0

Istiqamah Empat Dasawarsa

Share

Syiiran Kitab Tarajumah mengalun syahdu di bawah langit Desa Cepokomulyo, Gemuh, Kendal, seolah menjadi gerbang pembuka bagi ribuan jemaah yang mulai memadati halaman Pondok Pesantren Roudlotul Muttaqiin. Bait-bait Jawa halus yang dilantunkan itu bukan sekadar kidung biasa, melainkan sebuah risalah tentang adab murid kepada guru, sanad ilmu yang bersambung, dan esensi keberkahan yang diwariskan lintas generasi. Suasana pagi itu menjadi saksi bisu bagaimana sebuah tradisi pesantren tetap teguh berdiri di tengah gempuran zaman, mempertahankan nilai-nilai luhur yang telah ditanamkan oleh para pendahulu selama empat dasawarsa.

Hari itu, suasana di Roudlotul Muttaqiin terasa lebih khidmat karena bertepatan dengan peringatan haul akbar tiga sosok sentral yang meletakkan batu pertama pembangunan spiritual dan fisik pesantren. Haul ke-12 KH. Muhammad Sa’ud bin Arba’i, haul pertama Ibu Nyai Hajah Mu’ayanah, dan haul kedua KH. Azka Badruzzaman diperingati dalam satu kesatuan doa yang khusyuk. Ketiganya merupakan pilar penyangga yang telah mewakafkan hidup mereka untuk mendidik umat di Cepokomulyo. Kehadiran para jemaah, yang terdiri dari alumni, santri, hingga warga sekitar, menjadi bukti betapa kuatnya ikatan batin yang terbangun di antara kiai dan muridnya, melampaui batas ruang dan waktu.

Majelis zikir dan haul ini dihadiri oleh jajaran ulama besar serta pengurus organisasi Rifa’iyah dari berbagai penjuru tanah air. Penghormatan khusus diberikan kepada KH. Khairuddin Hasbullah dari Karawang, Jawa Barat, yang hadir untuk menyampaikan mau’idhah hasanah. Selain itu, tampak hadir Dr. KH. Mukhlisin Muzari (Ketua Pimpinan Pusat Rifa’iyah), KH. Afif Fadhol (Ketua Dewan Syuro Rifa’iyah Pusat), serta KH. Mahfudz Isrofi (Ketua Pimpinan Wilayah Rifa’iyah Jawa Tengah). Kehadiran para tokoh ini, bersama dengan sesepuh seperti Simbah Kiai Imbuh Jumali dan kiai-kiai dari lintas ormas seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah, menegaskan bahwa Pondok Pesantren Roudlotul Muttaqiin adalah rumah bagi persaudaraan Islam yang melampaui sekat organisasi.

Salah satu momen yang paling menyentuh kalbu adalah testimoni KH. Zamroni dari Limpung, Batang. Dengan kerendahan hati, ia mengenang masa lalunya saat menjadi santri di pondok tersebut empat puluh tahun silam. Ia menyebut dirinya sebagai "murid yang beling" atau nakal, namun berkat didikan KH. Muhammad Sa’ud, ia justru tumbuh menjadi pribadi yang bertanggung jawab dan dipercaya mengelola kepengurusan pondok. Testimoni ini membuka mata banyak orang tentang keteladanan KH. Muhammad Sa’ud yang jarang ditemui: seorang kiai yang hidup sangat sederhana. Bahkan saat listrik belum menyentuh desa, sang kiai terbiasa mengayuh sepeda sendiri ke Pasar Cepiring untuk berbelanja kebutuhan rumah tangga agar istrinya tidak perlu turun ke pasar, sebuah tindakan nyata dalam menjaga kehormatan keluarga.

Istiqamah Empat Dasawarsa

KH. Zamroni menegaskan bahwa istikamah KH. Muhammad Sa’ud selama empat puluh tahun mengajar dari malam hingga menjelang subuh bukanlah hal yang kebetulan. Baginya, itu adalah bukti pertolongan Allah bagi hamba-Nya yang ikhlas. Misi sang kiai sederhana namun fundamental, yakni memastikan setiap murid mampu beribadah dengan benar sesuai syarat dan rukun. Konsistensi dalam mengajarkan dasar-dasar fikih inilah yang menjadi magnet bagi para santri hingga sekarang. Ia pun berpesan kepada para orang tua agar tidak terlalu silau dengan pendidikan formal hingga melalaikan pendidikan agama, karena keberkahan rezeki tidak semata bergantung pada ijazah, melainkan pada keridaan Allah.

Estafet kepengasuhan kemudian disampaikan oleh Gus Faza Nasrun Najib. Ia menceritakan betapa beratnya kehilangan dua sosok pengasuh dalam rentang waktu yang singkat. Setelah wafatnya KH. Muhammad Sa’ud, kepengasuhan dilanjutkan oleh KH. Azka Badruzzaman, dan kemudian diteruskan oleh Ibu Nyai Hajah Mu’ayanah. Kini, amanah besar tersebut diemban oleh Ibu Nyai Ifa Rifa’atul Mahmudah. Di tengah suasana duka yang masih terasa, Gus Faza membawa kabar gembira mengenai dibukanya unit santri putri di pesantren tersebut. Langkah ini menjadi babak baru bagi Roudlotul Muttaqiin dalam menyebarkan ilmu, sekaligus sebagai wujud nyata bahwa perjuangan para masyayikh akan terus dilanjutkan oleh generasi penerusnya.

KH. Habib Nur, selaku penasehat pondok, memberikan refleksi mendalam mengenai adab dan ilmu. Ia menekankan bahwa kurikulum di Roudlotul Muttaqiin tetap mempertahankan metode tarajumah, yakni pengkajian kitab kuning klasik yang diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa pegon. Metode ini merupakan ciri khas yang memudahkan masyarakat awam memahami ajaran agama. Ia juga menceritakan kisah karamah Mbah Kiai Kholil Bangkalan sebagai pengingat bahwa adab murid bukan sekadar melayani fisik guru, melainkan ketaatan total pada dawuh-dawuh dan bimbingan batin sang kiai. Adab adalah kunci pembuka ilmu, dan tanpa itu, ilmu hanyalah deretan huruf yang tidak membuahkan cahaya.

Puncak acara yang dinanti adalah mau’idhah hasanah dari KH. Khairuddin Hasbullah. Ia memulai tausiahnya dengan merujuk pada hadis tentang pentingnya memperbaiki kualitas salat. Ia menyoroti bagaimana KH. Ahmad Rifa’i, melalui metode dakwahnya, berhasil membumikan ilmu-ilmu Arab yang rumit ke dalam bahasa Jawa yang sangat sederhana. Ia memberikan contoh bagaimana kata-kata pasif dalam bahasa Arab dipadankan dengan kosa kata Jawa sehari-hari, seperti "ginaweyan" atau "kinaweruhan". Inilah yang membuat ajaran Rifa’iyah sangat meresap ke lapisan masyarakat bawah karena tidak ada kendala bahasa dalam memahami syariat.

Dalam kesempatan itu, KH. Khairuddin juga memberikan peringatan keras mengenai keseimbangan antara fikih dan tasawuf. Ia mengutip kaidah dari Imam Malik bahwa seseorang yang berfikih tanpa bertasawuf akan fasik, namun bertasawuf tanpa fikih akan menjadi zindik. Ia menyinggung fenomena oknum yang mengaku ahli tasawuf namun justru melanggar syariat, seraya mengingatkan kisah Syekh Abdul Qadir Al-Jailani yang dengan tegas menolak godaan iblis yang menyamar sebagai cahaya. Keteguhan pada syariat adalah benteng utama bagi setiap muslim, dan pesantren adalah tempat di mana syariat tersebut dipelajari dengan benar dan mendalam.

Istiqamah Empat Dasawarsa

Persoalan rezeki dan pendidikan juga menjadi poin penting dalam tausiah tersebut. KH. Khairuddin mengingatkan bahwa rezeki adalah hak prerogatif Allah. Ia mengajak jemaah untuk tidak merasa minder atau sombong karena jenjang pendidikan, melainkan fokus pada ketakwaan dan ibadah. Ia pun menyoroti pentingnya ukhuwah antarormas. Menurutnya, pondasi akidah yang dianut oleh Rifa’iyah, yakni akidah Imam Abu Hasan Al-Asy’ari dan Imam Al-Maturidi, serta mazhab fikih Syafi’i, adalah titik temu dengan mayoritas umat Islam di Indonesia. Perbedaan organisasi seharusnya tidak menjadi pemisah, melainkan kekayaan dalam khazanah keislaman.

Menjelang penutup, suasana majelis semakin syahdu saat Dr. KH. Mukhlisin Muzari memimpin doa. Sebelumnya, panitia mengumumkan hasil penggalangan infak yang mencapai lebih dari 21 juta rupiah untuk pembangunan gedung pondok. Angka ini mencerminkan antusiasme dan gotong royong jemaah dalam memajukan lembaga pendidikan Islam. Seluruh rangkaian acara ditutup dengan kidung yang kembali menggemakan pesan awal tentang pentingnya menjauhi hal yang haram dan menjaga ketaatan kepada guru.

Haul akbar di Cepokomulyo bukan sekadar seremonial tahunan untuk mengenang nama-nama besar. Ia adalah sebuah kurikulum hidup tentang istikamah. Mulai dari sepeda tua sang kiai yang mengayuh menembus malam, hingga keteguhan dalam menjaga sanad keilmuan melalui metode tarajumah, semua itu adalah pelajaran berharga bagi generasi masa kini. Pondok Pesantren Roudlotul Muttaqiin telah membuktikan bahwa meskipun zamannya terus berganti, komitmen untuk menjaga kemurnian ibadah dan akhlak adalah napas yang akan terus berdenyut.

Di balik kesederhanaan desa ini, tersimpan kekuatan besar dari ilmu yang diamalkan dengan tulus. Para santri yang datang dan pergi, para alumni yang kini tersebar di berbagai daerah, dan masyarakat yang tetap setia pada ajaran masyayikh, semuanya adalah saksi bahwa estafet dakwah ini tidak akan pernah putus. Selama ada guru yang membimbing dengan kasih sayang dan murid yang berpegang teguh pada adab, maka cahaya ilmu dari Cepokomulyo akan terus menyinari jalan umat, membimbing mereka menuju keridaan Allah Swt.

Perjalanan empat dasawarsa ini adalah bukti nyata bahwa istikamah adalah karamah yang paling besar bagi seorang mukmin. Tidak perlu mukjizat yang spektakuler, cukup dengan menjaga salat, menyebarkan kedamaian, dan terus belajar memahami syariat, maka seseorang akan mendapatkan kedudukan mulia di sisi-Nya. Roudlotul Muttaqiin tetap tegak berdiri sebagai menara ilmu, menjaga tradisi di tengah modernitas, dan terus melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas akalnya, tetapi juga lurus agamanya dan bersih hatinya. Inilah warisan sejati yang akan terus dijaga, hingga akhir zaman nanti.