0

Ferry Maryadi Masuk UGD karena Vertigo, Dokter Tak Sarankan Berkendara Jauh

Share

BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Aktor dan presenter ternama, Ferry Maryadi, tak luput dari pengalaman pahit ketika berhadapan dengan serangan vertigo yang parah. Kondisi kesehatan yang mendadak ini bahkan sempat membuatnya terkapar dan harus segera dilarikan ke Unit Gawat Darurat (UGD) untuk mendapatkan penanganan medis intensif. Pengalaman ini, yang terjadi beberapa tahun lalu, menjadi pengingat penting bagi Ferry akan kerentanan tubuhnya terhadap gangguan vertigo.

"Wah… iya, jatuh. Sampai ke UGD saya juga pernah itu," ungkap Ferry Maryadi dengan nada yang masih menyimpan sedikit kegetiran saat ditemui di Studio Trans7, Warung Buncit, Jakarta Selatan, pada Jumat, 29 Mei 2026. Peristiwa dramatis ini ia ceritakan terjadi sekitar dua hingga tiga tahun lalu, sebuah periode yang cukup menguras tenaga dan mental baginya. Ia merinci lebih lanjut, "Kalau vertigo itu sekitar 2 tahun lalu, 2 apa 3 tahun lalu masuk UGD saya itu."

Ferry kemudian memaparkan pemahaman medis yang ia dapatkan dari para dokter mengenai penyebab vertigo. Menurut penjelasannya, vertigo dapat dipicu oleh berbagai faktor, baik yang berasal dari gangguan pada organ pendengaran maupun masalah pada otak. "Kalau vertigo itu penyebabnya yang saya tahu itu ada dari kuping sama dari otak. Ketidakseimbangan, saya dari kuping," tuturnya, mengindikasikan bahwa akar masalah pada dirinya lebih condong berasal dari telinga. Ketidakseimbangan ini dapat menimbulkan sensasi berputar yang luar biasa, membuat penderitanya merasa seolah-olah lingkungan di sekitarnya bergerak atau berputar, padahal sebenarnya tidak.

Implikasi dari kondisi medis yang dialaminya ini membawa konsekuensi langsung terhadap aktivitas sehari-hari Ferry, terutama yang berkaitan dengan mobilitas. Dokter secara tegas memberikan peringatan khusus kepadanya mengenai keharusan untuk membatasi aktivitas berkendara, terutama untuk perjalanan jarak jauh. "Dokter saya bilang pokoknya, benernya dokter tuh sudah tidak menyarankan saya berkendara lagi secara jauh," tegas Ferry. Peringatan ini tentu saja menjadi pukulan berat bagi Ferry, mengingat hobinya yang sangat melekat dengan dunia otomotif, khususnya touring menggunakan motor besar. Gairah untuk menjelajahi berbagai tempat dengan mengendarai motor adalah bagian tak terpisahkan dari gaya hidupnya.

Namun, Ferry Maryadi bukanlah tipe orang yang mudah menyerah pada keadaan. Meskipun mendapat larangan keras dari segi medis, ia tetap berusaha mencari solusi agar hasratnya untuk melakukan perjalanan jauh tetap bisa terpenuhi. Upaya adaptasi ini menuntutnya untuk selalu mempersiapkan diri secara matang. "Cuma saya bilang gimana caranya saya bisa berkendara secara jauh, ya harus ngantongin obat," lanjutnya, menunjukkan kesiapannya untuk selalu membawa persediaan obat-obatan yang diresepkan oleh dokter. Dengan demikian, ia berharap dapat mengendalikan gejala vertigo jika sewaktu-waktu kambuh saat dalam perjalanan. Obat-obatan ini berfungsi sebagai penolong pertama untuk meredakan sensasi pusing dan mual yang menyertai serangan vertigo.

Kekhawatiran tentu saja menyelimuti sang istri, Deswita Maharani, ketika pertama kali mengetahui kondisi suaminya yang cukup serius. Awalnya, Deswita memberikan larangan tegas agar Ferry tidak lagi melakukan aktivitas yang berisiko, termasuk perjalanan jauh. "Saat itu sih dilarang, ya," kenang Ferry. Namun, seiring berjalannya waktu dan melihat bagaimana Ferry beradaptasi serta berusaha menjaga kesehatannya dengan baik, larangan tersebut perlahan mulai melunak. Deswita mulai memahami dan menerima bahwa suaminya memiliki cara tersendiri untuk tetap menikmati hidup sambil tetap waspada terhadap kondisinya. "Lama-lama udah ya udahlah di… happy aja," pungkas Ferry, menyiratkan adanya penerimaan dan dukungan dari sang istri terhadap pilihannya.

Kisah Ferry Maryadi ini memberikan edukasi penting bagi masyarakat mengenai vertigo, sebuah kondisi yang seringkali diremehkan namun dapat berdampak signifikan pada kualitas hidup. Vertigo bukanlah sekadar pusing biasa, melainkan sebuah gangguan keseimbangan yang dapat disebabkan oleh masalah pada telinga bagian dalam (seperti BPPV, labirinitis, atau penyakit Meniere) atau masalah pada otak (seperti stroke, tumor, atau migrain vestibular). Gejalanya meliputi sensasi berputar, mual, muntah, keringat dingin, nistagmus (gerakan bola mata yang tidak terkontrol), dan gangguan keseimbangan yang dapat menyebabkan jatuh.

Bagi penderita vertigo, penting untuk mengenali pemicu serangan mereka. Pemicu umum meliputi perubahan posisi kepala yang mendadak, gerakan kepala yang cepat, stres, kelelahan, kurang tidur, konsumsi kafein atau alkohol, dan bahkan kondisi pencahayaan tertentu. Memahami pemicu ini dapat membantu penderita vertigo untuk mengambil langkah pencegahan.

Dalam kasus Ferry, penjelasan dokter mengenai gangguan dari telinga menjadi kunci pemahaman kondisinya. Gangguan pada telinga bagian dalam, yang berperan penting dalam menjaga keseimbangan tubuh, dapat menyebabkan sinyal yang tidak akurat dikirimkan ke otak, sehingga menimbulkan sensasi berputar. Terapi fisik, seperti manuver Epley untuk BPPV, seringkali efektif dalam mengembalikan kristal kalsium yang lepas di telinga bagian dalam ke posisinya semula.

Selain pengobatan medis, perubahan gaya hidup juga memegang peranan krusial dalam mengelola vertigo. Hal ini meliputi:

  • Pola Makan Sehat: Menghindari makanan atau minuman yang dapat memicu vertigo, seperti kafein, alkohol, dan makanan tinggi garam.
  • Istirahat Cukup: Memastikan tubuh mendapatkan tidur yang berkualitas dan cukup setiap malam.
  • Manajemen Stres: Mengembangkan teknik relaksasi seperti meditasi, yoga, atau pernapasan dalam untuk mengurangi tingkat stres.
  • Hidrasi: Meminum air yang cukup untuk mencegah dehidrasi, yang dapat memperburuk gejala.
  • Hindari Gerakan Mendadak: Melakukan gerakan kepala dan tubuh secara perlahan dan hati-hati.
  • Penggunaan Obat Jauh: Seperti yang dilakukan Ferry, selalu membawa obat yang diresepkan dokter untuk antisipasi serangan mendadak.

Larangan berkendara jarak jauh oleh dokter bukanlah tanpa alasan. Sensasi berputar yang tiba-tiba dapat menyebabkan hilangnya orientasi spasial, reaksi yang lambat, dan kesulitan mengendalikan kendaraan, yang semuanya sangat berbahaya di jalan raya. Potensi kecelakaan yang diakibatkannya bisa fatal, baik bagi penderita itu sendiri maupun pengguna jalan lainnya. Oleh karena itu, kepatuhan terhadap saran medis ini sangatlah penting.

Meskipun tantangan yang dihadapi Ferry Maryadi dalam mengelola vertigo cukup berat, terutama bagi seseorang yang memiliki hobi aktif seperti touring, semangatnya untuk tetap menjalani hidup dengan bahagia dan beradaptasi patut diapresiasi. Kisahnya menjadi inspirasi bahwa dengan kesadaran diri, penanganan medis yang tepat, dan dukungan orang terdekat, penderita vertigo dapat menemukan cara untuk tetap menjalani kehidupan yang berkualitas, meskipun dengan beberapa penyesuaian penting. Komunikasi terbuka dengan dokter, serta kemauan untuk mengikuti saran medis, adalah kunci utama dalam perjalanan pemulihan dan pengelolaan kondisi kronis seperti vertigo. Pengalaman Ferry menegaskan pentingnya tidak mengabaikan sinyal tubuh dan segera mencari bantuan profesional ketika mengalami gejala yang mengkhawatirkan.