Wed 2 Sep 2026 International edition

Ulasan Gadgets dan Teknologi Terkini

Rifaiyah

AMRI Purbalingga Dibentuk, Gus Ketum Tekankan Pentingnya Merawat “Jimat” Rifa’iyah

Pengurus Pusat (PP) AMRI terus menunjukkan komitmen nyata dalam memperluas jangkauan organisasi serta memperkokoh konsolidasi warga Rifa’iyah di berbagai penjuru daerah. Langkah strategis ini kembali diwujudkan melalui kegiatan silaturahim akbar sekaligus Musyawarah Daerah (MUSDA) yang digelar di Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, pada Selasa, 1 September 2026. Pertemuan yang sarat akan nilai kekeluargaan ini menjadi momentum bersejarah bagi warga Rifa’iyah setempat dengan dibentuknya kepengurusan Pimpinan Daerah (PD) AMRI Kabupaten Purbalingga.

Acara yang berlangsung khidmat tersebut bertempat di kediaman Ustadz Dudung Mujtahidun, seorang tokoh kiai lokal yang disegani di Desa Langgar, Kecamatan Kejobong, Purbalingga. Pemilihan lokasi ini bukan sekadar rutinitas administratif, melainkan bagian dari misi besar PP AMRI dalam menjalankan visi "2029 AMRI Go Nasional". Visi ini menargetkan penguatan struktur organisasi yang lebih masif, penataan jejaring kader yang lebih solid, serta pemetaan eksistensi warga Rifa’iyah di seluruh pelosok tanah air.

Dalam keterangannya, Ustadz Dudung Mujtahidun mengungkapkan bahwa komunitas Rifa’iyah di Kabupaten Purbalingga merupakan manifestasi dari keberagaman yang harmonis. Warga yang tergabung dalam komunitas ini memiliki latar belakang geografis yang heterogen, mulai dari pendatang asal Kroya, Indramayu, Banjarnegara, hingga Batang. Keberagaman ini justru menjadi modal sosial yang kuat bagi AMRI untuk membangun organisasi yang inklusif dan mampu merangkul seluruh elemen warga Rifa’iyah tanpa terkecuali.

Prosesi acara diawali dengan pembacaan tawasul dan doa bersama yang dipimpin oleh para tokoh agama setempat. Lantunan doa ini ditujukan khusus kepada para masyayikh Rifa’iyah yang telah berjasa menanamkan nilai-nilai keislaman dan kemanusiaan, serta mendoakan keselamatan bagi seluruh masyarakat di Desa Langgar dan sekitarnya. Suasana spiritual yang kental menyelimuti pertemuan tersebut, memberikan pesan bahwa setiap langkah organisasi harus selalu berlandaskan pada keberkahan dan doa dari para pendahulu.

Ketua Umum PP AMRI, Abdul Kholiq Syafi’i, M.Pd., AH., atau yang akrab disapa Gus Ketum, hadir secara langsung untuk memberikan arahan dan motivasi bagi para kader. Dalam sambutannya, beliau menegaskan bahwa penelusuran jejak dzuriyah Rifa’iyah bukan sekadar kegiatan administratif atau pendataan biasa. Bagi Gus Ketum, ini adalah upaya sakral untuk menyambung kembali tali persaudaraan yang mungkin sempat merenggang akibat jarak geografis. Terutama di kawasan eks Karesidenan Banyumas, konsolidasi ini menjadi sangat krusial untuk memastikan nilai-nilai ajaran Rifa’iyah tetap terjaga dan diamalkan oleh generasi muda.

Puncak dari pesan Gus Ketum terletak pada pengingat mengenai dua "jimat" atau aset spiritual dan sosial yang mutlak harus dijaga oleh setiap warga Rifa’iyah. "Jimat" pertama adalah Kitab Tarajumah karya Syaikhina KH. Ahmad Rifa’i. Kitab ini merupakan mahakarya yang menjadi fondasi keilmuan dan pegangan hidup warga Rifa’iyah. Tanpa mengkaji dan memahami isi kitab ini, identitas sebagai warga Rifa’iyah akan kehilangan ruhnya. Sementara "jimat" kedua adalah seduluran atau semangat persaudaraan yang erat. Keduanya harus berjalan beriringan; ilmu yang luas tanpa rasa persaudaraan akan melahirkan kesombongan, sedangkan persaudaraan tanpa ilmu akan kehilangan arah.

Dalam bahasa Jawa yang lugas dan penuh ketegasan, Gus Ketum berpesan: "Dadi wong Rifa’iyah kuwi kudu nguri-nguri jimat peninggalane wong tuo kito biyen, yo iku ngaji kitab Tarajumah lan nglestariake seduluran warga Rifa’iyah." Pesan ini disambut dengan anggukan mantap dari para hadirin. Kalimat tersebut menjadi pengingat bahwa keberlangsungan organisasi Rifa’iyah sangat bergantung pada seberapa kuat generasi sekarang memegang teguh warisan keilmuan dan menjaga keutuhan ukhuwah di antara sesama.

AMRI Purbalingga Dibentuk, Gus Ketum Tekankan Pentingnya Merawat “Jimat” Rifa’iyah

Sebanyak 67 jemaah hadir memenuhi lokasi acara. Mereka datang dari berbagai wilayah, mencakup warga Rifa’iyah dari Purbalingga, Kalibening Banjarnegara, hingga Banyumas. Tingginya antusiasme jemaah yang hadir dari lintas kabupaten ini membuktikan bahwa jejaring persaudaraan Rifa’iyah masih sangat aktif dan memiliki ikatan batin yang kuat. Silaturahim ini menjadi ruang bagi mereka untuk saling bertukar pikiran, berbagi pengalaman, serta merajut rencana masa depan terkait pengembangan dakwah di wilayah masing-masing.

Beberapa tokoh penting turut mendampingi kehadiran Gus Ketum dalam kesempatan tersebut. Di antaranya adalah pengurus PP AMRI asal Banjarnegara yang juga menjabat sebagai Ketua PD AMRI Banjarnegara, Rekan Wahyudin; Komandan BARANUSA Wonosobo, Komandan Paijo beserta jajaran anggotanya; serta aparat pemerintah desa setempat, termasuk Sekretaris Desa Langgar. Kehadiran para tokoh ini memberikan legitimasi dan dukungan moral terhadap langkah strategis yang diambil oleh PP AMRI dalam melebarkan sayap organisasi di wilayah Purbalingga.

Pembentukan PD AMRI Kabupaten Purbalingga melalui mekanisme MUSDA ini dianggap sebagai langkah awal yang sangat krusial. Dengan adanya kepengurusan resmi di tingkat daerah, warga Rifa’iyah di Purbalingga kini memiliki wadah formal untuk berorganisasi. Wadah ini diharapkan dapat menjalankan berbagai program kerja yang mampu memberikan dampak nyata, baik bagi internal organisasi maupun bagi masyarakat luas di sekitarnya. Penguatan organisasi di tingkat daerah merupakan salah satu pilar utama dalam visi "2029 AMRI Go Nasional", di mana konsolidasi dari bawah ke atas menjadi kunci keberhasilan jangka panjang.

Dalam konteks yang lebih luas, pembentukan AMRI di berbagai daerah juga bertujuan untuk membentengi generasi muda Rifa’iyah dari pengaruh negatif perkembangan zaman. Melalui kegiatan organisasi, para pemuda diajak untuk aktif berkontribusi, mengasah kepemimpinan, dan mendalami ajaran agama dengan cara yang lebih modern namun tetap memegang teguh tradisi. AMRI ingin memastikan bahwa nilai-nilai perjuangan yang diwariskan oleh para masyayikh tidak hanya menjadi catatan sejarah, tetapi tetap hidup dan relevan bagi generasi masa depan.

Lebih lanjut, inisiatif ini juga diharapkan mampu meningkatkan peran AMRI dalam kegiatan sosial kemasyarakatan. Sebagai bagian dari keluarga besar Rifa’iyah, AMRI dituntut untuk mampu hadir sebagai solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat, mulai dari masalah pendidikan, ekonomi, hingga dakwah. Dengan adanya kepengurusan di Purbalingga, sinergi antara warga Rifa’iyah dan elemen masyarakat lainnya diharapkan dapat terjalin lebih erat, menciptakan suasana yang kondusif bagi pertumbuhan dan perkembangan umat.

Kegiatan di Desa Langgar ini ditutup dengan suasana yang hangat dan penuh keakraban. Setelah sesi formal berakhir, para peserta terlibat dalam perbincangan santai yang membahas mengenai strategi dakwah ke depan. Semangat yang terpancar dari wajah para kader menunjukkan optimisme tinggi bahwa AMRI akan berkembang pesat di Purbalingga. Keberhasilan pertemuan ini menjadi bukti bahwa dengan niat yang tulus, persaudaraan yang kuat, dan komitmen untuk terus belajar, segala tantangan dalam berorganisasi dapat diatasi dengan baik.

Sebagai kesimpulan, peristiwa pembentukan PD AMRI Purbalingga adalah langkah nyata dalam menjaga marwah Rifa’iyah di era modern. Menjaga Rifa’iyah tidak cukup hanya dengan mengenang masa lalu, tetapi harus diwujudkan dengan aksi nyata di masa kini. Seperti yang ditegaskan oleh Gus Ketum, menjaga "jimat" berupa pengajian kitab Tarajumah dan merawat persaudaraan adalah kunci utama. Dengan fondasi yang kuat, AMRI siap melangkah lebih jauh, memperluas jangkauan, dan memberikan kontribusi yang lebih besar bagi kemajuan bangsa dan umat, menuju target "2029 AMRI Go Nasional" yang penuh dengan optimisme.

Ke depan, PP AMRI akan terus melakukan evaluasi dan pendampingan terhadap kepengurusan baru di Purbalingga agar dapat berjalan sesuai dengan visi dan misi organisasi. Dukungan dari warga, tokoh masyarakat, dan pemerintah setempat akan menjadi energi tambahan yang sangat berharga. Semangat yang telah dinyalakan di Desa Langgar ini diharapkan dapat menular ke wilayah-wilayah lain, menciptakan efek domino yang positif bagi kebangkitan Rifa’iyah di seluruh tanah air. Dengan semangat gotong royong dan kesetiaan pada ajaran masyayikh, masa depan Rifa’iyah yang lebih gemilang bukan lagi sekadar impian, melainkan sebuah realitas yang sedang diwujudkan bersama.

Related stories

More from Rifaiyah

View all →

Most viewed across the site