Pemerintah China memberikan respons yang tenang namun sarat sindiran terhadap komentar kontroversial Sekretaris Pers Gedung Putih yang baru dilantik, Katie Zacharia. Dalam sebuah pernyataan resmi di Beijing, Kementerian Luar Negeri China secara terbuka mengundang Zacharia untuk berkunjung kembali ke Negeri Tirai Bambu guna melihat langsung perkembangan negara tersebut. Respons ini muncul setelah Zacharia melontarkan kritik pedas terkait fasilitas sanitasi atau toilet di China, yang ia sebut "tidak layak" dalam sebuah wawancara dengan tokoh media sayap kanan, Jack Posobiec, pada Kamis (15/10/2026).
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, menyampaikan tanggapan tersebut dalam konferensi pers harian di Beijing. Dengan ekspresi yang menunjukkan nada santai dan sedikit senyuman, Mao Ning menyatakan bahwa pihaknya akan menyambut dengan tangan terbuka jika Zacharia memiliki kesempatan untuk melakukan perjalanan ke China. Pernyataan ini dipandang oleh para pengamat sebagai cara diplomatik China untuk meredam kegaduhan sekaligus menyindir kurangnya pemahaman Zacharia terhadap realitas modern China saat ini.
Kritik Zacharia sendiri disampaikan dalam konteks refleksi pribadinya mengenai kondisi geopolitik global pada tahun 2016. Saat itu, banyak pihak memprediksi bahwa dominasi ekonomi Amerika Serikat akan segera berakhir dan China akan bangkit sebagai kekuatan utama dunia. Namun, Zacharia menepis narasi tersebut dengan argumen subjektifnya. Ia mengklaim bahwa berdasarkan pengalamannya pernah tinggal di China, ia merasa skeptis terhadap potensi negara tersebut untuk menyalip Amerika Serikat. "Saya ingat betul saat itu, karena baru saja kembali dari China, saya berpikir, ‘Bagaimana mungkin China menjadi negara berikutnya yang akan berjaya?’ Mereka bahkan tidak memiliki toilet yang layak," ujar Zacharia dalam wawancaranya.
Pernyataan ini menjadi sorotan tajam karena dilontarkan oleh seorang pejabat tinggi Gedung Putih yang baru menjabat kurang dari satu minggu. Zacharia, yang kini berusia 41 tahun, ditunjuk untuk menggantikan Karoline Leavitt yang memutuskan mundur pada Agustus lalu demi fokus mengurus keluarga. Masa transisi yang singkat ini tampaknya belum memberikan ruang bagi Zacharia untuk beradaptasi dengan protokol diplomatik yang ketat, terutama mengingat sensitivitas hubungan Amerika Serikat dan China yang sedang berada dalam fase krusial.
Kritik toilet tersebut menambah daftar panjang kontroversi yang menyelimuti awal masa jabatan Zacharia. Sejak hari pertama bertugas, ia sudah mendapat sorotan tajam dari korps pers Gedung Putih. Debut konferensi persnya pada Selasa (13/10) dianggap gagal oleh banyak pengamat. Dalam kesempatan tersebut, ia hanya menjawab pertanyaan dari tiga jurnalis dan mengakhiri sesi tanya jawab dengan sangat singkat, jauh dari tradisi transparansi yang biasanya dijalankan oleh sekretaris pers sebelumnya. Selain itu, ia sempat melakukan kesalahan fatal dengan keliru menyebut suaminya sebagai Presiden Amerika Serikat, sebuah slip of the tongue yang langsung menjadi bahan olok-olokan di media sosial dan kanal berita internasional.
Selain masalah performa komunikasi, kredibilitas Zacharia juga mulai dipertanyakan oleh publik terkait latar belakang profesionalnya. Zacharia mengklaim dirinya sebagai seorang pengacara, namun penelusuran fakta mengungkapkan bahwa ia tidak pernah lulus ujian profesi advokat (bar exam), yang merupakan syarat mutlak untuk berpraktik hukum di Amerika Serikat. Meskipun ia mencantumkan posisinya sebagai penasihat hukum di sebuah organisasi nirlaba konservatif di California, absennya lisensi resmi ini menimbulkan pertanyaan serius mengenai transparansi kualifikasi yang ia bawa ke dalam pemerintahan Trump.
Kontroversi ini menjadi ironis mengingat upaya Presiden Donald Trump untuk menjaga stabilitas hubungan dengan China. Dalam pertemuan puncak di Washington DC pada September lalu, Trump secara eksplisit membanggakan "hubungan yang sangat baik" dengan Presiden China, Xi Jinping. Kedua pemimpin negara tersebut terlibat dalam diskusi mendalam mengenai berbagai isu strategis, mulai dari tata kelola kecerdasan buatan (AI), kebijakan perdagangan global, hingga resolusi konflik di Iran. Pertemuan tersebut bahkan mengonfirmasi rencana pertemuan lanjutan antara Trump dan Xi Jinping yang dijadwalkan akan berlangsung sebelum akhir tahun ini.
Para analis politik internasional menilai bahwa pernyataan Zacharia berpotensi mengganggu narasi diplomasi yang sedang dibangun oleh Trump. Meskipun bagi sebagian kalangan komentar tersebut mungkin dianggap sebagai candaan atau opini pribadi, dalam dunia politik internasional, kata-kata seorang juru bicara Gedung Putih memiliki bobot diplomatik yang signifikan. China, yang sangat sensitif terhadap citra nasionalnya, cenderung tidak akan membiarkan pernyataan yang merendahkan infrastruktur mereka berlalu tanpa tanggapan.
Tindakan Mao Ning yang menyarankan Zacharia untuk berkunjung kembali ke China bukan sekadar ajakan wisata. Ini adalah langkah taktis untuk mempermalukan Zacharia secara halus dengan menyiratkan bahwa pengetahuan yang dimiliki jubir Trump tersebut tentang China sudah kadaluwarsa atau tidak akurat. China telah melakukan investasi besar-besaran dalam modernisasi infrastruktur publik, termasuk standarisasi sanitasi di seluruh wilayah metropolitan mereka dalam satu dekade terakhir. Dengan mengundang Zacharia untuk melihat "wajah baru" China, Beijing secara implisit menantang narasi negatif yang coba dibangun oleh jubir tersebut.
Di sisi lain, posisi Zacharia di Gedung Putih kini berada di bawah tekanan yang cukup berat. Sebagai wajah dari komunikasi pemerintahan, setiap kata yang ia ucapkan kini dipantau dengan mikroskop oleh media internasional. Kegagalannya dalam membangun narasi yang positif, ditambah dengan kritik yang dianggap tidak substansial seperti masalah toilet, membuat banyak pihak bertanya-tanya mengenai ketahanan posisinya. Apakah ia akan mampu belajar dari kesalahan ini dan memperbaiki gaya komunikasinya, atau justru akan menjadi beban bagi citra pemerintahan Trump di mata internasional?
Sementara itu, publik Amerika Serikat sendiri terbelah menanggapi insiden ini. Bagi kelompok pendukung Trump, kritik Zacharia mungkin dianggap sebagai bentuk keberanian dalam mengekspresikan pandangan pribadi yang jujur. Namun, bagi para diplomat dan pakar kebijakan luar negeri, pernyataan tersebut merupakan contoh nyata dari ketidaksiapan dalam mengelola komunikasi di tingkat global. Diplomasi, pada intinya, adalah tentang memilih kata-kata yang membangun jembatan, bukan justru membakar jembatan melalui isu-isu remeh yang justru memperlihatkan kedangkalan wawasan.
Sebagai kesimpulan, insiden "toilet" ini menunjukkan betapa krusialnya peran seorang juru bicara dalam menjaga keseimbangan antara retorika domestik dan realitas diplomatik internasional. China telah merespons dengan kelas yang tinggi, membiarkan fakta di lapangan berbicara melalui undangan terbuka bagi Zacharia. Bagi sang jubir baru, ini adalah pelajaran berharga bahwa di panggung global, setiap pernyataan akan dianalisis, diperdebatkan, dan jika perlu, dikoreksi langsung oleh negara yang menjadi target kritik tersebut. Apakah Zacharia akan menerima undangan tersebut atau justru memilih untuk fokus memperbaiki kinerjanya di Washington, waktu yang akan menjawab. Yang jelas, langkah awalnya di Gedung Putih telah meninggalkan catatan kaki yang cukup unik dalam sejarah diplomasi Amerika-China.

Komentar (0)