0

Film Tanah Runtuh: Refleksi Jusuf Kalla atas Rekonsiliasi dan Pelajaran Berharga Pasca-Konflik

Share

BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Denny Siregar Production baru-baru ini menggelar sebuah acara screening khusus yang sarat makna untuk film terbaru mereka, "Tanah Runtuh". Acara nonton bareng (nobar) ini bukan sekadar pemutaran film biasa, melainkan sebuah momen spesial yang dihadiri langsung oleh mantan Wakil Presiden Republik Indonesia, Jusuf Kalla (JK), beserta jajaran pemuka agama yang merepresentasikan keberagaman iman di Indonesia. Pemilihan Jusuf Kalla sebagai tamu kehormatan bukanlah kebetulan semata. Beliau adalah salah satu tokoh sentral yang dihormati atas kontribusinya yang tak ternilai dalam upaya mendamaikan konflik bernuansa agama yang pernah mengguncang Tanah Runtuh, Poso, Sulawesi Tengah, di masa lalu. Kehadiran beliau memberikan bobot dan nuansa historis yang mendalam pada pemutaran film ini, menjadikannya sebuah forum refleksi yang kuat.

Film "Tanah Runtuh" sendiri secara apik mengangkat latar belakang konflik agama yang pernah melanda wilayah Poso. Alur cerita film ini memfokuskan pada kisah menyentuh hati dari dua kakak beradik, Kai yang diperankan oleh Yoan, dan Ringgo yang diperankan oleh Ridho Khaliq, seorang anak dengan kondisi Down Syndrome. Keduanya terpisah dari sosok ibu mereka di tengah gejolak dan kekacauan konflik yang sedang berkecamuk. Dalam perjuangan mereka untuk bertahan hidup, takdir mempertemukan mereka dengan Idham, seorang anggota kepolisian yang gagah berani, diperankan oleh aktor papan atas Vino G Bastian. Kehadiran Idham dalam narasi ini memberikan elemen penyelamatan dan harapan di tengah situasi yang penuh ketidakpastian.

Setelah lampu bioskop Metropole XXI di Jakarta Pusat menyala kembali pada Jumat (19/6/2026), Jusuf Kalla tak ragu untuk langsung memberikan apresiasi atas karya sinematik ini. Dengan nada yang tulus, beliau menyampaikan pandangannya, "Bagus sebagai film. Film itu menceritakan kelompok dengan latar belakang Poso." Pernyataan singkat ini mencerminkan pengakuan atas kualitas artistik dan naratif film tersebut, sekaligus menyoroti relevansi temanya dengan peristiwa sejarah yang pernah terjadi. Namun, di balik pujian tersebut, Jusuf Kalla juga menyampaikan sebuah pengingat penting yang bersifat krusial. Beliau menekankan bahwa pekerjaan rumah yang sesungguhnya bagi bangsa ini adalah bagaimana menjaga kehidupan masyarakat pasca-konflik agar dapat berjalan dengan jauh lebih baik dan harmonis.

Lebih lanjut, Jusuf Kalla mengungkapkan harapannya agar film "Tanah Runtuh" tidak hanya berhenti sebagai sebuah tontonan semata, tetapi mampu bertransformasi menjadi sebuah tuntunan yang berharga. "Ya, menjadi pembelajaran. Perlunya selalu tetap memperhatikan kehidupan sosial yang baik, antargenerasi, dan juga saling percaya," tuturnya, menggarisbawahi pentingnya kesinambungan hubungan sosial yang sehat dan rasa saling percaya antar sesama warga negara. Pesan ini sangat relevan mengingat kompleksitas dinamika sosial dan keberagaman yang dimiliki Indonesia.

Ketika ditanya mengenai sejauh mana pesan toleransi yang dihadirkan dalam film "Tanah Runtuh" masih terasa relevan dengan kondisi Indonesia saat ini, Jusuf Kalla memberikan jawaban yang tegas dan penuh makna, sebuah pernyataan yang bisa dibilang "menohok" namun sangat dibutuhkan. "Jangan terjadi (lagi)," katanya. Jawaban singkat ini menyiratkan sebuah harapan yang kuat sekaligus sebuah peringatan keras agar peristiwa kelam di Poso tidak terulang kembali di masa depan. Ini adalah seruan untuk menjaga kedamaian dan harmoni, sebuah pengingat bahwa luka lama harus menjadi pelajaran berharga agar tidak tergores kembali.

Denny Siregar Production, sebagai rumah produksi yang bertanggung jawab atas lahirnya film "Tanah Runtuh", menegaskan bahwa penyelenggaraan screening dan nobar ini merupakan bagian integral dari komitmen mereka. Mereka memandang sinema sebagai salah satu alat yang paling efektif untuk menjadi "lem perekat" bagi harmonisasi umat beragama di Indonesia. Dengan mengundang dan menggandeng para tokoh lintas agama yang memiliki rekam jejak historis dalam perjuangan rekonsiliasi di Poso, film "Tanah Runtuh" diharapkan dapat berperan sebagai agen perubahan (agent of change) yang mampu menginspirasi dan memotivasi masyarakat luas.

Denny Siregar sendiri menambahkan, "Pesan kemanusiaan, dialog, dan toleransi di dalamnya diharapkan mampu mengetuk hati lebih banyak orang." Pernyataan ini menyoroti nilai-nilai universal yang diusung oleh film ini, yang melampaui sekadar cerita fiksi, melainkan menyentuh aspek fundamental kemanusiaan dan interaksi sosial yang positif. Harapannya adalah agar film ini dapat menyentuh relung hati penonton, mendorong empati, dan memicu refleksi mendalam tentang pentingnya hidup berdampingan dalam damai dan saling menghargai.

Film "Tanah Runtuh" dijadwalkan akan tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai tanggal 25 Juni 2026. Selain penampilan memukau dari Vino G Bastian yang memerankan Idham, film ini juga didukung oleh para aktor berbakat lainnya seperti Yoan sebagai Kai, Ridho Khaliq sebagai Ringgo, Sigi Wimala, Jenda Munthe, Tike Priatmakusumah, Sari Koeswoyo, dan masih banyak lagi. Keberagaman pemain ini diharapkan dapat menambah kekayaan narasi dan daya tarik film, serta mampu menjangkau audiens yang lebih luas.

Lebih jauh, relevansi "Tanah Runtuh" dengan konteks Indonesia saat ini tidak dapat disangkal. Indonesia, dengan segala keragaman suku, agama, ras, dan antargolongan, senantiasa dihadapkan pada tantangan menjaga persatuan dan kesatuan. Konflik Poso yang pernah terjadi adalah sebuah luka sejarah yang harus terus diingat sebagai pengingat akan kerapuhan kedamaian dan pentingnya upaya rekonsiliasi yang berkelanjutan. Film ini, dengan mengangkat kisah yang berakar dari peristiwa nyata tersebut, menawarkan sebuah perspektif yang kuat tentang bagaimana konflik dapat memengaruhi individu, keluarga, dan komunitas. Namun, film ini juga menawarkan secercah harapan melalui kisah ketahanan, cinta kasih, dan perjuangan untuk menemukan kembali keutuhan keluarga dan kedamaian.

Kehadiran Jusuf Kalla dalam acara screening ini bukan hanya simbol penghormatan terhadap perannya di masa lalu, tetapi juga merupakan penegasan bahwa isu rekonsiliasi dan kerukunan beragama adalah topik yang sangat penting dan senantiasa relevan untuk dibicarakan. Pengalamannya yang mendalam dalam menangani dan menyelesaikan konflik di Poso memberikan otoritas moral tersendiri bagi pandangannya terhadap film ini. Ketika beliau mengatakan "Jangan terjadi (lagi)", itu adalah sebuah peringatan yang datang dari seorang negarawan yang telah melihat langsung dampak buruk dari perpecahan.

Bagi Denny Siregar Production, "Tanah Runtuh" lebih dari sekadar sebuah produk hiburan. Film ini merupakan sebuah pernyataan sikap, sebuah upaya artistik untuk berkontribusi pada pembangunan sosial dan budaya bangsa. Melalui medium film, mereka berupaya untuk membuka dialog, menumbuhkan pemahaman, dan memperkuat rasa saling percaya di antara berbagai elemen masyarakat. Dalam sebuah negara yang majemuk seperti Indonesia, upaya-upaya semacam ini sangatlah krusial untuk menjaga keharmonisan dan mencegah polarisasi yang dapat mengancam keutuhan bangsa.

Kisah dua bersaudara yang terpisah, perjuangan mereka untuk bertahan hidup, dan pertemuan mereka dengan sosok polisi yang berhati mulia, adalah narasi universal tentang harapan, ketahanan, dan kemanusiaan yang melampaui batas-batas perbedaan. Film ini berpotensi untuk menyentuh hati penonton dari berbagai latar belakang, mengingatkan kita pada nilai-nilai dasar yang menyatukan kita sebagai manusia. Kehadiran karakter Ringgo, seorang anak dengan Down Syndrome, juga memberikan dimensi tambahan yang menyentuh, menyoroti kerentanan dan kekuatan yang dimiliki oleh setiap individu, terlepas dari kondisi fisik atau mental mereka.

Secara keseluruhan, "Tanah Runtuh" hadir sebagai sebuah karya sinematik yang tidak hanya menghibur, tetapi juga sarat dengan pesan moral dan sosial. Dengan dukungan dari tokoh-tokoh berpengaruh seperti Jusuf Kalla dan para pemuka agama, serta diproduksi oleh rumah produksi yang memiliki visi kuat, film ini memiliki potensi besar untuk menjadi pengingat berharga tentang pentingnya menjaga kedamaian, merawat kerukunan, dan belajar dari sejarah agar tidak mengulangi kesalahan yang sama. Harapan besar tertuju pada film ini untuk dapat menginspirasi, mendidik, dan mengetuk hati masyarakat Indonesia agar terus memperjuangkan nilai-nilai toleransi dan kemanusiaan dalam kehidupan sehari-hari.