Jakarta, 18 Juli 2026 – Indonesia telah menorehkan sejarah baru dalam kancah teknologi global dengan resmi menjadi salah satu dari 29 negara pendiri World Artificial Intelligence Cooperation Organization (WAICO). Organisasi kerja sama internasional ini dibentuk sebagai platform krusial untuk memperkuat kolaborasi global dalam pengembangan dan tata kelola kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) yang inklusif dan bertanggung jawab. Langkah strategis ini menegaskan komitmen Indonesia untuk tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga pemain aktif yang turut membentuk masa depan teknologi yang paling transformatif di era modern.
Penandatanganan pendirian WAICO berlangsung di Shanghai, Tiongkok, pada tanggal 16 Juli 2026. Momen penting tersebut disaksikan oleh delegasi tingkat tinggi dari berbagai negara, termasuk perwakilan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang diwakili oleh Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres. Kehadiran Sekjen PBB menggarisbawahi urgensi dan relevansi pembentukan WAICO dalam agenda global untuk memastikan pengembangan AI yang etis dan bermanfaat bagi seluruh umat manusia. Dari pihak Indonesia, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Angga Raka Prabowo, mendampingi Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, yang memimpin delegasi Pemerintah Indonesia. Keikutsertaan dua kementerian kunci ini menunjukkan pendekatan holistik pemerintah dalam menghadapi perkembangan AI, baik dari sisi regulasi dan infrastruktur digital maupun dari perspektif ekonomi makro.
WAICO didirikan sebagai organisasi internasional antarpemerintah yang bersifat independen dan nirlaba, beroperasi di bawah kerangka kerja PBB. Tujuan utamanya adalah memperkuat kerja sama global dalam mendorong inovasi kecerdasan artifisial, sekaligus memastikan bahwa pengembangan teknologi ini berlangsung secara terbuka, inklusif, bertanggung jawab, dan memberikan manfaat nyata bagi seluruh negara, tanpa terkecuali. Ini adalah respons proaktif terhadap cepatnya laju perkembangan AI yang, tanpa tata kelola yang tepat, berpotensi menimbulkan kesenjangan dan risiko global.
Dalam misinya, WAICO akan memfasilitasi berbagai inisiatif krusial. Ini termasuk peningkatan kapasitas sumber daya manusia di bidang AI, memperluas akses terhadap teknologi AI bagi negara-negara berkembang, memperkuat koordinasi strategi pengembangan AI antarnegara anggota, serta mendorong penyusunan tata kelola dan etika AI di tingkat internasional. Fungsi-fungsi ini dirancang untuk mengatasi tantangan yang kompleks dalam ekosistem AI, mulai dari kebutuhan talenta, infrastruktur, hingga kerangka regulasi yang adaptif. Dengan demikian, WAICO diharapkan menjadi katalisator bagi negara-negara untuk bersama-sama membangun ekosistem AI yang sehat dan berkelanjutan.
Bagi Indonesia, keikutsertaan sebagai negara pendiri WAICO membuka gerbang peluang yang sangat luas. Ini adalah kesempatan emas untuk berpartisipasi lebih aktif dalam penyusunan arah kebijakan AI global, sebuah posisi yang sangat strategis mengingat dampak AI yang lintas sektor dan lintas batas. Selain itu, keanggotaan ini akan memperluas kerja sama internasional Indonesia di berbagai bidang terkait teknologi, investasi, riset, dan pengembangan ekosistem kecerdasan buatan. Hal ini sejalan dengan visi Indonesia untuk menjadi kekuatan ekonomi digital regional dan global.
Pemerintah Indonesia memandang kehadiran WAICO sebagai langkah strategis yang vital untuk mendukung percepatan transformasi digital nasional. Organisasi tersebut diharapkan menjadi salah satu katalis utama dalam pengembangan ekonomi digital yang ditargetkan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru Indonesia. Melalui peningkatan investasi di sektor-sektor berbasis teknologi bernilai tambah tinggi, serta pengembangan startup dan inovasi berbasis AI, Indonesia berambisi untuk menciptakan lapangan kerja baru, meningkatkan daya saing industri, dan memperbaiki kualitas hidup masyarakat. WAICO akan menjadi jembatan bagi Indonesia untuk menyerap pengetahuan, teknologi, dan modal dari komunitas AI global.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Angga Raka Prabowo, dalam siaran persnya pada Sabtu (18/7/2026), menekankan signifikansi langkah ini. "Keikutsertaan Indonesia dalam WAICO merupakan momentum strategis untuk memperkuat tata kelola AI nasional yang selaras dengan praktik terbaik internasional, sekaligus membuka ruang kolaborasi lintas negara dalam perkembangan ekosistem AI yang inklusif dan bertanggung jawab," ujar Angga. Pernyataan ini mencerminkan fokus pemerintah pada harmonisasi regulasi AI domestik dengan standar global, yang esensial untuk menarik investasi dan memastikan adopsi AI yang aman serta etis di dalam negeri. Dengan berpartisipasi dalam diskusi global, Indonesia dapat memastikan bahwa kebijakan AI tidak hanya relevan secara lokal tetapi juga kompetitif secara internasional.
Setelah seremoni penandatanganan pendirian organisasi, delegasi Indonesia dijadwalkan mengikuti Informal Preparatory Session on the Establishment of WAICO pada tanggal 17 Juli 2026. Pertemuan ini dipimpin oleh Angga Raka Prabowo sebagai ketua delegasi Indonesia dan menjadi forum awal untuk membahas langkah-langkah operasional organisasi, serta menjajaki peluang kerja sama antarnegara di bidang kecerdasan artifisial secara lebih mendalam. Ini adalah tahapan krusial untuk menerjemahkan visi WAICO menjadi program-program konkret yang dapat memberikan dampak nyata.
Keanggotaan Indonesia dalam WAICO juga menempatkannya sejajar dengan 28 negara lain yang menjadi pendiri. Daftar negara pendiri mencerminkan representasi geografis dan tingkat perkembangan ekonomi yang beragam, menunjukkan komitmen untuk inklusivitas. Di antara negara-negara pendiri lainnya terdapat kekuatan ekonomi seperti China dan Brasil, serta negara-negara berkembang lainnya seperti Rusia, Malaysia, Afrika Selatan, Pakistan, Kazakhstan, Uzbekistan, Serbia, Kenya, Ethiopia, Venezuela, dan Zambia. Kehadiran berbagai negara berkembang ini sangat penting, memastikan bahwa suara dan kebutuhan negara-negara di Selatan Global tidak terpinggirkan dalam perumusan kebijakan AI global. Ini menjamin bahwa solusi AI yang dikembangkan akan relevan dan dapat diakses oleh spektrum luas masyarakat global, bukan hanya oleh segelintir negara maju.
Manfaat konkret dari keikutsertaan Indonesia dalam WAICO dapat dijabarkan lebih lanjut. Pertama, pembentukan kebijakan dan standar global. Sebagai pendiri, Indonesia memiliki kursi di meja perundingan untuk membentuk etika, regulasi, dan standar teknis AI yang akan memengaruhi bagaimana teknologi ini dikembangkan dan digunakan di seluruh dunia. Ini adalah kesempatan untuk menyuarakan perspektif negara berkembang, memastikan bahwa kerangka kerja global AI bersifat adil, transparan, dan tidak diskriminatif.
Kedua, transfer teknologi dan peningkatan kapasitas. Melalui WAICO, Indonesia akan lebih mudah mengakses teknologi AI mutakhir, praktik terbaik, dan keahlian dari negara-negara lain. Ini akan sangat membantu dalam mempercepat pengembangan ekosistem AI domestik, termasuk dalam sektor pendidikan, riset, dan pengembangan industri. Program-program pelatihan, lokakarya, dan pertukaran ahli akan menjadi jembatan penting untuk meningkatkan kemampuan sumber daya manusia Indonesia di bidang AI.
Ketiga, penarikan investasi dan kolaborasi riset. Keanggotaan dalam WAICO meningkatkan profil Indonesia sebagai tujuan investasi teknologi dan pusat riset AI. Ini dapat menarik modal ventura, perusahaan teknologi multinasional, dan lembaga penelitian untuk berinvestasi atau menjalin kemitraan dengan entitas lokal. Kolaborasi riset internasional dapat membuka jalan bagi inovasi-inovasi yang relevan dengan konteks Indonesia, seperti AI untuk pertanian berkelanjutan, mitigasi bencana, atau layanan kesehatan di daerah terpencil.
Keempat, penguatan ekonomi digital nasional. Dengan kerangka kerja AI yang kuat dan akses terhadap teknologi global, Indonesia dapat mempercepat pertumbuhan sektor-sektor ekonomi berbasis AI. Ini termasuk startup yang memanfaatkan AI untuk menciptakan solusi baru, perusahaan yang mengintegrasikan AI untuk meningkatkan efisiensi, dan pengembangan aplikasi AI yang dapat memberikan nilai tambah di berbagai industri. Potensi ekonomi AI di Indonesia sangat besar, dan WAICO akan membantu mengoptimalkan potensi tersebut.
Kelima, pembangunan ekosistem AI yang inklusif dan bertanggung jawab. Indonesia berkomitmen untuk memastikan bahwa manfaat AI dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat, termasuk mereka yang berada di daerah terpencil atau kelompok rentan. Melalui WAICO, Indonesia dapat berbagi pengalaman dan belajar dari negara lain tentang cara membangun ekosistem AI yang memperhatikan aspek kesetaraan digital, privasi data, dan keadilan algoritma. Ini akan membantu mencegah eksaserbasi kesenjangan sosial yang mungkin timbul dari adopsi AI yang tidak terencana.
Secara keseluruhan, keputusan Indonesia untuk menjadi salah satu pendiri WAICO adalah langkah visioner yang menegaskan posisinya sebagai aktor penting dalam lanskap digital global. Ini bukan hanya tentang adopsi teknologi, tetapi tentang membentuk masa depan teknologi itu sendiri, memastikan bahwa AI berkembang dengan cara yang etis, bermanfaat, dan inklusif bagi semua. Dengan kepemimpinan yang kuat dari Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian dan Kementerian Komunikasi dan Digital, Indonesia siap untuk memaksimalkan peluang yang ditawarkan oleh WAICO demi kemajuan bangsa dan kontribusi terhadap kemanusiaan global.

