0

Gak Mau Gagal Lagi, Revand Narya Pasang Kriteria Berat untuk Pendamping Baru

Share

BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Aktor Revand Narya, yang dikenal luas melalui berbagai peran dalam sinetron dan FTV, kini tengah menikmati fase kesendirian pasca perceraiannya. Alih-alih terburu-buru mencari pengganti dan terjerumus dalam lubang kegagalan yang sama, pria yang belakangan ini rajin menggeluti Brazilian Jujitsu itu memilih untuk fokus pada pengembangan diri dan perbaikan kualitas pribadinya. Keputusan ini diambil bukan tanpa alasan yang kuat. Revand mengakui, pengalaman pahit di masa lalu telah memberinya pelajaran berharga, menjadikannya pribadi yang jauh lebih selektif dan berhati-hati dalam memilih calon pendamping hidup di masa depan. Ia bahkan tak segan mengungkapkan bahwa kriteria yang ia tetapkan kini tergolong "berat", sebuah ungkapan yang menyiratkan keseriusan dan determinasi untuk tidak mengulang kesalahan yang sama.

"Aku nggak mau gagal lagi. Jadi, sekarang kriterianya berat, aku harus milih-milih," ujar Revand dengan nada tegas namun santai, saat ditemui di kawasan Studio TransTV, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, pada hari Minggu, 26 April 2026. Pernyataannya ini mengindikasikan bahwa ia telah belajar dari rentetan pengalaman yang membuatnya lebih bijak dalam menyikapi kehidupan percintaan. Keputusannya untuk tidak terburu-buru ini juga sejalan dengan prinsip "memperbaiki diri" yang ia pegang teguh saat ini. Ia menyadari bahwa kebahagiaan dalam sebuah hubungan tidak hanya datang dari pasangan yang ideal, tetapi juga dari kesiapan diri sendiri untuk menjadi pasangan yang ideal.

Tak main-main, salah satu kriteria spesifik yang ia ungkapkan secara blak-blakan adalah mengenai usia calon pendampingnya kelak. Revand secara terang-terangan menyatakan keinginannya untuk menemukan sosok yang usianya berada di bawah 30 tahun. "Harus di bawah 30, biar lebih muda dari sebelumnya," selorohnya, yang sekaligus menyiratkan refleksi atas dinamika usia dalam hubungannya terdahulu. Pilihan ini bukan sekadar preferensi belaka, melainkan mungkin sebuah pertimbangan matang yang didasari oleh pemahaman akan perbedaan generasi, energi, dan pandangan hidup yang mungkin lebih selaras. Usia yang lebih muda bisa jadi diasosiasikan dengan semangat yang lebih membara, pandangan yang lebih segar, atau kesamaan fase kehidupan yang belum banyak terbebani oleh kompleksitas masa lalu.

Revand juga secara jujur mengakui bahwa sikapnya yang cenderung tertutup dan pendiam di masa lalu menjadi salah satu pemicu keretakan hubungannya. Ia menggambarkan kebiasaan memendam masalah sebagai "bom waktu" yang pada akhirnya meledak dan menghancurkan fondasi hubungan. "Harus bisa saling terbuka sama pasangan, jangan dipendam lah ibaratnya. Kalau dipendam kayak bom waktu yang tiba-tiba meledak. Kalau sudah meledak, nggak bisa diperbaiki lagi," ungkapnya dengan penuh penekanan. Pengakuan ini merupakan bentuk introspeksi diri yang mendalam, menunjukkan kesadarannya akan pentingnya komunikasi yang efektif dan keterbukaan emosional dalam sebuah hubungan. Ia menyadari bahwa keengganannya untuk mengekspresikan perasaan dan masalah dapat menciptakan jurang pemisah yang semakin lebar antara dirinya dan pasangan.

Meskipun saat ini Revand memilih untuk menyendiri, ia tidak menampik bahwa perasaan kesepian terkadang datang menghampiri, terutama ketika ia pulang ke rumah dan tidak disambut oleh kehadiran anak-anak tercinta. Ketika rasa sepi itu mulai menyelimuti, aktor FTV ini memiliki cara unik dan menghibur untuk menyalurkan perasaannya. "Ya nonton drakor, supaya kalau sedih jadi ikut-ikutan nangis," katanya sambil tertawa. Aktivitas ini menjadi semacam pelarian emosional yang sehat baginya, memungkinkannya untuk mengekspresikan kesedihan melalui cerita fiksi tanpa harus larut dalam kesendirian yang nyata. Tawa kecilnya menunjukkan bahwa ia mampu melihat sisi humor dalam situasi yang mungkin terasa berat.

Terkait hubungannya dengan sang mantan istri, Revand memastikan bahwa komunikasi mereka tetap terjaga dengan baik, meskipun fokusnya kini terbatas pada urusan anak dan sekolah. Ia menunjukkan sikap dewasa dengan tetap menjaga hubungan baik demi kebaikan buah hati. Lebih lanjut, ia mengapresiasi mantan istrinya yang tidak membatasi dirinya untuk bertemu dengan anak-anak kapan pun ia mau. "Hak asuh memang sama ibunya, tapi dia tidak melarang. Mau kapan pun mau ketemu anak-anak, boleh. 24 jam boleh," jelasnya dengan nada lega. Sikap saling pengertian ini patut diapresiasi, karena menunjukkan komitmen kedua belah pihak untuk tetap menjadi orang tua yang baik bagi anak-anak mereka, terlepas dari status pernikahan mereka. Fleksibilitas yang diberikan oleh mantan istri menjadi nilai tambah yang sangat berarti bagi Revand.

Untuk saat ini, Revand memilih untuk tidak memaksakan kehendak Tuhan mengenai urusan jodoh. Ia lebih mengutamakan untuk memperkaya diri secara spiritual dan intelektual, serta memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ia miliki agar kelak dapat menjadi pribadi yang lebih baik dan matang. "Planning kadang-kadang nggak sesuai sama nasib. Kita pengennya nikah sekali seumur hidup sampai kakek-nenek, tapi ternyata nasib beda, ya harus bisa menerima keadaan," pungkasnya dengan bijak. Pernyataannya ini mencerminkan penerimaan diri yang mendalam dan keyakinan bahwa setiap perjalanan hidup memiliki rencana tersendiri. Ia tidak lagi terpaku pada ekspektasi masa lalu, melainkan fokus pada proses pengembangan diri yang akan membawanya pada takdir yang lebih baik.

Fokus pada pengembangan diri ini bukan sekadar retorika kosong. Revand Narya secara aktif meluangkan waktu untuk menjalani Brazilian Jujitsu, sebuah disiplin bela diri yang tidak hanya melatih fisik tetapi juga mental. Latihan fisik yang intens dan disiplin yang diterapkan dalam Brazilian Jujitsu dapat membantu membangun ketahanan mental, kesabaran, dan kemampuan untuk mengatasi tantangan. Hal ini sejalan dengan keinginannya untuk menjadi pribadi yang lebih kuat dan siap menghadapi berbagai situasi dalam hidup, termasuk dalam urusan percintaan. Ia memahami bahwa menjadi pribadi yang utuh dan kuat adalah pondasi penting untuk membangun hubungan yang sehat dan langgeng.

Selain aspek fisik dan mental, Revand juga tampaknya tengah dalam proses memperbaiki pola komunikasinya. Pengakuannya mengenai pentingnya keterbukaan dan bahaya memendam masalah menunjukkan bahwa ia telah mengidentifikasi area kelemahan dalam dirinya. Ini adalah langkah krusial menuju perubahan positif. Kemampuannya untuk mengakui kesalahan di masa lalu adalah tanda kedewasaan dan kesiapan untuk belajar. Dengan memprioritaskan komunikasi yang jujur dan terbuka, Revand berupaya menciptakan ruang bagi pemahaman dan empati dalam setiap interaksi, yang kelak akan sangat berguna dalam membangun hubungan yang kokoh.

Dalam konteks kriteria usia, yaitu di bawah 30 tahun, Revand mungkin melihat adanya potensi kesamaan visi dan misi dengan pasangan yang lebih muda. Pandangan hidup yang masih berkembang, energi yang melimpah, dan kesediaan untuk belajar bersama bisa menjadi daya tarik tersendiri. Namun, ia juga sadar bahwa usia bukanlah satu-satunya penentu kesuksesan sebuah hubungan. Kematangan emosional, kesamaan nilai, dan kecocokan karakter tetap menjadi faktor utama. Oleh karena itu, kriterianya yang "berat" mungkin mencakup kombinasi antara usia, kematangan emosional, dan keselarasan nilai-nilai kehidupan.

Kebiasaan menonton drama Korea (drakor) sebagai cara mengatasi kesepian juga menunjukkan sisi humanis Revand. Ini adalah cara yang sehat dan kreatif untuk mengekspresikan emosi, dan ia tidak malu untuk mengakuinya. Hal ini juga bisa diartikan sebagai kesadarannya akan pentingnya merawat kesehatan mentalnya di tengah fase transisi kehidupannya. Dengan membiarkan dirinya merasakan emosi yang diwakili dalam cerita, ia secara tidak langsung memproses perasaannya sendiri dan mempersiapkan diri untuk kembali berinteraksi dengan dunia luar dengan kondisi emosional yang lebih stabil.

Pentingnya komunikasi yang baik dengan mantan istri, terutama demi anak-anak, patut diacungi jempol. Sikap ini menunjukkan bahwa Revand adalah sosok ayah yang bertanggung jawab dan peduli. Hubungan yang harmonis antara orang tua, meskipun tidak lagi bersama, akan memberikan dampak positif yang signifikan bagi perkembangan psikologis anak. Fleksibilitas yang diberikan oleh mantan istri dalam hal bertemu anak-anak adalah bukti kedewasaan kedua belah pihak dan komitmen mereka untuk selalu menempatkan kepentingan anak di atas segalanya.

Keputusan Revand untuk tidak memaksakan kehendak Tuhan soal jodoh adalah bentuk penyerahan diri yang bijaksana. Ia menyadari bahwa hidup seringkali berjalan di luar rencana manusia. Daripada terus-menerus merasa kecewa ketika ekspektasi tidak terpenuhi, lebih baik fokus pada proses dan menerima setiap alur kehidupan dengan lapang dada. Hal ini juga menunjukkan bahwa ia tidak putus asa, melainkan tetap optimis menanti takdir yang terbaik baginya. Ia percaya bahwa dengan terus memperbaiki diri dan tetap membuka hati, jodoh yang tepat pada akhirnya akan datang pada waktu yang paling indah.

Dengan segala refleksi dan pembelajaran yang telah ia dapatkan, Revand Narya kini berada dalam posisi yang lebih kuat untuk membangun masa depan yang lebih baik. Kriteria "berat" yang ia tetapkan bukanlah sebuah tembok penghalang, melainkan sebuah peta jalan yang akan membimbingnya menuju hubungan yang lebih sehat, harmonis, dan langgeng. Fokusnya pada pengembangan diri, komunikasi yang terbuka, dan penerimaan terhadap takdir menunjukkan bahwa ia telah siap untuk babak baru dalam kehidupannya, di mana ia dapat menemukan kebahagiaan yang sejati, baik dalam kesendirian maupun dalam sebuah hubungan. Kesabaran, introspeksi, dan kemauan untuk berubah adalah kunci yang ia pegang teguh, dan ini adalah bekal yang sangat berharga untuk perjalanan cintanya di masa depan.