Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menegaskan bahwa kekuatan rudal balistik merupakan fondasi eksistensial bagi kedaulatan negaranya di tengah ancaman geopolitik yang kian memanas. Dalam kunjungannya ke Pakistan, Pezeshkian secara eksplisit menyatakan bahwa tanpa adanya persenjataan rudal, Iran akan menghadapi nasib serupa dengan Gaza, di mana infrastruktur hancur lebur dan penduduk sipil menjadi korban tanpa ampun akibat serangan dari Amerika Serikat dan Israel. Pernyataan tegas ini disampaikan Pezeshkian di hadapan publik internasional, sekaligus menjadi penegasan bahwa program rudal balistik Iran bersifat final dan tidak dapat dinegosiasikan dengan pihak mana pun dalam kondisi apa pun.
Menurut Pezeshkian, kemampuan pertahanan tersebut adalah satu-satunya instrumen yang mampu menghalangi agresi militer yang lebih luas di kawasan Timur Tengah. Ia menekankan bahwa Israel dan Amerika Serikat, jika tidak terhalang oleh daya gentar rudal Iran, akan melakukan tindakan militer yang brutal tanpa memandang usia atau status korban. Kunjungan Pezeshkian ke Pakistan sendiri memiliki arti strategis, mengingat Islamabad selama ini berperan sebagai salah satu mediator utama dalam upaya komunikasi antara Teheran dan Washington untuk meredam eskalasi konflik permanen di kawasan tersebut.
Dalam kesempatan yang sama, Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, memberikan dukungan diplomatis terhadap posisi Teheran. Sharif mengonfirmasi bahwa dalam perjanjian pendahuluan yang melibatkan AS, Iran, dan mediator lainnya, isu rudal balistik tidak dimasukkan sebagai poin yang harus dibatasi. Sharif secara lantang mengkritik apa yang disebutnya sebagai standar ganda Barat. Menurutnya, tidak masuk akal jika negara-negara lain diperbolehkan memiliki teknologi rudal balistik sementara Iran ditekan untuk melucuti kemampuan pertahanannya sendiri. "Anda tidak dapat menerima kemunafikan ini," tegas Sharif, menuntut keadilan bagi Iran dalam hak kepemilikan senjata pertahanan.
Ketegangan mengenai program rudal ini memang memiliki akar sejarah yang panjang. Rudal-rudal Iran pada awalnya dikembangkan sebagai respons atas kelemahan sistem pertahanan udara negara itu selama Perang Iran-Irak pada tahun 1980-an. Saat itu, Teheran menyadari bahwa mereka sangat rentan terhadap serangan udara musuh karena kurangnya angkatan udara yang modern. Sejak saat itu, Iran secara masif melakukan riset dan pengembangan mandiri untuk meningkatkan jangkauan, akurasi, dan daya hancur rudal mereka. Bagi Israel, yang berjarak sekitar 1.500 kilometer dari wilayah Iran, perkembangan teknologi militer ini dipandang sebagai ancaman eksistensial yang nyata. Ketakutan Israel didasarkan pada potensi serangan balik Iran yang mampu menjangkau wilayah mereka secara presisi, sebuah skenario yang selama ini dianggap sebagai penyeimbang kekuatan di Timur Tengah.
Sebelum eskalasi perang saat ini, Amerika Serikat secara konsisten berupaya memasukkan program rudal balistik ke dalam paket negosiasi nuklir Iran, bersamaan dengan tuntutan agar Teheran menghentikan dukungan terhadap berbagai proksi bersenjata di kawasan. Namun, Iran selalu menolak keras upaya tersebut, dengan alasan bahwa rudal adalah hak kedaulatan untuk pertahanan diri. Menariknya, dalam dinamika politik terbaru, Presiden AS Donald Trump sempat menunjukkan sikap yang lebih lunak terkait masalah ini. Dalam pernyataan di KTT G7 di Prancis baru-baru ini, Trump sempat berargumen bahwa tidak adil jika negara lain memiliki kemampuan rudal namun Iran dilarang memilikinya. Pergeseran retorika ini menimbulkan berbagai spekulasi di kalangan analis internasional mengenai potensi perubahan kebijakan AS ke depannya.
Konteks ketegangan ini tidak lepas dari rentetan peristiwa militer sebelumnya. Teheran telah menembakkan ratusan rudal dan ribuan drone ke berbagai sasaran yang dianggap terkait dengan kepentingan Israel dan aliansi AS di kawasan Teluk. Aksi ini merupakan respons atas serangan gabungan yang dilakukan AS dan Israel terhadap infrastruktur Iran. Aksi saling balas ini menciptakan pola konflik baru di mana teknologi drone dan rudal menjadi senjata utama. Iran merasa perlu membuktikan bahwa mereka memiliki kemampuan untuk melumpuhkan target strategis musuh, sebuah langkah yang menurut Teheran justru mencegah perang besar-besaran karena adanya perhitungan risiko yang harus dipertimbangkan oleh lawan.
Secara strategis, Iran saat ini memandang dirinya berada dalam posisi terkepung oleh pangkalan militer AS yang tersebar di negara-negara tetangganya. Dengan doktrin pertahanan "pertahanan aktif," Teheran percaya bahwa kemampuan untuk melakukan serangan balasan yang mematikan adalah satu-satunya cara untuk memastikan musuh tidak berani melancarkan invasi darat atau kampanye pemboman besar-besaran seperti yang terjadi di Gaza. Gaza menjadi contoh nyata bagi Iran mengenai apa yang terjadi ketika sebuah entitas tidak memiliki kemampuan pertahanan udara yang memadai dan kekuatan penangkal rudal yang bisa menjangkau wilayah musuh. Narasi "Gaza" yang digunakan oleh Pezeshkian berfungsi sebagai pengingat bagi rakyat Iran dan komunitas internasional tentang konsekuensi kemanusiaan yang sangat tragis dari ketimpangan militer.
Namun, posisi keras Iran ini juga membawa konsekuensi berupa isolasi ekonomi yang mendalam. Sanksi internasional yang dijatuhkan oleh Barat terus menekan ekonomi Iran, memaksa pemerintah untuk membagi fokus antara kesejahteraan dalam negeri dan belanja militer. Meski demikian, Pezeshkian tampaknya telah mengamankan dukungan dari elemen domestik, termasuk korps militer, untuk terus memprioritaskan program pertahanan. Bagi pemerintah Iran, memenangkan kepercayaan publik di tengah kesulitan ekonomi berarti harus bisa menjamin keamanan nasional, dan rudal diposisikan sebagai jaminan keamanan utama tersebut.
Tantangan ke depan bagi diplomasi Iran adalah bagaimana mempertahankan hak atas teknologi rudal ini tanpa memicu eskalasi sanksi yang lebih parah atau keterlibatan langsung kekuatan militer besar. Pakistan, sebagai mitra dialog, kini memainkan peran krusial dalam menjembatani persepsi. Jika Sharif berhasil meyakinkan Washington untuk tidak memaksakan standar ganda, mungkin akan ada ruang bagi pembicaraan yang lebih konstruktif. Namun, mengingat rivalitas mendalam antara Teheran dan Tel Aviv, isu rudal balistik tetap menjadi duri dalam daging bagi stabilitas Timur Tengah.
Dalam perspektif jangka panjang, teknologi rudal Iran bukan lagi sekadar alat perang, melainkan simbol kebangkitan militer yang mampu mengubah peta kekuatan di kawasan tersebut. Keberhasilan Iran dalam mengembangkan teknologi ini secara mandiri, meskipun di bawah tekanan sanksi, menunjukkan ketangguhan industri pertahanan mereka. Dunia kini menyaksikan bagaimana Iran menggunakan narasi ancaman eksistensial untuk membenarkan penguatan militernya, sementara di sisi lain, komunitas internasional masih terbelah dalam menyikapi langkah-langkah yang diambil oleh Teheran.
Pada akhirnya, pernyataan Pezeshkian menegaskan bahwa Iran tidak akan mundur satu langkah pun dari jalur pertahanan yang mereka yakini. Bagi Iran, rudal bukan sekadar senjata, melainkan tameng pelindung dari nasib tragis. Selama ketidakpercayaan antara Teheran, Washington, dan Tel Aviv masih mendominasi panggung politik global, program rudal balistik akan tetap menjadi komoditas politik paling panas sekaligus instrumen paling vital dalam menjaga stabilitas kekuasaan di Iran. Dunia akan terus memperhatikan bagaimana negosiasi ini berkembang, apakah akan mengarah pada perlombaan senjata yang lebih masif atau justru menuju kesepakatan baru yang mengakomodasi kebutuhan keamanan semua pihak di kawasan yang penuh gejolak ini.

