Jakarta – Dunia kini dihadapkan pada kenyataan yang tak terbantahkan: El Nino, fenomena iklim alami yang ditandai dengan pemanasan suhu permukaan laut di Pasifik tengah dan timur, telah tiba dan siap melancarkan dampaknya ke seluruh penjuru bumi. Pergeseran dari sekadar prediksi menjadi deklarasi resmi oleh lembaga-lembaga meteorologi terkemuka menandai dimulainya babak baru dalam kewaspadaan iklim global. Jika sebelumnya Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) PBB pada minggu lalu memperkirakan peluang El Nino terbentuk pada akhir tahun 2026 mencapai 80%, kini keraguan itu telah sirna.
Pada Minggu (14/6/2026), Badan Meteorologi Jepang (JMA) menjadi salah satu yang pertama secara resmi menyatakan El Nino telah aktif melanda. Deklarasi ini bukan sekadar formalitas, melainkan sebuah sinyal penting bagi komunitas ilmiah dan masyarakat global. Sehari setelah pernyataan JMA, Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional AS (NOAA) menyusul dengan merilis peringatan El Nino, menegaskan bahwa fenomena tersebut telah terbentuk di wilayah Pasifik tropis. Konfirmasi beruntun dari dua badan meteorologi berpengaruh ini mengakhiri spekulasi dan mengalihkan fokus dari "jika" menjadi "bagaimana" El Nino kali ini akan mempengaruhi planet kita.
El Nino, yang merupakan bagian dari siklus El Nino-Osilasi Selatan (ENSO), adalah pola iklim kompleks yang berulang secara tidak teratur, biasanya setiap dua hingga tujuh tahun. Ini ditandai oleh suhu permukaan laut (SST) yang lebih hangat dari rata-rata di Pasifik khatulistiwa tengah dan timur, yang secara signifikan memengaruhi pola angin, curah hujan, dan suhu di seluruh dunia. Sebaliknya, La Nina membawa kondisi yang lebih dingin dari rata-rata di wilayah yang sama. Dampak El Nino sangat bervariasi tergantung pada kekuatan dan durasinya, namun secara umum, fenomena ini seringkali menyebabkan kondisi yang lebih ekstrem, mulai dari kekeringan parah hingga banjir bandang.
Konsensus yang semakin kuat mengenai perkembangan El Nino ini membawa serta peringatan akan potensi kekuatannya yang luar biasa. NOAA, dalam analisis terbarunya, memprediksi El Nino saat ini akan menguat ke tingkat sedang atau bahkan kuat pada sekitar bulan September hingga November mendatang. Prediksi ini bukan isapan jempol belaka; ada peluang sebesar 63% bahwa kenaikan suhu permukaan laut akan melampaui dua derajat Celcius di wilayah tertentu di Samudra Pasifik. Angka ini sangat signifikan dan mengkhawatirkan. Jika skenario terburuk ini menjadi kenyataan, El Nino kali ini berpotensi memecahkan rekor, melampaui intensitas fenomena El Nino terburuk yang pernah tercatat pada tahun 1877.
El Nino 1877-1878 dikenal sebagai salah satu peristiwa iklim paling dahsyat dalam sejarah modern, memicu kekeringan luas, kelaparan, dan epidemi yang menewaskan puluhan juta orang di Asia, Afrika, dan Amerika Selatan. Ancaman bahwa El Nino 2026 ini bisa mencapai atau bahkan melampaui level tersebut menjadi pengingat serius akan dampak destruktif yang bisa ditimbulkan oleh pola iklim ekstrem. Dua El Nino kuat lainnya yang masih segar dalam ingatan adalah pada tahun 1997-1998 dan 2015-2016, yang keduanya menyebabkan gangguan signifikan pada cuaca global, ekonomi, dan lingkungan.
Dampak yang diproyeksikan oleh NOAA menunjukkan pola yang jelas, terutama di wilayah Amerika Utara. El Nino diperkirakan akan memperkuat aliran jet Pasifik, membawa kondisi yang jauh lebih kering di wilayah Barat Tengah Amerika Serikat. Hal ini meningkatkan risiko kekeringan dan kebakaran hutan. Sebaliknya, wilayah Selatan AS diprediksi akan mengalami curah hujan lebat, meningkatkan potensi banjir dan tanah longsor. Kanada dan negara-negara bagian utara AS kemungkinan juga akan merasakan suhu yang jauh lebih hangat dari biasanya, yang dapat memicu musim kebakaran hutan yang lebih parah dan lebih panjang selama musim panas.
Namun, dampak El Nino tidak terbatas pada satu benua saja. Skalanya global dan merata. Di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, El Nino seringkali dikaitkan dengan musim kemarau yang lebih panjang dan intens, yang dapat menyebabkan kekeringan, gagal panen, krisis air bersih, dan peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Negara-negara seperti Thailand, Vietnam, dan Filipina juga menghadapi ancaman serupa terhadap sektor pertanian dan sumber daya air mereka. Dampak ini berpotensi memicu lonjakan harga komoditas pangan dan mengganggu stabilitas ekonomi regional.
Di Australia, El Nino secara historis membawa kondisi yang lebih panas dan kering, meningkatkan risiko kebakaran semak belukar yang merusak dan kekeringan yang memengaruhi pertanian. Sementara itu, di beberapa bagian Amerika Selatan, seperti Peru dan Ekuador, El Nino dapat menyebabkan hujan lebat dan banjir, yang kontras dengan kekeringan di wilayah lain seperti Amazon. Afrika Timur dan Selatan juga sering mengalami pola cuaca yang tidak menentu, mulai dari kekeringan hingga banjir, tergantung pada lokasi dan interaksi dengan pola iklim regional lainnya.
Fenomena El Nino ini juga diperkirakan akan memiliki implikasi signifikan terhadap suhu global. Tahun-tahun El Nino seringkali menjadi tahun-tahun terpanas dalam catatan sejarah karena panas tambahan yang dilepaskan dari Samudra Pasifik ke atmosfer. Dalam konteks perubahan iklim global yang sedang berlangsung, El Nino kali ini dapat mendorong suhu global ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya, berpotensi memecahkan rekor suhu rata-rata global. Hal ini akan memperparah tantangan yang sudah ada terkait gelombang panas, mencairnya gletser, dan kenaikan permukaan air laut.
Dampak El Nino tidak hanya dirasakan di sektor pertanian dan lingkungan, tetapi juga merambah ke berbagai aspek kehidupan. Ketersediaan air bersih akan menjadi perhatian utama, terutama di wilayah yang bergantung pada curah hujan musiman. Kesehatan masyarakat juga terancam oleh gelombang panas ekstrem, penyebaran penyakit yang ditularkan oleh vektor seperti demam berdarah yang dapat melonjak karena perubahan pola hujan, dan masalah pernapasan akibat asap kebakaran hutan. Sektor energi dapat menghadapi fluktuasi permintaan, sementara industri perikanan juga dapat terganggu oleh perubahan suhu laut dan pola migrasi ikan.
Meskipun potensi dampaknya sangat besar, penting untuk diingat bahwa "tidak semua El Nino itu sama; masing-masing unik dengan dampaknya tersendiri terhadap cuaca kita," ungkap Ken Graham, direktur Layanan Cuaca Nasional NOAA. Kompleksitas interaksi antara El Nino dengan osilasi iklim regional lainnya, seperti Indian Ocean Dipole (IOD) atau Madden-Julian Oscillation (MJO), serta kondisi dasar pemanasan global, membuat setiap peristiwa El Nino memiliki karakteristik dan konsekuensi yang unik.
Oleh karena itu, pemantauan tingkat lanjut dan pemahaman yang lebih baik tentang pola-pola El Nino menjadi sangat krusial. Graham menambahkan, "Pemantauan tingkat lanjut dan pemahaman yang lebih baik tentang pola-pola El Nino memungkinkan Layanan Cuaca Nasional memprediksi dengan lebih baik, serta mempersiapkan masyarakat dan mitra inti kami dengan lebih matang dalam menghadapi apa yang akan datang." Kesiapan ini mencakup pengembangan sistem peringatan dini yang lebih akurat, pengelolaan sumber daya air yang bijaksana, perencanaan pertanian yang adaptif, serta peningkatan kapasitas respons bencana.
Deklarasi resmi El Nino ini seharusnya menjadi panggilan untuk bertindak bagi pemerintah, organisasi, dan masyarakat di seluruh dunia. Dengan informasi yang lebih awal dan akurat, ada kesempatan untuk mitigasi risiko dan adaptasi terhadap perubahan yang akan datang. Dari penguatan infrastruktur tahan banjir hingga pengembangan varietas tanaman yang tahan kekeringan, langkah-langkah proaktif dapat mengurangi kerugian yang disebabkan oleh fenomena iklim ini. Kolaborasi internasional dalam berbagi data dan strategi juga akan menjadi kunci untuk menghadapi tantangan global yang dibawa oleh El Nino.
Pada akhirnya, El Nino bukan lagi ancaman hipotetis, melainkan kenyataan yang harus dihadapi. Dengan potensi untuk mengacaukan pola cuaca, mengganggu ekonomi, dan mengancam kesejahteraan jutaan orang, kewaspadaan tinggi dan kesiapan komprehensif adalah satu-satunya jalan ke depan. Dunia harus bersatu, belajar dari pengalaman masa lalu, dan memanfaatkan kemajuan ilmu pengetahuan untuk menghadapi El Nino yang telah melanda dan siap menguji ketahanan kita.
(fyk/hps)

