BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Aktor kenamaan Ferry Maryadi telah menjelma menjadi salah satu figur publik yang tak ragu membagikan sisi personalnya, termasuk hobinya yang unik saat berlibur ke Jepang. Pengalaman berburu barang thrift atau barang bekas di Negeri Sakura bukan sekadar tren sesaat baginya, melainkan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari petualangan wisatanya. Jepang, dengan segala keunikannya, menawarkan surga tersembunyi bagi para pencari barang vintage dan berkualitas, mulai dari pakaian yang memancarkan gaya klasik hingga perlengkapan esensial untuk menunjang aktivitas sehari-hari. Ferry tak sungkan mengakui bahwa negara ini adalah destinasi favoritnya dalam mencari harta karun terpendam dari lemari-lemari yang telah teruji waktu. Kebiasaan membeli barang bekas ini, yang mungkin masih memiliki stigma tertentu di sebagian kalangan, justru ia jalani dengan penuh keyakinan dan kesenangan, terutama ketika kakinya menjejakkan diri di tanah Jepang.
“Suka. Waktu liburan Alhamdulillah tahun lalu ke Jepang, anak-anak belanja di sana. Kok ada malnya juga, jadi belanjanya ya lebih sering baju sih, untuk kerja, buat motoran,” ujar Ferry Maryadi dengan antusias saat ditemui di Studio Trans 7, Mampang, Jakarta Selatan, belum lama ini. Pengakuan ini membuka tabir tentang bagaimana Ferry melihat nilai lebih pada barang thrift, bukan hanya sebagai barang murah, tetapi sebagai pilihan cerdas yang memiliki fungsi dan gaya tersendiri. Ia melihat bahwa di Jepang, konsep thrifting telah berkembang jauh melampaui sekadar mengais barang bekas; ini adalah tentang menemukan keunikan, kualitas, dan cerita di balik setiap item. Pilihan Ferry untuk berbelanja pakaian, baik untuk keperluan profesionalnya di dunia hiburan maupun untuk aktivitas santainya seperti berkendara motor, menunjukkan fleksibilitas dan pragmatisme dalam berburu barang thrift. Ia tidak terpaku pada satu jenis barang, melainkan terbuka untuk berbagai macam temuan yang bisa memperkaya koleksi pribadinya.
Lebih lanjut, Ferry Maryadi tak hanya menyoroti aspek pilihan barang yang beragam, tetapi juga sisi ekonomi yang menarik dari produk thrift di Jepang. Ia mengungkapkan bahwa harga barang bekas di sana seringkali jauh lebih menggiurkan dibandingkan dengan yang ia temukan di Indonesia. Kunci dari penawaran harga yang lebih miring ini, menurutnya, terletak pada kemampuan pembeli untuk bernegosiasi dengan lihai. “Kalau dibanding di Indonesia harganya… kalau harga pas di Jepang sih memang iya harganya segitu. Kalau pintar nawar paling bisa ya misal seharga Rp 100 ribu di Jepangnya bisa jadi Rp 40 ribu, Rp 30 ribu,” jelasnya, memberikan gambaran konkret tentang potensi penghematan yang bisa didapatkan. Hal ini menunjukkan bahwa thrifting di Jepang bukan hanya tentang menemukan barang unik, tetapi juga tentang kecerdasan finansial dan kemampuan tawar-menawar yang baik. Pengalaman Ferry ini bisa menjadi inspirasi bagi para pecinta barang bekas di Indonesia untuk lebih berani menjelajahi pasar thrift internasional, terutama jika memiliki kesempatan untuk berkunjung ke Jepang.
Namun, di balik daya tarik harga dan keunikan barang, ada satu alasan mendasar yang membuat Ferry Maryadi begitu yakin dan nyaman berbelanja barang thrift di Jepang. Alasan ini bersifat fundamental dan menyentuh inti dari kekhawatiran banyak konsumen barang bekas: keaslian barang. “Kalau kenapa kita yakin soalnya kan barang palsu dilarang. Jadi kalau beli barang kita yakin karena memang kalau di sana nggak ada barang palsu. Di sana barang asli pasti mahal,” tegas Ferry. Penekanan pada penolakan keras terhadap peredaran barang palsu di Jepang menjadi faktor penentu kepercayaan dirinya. Sistem regulasi yang ketat dan kesadaran masyarakat yang tinggi terhadap keaslian produk menciptakan lingkungan belanja yang aman dan nyaman. Pembeli dapat beristirahat dengan tenang, mengetahui bahwa barang yang mereka beli adalah asli, meskipun bekas. Di Jepang, keaslian adalah prioritas, dan ini tercermin dalam harga barang-barang bermerek yang bahkan dalam kondisi bekas pun tetap memiliki nilai jual yang tinggi.
Pengalaman Ferry Maryadi ini tidak hanya sebatas menemukan barang bekas yang unik atau terjangkau, tetapi juga tentang bagaimana ia menemukan fungsi spesifik dari barang-barang tersebut yang mungkin tidak ia temukan di tempat lain. Suami dari aktris Deswita Maharani ini memberikan contoh konkret mengenai celana khusus yang ia beli untuk kebutuhan berkendara motor. “Brand-nya biasanya kayak celana jeans ada satu brand tersendiri. Kalau buat motoran pakai brand ini, karena bukan kayak jeans biasa. Kalau jeans biasa kena hujan kan berat, nah kalau brand ini kena hujan nggak terlalu berat, jadi enak,” terangnya. Ini menunjukkan bahwa barang thrift yang ia temukan seringkali memiliki keunggulan fungsional yang disesuaikan dengan kebutuhan penggunanya. Celana thrift yang ia sebutkan, misalnya, memiliki kemampuan yang lebih baik dalam menghadapi kondisi cuaca hujan dibandingkan dengan celana jeans biasa. Sifatnya yang tidak mudah menyerap air dan bobotnya yang tetap ringan meskipun basah menjadikannya pilihan ideal bagi para pengendara motor.
Lebih jauh lagi, Ferry Maryadi melihat bahwa tren thrifting di Jepang tidak hanya sebatas membeli pakaian jadi, tetapi juga sebagai cara untuk mengapresiasi kualitas dan daya tahan produk. Ia menemukan bahwa banyak barang thrift di Jepang, terutama yang berasal dari merek-merek terkemuka, masih memiliki kualitas prima meskipun telah digunakan. Ini adalah bukti nyata dari prinsip keberlanjutan dan kualitas yang dijunjung tinggi di Jepang. Barang-barang ini seringkali dibuat dengan material yang tahan lama dan pengerjaan yang teliti, sehingga meskipun telah melewati beberapa tangan, performa dan estetikanya tetap terjaga. Ferry, sebagai seorang figur publik yang seringkali membutuhkan penampilan yang prima, justru menemukan solusi yang lebih cerdas dan bernilai melalui thrifting. Ia tidak hanya berinvestasi pada pakaian, tetapi juga pada kualitas dan fungsi yang teruji.
Fenomena thrifting di Jepang, seperti yang dijelaskan oleh Ferry Maryadi, membuka perspektif baru tentang bagaimana kita memandang barang bekas. Ini bukan lagi sekadar tumpukan barang tak terpakai, melainkan potensi harta karun yang menunggu untuk ditemukan. Keinginan Ferry untuk berburu barang thrift di Jepang juga mencerminkan tren global yang semakin mengarah pada konsumsi yang lebih sadar lingkungan dan berkelanjutan. Dengan membeli barang bekas, kita turut mengurangi limbah tekstil dan memberikan kesempatan kedua bagi barang-barang yang masih layak pakai untuk kembali beredar di pasaran.
Lebih dalam lagi, pengalaman Ferry Maryadi ini bisa menjadi pelajaran berharga bagi para pelaku industri fashion dan konsumen di Indonesia. Ini menunjukkan bahwa ada pasar yang signifikan untuk barang-barang berkualitas, unik, dan terjangkau, asalkan ditawarkan dalam lingkungan yang terpercaya dan transparan. Jepang, dengan sistem pengawasan barang palsu yang ketat, menjadi contoh bagaimana menciptakan kepercayaan konsumen dalam industri thrifting. Hal ini bisa mendorong adanya inovasi dalam cara pengelolaan barang bekas di Indonesia, misalnya melalui platform online yang lebih terkurasi, toko fisik yang lebih modern, atau bahkan program sertifikasi keaslian barang.
Kepercayaan diri Ferry dalam bertransaksi barang thrift di Jepang juga dapat diartikan sebagai sebuah bentuk apresiasi terhadap nilai sebenarnya dari sebuah produk. Ia tidak hanya terpaku pada merek atau harga baru, tetapi pada kualitas material, desain, dan fungsionalitas yang ditawarkan. Ini adalah pendekatan yang lebih bijak dan mendalam dalam berbelanja, yang tidak hanya memuaskan keinginan sesaat, tetapi juga memberikan nilai jangka panjang.
Dalam konteks sosial, hobi Ferry Maryadi ini juga dapat menginspirasi banyak orang untuk berpikir ulang tentang konsumerisme. Ia menunjukkan bahwa kita bisa tampil gaya dan memenuhi kebutuhan tanpa harus selalu membeli barang baru dengan harga selangit. Thrifting membuka pintu untuk kreativitas dalam memadupadankan berbagai item vintage dan modern, menciptakan gaya personal yang unik dan autentik.
Terakhir, keberanian Ferry Maryadi untuk berbagi pengalamannya ini diharapkan dapat memecah stigma negatif yang mungkin masih melekat pada thrifting di sebagian kalangan masyarakat Indonesia. Ia membuktikan bahwa berburu barang bekas adalah kegiatan yang cerdas, menguntungkan, dan, yang terpenting, memberikan rasa aman dan keyakinan berkat aturan ketat yang berlaku di Jepang mengenai keaslian barang. Dengan demikian, ia tidak hanya memperkaya koleksi pribadinya, tetapi juga turut menyebarkan kesadaran akan potensi luar biasa dari dunia thrifting.

