Mbah Idris, atau yang secara nasab dikenal sebagai Kiai Idris bin Kiai Ilham, merupakan sosok ulama karismatik yang menjadi pilar penting penyebaran ajaran KH. Ahmad Rifa’i di wilayah Jawa Barat. Beliau lebih dikenal oleh masyarakat luas dengan sebutan Mbah Idris Sukawera, merujuk pada wilayah tempat beliau berdakwah dan mendirikan pesantren di kawasan perbatasan antara Desa Sukalila, Kecamatan Jatibarang, dan Desa Sukawera, Kecamatan Kertasemaya, Kabupaten Indramayu. Sebagai salah satu murid kesayangan dari KH. Ahmad Rifa’i Kalisalak, Mbah Idris memegang peranan krusial dalam membawa risalah Tarajumah—karya monumental sang guru—ke tanah Pasundan.
Sejarah mencatat melalui penuturan KH. Ahmad Syadzirin bahwa KH. Ahmad Rifa’i memiliki puluhan murid generasi pertama yang luar biasa. Tercatat ada 51 orang yang berhasil mengembangkan pesantren Tarajumah di berbagai daerah. Mbah Idris adalah salah satu dari sedikit murid yang mendapatkan mandat langsung untuk melakukan syiar di luar wilayah Jawa Tengah. Kedekatan hubungan antara guru dan murid ini bukan sekadar relasi keilmuan, melainkan sebuah ikatan ideologis dalam memperjuangkan pemurnian ajaran Islam dan perlawanan terhadap kolonialisme melalui pendidikan pesantren yang mandiri.
Dalam konteks kesejarahan Rifa’iyah, nama Mbah Idris Sukawera sering disebut bersanding dengan tokoh-tokoh besar lainnya seperti Kiai Syamsudin Arjawinangun (1792–1870), Kiai Mu’min Pekalongan, dan Kiai Ta’abud asal Pekalongan. Mereka semua adalah alumni dari kawah candradimuka pesantren KH. Ahmad Rifa’i di Kalisalak, Kendal. Fakta bahwa para santri ini mampu membangun jaringan dakwah yang luas menunjukkan betapa sistem pendidikan yang diterapkan oleh KH. Ahmad Rifa’i sangat efektif dalam mencetak kader ulama yang militan, mandiri, dan memiliki visi dakwah yang tajam.
Proses perjalanan Mbah Idris dari pusat pendidikan di Kendal menuju Indramayu adalah sebuah episode heroik. Dikisahkan bahwa saat beliau mendapatkan tugas untuk membuka pesantren di tanah Pasundan, beliau tidak langsung menuju titik tujuan akhir. Beliau sempat singgah selama beberapa hari di pesantren Kiai Syamsudin Arjawinangun. Persinggahan ini bukan tanpa alasan; terdapat hubungan kekeluargaan yang erat di antara keduanya. Kiai Syamsudin sendiri merupakan tokoh sentral penyebaran ajaran Rifa’iyah di wilayah Cirebon dan sekitarnya. Pertemuan dua tokoh ini memperkuat konsolidasi ajaran Tarajumah di jalur pantai utara (pantura) Jawa.
Setelah dari Arjawinangun, Mbah Idris melanjutkan perjalanan bersama keluarganya menuju Regasana, Kabupaten Indramayu. Wilayah ini menjadi titik awal perjuangan beliau sebelum akhirnya menetap dan mendirikan pusat dakwah di Sukalila/Sukawera. Keberadaan Mbah Idris di Indramayu kemudian menjadi magnet bagi santri-santri lain. Bahkan, tokoh seperti Kiai Mu’min dan Kiai Ta’abud yang berasal dari Pekalongan, sebelum mereka memutuskan untuk menetap dan berdakwah di Cilamaya, Karawang, sempat singgah dan menimba pengalaman serta memperdalam strategi dakwah di pesantren Mbah Idris.
Penyebaran ajaran Tarajumah di Jawa Barat, yang dilakukan secara estafet oleh Kiai Syamsudin, Mbah Idris, Kiai Mu’min, dan Kiai Ta’abud, membuktikan bahwa pesantren-pesantren alumni Kalisalak memiliki pola koordinasi yang sangat rapi. Mereka tidak bekerja secara terisolasi. Pesantren Mbah Idris di Sukawera menjadi hub atau titik temu bagi para pengikut ajaran KH. Ahmad Rifa’i yang sedang melakukan pergerakan dakwah ke arah barat. Fenomena ini sekaligus menepis anggapan bahwa penyebaran ajaran Rifa’iyah hanya terbatas di wilayah Jawa Tengah saja.

Kehidupan Mbah Idris di Sukawera dikenal sangat bersahaja namun penuh dengan otoritas keilmuan. Beliau mengajarkan kitab-kitab Tarajumah yang merupakan terjemahan dan ulasan hukum Islam dalam bahasa Jawa yang sangat khas. Kitab-kitab ini menjadi senjata utama dalam melawan ketidaktahuan umat terhadap hukum syariat sekaligus menjadi simbol identitas santri Rifa’iyah. Masyarakat Indramayu pada masa itu sangat antusias menerima ajaran ini karena bahasa yang digunakan mudah dipahami dan substansi ajarannya sangat relevan dengan kebutuhan praktis umat sehari-hari.
Hingga saat ini, jejak Mbah Idris masih sangat terasa di Indramayu. Makam beliau yang terletak di Desa Sukalila, Kecamatan Jatibarang, menjadi destinasi ziarah yang tak pernah sepi. Para peziarah tidak hanya datang dari warga lokal Indramayu, tetapi juga dari berbagai daerah seperti Cirebon, Pekalongan, Batang, hingga Wonosobo. Kehadiran para peziarah dari luar daerah ini merupakan bukti sejarah bahwa Mbah Idris tetap dianggap sebagai tokoh pemersatu dalam jaringan ulama Rifa’iyah lintas generasi.
Penting untuk dicatat bahwa masih banyak murid KH. Ahmad Rifa’i yang belum terdata secara komprehensif. Sejarah para santri ini seringkali terkubur oleh waktu atau hanya tersimpan dalam catatan-catatan keluarga (manuskrip) yang belum sempat dipublikasikan secara luas. Oleh karena itu, sosok Mbah Idris Sukawera menjadi pintu masuk yang sangat berharga bagi para peneliti untuk melacak kembali bagaimana jaringan intelektual dan spiritual ini dibangun. Riset lebih lanjut mengenai murid-murid KH. Ahmad Rifa’i sangat diperlukan, baik di Jawa Tengah, Jawa Barat, maupun daerah lainnya di Nusantara, guna menyusun kepingan sejarah yang lebih utuh.
Secara lebih mendalam, ajaran yang dibawa Mbah Idris mencakup aspek fikih, tauhid, dan akhlak yang disarikan langsung dari pemikiran KH. Ahmad Rifa’i. Beliau menekankan pentingnya menjaga istiqomah dalam memegang teguh syariat di tengah tekanan penjajah. Di masa kolonial, menjadi pengikut KH. Ahmad Rifa’i seringkali dipandang sebagai tindakan yang subversif oleh pihak pemerintah kolonial Belanda. Namun, Mbah Idris dan para santrinya tetap teguh pada pendirian. Pesantren di Sukawera menjadi benteng pertahanan moral dan spiritual bagi masyarakat agar tidak terpengaruh oleh budaya atau kebijakan yang bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam.
Kisah Mbah Idris Sukawera juga memberikan pelajaran tentang pentingnya silaturahmi antar-ulama. Jaringan yang dibangun Mbah Idris dengan Kiai Syamsudin Arjawinangun, Kiai Mu’min, dan Kiai Ta’abud adalah model kolaborasi dakwah yang efektif. Mereka saling menguatkan, saling bertukar informasi, dan saling memberi dukungan logistik maupun moril. Inilah yang membuat ajaran KH. Ahmad Rifa’i bisa bertahan melampaui masanya, bahkan hingga saat ini di era digital, di mana organisasi Rifa’iyah terus bergerak secara terstruktur.
Sebagai penutup, mengenang Mbah Idris Sukawera berarti mengenang dedikasi seorang ulama yang rela berpindah tempat demi menyebarkan ilmu. Beliau adalah potret santri ideal yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki keberanian moral untuk memikul amanah guru. Bagi warga Indramayu dan komunitas Rifa’iyah di seluruh Indonesia, Mbah Idris bukan sekadar nama di batu nisan, melainkan simbol perjuangan yang terus hidup dalam napas keislaman yang moderat, mandiri, dan berwawasan luas. Semoga catatan ini menjadi pengingat bagi generasi penerus untuk terus menjaga dan melanjutkan warisan keilmuan yang telah dirintis oleh para pendahulu kita dengan penuh pengorbanan. Sejarah besar seringkali dimulai dari sosok-sosok yang ikhlas di tempat yang jauh dari pusat kekuasaan, namun keberadaan mereka justru menjadi akar yang menguatkan pohon peradaban Islam di Nusantara.

