Home  /  Rifaiyah

Hukum Menolak Jabat Tangan dalam Islam: Antara Adab, Tawaduk, dan Martabat Seorang Pemimpin

Beberapa hari terakhir, jagat media sosial diguncang oleh beredarnya rekaman video yang menampilkan Menteri Pekerjaan Umum (PU), Dody Hanggodo, yang tampak tidak menyambut uluran tangan seorang petugas di bandara. Video singkat tersebut memicu diskursus publik yang luas; sebagian kalangan menganggapnya sebagai kekhilafan atau salah paham, sementara yang lain menilainya sebagai bentuk arogansi atau cerminan sikap elitis seorang pejabat terhadap bawahannya. Terlepas dari validitas asumsi publik tersebut, peristiwa ini menjadi pintu masuk yang krusial untuk mengkaji fenomena "jabat tangan" dari kacamata syariat Islam. Islam bukanlah agama yang hanya menitikberatkan pada ritual ibadah, melainkan sebuah sistem kehidupan yang sangat detil dalam mengatur etika sosial dan tata krama dalam berinteraksi dengan sesama manusia.

Bagi tradisi kesantrian di Indonesia, adab selalu diposisikan lebih tinggi daripada ilmu. Para ulama terdahulu sering menekankan sebuah ungkapan bijak, Al-Adabu fauqal ‘ilmi (Adab berada di atas ilmu). Seseorang mungkin memiliki gelar akademik yang mentereng, jabatan yang tinggi, atau pengaruh yang luas, namun semua itu akan kehilangan maknanya jika tidak diselimuti oleh kerendahan hati atau tawaduk. Terlebih bagi seorang pemimpin, yang dalam konsep Islam seharusnya dipandang sebagai khadimul ummah atau pelayan masyarakat, bukan penguasa yang posisinya harus diagungkan oleh rakyatnya.

Islam secara tegas memberikan peringatan keras terhadap perilaku sombong atau sikap merasa lebih tinggi dari orang lain. Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an, "Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri." (QS. Luqman: 18). Ibnu Abbas, sahabat Nabi yang ahli tafsir, menjelaskan bahwa makna memalingkan wajah dalam ayat ini tidak hanya merujuk pada gestur fisik semata, melainkan juga sikap mental yang meremehkan, tidak menghargai, dan menumbuhkan rasa superioritas di hadapan orang lain. Oleh karena itu, bagi seorang Muslim—apalagi yang memegang amanah kepemimpinan—segala bentuk gestur yang membuat orang lain merasa terhina atau tidak dihargai adalah hal yang harus dihindari secara mutlak.

Peringatan Rasulullah Saw. pun sangat jelas terkait kesombongan, "Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun sebesar biji sawi." (HR. Muslim). Hadis ini menegaskan bahwa parameter kemuliaan di mata Allah bukan terletak pada status sosial, kekayaan, atau jabatan politik, melainkan pada ketakwaan dan seberapa besar kerendahan hati seseorang saat berinteraksi dengan sesama makhluk ciptaan Allah.

Dalam literatur fikih, berjabat tangan atau mushafahah merupakan amalan yang sangat dianjurkan. Hukum dasarnya adalah sunnah dan ia menjadi simbol syiar persaudaraan (ukhuwah) Islamiyah. Rasulullah Saw. bersabda, "Tidaklah dua orang Muslim bertemu lalu berjabat tangan, kecuali diampuni dosa keduanya sebelum mereka berpisah." (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi). Bahkan, dalam riwayat lain yang dikuatkan oleh Imam Thabrani, Rasulullah mengibaratkan gugurnya dosa orang yang berjabat tangan layaknya dedaunan yang berguguran dari pohonnya.

Secara filosofis, jabat tangan bukan sekadar kontak fisik, melainkan media spiritual untuk menghapus sekat-sekat kebencian yang mungkin terpendam di dalam hati. Imam Malik meriwayatkan atsar yang populer, "Saling berjabat tanganlah kalian, niscaya hilang kedengkian. Saling memberi hadiahlah kalian, niscaya tumbuh rasa cinta dan hilang permusuhan." Maka, ketika seorang Muslim menolak jabat tangan tanpa uzur syar’i (alasan yang dibenarkan), ia tidak hanya meninggalkan kesunnahan, tetapi juga berpotensi menciptakan jarak emosional dan kesan negatif yang bertentangan dengan semangat ukhuwah.

Hukum Menolak Jabat Tangan dalam Islam: Antara Adab, Tawaduk, dan Martabat Seorang Pemimpin

Meskipun secara hukum fikih murni menolak jabat tangan tidak sampai pada tingkatan haram (karena jabat tangan adalah sunnah), namun tindakan tersebut bisa berubah menjadi perbuatan tercela jika landasannya adalah kesombongan, rasa superioritas, atau sikap meremehkan orang lain. Dalam kaidah akhlak Islam, perbuatan yang asalnya mubah atau meninggalkan sunnah bisa bernilai dosa jika disertai dengan niat yang buruk atau kesombongan yang tersembunyi. Inilah yang menjadi poin penting dalam kasus pemimpin: kesan penghinaan yang ditimbulkan jauh lebih berbahaya daripada sekadar tidak bersentuhan tangan.

Keteladanan kepemimpinan dalam Islam sangat menekankan pada sifat kerendahan hati. Rasulullah Saw. adalah prototipe pemimpin yang paling ramah. Beliau tidak pernah membedakan kasta atau kelas sosial saat berinteraksi. Dalam banyak riwayat, Nabi Muhammad Saw. diceritakan selalu mendahului mengucapkan salam, menyambut dengan tangan terbuka siapa pun yang ingin bersalaman, dan tidak akan menarik tangannya lebih dulu sebelum lawan bicaranya melepaskan jabat tangan tersebut. Jika Nabi yang sudah dijamin kemuliaannya saja begitu tawaduk, maka sudah seharusnya seorang pejabat negara menanggalkan ego pribadinya saat berhadapan dengan rakyat. Jabatan bukanlah hak istimewa untuk menjadi sombong, melainkan amanah berat yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah Swt.

Terkait video viral yang melibatkan Menteri PU tersebut, umat Islam perlu menyikapinya dengan bijak dan proporsional. Tidak perlu tergesa-gesa memvonis secara membabi buta karena mungkin saja ada konteks situasi di lapangan yang tidak tertangkap oleh kamera. Namun, peristiwa ini tetap menjadi pelajaran berharga bagi seluruh pemimpin bangsa. Bahwa di era keterbukaan informasi, setiap gestur seorang pemimpin akan menjadi perhatian publik. Rakyat tidak hanya menilai seorang pemimpin dari kebijakan strategis atau anggaran yang dikelola, tetapi juga dari bagaimana ia memperlakukan manusia sebagai sesama.

Seringkali, kebijakan besar bisa dilupakan, namun kebaikan sikap, keramahan, dan kerendahan hati seorang pemimpin akan terus dikenang dan menjadi teladan bagi masyarakat luas. Sebagaimana petuah ulama, "Barang siapa merendahkan hati karena Allah, maka Allah akan mengangkat derajatnya." Inilah kunci martabat yang sesungguhnya. Seorang pemimpin yang tinggi derajatnya adalah mereka yang mampu merendahkan hati di hadapan rakyatnya, bukan mereka yang menjaga jarak demi menonjolkan kekuasaan.

Menyambut salam, membalas sapaan dengan senyum, dan menerima uluran tangan adalah bentuk akhlak yang selaras dengan ruh ajaran Islam. Sebaliknya, sikap yang dingin, menutup diri, atau menolak interaksi sosial tanpa alasan yang jelas—apalagi karena merasa lebih tinggi derajatnya—adalah cerminan dari kesombongan yang sangat dibenci oleh syariat. Islam mengajak kita untuk memandang manusia dari sudut pandang kesetaraan di hadapan Sang Pencipta. Oleh karena itu, bagi siapa pun yang mengemban amanah publik, jadikanlah kerendahan hati sebagai pakaian sehari-hari.

Sebagai penutup, peristiwa ini adalah pengingat bagi kita semua untuk selalu menjaga lisan, sikap, dan tindakan dalam ruang publik. Menjadi pemimpin bukan berarti harus selalu terlihat berwibawa melalui kekakuan, melainkan melalui kelembutan yang memikat hati rakyat. Sebab, kepemimpinan yang sesungguhnya adalah kepemimpinan yang mampu menyentuh sisi kemanusiaan, di mana di dalamnya terdapat nilai-nilai kasih sayang dan persaudaraan. Semoga kita semua, terutama para pemimpin di negeri ini, selalu diberikan petunjuk oleh Allah Swt. untuk senantiasa rendah hati, menjaga adab, dan mengedepankan etika dalam setiap langkah pengabdian kepada bangsa dan negara. Wallahu a’lam bish-shawab.


Daftar Pustaka:

  1. Al-Qur’anul Karim, Tafsir QS. Luqman: 18.
  2. Shahih Muslim, Hadis tentang Kesombongan.
  3. Sunan Abu Dawud dan Tirmidzi, Hadis tentang Keutamaan Mushafahah.
  4. Al-Mu’jam al-Kabir, Imam Thabrani, Hadis tentang Menghilangkan Kedengkian dengan Berjabat Tangan.
  5. Adabul ‘Alim wal Muta’allim, KH Hasyim Asy’ari (terkait urgensi adab).
  6. Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali (Bab Etika Berinteraksi dengan Sesama).

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *