Teknologi

Mari Kita Buat Gen Z Bingung, yang Tahu Ini Fix Sudah Nggak Muda Lagi Sih.

Foto: Dok. kumparan / Ilustrasi Berita

Jika kamu mampu mengenali dan memahami fungsi dari setiap objek yang akan ditampilkan dalam deretan foto di bawah ini, siap-siap saja untuk tidak lagi mengklaim diri sebagai bagian dari Generasi Z, apalagi Generasi Alpha. Tantangan ini bukan hanya sekadar tes pengetahuan umum, melainkan sebuah perjalanan nostalgia yang membuka lembaran memori bagi mereka yang tumbuh di era pra-digital sepenuhnya, sebuah masa di mana teknologi masih sederhana namun penuh dengan inovasi yang membentuk dasar dunia modern kita. Bagi Generasi Z, yang lahir antara tahun 1997 dan 2012, serta Generasi Alpha yang lahir setelah tahun 2010, banyak dari benda-benda ini mungkin terlihat asing, kuno, atau bahkan membingungkan. Mereka adalah generasi yang tumbuh bersama internet, smartphone, dan komputasi awan, sehingga konsep-konsep seperti penyimpanan data fisik yang terbatas atau hiburan tanpa layar sentuh mungkin terasa seperti dongeng.

Generasi sebelum mereka, terutama Generasi Milenial (lahir 1981-1996) dan Generasi X (lahir 1965-1980), akan segera mengangguk-angguk penuh pengertian, bahkan mungkin tersenyum geli mengenang masa-masa kejayaan benda-benda ini. Mereka adalah saksi hidup evolusi teknologi, dari analog ke digital, dari keterbatasan ke konektivitas tanpa batas. Mari kita selami deretan artefak masa lalu yang mungkin akan membuat Gen Z mengernyitkan dahi, namun memicu gelombang nostalgia bagi mereka yang sudah "tidak muda lagi".

Mari Kita Buat Gen Z Bingung, yang Tahu Ini Fix Sudah Nggak Muda Lagi Sih

Yang pertama. Kamu bisa bikin rantai kertas loh, dari tumpukan kertas ini. Tinggal lipat dua lembar secara zig-zag. Foto: BitterFuture via Bored Panda

Objek pertama adalah tumpukan kertas berwarna-warni yang, bagi Gen Z, mungkin hanya terlihat seperti kertas biasa. Namun, bagi generasi yang lebih tua, ini adalah bahan dasar untuk membuat rantai kertas hiasan. Caranya sederhana namun membutuhkan ketelitian dan kesabaran: melipat dua lembar kertas secara zig-zag dan menyambungkannya satu sama lain. Aktivitas ini seringkali menjadi proyek seni di sekolah dasar, hiasan untuk acara ulang tahun, atau sekadar pengisi waktu luang yang kreatif sebelum era gawai mendominasi. Ini melatih keterampilan motorik halus dan kreativitas tanpa bantuan layar digital, sebuah pengalaman taktil yang kini jarang ditemui.

Mari Kita Buat Gen Z Bingung, yang Tahu Ini Fix Sudah Nggak Muda Lagi Sih

Oh, i love this mini game. Foto: viselyx via Bored Panda

"Oh, i love this mini game," kata keterangan foto berikutnya. Ini adalah perangkat game genggam dengan layar LCD monokromatik, jauh sebelum ada Nintendo Switch atau PlayStation Portable. Game-game seperti Tetris, balap mobil sederhana, atau menembak alien disajikan dalam bentuk piksel-piksel hitam putih yang minim detail. Meskipun grafisnya sangat terbatas, game ini mampu menyita perhatian berjam-jam, memicu semangat kompetisi, dan menjadi teman setia saat bepergian. Baterai AA adalah nyawa perangkat ini, dan kecemasan akan baterai habis di tengah permainan adalah bagian tak terpisahkan dari pengalamannya. Generasi sekarang mungkin sulit membayangkan bagaimana hiburan sesederhana itu bisa begitu memuaskan.

Mari Kita Buat Gen Z Bingung, yang Tahu Ini Fix Sudah Nggak Muda Lagi Sih

Ini tempat buat floppy disk alias disket. Disket apaan? Coba browsing ya, Nak. Foto: via Bored Panda

Kemudian, ada tempat penyimpanan untuk floppy disk alias disket. "Disket apaan? Coba browsing ya, Nak," ejek keterangan foto, menantang Gen Z untuk mencari tahu sendiri. Disket adalah media penyimpanan data portabel utama sebelum CD-ROM, USB flash drive, dan penyimpanan cloud merevolusi dunia digital. Ada dua jenis utama yang populer: disket 5,25 inci yang lentur dan disket 3,5 inci yang lebih kokoh dengan kapasitas 1,44 MB—kapasitas yang kini bahkan tak cukup untuk menyimpan satu foto resolusi tinggi dari ponsel pintar. Proses menyimpan dan membuka file dari disket seringkali disertai suara klik dan gerutu dari drive yang ikonik. Disket sering digunakan untuk menyimpan tugas sekolah, game sederhana, atau driver perangkat lunak. Kehadirannya yang kini hanya sebatas ikon "save" di berbagai aplikasi modern menjadi bukti nyata betapa cepatnya teknologi berkembang dan usang.

Mari Kita Buat Gen Z Bingung, yang Tahu Ini Fix Sudah Nggak Muda Lagi Sih

Kayaknya sekarang sudah nggak pakai ini di kelas-kelas. Foto: The_299_Bin via Bored Panda

"Kayaknya sekarang sudah nggak pakai ini di kelas-kelas," tulis keterangan gambar selanjutnya. Objek ini adalah proyektor transparansi atau Overhead Projector (OHP). Sebelum ada proyektor LCD digital, OHP adalah alat bantu presentasi utama di sekolah dan kantor. Guru atau presenter akan menulis atau mencetak materi pada lembaran plastik transparan khusus, lalu meletakkannya di atas OHP. Cahaya akan diproyeksikan melalui lembaran tersebut ke layar, menampilkan tulisan atau gambar dalam ukuran besar. Suara kipas pendingin yang berdengung keras dan panas yang keluar dari perangkat adalah ciri khasnya. Mengganti lembaran transparansi di tengah presentasi adalah sebuah seni tersendiri, dan kini, OHP telah digantikan oleh proyektor digital dan papan interaktif yang jauh lebih canggih.

Mari Kita Buat Gen Z Bingung, yang Tahu Ini Fix Sudah Nggak Muda Lagi Sih

Hadiah bisa langsung ditukar di warung. Foto: Breakingbay via Bored Panda

Berikutnya, gambar kupon hadiah yang bisa langsung ditukar di warung. Ini adalah bagian tak terpisahkan dari masa kecil banyak anak di Indonesia. Sensasi membeli makanan ringan atau permen di warung terdekat, lalu menemukan kupon hadiah di dalamnya, adalah kegembiraan sederhana yang tak tertandingi. Hadiahnya bisa berupa uang tunai kecil, mainan plastik, atau bahkan kesempatan untuk memenangkan hadiah yang lebih besar. Ini bukan hanya tentang hadiah itu sendiri, melainkan juga tentang pengalaman, interaksi dengan pemilik warung, dan kegembiraan dari ketidakpastian. Konsep "kejutan di dalam kemasan" ini masih ada, tetapi pengalaman menukarkannya langsung di warung kecil telah banyak memudar seiring dengan menjamurnya minimarket modern.

Mari Kita Buat Gen Z Bingung, yang Tahu Ini Fix Sudah Nggak Muda Lagi Sih

Suasana yang nggak akan terlupakan. Foto: Sir_John_Galt via Bored Panda

"Suasana yang nggak akan terlupakan," demikian keterangan foto yang menampilkan sebuah warnet atau rental komputer jadul. Sebelum setiap rumah memiliki koneksi internet cepat dan perangkat pribadi, warnet adalah pusat sosial dan digital. Di sinilah banyak orang pertama kali merasakan internet, bermain game daring seperti Counter-Strike, Ragnarok Online, atau DotA, serta menjelajahi chat room seperti mIRC. Bau rokok (dulu masih banyak warnet yang mengizinkan merokok), suara ketikan keyboard yang ramai, dan teriakan kegembiraan atau kekesalan dari para gamer menciptakan suasana yang unik. Pengalaman harus membayar per jam dan seringkali mengantre untuk mendapatkan komputer kosong adalah bagian tak terpisahkan dari memori ini. Warnet bukan hanya tempat mencari informasi, tapi juga ruang komunitas dan persahabatan.

Mari Kita Buat Gen Z Bingung, yang Tahu Ini Fix Sudah Nggak Muda Lagi Sih

Nggak tahu sih, tapi apakah mungkin Gen Alpha dan Gen Z tidak familiar dengan benda yang satu ini? Foto: newyorkcitykid via Bored Panda

"Nggak tahu sih, tapi apakah mungkin Gen Alpha dan Gen Z tidak familiar dengan benda yang satu ini?" Pertanyaan ini merujuk pada gambar telepon putar atau rotary phone. Telepon ini, dengan piringan berlubang yang harus diputar untuk menekan setiap digit nomor, adalah standar komunikasi rumah tangga selama beberapa dekade. Proses menelepon membutuhkan kesabaran dan ketelitian, dan suara whirr saat piringan kembali ke posisi semula adalah ciri khasnya. Tidak ada fitur redial instan atau speed dial. Telepon rumah seringkali menjadi satu-satunya jalur komunikasi dengan dunia luar, dan berbagi telepon dengan seluruh anggota keluarga adalah hal yang lumrah. Benda berat dan kokoh ini jauh berbeda dari smartphone ramping dan serbaguna yang kita genggam hari ini.

Mari Kita Buat Gen Z Bingung, yang Tahu Ini Fix Sudah Nggak Muda Lagi Sih

Tampilan jadul Windows XP. Foto: via Bored Panda

Gambar berikutnya adalah "Tampilan jadul Windows XP." Sistem operasi ikonik dari Microsoft ini, yang diluncurkan pada tahun 2001, menjadi standar global selama bertahun-tahun. Dengan wallpaper "Bliss" yang terkenal, suara startup yang khas, dan menu Start yang akrab, Windows XP adalah pintu gerbang bagi jutaan orang ke dunia komputasi pribadi. Ini adalah era di mana Blue Screen of Death masih menjadi momok, tetapi juga masa-masa kejayaan game bawaan seperti Solitaire, Minesweeper, dan Pinball 3D. Windows XP membawa stabilitas dan antarmuka yang lebih ramah pengguna dibandingkan pendahulunya, menjadikannya sistem operasi yang dicintai dan bertahan lama, jauh setelah seharusnya digantikan.

Bagaimana respons Anda terhadap berita ini?

Rif'an Muazin

Rif'an Muazin adalah Seorang Lelaki, Suami dan Ayah 3 Putra, Lelaki Kelahiran Pati, Tinggal di Bantul Yogyakarta. Hobi membuat Group FB, Channel dan Group Telegram. Coder / Programmer PHP Creator AliSuite, ShopeeSuite, BookSuite, WallSpot, WallSpot Plus, TubeSpot. Seorang Muslim, Madhab Syafi'i bermanhaj Salafy.

Komentar (0)

Tulis Komentar Anda

Sampaikan komentar dengan santun dan patuhi pedoman komunitas situs ini. Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.