0

Mbah Kyai Mangun Harjo: Jejak Karamah dan Perjuangan di Kebuntaman

Share

Mbah Kyai Mangun Harjo merupakan sosok ulama karismatik yang menjadi tonggak utama penyebaran syiar Islam di wilayah Kebuntaman. Kiprah beliau bukan sekadar dakwah lisan, melainkan sebuah perjuangan fisik dan spiritual yang meninggalkan jejak sejarah mendalam bagi masyarakat setempat. Berdasarkan penuturan dari para sesepuh seperti Mbah Yai Rusman, Yai Aman, dan Mbah Edres, kisah hidup Mbah Mangun Harjo mencerminkan keteguhan iman dan dedikasi tinggi dalam menegakkan syariat Islam di tengah tantangan zaman yang penuh rintangan.

Mbah Kyai Mangun Harjo: Jejak Karamah dan Perjuangan di Kebuntaman

Mbah Mangun Harjo berasal dari Dukuh Pengkol dan merupakan putra dari Mbah Tokromo. Meskipun catatan tahun kelahiran dan wafatnya masih menjadi perdebatan di kalangan sejarawan lokal, banyak pihak meyakini bahwa beliau wafat sekitar tanggal 20 Muharram 1315 Hijriah atau bertepatan dengan tahun 1893 Masehi. Dalam perjalanannya, Mbah Mangun dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu pengetahuan agama. Beliau sempat menimba ilmu di Kendal kepada Mbah Kyai Muhammad Tuba, seorang ulama besar yang memiliki kedekatan emosional dan intelektual dengan Mbah Mangun.

Pencarian ilmu Mbah Mangun tidak berhenti di sana. Beliau bahkan menempuh perjalanan jauh dengan berjalan kaki menuju Kalisalak untuk berguru langsung kepada ulama besar pendiri organisasi Rifa’iyah, yaitu Kyai Haji Ahmad Rifa’i bin Muhammad. Di pesantren Kalisalak, Mbah Mangun menjadi sahabat karib Mbah Kyai Tuba karena kesamaan usia dan semangat belajar. Mereka sering berdiskusi mengenai berbagai disiplin ilmu agama, terutama yang berkaitan dengan kitab-kitab Tarjumah Rifa’iyah yang berhaluan Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Mbah Kyai Mangun Harjo: Jejak Karamah dan Perjuangan di Kebuntaman

Kehidupan pribadi Mbah Mangun Harjo pun penuh dengan ujian. Sebelum menetap di Kebuntaman, beliau sempat menikah dan memiliki seorang putri bernama Sayimah. Namun, karena intensitas perjalanan menuntut ilmu yang sangat tinggi, terjadi ketidakharmonisan dalam rumah tangga beliau yang berujung pada perceraian. Hal ini tidak mematahkan semangat Mbah Mangun untuk terus mengabdi kepada ilmu. Setelah bermukim di pesantren selama kurang lebih tujuh tahun, beliau akhirnya menikah kembali dengan seorang santri bernama Mbok Rawan, yang merupakan adik dari santriwati yang dinikahi oleh putra Mbah Kyai Tuba, yakni Kyai M. Idris.

Setelah menikah, Mbah Mangun mencoba kembali ke tanah kelahirannya di Pengkol. Namun, suasana lingkungan yang kurang kondusif dan maraknya praktik kemaksiatan membuat beliau memutuskan untuk hijrah ke Kebuntaman. Pada masa itu, Kebuntaman masih berupa hutan belantara yang jarang dihuni manusia. Dengan penuh kesabaran, Mbah Mangun membangun rumah sederhana dari bambu dan atap alang-alang sebagai tempat tinggal sekaligus pusat dakwah.

Mbah Kyai Mangun Harjo: Jejak Karamah dan Perjuangan di Kebuntaman

Tak lama berselang, Mbah Kyai M. Idris menyusul ke Kebuntaman untuk membantu pembangunan fasilitas keagamaan seperti tempat salat, sumur, dan kolam untuk wudu. Mbah Idris bahkan memberikan doa dan harapan bahwa di masa depan, wilayah tersebut akan menjadi desa yang ramai dan berkembang pesat, yang kemudian dinamai sebagai "Banguntaman". Pesan tersebut terbukti benar seiring berjalannya waktu, di mana Kebuntaman kini menjadi pemukiman yang terus berkembang.

Perjuangan Mbah Mangun dalam menyebarkan agama tidak berjalan mulus. Beliau menghadapi banyak penentangan dari orang-orang zhalim yang tidak menyukai kehadiran ajaran Islam di sana. Salah satu ujian berat adalah ketika mushola yang dibangun oleh Mbah Kyai Mad Yahman sering kali dijadikan tempat untuk berjudi dan berpesta minuman keras oleh oknum-oknum dari luar daerah. Mushola tersebut sering dikotori dengan najis, namun Mbah Mangun dan pengikutnya tetap sabar membersihkannya setiap hari. Puncaknya, orang-orang zhalim tersebut membakar mushola tersebut karena merasa terganggu oleh dakwah yang disampaikan.

Mbah Kyai Mangun Harjo: Jejak Karamah dan Perjuangan di Kebuntaman

Di sinilah letak karamah Mbah Mangun Harjo mulai tampak. Kayu-kayu sisa pembakaran mushola yang masih utuh kemudian dibawa ke tempat Mbah Mangun untuk dibangun kembali menjadi mushola yang lebih kokoh. Mbah Kyai Mad Yahman pun menyertakan kayu-kayu khusus yang telah dirajah dan didoakan untuk ditanam di pondasi mushola baru tersebut. Ajaibnya, setiap kali orang-orang zhalim mencoba mengganggu atau bermain di area mushola baru itu, mereka diserang oleh ribuan serangga lemut mrutu yang membuat mereka kocar-kacir. Sejak saat itu, tidak ada lagi yang berani mengganggu kegiatan ibadah di sana.

Selain karamah dalam perlindungan dakwah, Mbah Mangun juga dikenal memiliki kemampuan yang melampaui kebiasaan manusia biasa (khariqul ‘adah) dalam bidang ekonomi dan pengairan sawah. Untuk menyejahterakan para santri dan penduduk desa, Mbah Mangun melakukan sebuah metode pengairan yang unik. Dengan hanya berbekal tujuh batang bambu kecil dan sehelai selendang sutra milik Mbok Rawan, beliau berhasil menciptakan jalur pengairan yang sangat efisien. Air dari sungai-sungai besar berhasil dialirkan ke lahan persawahan penduduk melalui jalur yang dibentuk oleh selendang tersebut. Hasilnya, para petani di Kebuntaman mampu panen hingga tiga kali dalam setahun.

Mbah Kyai Mangun Harjo: Jejak Karamah dan Perjuangan di Kebuntaman

Kesejahteraan yang meningkat ini sempat memicu konflik dengan pihak penguasa lokal, yaitu Lurah Tokrak dari Pengkol yang merasa berhak atas hasil panen masyarakat. Meski terjadi perselisihan hingga ke tingkat kecamatan, Mbah Kyai Mad Yahman yang mewakili Mbah Mangun selalu memenangkan argumen. Karena dendam dan kesombongan, Lurah Tokrak akhirnya mengeluarkan pernyataan untuk tidak mengakui wilayah Kebuntaman bagian selatan sebagai wilayah administratifnya. Hal ini menyebabkan wilayah tersebut sempat mengalami kekosongan kepemimpinan sebelum akhirnya bergabung dengan Kalikayen. Sebagai simbol berakhirnya masa tersebut, bambu-bambu karamah yang dipasang Mbah Mangun dicabut, dan sistem pengairan ajaib itu pun kembali menjadi daratan.

Hingga hari ini, jejak perjuangan Mbah Kyai Mangun Harjo terus dirawat oleh keturunan dan para santri beliau. Sosok seperti Mbah Yai Rusman, cucu beliau, dikenal sebagai pribadi yang alim dan wara’, menjadi teladan dalam melanjutkan estafet perjuangan. Keberadaan haul tahunan yang diselenggarakan bukan hanya sekadar seremoni, melainkan bentuk penghormatan dan syukur kepada Allah Swt. atas keberadaan seorang Wali Allah yang telah membuka jalan keberkahan di Kebuntaman.

Mbah Kyai Mangun Harjo: Jejak Karamah dan Perjuangan di Kebuntaman

Perjuangan ini adalah bukti nyata bahwa dengan keikhlasan dan keteguhan iman, seorang ulama mampu mengubah hutan belantara menjadi pusat peradaban yang berlandaskan syariat. Keempat tokoh utama, yakni Mbah Kyai Mangun Harjo, Mbah Kyai Mad Yahman, Mbah Kyai M. Idris, dan Mbah Kyai Tuba, adalah pilar yang tak boleh dilupakan dalam sejarah Islam di tanah Jawa. Semoga keberkahan yang beliau tanamkan tetap mengalir kepada masyarakat Kebuntaman dan kita semua yang senantiasa mendoakan perjuangan para pendahulu yang mulia ini. Amin.