BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Di tengah suasana haru yang menyelimuti pemakaman ayahanda aktris Bunga Zainal, Sapuri bin Husein, di Taman Pemakaman Umum (TPU) Tanah Kusir, Jakarta Selatan, pada Rabu, 6 Mei 2026, terungkap sebuah kisah menyentuh tentang detik-detik terakhir kehidupan almarhum. Isak tangis keluarga yang pecah di pinggir liang lahat tak hanya menjadi ungkapan kesedihan, tetapi juga saksi bisu dari sebuah momen perpisahan yang penuh makna. Bunga Zainal, aktris yang dikenal dengan bakat aktingnya, menceritakan dengan mata berkaca-kaca bahwa sang ayah seolah menunggu kehadiran seluruh anak-anaknya sebelum benar-benar berpulang ke Rahmatullah. Meskipun jadwal pekerjaannya sangat padat, Bunga Zainal bersyukur dapat meluangkan waktu untuk mendampingi sang ayah di saat-saat genting tersebut. Ia mengungkapkan bahwa dirinya sempat memiliki kesempatan untuk berbincang dengan ayahnya kurang lebih dua jam sebelum kepergian almarhum.
"Terakhir sih aku datang, memang sebelum Papa meninggal tuh kurang lebih hampir dua jam ya aku ada kesempatan buat ngobrol," ujar Bunga Zainal dengan suara bergetar. Pengakuan ini semakin menegaskan betapa kuatnya ikatan emosional antara Bunga Zainal dan ayahnya. Pihak keluarga yang memahami kedekatan luar biasa ini, dengan bijak memberikan ruang privasi bagi Bunga Zainal untuk berkomunikasi secara personal dengan sang ayah. Mereka membiarkan Bunga Zainal berada di sisi ayahnya, berbisik di telinganya, memberikan afirmasi dan kekuatan di saat-saat terakhir.
"Mama sama kakak-kakakku, juga kasih space juga buat aku buat di kupingnya Papa gitu. Malah Mama suruh ya bisikin Papa terus gitu kayak anaknya sudah datang gitu," terang Bunga Zainal, menceritakan bagaimana dukungan keluarga turut menguatkannya. Momen yang paling dramatis dan mengharukan terjadi ketika sang ibunda, dengan suara yang dipenuhi emosi, mulai mengabsen satu per satu nama anak-anak almarhum di hadapan suaminya yang semakin melemah. Sang ibu berupaya keras untuk memastikan bahwa tidak ada satu pun dari buah hati mereka yang tertinggal dalam momen perpisahan terakhir ini. Kehadiran seluruh anak adalah keinginan terakhir sang ayah, sebuah kepastian yang memberinya ketenangan.
"Jadi Mama mungkin lebih paham ya, jadi Mama sudah sebutin, ‘Oh anaknya dari pertama sampai terakhir nggak ada yang tersisa sudah kumpul,’" kenang Bunga Zainal, menggambarkan bagaimana ibunya berperan penting dalam memastikan momen sakral ini berjalan sesuai harapan almarhum. Seolah telah mendapatkan kepastian bahwa seluruh anak-anaknya hadir dan telah merelakan kepergiannya, Sapuri bin Husein mengembuskan napas terakhirnya dengan sangat tenang, tanpa beban, dan dengan kedamaian yang terpancar di wajahnya. Momen ini menjadi bukti bahwa ikatan keluarga dan cinta yang mendalam dapat memberikan kekuatan luar biasa, bahkan di ambang kematian.
"Indah banget meninggalnya Papa tuh benar-benar langsung begitu disebutin anak terakhir, kumpul dan ikhlas, Papa langsung pergi," pungkas Bunga Zainal, menambahkan bahwa kepergian ayahnya adalah sebuah peristiwa yang penuh keindahan, sebuah penutup babak kehidupan yang dilalui dengan penuh cinta dan kebersamaan. Ungkapan Bunga Zainal ini menggambarkan sebuah kematian yang ideal, di mana sang ayah dapat merasakan kehadiran dan cinta dari seluruh keluarganya, sebuah penutupan yang damai dan penuh penerimaan.
Kepergian Sapuri bin Husein tidak hanya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga inti, tetapi juga menjadi pengingat bagi banyak orang akan pentingnya menghabiskan waktu berkualitas bersama orang-orang terkasih. Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern yang seringkali memisahkan anggota keluarga karena tuntutan pekerjaan dan jarak, kisah ayah Bunga Zainal menjadi sebuah pelajaran berharga. Pesan yang tersirat adalah untuk senantiasa menjaga kedekatan dengan keluarga, memberikan perhatian dan kasih sayang selagi masih ada kesempatan, dan memastikan bahwa momen-momen penting dalam hidup, seperti perpisahan terakhir, dapat dijalani dengan penuh kehangatan dan kebersamaan.
Bunga Zainal sendiri, sebagai seorang publik figur, seringkali harus menghadapi jadwal yang sangat padat. Namun, kejadian ini menunjukkan bahwa prioritas utamanya dalam situasi genting adalah keluarganya. Keputusannya untuk hadir mendampingi sang ayah di saat-saat kritis, meskipun dengan segala keterbatasan waktu, adalah sebuah pengorbanan yang patut diapresiasi. Ini bukan hanya tentang memenuhi kewajiban sebagai anak, tetapi juga tentang memberikan dukungan emosional dan spiritual kepada ayah yang sedang berjuang menghadapi akhir hayatnya.
Kisah ini juga menyoroti peran luar biasa seorang ibu dalam keluarga. Sang ibunda, yang tampaknya memiliki pemahaman mendalam tentang keinginan dan kebutuhan suaminya di akhir hayat, mengambil inisiatif untuk memastikan semua anak berkumpul. Tindakannya untuk mengabsen nama anak-anak adalah sebuah strategi yang sangat efektif untuk memberikan kepastian dan ketenangan kepada almarhum. Ini menunjukkan bahwa dalam momen-momen sulit, intuisi dan cinta seorang ibu dapat menjadi kekuatan yang luar biasa.
Lebih jauh lagi, momen di mana almarhum mengembuskan napas terakhirnya tepat setelah mendengar semua anaknya berkumpul dan mendengar kata "ikhlas" dari ibunya, sungguh mengharukan. Ini seolah-olah sang ayah telah menunggu sinyal tersebut, sebuah konfirmasi bahwa ia tidak akan meninggalkan keluarganya dalam keadaan terpecah belah atau tanpa kehadiran orang-orang yang dicintainya. Ketenangan yang ia rasakan di akhir hayatnya adalah hadiah terindah bagi dirinya dan keluarganya.
Cerita ini juga dapat menjadi inspirasi bagi banyak keluarga untuk menciptakan momen-momen kebersamaan yang berarti. Meskipun tidak semua keluarga memiliki kesempatan untuk berkumpul di saat-saat kritis, namun semangat untuk menjaga komunikasi, saling mendukung, dan menunjukkan kasih sayang dapat diwujudkan dalam berbagai cara. Video atau pesan suara yang dikirimkan, kunjungan singkat namun penuh makna, atau sekadar panggilan telepon yang tulus, semuanya dapat berkontribusi dalam mempererat ikatan keluarga.
Dalam konteks budaya Indonesia, berkumpulnya seluruh anggota keluarga saat ada anggota keluarga yang sakit atau menjelang ajal adalah sebuah tradisi yang sangat dijunjung tinggi. Tradisi ini mencerminkan nilai-nilai kekeluargaan yang kuat dan saling menjaga satu sama lain. Kisah ayah Bunga Zainal ini menjadi bukti nyata betapa pentingnya tradisi ini dalam memberikan ketenangan dan kebahagiaan di akhir hayat seseorang.
Meskipun berita ini berfokus pada momen perpisahan, namun di baliknya tersimpan pula kenangan indah yang tak terhitung jumlahnya. Cinta yang telah terjalin selama bertahun-tahun, tawa yang pernah menghiasi rumah, nasihat yang pernah diberikan, dan dukungan yang tak pernah putus, semuanya akan terus hidup dalam ingatan keluarga. Kepergian almarhum bukanlah akhir dari segalanya, melainkan sebuah transisi menuju kehidupan yang lebih abadi, di mana ia akan senantiasa dikenang dan dicintai.
Kisah ini juga menunjukkan ketangguhan Bunga Zainal sebagai seorang anak. Meskipun diliputi kesedihan, ia mampu berbagi cerita dengan media, sebuah tindakan yang mungkin juga bertujuan untuk memberikan penghormatan terakhir kepada sang ayah dan berbagi pengalaman berharga ini kepada publik. Dengan berbagi cerita ini, ia tidak hanya memberikan penghormatan, tetapi juga menginspirasi orang lain untuk menghargai dan merawat hubungan keluarga mereka.
Pada akhirnya, kematian adalah sebuah kepastian yang akan dihadapi oleh setiap insan. Namun, cara kita menghadapi dan menjalani momen-momen terakhir kehidupan, serta cara kita merespons kehilangan orang terkasih, adalah hal yang dapat kita kontrol. Kisah ayah Bunga Zainal adalah pengingat yang kuat bahwa cinta, kebersamaan, dan penerimaan adalah elemen-elemen kunci yang dapat membuat momen perpisahan menjadi lebih indah dan bermakna, bahkan dalam kesedihan yang mendalam. Kepergian almarhum Sapuri bin Husein, dalam suasana penuh cinta dan kehadiran seluruh anak-anaknya, adalah sebuah akhir yang damai dan penuh berkah.
Saksikan Live DetikSore:
(ahs/wes)

