, menegaskan urgensi kebijakan ini. Menurutnya, penggunaan AI generatif berpotensi besar membuat anak-anak "melompati tahapan belajar penting" yang seharusnya mereka lalui secara bertahap dan mendalam. Stoere secara eksplisit mengimbau seluruh institusi pendidikan untuk kembali memfokuskan perhatian pada inti dari pendidikan dasar: kemampuan membaca, menulis, dan berhitung. "Hal terpenting di sekolah adalah anak-anak kita belajar membaca, menulis, dan berhitung," kata Stoere, sebagaimana dikutip dari Reuters, Minggu, 21 Juni 2026. Pernyataan ini menggarisbawahi filosofi pendidikan Norwegia yang menempatkan fondasi literasi dan numerasi sebagai prioritas utama, di atas kemudahan instan yang ditawarkan oleh teknologi canggih.
Larangan ini secara spesifik menargetkan siswa kelas satu hingga kelas tujuh, yang umumnya berusia antara 6 hingga 13 tahun. Rentang usia ini dianggap krusial karena merupakan fase pembentukan dasar-dasar kognitif dan keterampilan belajar. Pada usia inilah anak-anak mengembangkan kemampuan berpikir kritis, analisis, sintesis informasi, serta ekspresi diri melalui tulisan dan pemahaman teks. Penggunaan AI generatif, seperti ChatGPT atau platform sejenis, dikhawatirkan dapat memudarkan proses-proses esensial ini. Misalnya, alih-alih merangkai kalimat sendiri, anak-anak mungkin tergoda untuk langsung menyalin atau memparafrasekan teks yang dihasilkan AI. Begitu pula dalam berhitung, mereka bisa saja mengandalkan AI untuk mendapatkan jawaban tanpa memahami logika di balik penyelesaian soal.
Pemerintah Norwegia berpandangan bahwa tahapan belajar yang "dilompati" ini bukan sekadar masalah efisiensi, melainkan inti dari pembentukan pola pikir dan kemampuan adaptif. Ketika anak-anak secara konsisten mengandalkan AI untuk tugas-tugas dasar, mereka berisiko kehilangan kesempatan untuk mengembangkan ketekunan, pemecahan masalah mandiri, kreativitas, dan kemampuan berpikir divergen. Proses membaca yang melibatkan pemahaman konteks, inferensi, dan interpretasi, misalnya, dapat tereduksi menjadi sekadar menelan informasi yang sudah disarikan oleh AI. Demikian pula dengan menulis, di mana orisinalitas ide, struktur kalimat, dan gaya bahasa pribadi berisiko tergerus oleh homogenitas output AI.
Namun, kebijakan ini tidak bersifat seragam untuk semua jenjang pendidikan. Pemerintah Norwegia menerapkan pendekatan yang lebih fleksibel untuk siswa yang lebih tua. Untuk siswa kelas menengah, yaitu mereka yang berusia 14-16 tahun, penggunaan layanan AI generatif masih diperbolehkan, namun dengan syarat ketat, yakni harus berada di bawah pengawasan guru. Fleksibilitas ini mengakui bahwa pada usia remaja, siswa memiliki kapasitas kognitif yang lebih matang untuk membedakan antara penggunaan AI sebagai alat bantu belajar dan sebagai jalan pintas. Pengawasan guru menjadi kunci untuk memastikan bahwa AI digunakan sebagai suplemen untuk memperdalam pemahaman, bukan sebagai pengganti proses belajar mandiri. Sementara itu, siswa berusia 17 tahun ke atas, yang berada di jenjang sekolah menengah atas, justru dianjurkan untuk menggunakan AI secara tepat. Pada tahap ini, diharapkan siswa sudah memiliki kematangan dan kebijaksanaan untuk memanfaatkan AI sebagai alat produktivitas dan penelitian yang efektif, mempersiapkan mereka untuk dunia kerja atau pendidikan tinggi di mana AI telah menjadi bagian tak terpisahkan.
Langkah Norwegia ini bukanlah kebijakan tunggal dalam upaya meregulasi teknologi di ruang kelas. Ini adalah bagian dari strategi yang lebih besar dan konsisten. Pada tahun 2024, Norwegia telah lebih dulu memberlakukan larangan penggunaan smartphone di sekolah-sekolah di seluruh negeri. Keputusan ini didasarkan pada kekhawatiran atas penurunan nilai ujian siswa dan masalah-masalah sosial serta mental yang timbul akibat penggunaan smartphone yang berlebihan. Hasil dari kebijakan larangan smartphone ini terbukti cukup sukses dan memberikan dampak positif yang signifikan. Data menunjukkan adanya penurunan angka perundungan (bullying), peningkatan nilai akademis siswa secara keseluruhan, dan yang paling mencolok, penurunan jumlah kunjungan siswa ke psikolog secara signifikan untuk masalah kesehatan mental. Dampak positif ini terlihat sangat jelas pada siswa perempuan, yang seringkali lebih rentan terhadap tekanan sosial dan perbandingan diri di media sosial.
Keberhasilan larangan smartphone ini memberikan keyakinan kuat bagi pemerintah Norwegia untuk melangkah lebih jauh dalam meregulasi teknologi digital, termasuk AI. Mereka melihat adanya pola di mana intervensi teknologi yang bijaksana dapat menghasilkan lingkungan belajar yang lebih sehat dan produktif. Keberhasilan tersebut memperkuat argumen bahwa membatasi gangguan digital dapat membebaskan potensi penuh siswa untuk fokus pada pembelajaran dan interaksi sosial secara langsung.
Lebih lanjut, Norwegia juga memiliki rencana ambisius untuk melarang penggunaan media sosial bagi semua anak di bawah usia 16 tahun, sebuah kebijakan yang mirip dengan regulasi yang telah diterapkan di beberapa wilayah di Indonesia. Proposal kebijakan ini dijadwalkan akan dibahas di parlemen pada akhir tahun ini. Jika disetujui, ini akan semakin memperkuat posisi Norwegia sebagai salah satu negara terdepan dalam melindungi generasi mudanya dari potensi dampak negatif teknologi digital yang belum sepenuhnya dipahami. Larangan media sosial ini bertujuan untuk mengatasi masalah-masalah seperti kecanduan layar, cyberbullying, gangguan citra diri, dan penyebaran informasi yang tidak akurat, yang semuanya dapat berdampak serius pada kesehatan mental dan perkembangan sosial remaja.
Secara keseluruhan, kebijakan Norwegia untuk melarang anak SD menggunakan AI adalah refleksi dari filosofi pendidikan yang berakar kuat pada nilai-nilai fundamental dan pengembangan manusia seutuhnya. Pemerintah Norwegia tidak hanya melihat teknologi sebagai alat bantu, tetapi juga menyadari potensi risikonya jika tidak diatur dengan bijak, terutama pada tahap perkembangan anak yang paling rentan. Dengan memprioritaskan kemampuan membaca, menulis, dan berhitung, Norwegia berharap dapat membekali anak-anaknya dengan fondasi kognitif yang kokoh, memungkinkan mereka untuk tumbuh menjadi individu yang kritis, kreatif, dan mandiri, yang mampu beradaptasi dan berinovasi di dunia yang semakin didominasi oleh teknologi. Ini adalah sebuah pernyataan tegas bahwa, di tengah kemajuan pesat AI, esensi dari pendidikan dasar tetaplah pada pengembangan kapasitas manusiawi yang tak tergantikan.

